
Setelah melumpuhkan Darno, Karyo, dan Tarjo Pak Prapto pun mendatangi ketiga korban yang terjerembap di tanah.
“Imran … Bondan … Kyai …,” teriak Pak Prapto menangis tersedu-sedu.
“Ayo, cepat bawa mereka bertiga ke rumah sakit!” teriak Pak Prapto pada anak buahnya.
Pak Prapto dan Pak Galih secara bahu membahu menggendong ketiga korban menuju mobil untuk dibawa ke rumah sakit. Anak buah Pak Prapto menggelandang semua anak buah Tarjo ke pinggir jalan. Ada yang menelpon kantor untuk minta dikirimkan tambahan armada dan anggota. Tarjo dan semua anak buahnya meringkuk lemah ketika diangkut ke kantor polisi.
Pak Prapto dengan gelisah menunggu perkembangan Imran, Bondan, dan Kyai Nur. Imran terus menangis di ruang perawatan. Ia bukan menangis karena menahan sakitnya sendiri, tapi ia kepikiran dengan nasib yang akan menimpa Kyai Nur. Satu jam kemudian orang tua Imran, Bondan, dan juga Mbah Putri datang ke rumah sakit. Pak Prapto memeluk erat Pak Hasan, bapaknya Bondan dan Mbah Putri.
“Maafkan saya Pak … Maafkan saya Pak Hasan … Maafkan saya Mbah Putri …”
“Mana Bondan, Pak?” tanya bapaknya Bondan.
“Bagaimana keadaan Imran, Pak Prapto?” ujar Pak Hasan.
“Di mana Imran, Pak?” tanya Bu Ningrum.
“Mana Pak Kyai, Nak Prapto?” tanya Mbah Putri lemah.
Pak Prapto tidak kuasa menjawab pertanyaan mereka. Ia hanya menangis sesegukan. Tentu saja hal itu membuat orang-orang itu semakin takut mendengar kabar dari Pak Prapto.
Setelah perasaannya cukup tenang, Pak Prapto mulai menunjukkan satu persatu keberadaan Imran, Bondan, dan Kyai Nur kepada keluarganya. Pada saat itu posisi Imran dan Bonda sedang berada di ruang perawatan dengan kondisi tubuh penuh lebam dan luka dari sedang sampai berat. Orang tua Imran dan Bondan menangis tersedu-sedu saat mereka melihat kondisi anaknya yang seperti itu. Dokter yang menenangkan mereka bahwa kondisi mereka akan baik-baik saja dan mereka berjanji untuk memberikan pelayanan terbaik.
Sementara itu Mbah Putri hanya bisa menatap sedih kondisi Kyai Nur dari kejauhan karena suaminya baru saja menjalani operasi di bagian kepalanya. Pak Prapto berdiri di sebelah Mbah Putri untuk menenangkan perasaannya.
“Mbah … Mohon maaf saya yang menandatangani persetujuan operasi Pak Kyai karena saat itu kondisi beliau sedang kritis dan perlu untuk segera dijalankan operasi.”
“Iya, Nak Prapto. Terima kasih atas bantuan Nak Prapto. Saya berharap Pak Kyai masih diberikan keselamatan untuk melanjutkan tugas dakwahnya di desa,” jawab Mbah Putri dengan lemah.
*
Sementara itu di rumahnya, Pak Rudi yang baru saja mendengar kabar penangkapan Tarjo dan anak buahnya pun sedang bersiap-siap untuk mengemasi barang-barangnya ke dalam mobil.
“Mau ke mana kita, Pa?” tanya istrinya dengan kebingungan.
“Kita akan pergi jauh, Ma.” Jawab Pak Rudi.
__ADS_1
“Ke mana, Pa?” tanya istrinya lagi.
“Sejauh mungkin, Ma”
“Kenapa kita harus pergi, Pa? Aku betah tinggal di sini Pa.”
“Sudahlah! Nanti aku jelaskan semuanya.”
“Tunggu, aku mau ambil perhiasan aku dulu di kamar!”
“Sudah! Tinggalkan saja perhiasan-perhiasanmu! Kita hanya punya waktu sebentar.”
“Tidak, Pa! Aku tidak mau kehilangan perhiasan-perhiasanku!”
Istri Pak Rudi pun naik ke atas lantai dua meninggalkan suaminya yang sudah siap untuk berangkat.
Pak Rudi menyalakan mobilnya, namun tiba-tiba ia dikejutkan dengan sebuah pistol yang sudah menempel di pelipis kanannya.
“Mau ke mana, Pak Rudi? Anda harus mempertanggungjawabkan kejahatan Anda yang telah menjadi bandar narkoba dan juga menjadi dalang atas pembunuhan Pak Misnanto, Mang Dirin, dan seorang sopir angkot.” Teriak anak buah Pak Prapto.
“Siapa? Kamu, Pa?” teriak perempuan itu saat melihat sekelebat bayangan masuk ke dalam kamar.
Perempuan itu menoleh ke arah samping, tapi tidak ada siapa-siapa. Ia kembali melanjutkan aktifitasnya memasukkan perhiasan-perhiasan itu ke dalam tasnya. Tiba-Tiba ia mendengar suara kriet-kriet dari arah belakangnya dan bulu kuduknya merinding tiba-tiba.
“Paaaaa …” panggil perempuan itu sambil pelan-pelan menoleh ke arah belakang.
Dan lagi-lagi ia tidak melihat siapa-siapa di belakangnya. Namun, saat itu perempuan itu mencium bau anyir darah dan ia merasa ada seseorang yang sedang berdiri tepat di belakangnya. Hidung perempuan itu kembang kempis menahan takut dan perlahan ia memutar kepalanya sambil menatap tajam ke arah samping dan betapa terkejutnya ia saat ia dapat melihat bahwa Mang Dirin yang ia ketahui sudah meninggal sedang berdiri tepa di belakangnya.
“Aaaaaaaaaaaaa!!!” teriak perempuan itu dengan kuat.
Ia berusaha untuk berlari ke arah pintu, tapi pintu tertutup dengan sendirinya. Ia kemudian berbalik dan ternyata arwah Mang Dirin sedang bergerak ke arahnya dengan sosok yang sangat menyeramkan. Perempuan itu tidak bisa pergi ke mana-mana lagi.
“Aaaaaaaaaaaa!!!!” ia menjerit dengan keras.
Karena mendengar suara jeritan yang sangat keras, dua petugas ke atas lantai dua untuk memeriksa keadaan. Kedua petugas itu terkejut saat melihat istri Pak Rudi sedang tertawa-tawa sendiri dengan tatapan kosong.
*
__ADS_1
Pukul tujuh malam dokter mengabarkan bahwa kondisi Imran dan Bondan sudah mulai membaik. Keluarga mereka senang sekali mendengar kabar tersebut. Mereka semua menginap di rumah sakit. Setengah jam kemudian Paklik dan Bulik datang untuk menjenguk Imran, tapi mereka tidak diijinkan masuk ke ruangan karena Imran sedang istirahat. Mereka berdua hanya bisa menangis sedih di depan Pak Hasan dan Bu Ningrum.
“Gimana kondisi Imran, Mbak?”
“Doakan saja, Dik! Insyaallah Imran akan segera pulih.”
“Iya,Mbak. Aku tidak mau terjadi apa-apa sama Imra, Mbak. AKu sudah kehilangan anakku. Aku tidak mau kehilangan keponakanku.”
Bu Ningrum memeluk Bulik. Semua mata yang ada di tempat itu ikut menangis melihat Bulik dan Bu Ningrum yang sedang berpelukan sambil menangis.
Tiba-Tiba terdengar suara langkah seseorang dari arah utara. Semua mata tertuju pada tiga orang yang baru datang. Arini sedang berdiri di depan. Sementara Indah dan salah satu anak buah Pak Prapto berdiri di belakangnya.
“Tidak … Ibu dan Bapak tidak kehilangan anak ibu. Aku selalu menunggu waktu untuk bisa bertemu dengan Bapak dan Ibu …” Arini berkata dengan lembut dan penuh derai air mata.
“Arini …” pekik Paklik sambil berdiri.
Bulik bingung dengan kedatangan Arini.
“Ka-kamu …?” uajr Bulik dengan terbata-bata.
“I-iya … Aku Arini … Aku temannya Imran, tapi aku juga adalah anak Ibu dan Bapak yang hilang selama ini …” jawab Arini dengan berderai air mata.
“Apa ini benar?” tanya Bulik sambil menoleh ke arah Paklik dan Pak Prapto.
“Iya, Arini adalah anak kandung kalian. Tadi siang kami baru saja menangkap orang yang telah menculik Arini sewaktu kecil. Pada saat aku melihat wajah salah satu pelaku, saya baru ingat bahwa dia adalah orang yang pernah dilaporkan oleh kalian. Kebetulan kasus kalian adalah kasus terlama yang belum tuntas saya tangani.”
“Arini …. Anakku …” Bulik langsung menghambur ke arah Arini dan diikuti oleh Paklik.
“Maafkan kami ya, Nak!” ucap Paklik histeris sambil memeluk Arini dengan erat.
“Ya Allah … Terima kasih Engkau telah mempertemukan kami dengan anak kami,” ujar Bulik sambil menangis.
Semua yang ada di tempat itu turut menangis haru menyaksikan kebahagiaan mereka. Mereka tidak menyangka bahwa Paklik dan Bulik masih diberikan kesempatan untuk menemukan anak mereka yang hilang diculik oleh teman mereka sendiri. Seandainya Mbah Arni masih hidup, beliau pasti akan sangat bahagia menyaksikan momen tersebut.
TAMAT
Terima kasih atas kesetiaan para pembaca yang telah mengikuti cerita ini sampai akhir. Hm .. Tapi jangan lupa untuk membaca karyaku yang lainyang berjudul TIKUNGAN ANGKER. Aku tunggu Krisan kamu, ya?
__ADS_1