
Sementara itu kelompok Tarjo mendatangi lokasi di mana anak dan kedua sahabatnya dihajar habis-habisan oleh Bondan. Sesampai di tempat itu anaknya melaporkan kepada bapaknya bahwa di sanalah ia dan kedua sahabatnya dipermalukan oleh Bondan dan Imran. Tarjo semakin marah saja kepada kedua remaja yang sedang menempuh pendidikan di SMU 14 itu. Mata Tarjo yang tajam sibuk mengamati orang yang lalu lalang di sekitar tempat tersebut. Orang-Orang yang berada di belakangnya juga melakukan hal yang sama dengan pria berwajah sangar tersebut.
“Waktu kalian dihajar oleh kedua anak tersebut, siapa orang di sini yang menyaksikannya?” Tiba-Tiba Tarjo menanyakan hal itu kepada anaknya.
“Hm … seingat saya sih penjaga pos itu juga menyaksikannya,” jawab anaknya Tarjo dengan polosnya.
“Maksud kamu Pak Galih?” Tarjo memperjelas maksud perkataan anaknya.
“Iya, benar Pak!” seru anaknya.
Setelah mendengar jawaban anaknya, Tarjo buru-buru berjalan menuju pos siaran sekaligus pemantauan yang berada di tengah-tengah terminal. Pak Galih yang sejak tadi mencuri pandang ke arah Tarjo dan kawan-kawan pun langsung berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya.
“Selamat sore, Pak Galih.” Tarjo menyapa petugas itu dengan gaya sengaja dibuat sok santai.
“Sore. Iya, ada apa, Pak?” Pak Galih berpura-pura memasang wajah serius seakan-akan tidak tahu maksud Tarjo dan kawan-kawannya datang ke tempat bertugasnya.
“Pak Galih tadi melihat anak saya dan teman-temannya dihajar anak SMU 14 di sana, kan?” Tarjo langsung menanyakannya secara frontal kepada pria berpakain biru itu.
“Dihajar?” Pak Galih masih berusaha memasang wajah tidak tahu menahu tentang hal itu.
__ADS_1
“Pak Galih ini nggak usah sok polos, ya? Ingat! Pak Galih ini pendatang di sini. Jadi nggak usah berlagak sok pahlawan di sini kalau tidak ingin mengalami hal yang tidak menyenangkan di sini.” Tarjo langsung melancarkan ancamannya.
“Jadi Pak Tarjo ini mengancam saya? Saya salah apa sama Pak Tarjo? Silakan kalau Pak Tarjo atau siapapun mau berbuat tidak baik kepada saya! Asalkan saya tidak punya salah apa-apa, saya tidak takut dengan ancaman siapapun!” Pak Galih berkata dengan nada agak tinggi.
“Saya tidak sedang mengancam Pak Galih. Saya tahu Pak Galih akan bersembunyi di balik hukum. Tapi, ingat Pak Galih ini juga termasuk warga sini. Anak saya dan kedua temannya ini juga warga sini. Ada tiga warga sini yang dianiaya oleh orang luar dan Pak Galih tidak mau membantu mencari keadilan untuk ketiga anak tersebut. Kalau sampai warga di sini mendengar apa yang dilakukan oleh Pak Galih, kira-kira warga yang lain masih bisa menerima nggak Pak Galih tetap bekerja di sini? Kalau menurut saya sih kepala terminal pasti lebih memilih untuk menggantikan posisi Pak Galih dengan para pelamar pekerjaan yang sudah lama menunggu panggilan pekerjaan itu. Benar kan ak Galih yang terhormat?” Tarjo berkata panjang lebar untuk menekan petugas di depannya.
“Iya … Saya memang melihat kejadian tadi. Tapi, saya tidak begitu fokus karena saya pikir anak Pak Tarjo dan kedua temannya emang sudah sering cekcok dengan pengunjung terminal. Jadi, saya kurang awas kalau ternyata anak Pak Tarjo dan kedua temannya dihajar oleh mereka.” Pak Galih sedikit terdesak untuk menyampaikan informasi kepada para begundal di depannya itu.
“Ke mana larinya kedua orang yang menghajar anak saya, Pak Galih?” Tarjo berkata sambil menatap tajam ke arah Pak Galih.
Pak Galih terbayang dengan kedua anak baik yang tadi ditolongnya itu. Ia ingat betul kalau kedua anak itu berjalan ke arah warung milik Pak Jaka, tapi hati kecilnya tidak ingin memberitahukan hal itu kepada Tarjo. Ia tidak mau kedua remaja tadi menjadi korban pengeroyokan para bromocorah di depannya.
“Tidak, Pak Tarjo. Saya betul-betul tidak tahu ke mana larinya kedua anak itu. Karena saat itu terminal cukup ramai. Dan saya harus berkonsentrasi dengan pekerjaan saya.”Untunglah Pak Galih punya stok jawaban yang bagus sebagai alibi.
“Kalau lulusan sekolah tinggi memang pintar ya kalau disuruh membuat alasan, tapi saya nggak butuh alasan, Pak Galih. Saya minta kejujuran Pak Galih untuk memberikan informasi ke mana larinya dua orang itu?” Tarjo berusaha memaksa.
“Pak Tarjo tidak percaya sama perkataan saya? Saya sudah mengatakan yang sebenarnya, Pak!” Kali ini Pak Galih juga menaikkan volume suaranya agar sandiwaranya tidak diketahui oleh Tarjo.
“Oke … Saya percaya. Pak Galih nggak usah nyolot begitu!” sahut Tarjo sambil memberi tanda dengan kedua tangannya.
__ADS_1
“Ada lagi yang bisa saya bantu, Pak Tarjo? Kalau tidak ada, mohon maaf saya harus melanjutkan perkerjaan saya kembali,” ujar Pak Galih mengusir gerombolan di depannya secara halus.
Tarjo terpaksa menelan kekecewaannya menghadapi petugas di depannya. Sebenarnya ia masih sangat kesal dengan pria di depannya, tapi pada posisi sekarang ia terpaksa harus mengalah karena tidak punya amunisi lagi untuk menekan pria berpendidikan itu. Tarjo sudah bersiap pergi meninggalkan ruangan kerja Pak Galih. Namun, mata Tarjo kembali berbinar saat matanya melirik ke arah monitor pantau kamera CCTV yang berada di atas kepala Pak Galih. Pria yang sudah mundur beberapa langkah dari pos pantau itu pun kembali berjalan mendekat ke arah Pak Galih.
“Pak Galih … Saya tahu Pak Galih ini sudah berkata jujur kepada kami. Kami percaya kok Pak Galih ini juga masih solid dengan warga di sini. Yah, namanya mata manusia biasa, pasti ada kurang jelinya lah ketika melihat suatu kejadian. Bukan begitu Pak Galih?” Tarjo berkata dengan nada sengaja dilembutkan.
“Iya benar, Pak Tarjo. Saya mohon maaf tidak bisa membantu banyak terhadap Pak Tarjo.” Pak Galih juga berkata dengan nada lembut.
“Tapi, saya baru sadar. Seluruh sudut terminal ini kan dipasangi kamera CCTV ya, Pak? Nah, kami minta tolong kepada Pak Galih untuk membuka rekaman CCTV beberapa menit yang lalu. Monitornya ada di sini, kan?” ucap Tarjo masih dengan nada lembut sambil diakhiri dengan menunjuk monitor yang ada di atas kepala Pak Galih.
Pak Galih tentu saja terkejut dengan perkataan Tarjo yang tepat mengenai sasaran itu. Kali ini petugas itu sudah tidak bisa mengelak lagi. Usahanya untuk melindungi kedua remaja baik tadi sepertinya akan sia-sia belaka. Dengan terpaksa ia harus menunjukkan rekaman CCTV itu kepada penjahat-penjahat itu. Di dalam hatinya Pak Galih hanya berharap semoga kedua anak itu sudah pergi dari kawasan terminal.
“Stop!” teriak Tarjo saat Pak Galih memperlihatkan wajah kedua remaja itu dengan cukup jelas.
Tarjo dan kawan-kawannya memperhatikan betul teksur wajah kedua remaja itu. Hati Pak Galih merasaka sakit saat itu. Ia benar-benar merasa bersalah karena telah gagal menyelamatkan kedua remaja itu. Ia khawatir Tarjo dan kawan-kawannya akan berbuat nekat kepada mereka berdua.
“Maafkan saya, Nak!” suara hati Pak Galih.
BERSAMBUNG
__ADS_1