
Imran dan Bondan menanyakan banyak hal kepada Pemilik warung meskipun dalam keadaan didesak untuk segera pergi oleh pria tua itu. Mereka berdua menanyakan tentang pertemuan terakhir pemilik warung dengan almarhum ayah angkatnya Arini. Mereka juga menanyakan hubungan antara ayah angkatnya Arini dengan Tarjo dan kawan-kawannya. Selain itu mereka juga mendapatkan informasi tentang ayah angkatnya Arini dan seseorang yang ciri-cirinya mirip sekali dengan Mang Dirin. Setelah mendapatkan informasi yang cukup dari pemilik warung, barulah mereka berdua memutuskan untuk pulang.
Sayangnya, keputusan yang mereka buat untuk pulang sudah terlambat. Pada saat itu mereka melihat adanya keributan di terminal yang bersumber dari ngamuknya Tarjo dan kawan-kawannya terhadap pengunjung terminal yang mereka kira sebagai orang yang telah menganiaya anak-anak mereka. Keributan itu sampai terdengar ke warung yang sedang mereka datangi.
Mendengar keributan itu tak ayal membuat pemilik warung panik dan menarik kedua remaja itu untuk segera pergi dari warungnya. Pria itu tidak ingin kedua remaja di depannya dianiaya oleh gerombolan Tarjo. Ia sudah hapal betul seperti apa kebiadaban Tarjo dan kwan-kawannya. Ia yang merasa trauma karena pernah membuat goresan kecil secara tidak sengaja di pelipis Imran sewaktu kecil tentu saja tidak tega kalau anak temannya itu mengalami hal yang lebih parah lagi.
“Cepat pergi kalian! Pergi!” Pria tua itu berkata dengan agak membentak.
“I-iya, Pak!” Imran dan Bondan menyahut sambil membawa tas mereka keluar dari warung tersebut.
Pada saat itu gerombolan Tarjo sedang berjalan menuju warung milik Pak Tua itu karena mereka sudah melihat arah pergerakan kedua remaja itu di rekaman CCTV yang berada di pos pantau terminal. Imran dan Bondan berunding terlebih dahulu sebelum mereka pergi meninggalkan warung.
“Im, apa yang harus kita lakukan sekarang? Coba kamu lihat sekarang! Orang-Orang itu sepertinya sedang menuju ke sini. Sebentar lagi mereka akan menggeledah tempat ini dan mengetahui keberadaan kita.”
“Bagaimana kalau kita berpencar, Ndan? Kamu naik langsung naik Angkot dan aku langsung pulang lewat rel kereta api?”
“Kamu bisa lihat sendiri, Im! Saat ini tidak ada Angkot yang sama sekali yang lewat. Kalau aku harus berjalan kearah timur, pasti mereka melihat dan mengejarku. Sudah tidak ad waktu lagi untuk naik Angkot bagiku, Im!”
“Kalau begitu kamu ikut sama aku saja berjalan ke utara dan melarikan diri melewati rel kereta api. Nanti kalau sudah di tempat yang aman barulah kamu bisa naik Angkot. Gimana?”
“Iya. Itu lebih aman kayaknya, Im.”
“Kalau begitu ayo kita buruan ke utara lewat gang kecil ini sebelum mereka melihat kita!”
__ADS_1
“Ayo!”
Imran dan Bondan pun buru-buru berjalan mengendap-endap melalui gang kecil ke arah utara. Di gang kecil itu banyak sekali orang yang berjualan makanan di kiri dan kanan jalan. Ketika kedua remaja itu berjalan ke arah utara, setiap orang yang ada di tempat itu memperhatikan mereka sehingga membuat kedua remaja itu merasa tidak nyaman. Mereka takut salah satu dari orang-orang itu memihak kepada Tarjo dan kawan-kawannya.
“Ayo, Im! Aku curiga dengan orang-orang ini. Cara mereka menatap ke arah kita seperti tidak enak begitu.”
“Iya, Ndan. Ayo, kita agak berlari saja biar cepat sampai di rel kereta api!”
Mereka berdua pun mulai mempercepat langkah agar segera sampai di rel kereta api. Rel kereta api itu posisinya sejajar dengan jalan raya. Hanya terhalang dengan rumah-rumah penduduk di antara keduanya.
Sementara itu gerombolan Tarjo sudah sampai di warung Pak Tua. Tarjo dan kawan-kawannya sedang mengintimidasi laki-laki tua tersebut.
“Hai, Pak! Ke mana dua anak sekolah itu?” bentak Tarjo.
“Anak sekolah yang mana, Jo?” Pria tua pura-pura tidak tahu.
“Ti-tidak, Tarjo! Aku tidak menyembunyikan kedua anak itu. Tadi mereka memang di sini, tapi Cuma sebentar terus mereka pergi naik Angkot.” Pak Tua menjawab dengan terbata-bata.
“Sebentar kamu bilang? Terus dua gelas teh ini apa? Kamu berusaha membohongi kami, ya?” teriak Darno sambil menunjuk ke arah dua gelas kosong bekas teh hangat Imran danBondan.
“A-anu, tadi saat mereka memesan minuma kebetulan tehnya sudah ada. Jadi, aku tinggal menuang saja.” Pak Tua masih berusaha membuat alibi.
“Terus, mangkok dan kain lap ini untuk apa? Kamu jangan main-main sama kami, ya?” teriak Karyo sambil membalik meja milik Pak Tua.
__ADS_1
“Ampuuuuun, Tarjo! Aku kasihan saja dengan kedua anak itu. Kalian ini kan besar-besar semua. Aku takut kalian akan membunuh kedua anak itu.” Pak Tua merengek minta ampun kepada Tarjo.
“Kamu tidak kasihan pada anak-anak kami yang dihajar oleh mereka berdua? Iya,kami memang akan mencincang mereka berdua kalau ketemu. Jadi, tolong katakan kepada kami ke mana mereka berdua pergi?” teriak Tarjo sambil menggebrak etalase milik Pak Tua.
“Ta-tadi mereka na-“ Pak Tua berkata dengan terbata-bata.
“Tarjoooooooooo!” Tiba-Tiba terdengar teriakan dari arah utara.
Anak buah Tarjo langsung ke luar warung dan mencari sumber suara. Sementara Tarjo tetap berada di dalam warung untuk menunggu informasi selanjutnya. Pak Tua semakin khawatir saja dengan nasib yang akan menimpa anaknya Ningrum dan temannya. Pak Tua itu menangis karena tidak tega membayangkan anak kecil yang sering ia kudang itu harus meregang nyawa karena akan dihajar oleh Tarjo dan kawan-kawannya.
Setelah beberapa detik berada di dalam warung, anak buah Tarjo berteriak dengan keras ke arah Tarjo.
“Kang Tarjo, kedua anak itu ada di relan kereta api!”
Saat mendengar teriakan anak buahnya itu, Tarjo langsung bangkit emosinya dan bersiap berlari untuk mengejar kedua anak itu. Pak Tua yang mendengar bahwa keberadaan Imran dan Bondan sudah diketahui oleh Tarjo dan anak buahnya pun langsung bersimpuh dan memegangi kaki sebelah kanan ketua preman tersebut.
“Jangan, Tarjo! Jangan! Aku mohon jangan aniaya anak-anak itu! Jangaaaaan! Kasihan mereka Tarjo!” Pak Tua menangis dan memelas kepada ketua preman itu.
Brak!
“Enyah kau Pak Tua! Mereka berdua itu harus mati karena sudah berani menganiaya anakku!” teriak Tarjo sambil menghentakkan kakinya keras-keras.
Tentu saja tubuh kerempeng Pak Tua tidak sebanding dengan tenaga Tarjo yang masih sangat prima. Hentakan kaki preman itu membuat mulut Pak Tua berdarah. Setelah lepas dari rangkulan Pak Tua, Tarjo dengan sinisnya langsung meninggalkan Pak Tua yang bersimbah darah itu di warungnya sendiri. Yang ada di pikiran ketua preman itu adalah menghajar dan menghabisi kedua remaja yang telah menyakiti anaknya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Penulis penasaran, novelku yang mana saja yang sudah kalian baca? Tolong tuliskan di kolom komentar!