JERITAN HANTU

JERITAN HANTU
TERMINAL


__ADS_3

Suasana terminal saat itu cukup ramai dengan para pengunjung yang baru datang atau akan pergi dari kota tersebut. Terminal tersebut merupakan salah satu fasilitas umum kebanggaan kota tersebut karena merupakan salah satu pusat keramaian yang banyak menghasilkan income bagi Pemda setempat. Letaknya yang strategis membuat terminal tersebut pesat perkembangannya.


Imran dan Bondan kali ini sudah mengenakan jaket tertutup untuk berkamuflase menjadi masyarakat umum. Sekilas memang mereka tidak seperti anak SMA. Apalagi Bondan yang memiliki postur sedikit tambun membuat remaja yang satu itu sulit dikenali sebagai pelajar lagi. Meskipun begitu mereka masih harus tetap waspada karena pukulan di wajah pria tadi sudah mulai menyisakan bengkak di wajah remaja itu.


“Arrrgh! Bibirku agak nyut-nyutan, Im. Mau ke mana kita sekarang?”


“Kita cari warung yang bangunannya agak tua, Ndan. Sekalian minta air hangat-hangat kuku untuk mengompres wajahmu yang terkena pukulan orang tadi.”


“Oke … Itu, Im. Di ujung sana sepertinya ada warung yang agak tua bangunannya dibandingkan warung-warung yang lain.”


“Iya betul, Ndan. Ayo, kita segera ke sana!”


Kedua remaja itu pun dengan sigap berjalan menyusuri trotoar di sekitar terminal menuju ke salah satu warung yang letaknya di seberang terminal tersebut. Tak sampai sepuluh menit sampailah mereka berdua di depan warung tersebut. Suasana di warung tersebut saat ini cukup sepi. Hanya ada satu pengunjung yang sedang duduk menikmati rokok dan secangkir kopi. Pada saat itu warung-warung yang lain juga kondisinya masih sepi. Mungkin pada jam-jam tersebut orang masih belum berminat untuk kongkow-kongkow di warung.


“Permisi, Mbah!” Imran berjalan masuk ke dalam warung dan langsung menuju meja etalase.


“Iya, Dik. Mau pesan apa?” jawab seorang pria tua yang sedang memanaskan air di atas kompor.


Kondisi pria tua itu sudah sepuh dan terlihat postur tubuhnya agak membungkuk. Ada bekas goresan luka di salah satu tangannya.


“Kami mau pesan teh hangat dua gelas. Sama sekalian mau beli satu mangkuk air hangat kuku. Apa bisa?” ucap Imran dengan sedikit terbata-bata.


“Teh hangatnya ada, Dik. Untuk air hangatnya untuk apa, Dik?”


“Ini, untuk mengompres teman saya,” jawab Imran sambil menunjuk ke arah Bondan.


“Loh, kenapa wajahmu, Dik? Pasti kalian habis berantem, ya? Jangan suka berantem! Ntar kalian bisa diciduk polisi. Selain itu kalau sampai terjadi sesuatu dengan kalian orang tua kalian pasti bingung.”


“Iya, Pak. Tadi ada yang mencoba memaksa minta uang kepada kami berdua. Karena kami menolak, mereka langsung menonjok teman saya ini.”


“Duh, pasti itu gerombolannya anaknya Tarjo . Kalian tadi melawan atau gimana?” Pak Tua itu terlihat agak panik.


“Hm … Tadi kami sempat melawan sehingga mereka berhasil dilumpuhkan dan meminta maaf kepada kami.”

__ADS_1


“APA? Kalian harus berhati-hati. Mereka pasti melapor ke teman-temannya dan juga orang tua mereka. Tadi ada yang rambutnya agak panjang, nggak?”


“Iya. Kenapa, Pak?”


“Duh, itu anaknya Tarjo. Bapaknya itu ketua preman di sini. Duh, sebaiknya kalian segera pergi dari sini sebelum mereka kembali dan mengeroyok kalian berdua.” Pak Tua itu semakin panik saja.


“Tapi, Pak! Wajah saya masih sakit sekarang. Ijinkan saya mengompres luka di wajah saya dulu, ya?” rengek Bondan berpura-pura untuk mengulur waktu.


“Kami juga sangat haus, Pak. Dari siang tadi kami belum minum sama sekali.” Imran ikut bersadiwara.


“Ya sudah! Ini saya sudah siapkan pesanan kalian. Habis ini kalian berdua harus segera pergi dari sini sebelum terlambat.” Pak Tua menyuguhka teh dan air hangat ke atas meja.


Pria tua itu juga meminjamkan kain bersih untuk digunakan Bondan mengompres bagian wajahnya yang dijotos oleh pemuda preman di terminal tadi.


“Kamu tadi juga kena jotos, Dik?” Pak Tua memegang kepala Imran sambil memperhatikan bagian pelipis remaja yang seperti ada bekas luka.


Bentuk bekas luka di pelipis Imran membuat pria tua itu sejenak berpikir.


“Rumahmu mana, Dik?” tanyanya dengan serius.


“Kamu anaknya Ningrum, ya?”


Imran terkejut mendapat pertanyaan interogatif dari pria tua itu.


“Dari mana Bapak tahu nama ibu saya?”


“Jadi benar kamu anaknya Ningrum?” Pak Tua itu menatap wajah Imran dengan haru.


“I-iya, Pak. Ibu saya bernama Ningrum. Kenapa dengan ibu saya, Pak?”


“Ya Allah …. Ya Robbi … Saya ini temannya bapakmu, Nak. Dulu saya itu sering ikut bapakmu ke mana saja dia pergi. Ternyata kamu sudah sebesar ini padahal dulu kamu masih Balita waktu tanpa sengaja saya melukai pelipismu dengan kawat. Ternyata bekas luka itu masih ada sampai sekarang.” Pak Tua memegangi pelipis Imran.


“Jadi, teman bapak yang diceritakan oleh ibu adalah Bapak ini? Iya. Ibu pernah bercerita dulu kepada saya katanya bekas luka di pelipis saya ini karena waktu kecil ada teman bapak yang sedang membawa kawat ke rumah. Kebetulan saat itu di rumah sedang butuh banyak kawat. Pada saat semua orang lengah, tiba-tiba saya merangkak ke arah kawat itu dan tak sengaja pelipis saya tergores kawat cukup dalam. Konon waktu itu bapak sampai pingsan karena melihat darah yang banyak keluar dari pelipis saya ini. Konon juga bapak sampai memusuhi teman bapak yang membawa kawat ke rumah. Apa benar itu, Pak?”

__ADS_1


“Iya benar, Im. bapakmu itu sayang banget sama kamu makanya dia marah besar sama saya. Sejak kejadian itu kami putus hubungan sampai beberapa bulan. Untunglah, ibumu yang merayu bapakmu agar mau menjalin silaturahmi lagi.” Pak Tua itu bercerita sambil menitikkan air mata.


“Iya. Ibu bilang Bapak ini selain teman juga adalah orang tua bagi bapak saya karena dulu semasa kakek masih hidup, Bapak sud kenal duluan dengan kakek.”


“Iya benar, Nak. Oh iya, kalian sebaiknya segera pergi dari sini sekarang. Saya khawatir Tarjo akan datang mencari kalian. Dia itu orangnya ngawur dan nggak pandang bulu kalau mau menyakiti orang.”


“Siapa Tarjo itu, Pak? Dia dari dulu memang jadi preman di sini tah?”


“Dulu dia itu sopir Angkot biasa. Tapi beberapa tahun ini dia berhenti jadi sopir Angkot dan menjadi preman di sekitar terminal ini.”


“Kenapa dia beralih profesi, Pak?”


“Kamu jangan bilang-bilang tapi, ya? Selain jadi sopir Angkot dia itu sepertinya melakukan bisnis haram.”


“Bisnis haram apa?”


“Sudah! Kamu nggak usah bahas itu. Sebaiknya sekarang kamu dan temanmu ini segera pergi dari sini sebelum terlambat.”


“Iya. Terima kasih, Pak. Tapi, sebelum saya pulang saya mau tanya sesuatu sama Bapak apa boleh? Soalnya saya datang ke sini sebenarnya mau mengerjakan tugas wawancara di sekolah.”


“Hm … Buruan tapi … Kamu mau tanya apa?”


“Pak, di antara para sopir Angkot yang jadi pelanggan di warung ini. Adakah yang paling berkesan buat Bapak?”


Pak Tua mengernyitkan dahinya.


“Hm … Ada … Kenapa?”


“Coba ceritakan tentang sopir Angkot itu!”


“Ya … Dia orangnya baik, ramah, dan setiap hari pasti ngopi di sini. Sayangnya umurnya pendek. Beberapa waktu yang lalu dia mengalami kecelakaan dan tewas.”


Imran dan Bondan tercengang mendengar cerita Pak Tua itu. Mereka teringat dengan sosok ayah angkatnya Arini.

__ADS_1


BERSAMBUNG 


__ADS_2