JERITAN HANTU

JERITAN HANTU
PEMBANTAIAN


__ADS_3

Mata Kyai Nur langsung tertuju pada sosok Imran yang sedang tertelungkup tak berdaya di jalan bebatuan. Imran sengaja memiringkan kepalanya ke arah kiri agar guru ngajinya tersebut dapat melihat wajahnya. Pria tua itu pun langsung merasa syok saat mengetahui bahwa salah satu dari remaja yang akan dibantai secara massal itu adalah murid kesayangannya. Langit seakan runtuh saat itu bagi pria tua itu. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa murid kesayangannya akan bernasib seperti itu.


“Im-imraaaaaaaaan!!!!” teriakan keras keluar dari mulut pria tua yang selalu berbicara halus lembut tersebut.


Karyo dan Darno tidak mempedulikan teriakan Kyai Nur. Tarjo berteriak kembali untuk mengingatkan Karyo dan Darno agar segera melakukan tugasnya membakar kedua remaja yang telah menghajar anak-anak mereka.


“Bakaaaaaaar!!!!!”


Mendengar teriakan Tarjo dan juga reaksi Karyo dan Darno yang sudah bersiaga kembali untuk membakar Imran dan Bondan, Kyai Nur langsung histeris. Dengan sekuat tenaga ia berusaha melepaskan dirinya dari pegangan beberapa anak buah Tarjo yang sedang berusaha menjauhkan pria tua itu dari lokasi tersebut.


“Tidaaaaaaaaak!!! Jangan bakar mereka! Mereka itu anak baik. Jangan kalian main hakim sendiri! Lepaskan!”


Sekuat apapun mereka berusaha memegangi Kyai Nur, tenaga mereka tidak cukup kuat untuk menahan pria religius tersebut untuk lepas dan berlari menuju Karyo dan Darno yang semakin dekat jaraknya dengan Imran dan Bondan.


Brak! Bruk!


Kyai Nur menepis tangan Darno dan Karyo yang sedang berusaha menyulut korek dan dilemparkan ke arah murid dan temannya itu.


“Aduh!” pekik Darno.


“Ah!” keluh Karyo.


Klontang!


Kedua korek yang dipegang oleh mereka berdua terlempar ke jalan dan mengenai batu yang berjejer di sana. Tarjo dan anak buahnya menatap penuh amarah kepada Kyai Nur.


“Tolong, kalian jangan bakar kedua anak ini! Saya yakin ini ada kesalahpahaman saja. Anak ini murid mengaji saya. Saya tahu pasti dia ini anak baik dan bergaul dengan anak baik juga. Lebih baik kita serahkan masalah ini kepada polisi saja.” Kyai Nur berusaha menjelaskan argumennya kepada semua orang yang berada di tempat tersebut.


“Ha ha ha ha ha … Anak baik? Polisi? Perlu kamu tahu Pak Tua, justeru karena mereka berdua ini jadi anak sok baik maka mereka berdua ini harus dibunuh,” teriak Darno dengan keras tanpa menjaga kesopanan terhadap orang yang lebih tua.


“Maaf, saya tidak mengerti dengan maksud perkataan Anda?” sahut Kyai Nur.

__ADS_1


“Tidak Paham? Baiklah akan saya jelaskan! Kedua anak ini sudah menghajar anak-anak kami di terminal!” teriak Karyo dengan mata melotot.


“Menghajar anak-anak kalian?” Kyai Nur masih belum paham arah pembicaraan mereka berdua.


“Iya. Kedua anak ini menolak dimintai uang oleh anak-anak kami , sehingga terjadilah perkelahian antara anak-anak kami dan kedua anak ini. Anak kami sampai babak belur dan perlu Pak Tua tahu, akibat perbuatan kedua anak ini seluruh orang di terminal menertawakan kita semua. Mau ditaruh di mana muka kami sebagai preman yang menguasai terminal kalau kami diam melihat anak-anak kami dibegitukan? ”


“Ooooo … Jadi kalian semua ini preman terminal? Begini saja, saya pastikan kedua anak ini tidak akan pergi ke sana lagi dan mengganggu aktifitas kalian di sana. Tapi, tolong lepaskan mereka! Kasihan orang tua mereka pasti sedang menunggu di rumah.” Kyai Nur berusaha merayu mereka.


Karyo dan Darno diam sejenak. Namun, kemudian terdengar suara berat Tarjo dari belakang mereka.


“Tidak! Bakar kedua anak itu. Jika Pak Tua itu menghalangi, bunuh juga!” suara Tarjo dengan sekuat tenaga.


“Siap, Kang!” sahut Darno.


“Tolong Pak Tua minggir! Kalau Pak Tua masih ingin hidup,” teriak Karyo.


Mendengar percakapan ketiga preman itu tentu saja membuat darah Kyai Nur berdesir. Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran mereka. Ia semakin cemas dengan nasib yang akan menimpa Imran dan temannya. Sebagai guru ngajinya, ia tidak ingin muridnya itu tewas di tangan penjahat-penjahat itu.


Kyai Nur kemudian berbalik badan dan berusaha memapah Imran dan temannya untuk bangun dan kabur dari tempat tersebut.


“Ayo, anak-anak kita harus segera pergi dari sini!” ucap Kyai Nur kepada kedua remaja tersebut.


“Singkirkan pria tua itu!” teriak Darno pada anak buahnya.


Semua orang yang berada di tempat itu berusaha menghalangi Kyai Nur untuk menolong Imran dan Bondan. Namun, tangan mereka ditepis oleh pria tua itu. Beberapa dari mereka bahkan berusaha memukul Kyai Nur, tapi serangan mereka gagal karena diserang balik oleh pria itu. Beberapa anak buah Tarjo terpelanting ke tanah karena mendapat serangan dari Kyai Nur. Namun, mereka tidak berputus asa anak buah yang lain berusaha untuk menyerang pemuka agama tersebut dan lagi-lagi mereka gagal.


Namun, hal di luar dugaan terjadi. Saat Kyai Nur mulai kecapekan menghalau serangan anak buah Tarjo, tiba-tiba Darno menghantam bagian belakang kepala Kyai Nur dengan batu yang ukurannya cukup besar.


“Ya Allah …” pekik Kyai Nur sambil memegangi kepalanya yang mulai mengeluarkan darah.


“Mbah …” teriak Imran lemah begitu melihat guru ngajinya kesakitan dan terjerembap ke atas jalan.

__ADS_1


Dengan merangkak remaja itu berjalan menuju guru ngajinya. Tangisnya pecah saat ia sudah berhasil meraih tubuh Kyai Nur.


“Mbaaaaah … Mbaaaaah ….” Teriak Imran.


“Im … Im …” Kya Nur menyahut pelan sambil memegangi kepala muridnya itu sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri.


“Jangan lama-lama. Angkat kumpulkan badan mereka dan bakar!” teriak Darno dengan lantang.


Anak buah Tarjo pun mengangkat Bondan yang sudah lemas ke atas tubuh Imran dan Kyai Nur. Darno dan Karyo pun kembali bersiaga untuk membakar tubuh mereka. Korek sudah menyala di tangan mereka dan tinggal dilemparkan ke badan Imran atau Bondan.


Dor! Dor!


Terdengar suara tembakan pistol sebanyak dua kali. Dan sedetik kemudian Karyo dan Darno mengadu kesakitan pada tangan mereka yang mengeluarkan darah.


“Aaaaaaargggh!”


Sayangnya korek yang sudah menyala itu terlepas dari tangan mereka dan bisa saja nyala apinya disambar oleh bensin yang ada di tubuh Imran dan Bondan.


Wusss!


Sekelebat bayangan dengan cekatan menyambar menendang kedua korek itu jauh dari ketiga tubuh yang sedang tidak berdaya itu.


“Pak Prapto!” gumam Tarjo dengan suara lemah.


“Ringkus mereka semuanya!” teriak Pak Prapto kepada anak buahnya yang datang hampir terlambat itu.


Selanjutnya terdengar banyak sekali tembakan peringatan yang dikeluarkan oleh para anak buah Pak Prapto. Beberapa anak buah Tarjo berusaha melawan petugas, meskipun akhirnya mereka gagal karena petugas mengendalikan mereka dengan beladiri dan senjata api. Sedangkan banyak dari mereka juga berusaha lari, tetapi terus dikejar oleh polisi. Ada yang lari ke sawah, sungai, dan ke kuburan.


BERSAMBUNG


Hai ... Jangan lupa membaca karyaku yang berjudul TIKUNGAN ANGKER ya? Seru juga loh ...

__ADS_1


__ADS_2