
Setelah kedua remaja itu naik ke boncengan, kedua tukang ojek itu pun mulai menjalankan motornya. Namun, sesuatu di luar dugaan terjadi. Motor yang dinaiki oleh Imran tidak bisa menyala. Mesinnya mengeluarkan bunyi seperti tersendat-sendat.
“Kenapa motornya, Pak?” tegur Imran.
“Nggak tahu ini, Dik. Biasanya nggak pernah begini,” jawab tukang ojek sambil berusaha menghidupkan mesinnya kembali.
“Kenapa motormu, Boy?” tegur temannya.
“Nggak tahu ini, Bang. Saya juga heran,” jawabnya lagi.
“Bensinnya habis kali?”
“Penuh kok. Kan baru tadi saya isi.”
“Businya mungkin?”
“Iya kali, ya? Coba saya cek dulu.”
Tukang ojek tersebut kemudian membuka jok motornya dan mengambil obeng khusus untuk membuka busi motor. Imran dan Bondan awalnya memperhatikan tukang ojek tersebut yang sedang berusaha membuka busi motornya, tapi sejurus kemudian mereka teringat dengan Tarjo dan kawan-kawannya Kemudian mereka berdua pun menoleh ke belakang. Dan pada saat itu lah mereka berdua terkejut karena melihat posisi Tarjo sudah mulai dekat dengan mereka.
“Pak, gimana kalau kami berdua membonceng ke satu motor saja? Soalnya kami keburu sekali,” seru Imran masih berusaha menutupi apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka berdua saat itu.
“Waduh, aku sih oke-oke saja, tapi kasihan dengan temanku ini. Masa mau ditinggal sendirian di sini?” jawab tukang ojek itu.
“Tunggulah sebentar. Habis ini pasti suda beres kok.” Sahut tukang ojek yang satunya.
“Tidak, Pak! Kami harus segera pergi dari sini. Kalau Bapak berdua tidak bisa mengantar kami, biar sudah kami pulang sendiri saja,” ucap Imran dengan tegas.
“Loh, kalian kok ngomong gitu? Kami baik-baik tadi mau membantu kalian. Masa kalian tega ngomongkayak gitu?” sahut salah satu tukang ojek.
“Bukan begitu maksud kami, Pak. Kami sebenarnya mau menunggu Bapak berdua di sini dan kami sangat berterima kasih kepada Bapak berdua, tapi kami benar-benar harus pergi sekarang. Kami sekali lagi memohon maaf atas ketidaksopanan kami terhadap Bapak berdua.” Imran berkata dengan sangat sopan.
“Tunggulah sebentar!” Pria itu memohon kepada Imran dan Bondan.
__ADS_1
Imran dan Bonda menoleh ke arah belakang. Tarjo dan kawan-kawannya semakin dekat posisinya dengan mereka berdua.
“Ndan, waktunya sudah tidak memungkinkan. Ayo, kita lari saja!” bisik Imran pada Bondan.
“Iya, Im. Ayo, jangan sampai Tarjo menangkap kita berdua,” sahut Bondan.
“Pak, kami mohon maaf, ya? Kami harus segera pergi sekarang,” ucap Imran dengan terburu-buru dan langsung menarik Bondan untuk segera berlari ke arah utara meninggalkan tempat tersebut.
“Kalian mau pergi ke mana?” sahut tukang ojek sambil memegangi tangan Imran dengan erat.
“Tolong lepaskan tangan saya, Pak! Kami harus segera pergi dari tempat ini,” rengek Imran.
“Pak, tolong lepaskan tangan teman saya,Pak!” ucap Bondan memohon.
Kedua remaja itu menoleh ke arah selatan. Rombongan Tarjo sudah dekat posisinya dengan mereka.
“Kenapa kalian buru-buru pergi sih? Apa kalian sedang dikejar orang-orang itu?” ucap tukang ojek yang satunya sambil berdiri.
Mereka berdua tidak punya alasan lagi untuk berbohong.
“Ha ha ha … Gimana kami mau melepaskan kalian berdua? Mereka itu teman-teman kami. Ha ha ha ….” Salah satu tukang ojek berkata sambil tertawa terkekeh-kekeh.
“APA?” Imran dan Bondan tentu saja terkejut mendengar kalimat tukang ojek itu.
Menyadari posis mereka sedang dalam bahaya, Imran langsung saja menendang kantong menyan pria yang memegangi tangannya.
“Wadaw!!!” teriak pria itu sambil mengadu kesakitan.
Melihat temannya diserang oleh Imran, pria yang satunya langsung melayangkan tinju ke arah remaja itu. Namun, Imran yang sudah siaga segera menghindar dan dalam satu kesempatan ia pun menyerang punggung pria tersebut dengan sikunya. Akhirnya pria itu pun terjatuh. Melihat adanya kesempatan tersebut, Imran pun buru-buru melompat ke arah sepeda motor.
“Bondan, Naik!” teriak Imran.
Bondan dengan sigap pun melomat ke arah boncengan motor dan Imran bersiap untuk menyalakan motor. Sayangnya, remaja itu tidak melihat kunci motor di tempatnya.
__ADS_1
“Sialan! Kuncinya nggak ada, Ndan! Kita harus segera berlari!” teriak Imran sambil meninggalkan motor dan buru-buru berlari ke arah utara meninggalkan dua pria yang sedang mengadu kesakitan akibat serangannya.
Mereka pun langsung berlari dengan cepat ke arah utara untuk menghindari kejaran Tarjo dan kawan-kawan. Pada saat itu Tarjo sudah sampai di posisi kedua tukang ojek itu. Nasib sial menimpa kedua remaja itu karena belum jauh mereka berlari . Tarjo dan kawan-kawannya sudah berhasil menyusul mereka dengan menggunakan dua motor milik tukang ojek.
Uweeeeng!! Uweeeeeeng!!!
Kedua motor itu berputar-putar di sekitar Imran dan Bondan. Kedua remaja itu berdiri saling memunggungi untuk bersiaga menghadapi Tarjo dan ketiga temannya.
“Ternyata kalian berdua yang telah memukuli anakku. Sebentar lagi kalian berdua akan mati. Ha ha ha ha ha …” teriak Tarjo dengan keras.
Imran dan Bondan dengan tajam menatap kedua motor yang sedang memutari mereka. Beberapa detik kemudian kedua motor itu berhenti berputar-putar. Mereka turun dari motor dan bersiap bertarung melawan kedua remaja itu.
“Kalian sudah siap mati?” teriak Tarjo.
“Kalian ini salah paham. Kami tidak berniat memukuli anak-anak kalian. Kami hanya membela diri,” teriak Imran.
“Sama saja. Kalian tidak usah banyak bicara. Bersiaplah untuk mati.”
Hiaaaaaaat …..
Tarjo dan kawannya langsung melayangkan pukulan ke arah Imran dan Bondan. Kedua remaja itu menghindar sehingga pukulan mereka mengenai tempat kosong. Sedetik kemudia kedua teman yang lain menyerang mereka berdua. Imran dan Bondan lagi-lagi bisa berkelit dan memukul balik mereka berdua, sehingga kedua pria itu tersungkur ke tanah. Sedetik kemudian Tarjo dan temannya kembali melayangkan tendangan ke arah mereka. Kedua remaja itu menunduk dan meninju kantong kemenyan mereka berdua dari bawah.
“Wadaw!” teriak Tarjo dan temannya dengan keras.
Imran dan Bondan tersenyum geli melihat Tarjo dan kawannya itu mengerang kesakitan. Sayangnya, mereka tidak sadar bahwa dari arah selatan sudah datang berduyun-duyun anak buah Tarjo yang secara bersamaan mengarahkan pukulan ke arah mereka secara bertubi-tubi. Satu dua orang bisa mereka hindari, satu dua orang mereka serang balik. Tapi, saking banyaknya orang. Ada beberapa orang yang berhasil melayangkan pukulannya ke arah wajah mereka.
Bug! Bug!
Tidak cukup sampai di situ. Orang-Orang itu terus berdatangan dan mengeroyok Bondan dan Imran. Dalam keadaan seperti itu, kedua remaja itu masih bisa menangkis dan memukul balik beberapa dari mereka. Namun, ada saja pukulan yang mengenai telak ke arah mereka. Dan kali ini pukulan itu datang secara beruntun dan menghantam kepala Imran dan Bondan, sehingga kedua remaja tu tersungkur ke tanah.
“Hajaaaar!” teriak Tarjo yang sudah bangun kembali setelah beberapa saat menahan sakit.
Anak buah Tarjo langsung saja menghajar Imran dan Bondan dengan tangan dan kaki, sehingga kedua remaja itu benar-benar babak belur.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Hm ... Othor penasaran. Kalian puasa nggak hari ini?