JERITAN HANTU

JERITAN HANTU
KETAHUAN


__ADS_3

Imran terperangah begitu mengetahui kemunculan Pak Rudi yang tiba-tiba itu. Sementara itu Pak Prapto sedang menahan sakit di kepalanya akibat kepalanya tergores paku yang digunakan untuk memaku lukisan ke tembok.


“Aduh!!!” Pak Prapto meringis sambil memegangi kepalanya.


Pak Rudi yang semula menegur Imran dengan bahasa isyarat pun langsung melompati garis polisi dan menolong Pak Prapto agar tidak mengalami luka yang lebih serius.


“Terima kasih, Pak Rudi!” ucap Pak Prapto begitu ia selamat dari goresan paku yang hempir merobek kulit kepalana.


“Anda tidak kenapa-kenapa, Pak Prapto?” tanya Pak Rudi dengan wajah cemas.


Pak Prapto pun meraba bagian belakang kepalanya yang sempat bersentuhan dengan paku. Kemudian pria itu pun mengamati telapak tangannya yang digunakan untuk mengusap bagian belakang kepalanya. Ternyata tidak ada darah yang menempel di tangannya pertanda paku itu tidak sampai menggores ke dalam kuit kepalanya.


“Tidak apa-apa, Pak Rudi. Hanya lecet sedikit mungkin,” jawab Pak Prapto.


“Tolong antar Pak Prapto ke UKS, Im!”


“Iya, Pak!”


“Tidak perlu, Pak Rudi! Saya tidak kenapa-kenapa, kok!”


“Baiklah kalau begitu. Anggap saja ini tegura bagi petugas yang memasuki wilayah orang lain tanpa ijin,”


“Maafkan atas kelancangan saya, Pak Rudi. Saya benar-benar dikejar waktu sehingga tidak sempat menghubungi Pak Rudi untuk meminta ijin.”


“Tidak perlu meminta maaf. Ini juga ada andil kesalahan staf saya yang teledor dan kurang menjaga kepercayaan saya.”


“Tidak, Pak Rudi! Bu Iis tidak bersalah. Ini murni kesalahan saya. Saya tadi yang memaksa Bu Iis untuk memasuki ruangan ini. Tolong, Pak Rudi jangan menyalahkan Bu Iis atau Imran karena saya yang memaksa mereka berdua untuk masuk ke ruangan ini. Sekali lagi saya mohon maaf atas ketidaksopanan saya.”

__ADS_1


“Hm … baiklah! Apakah Pak Prapto masih perlu untuk memeriksa lebih lanjut? Silakan dilanjutkan kalau memang masih belum selesai!”


“Sepertinya sudah selesai pemeriksaan saya di tempat ini, Pak Rudi. Tidak ada bukti yang lain yang saya temukan di sini. Saya rasa anak buah saya sudah bekerja dengan teliti.”


Pak Prapto pun bangkit dan menengok ke belakang. Disentuhnya bagian paku yang hampir menggores kepalanya. Pak Prapto pun tersenyum dengan lebar kemudian ia melangkah meninggalkan ruangan tersebut dengan didampingi oleh ketiga orang yang lain.


Setelah berbincang-bincang selama beberapa menit dengan Pak Rudi, Pak Prapto pun minta ijin untuk pulang. Imran juga pamit pulang karena teman sekolahnya sudah pulang semua ke rumahnya masing-masing. Pak Rudi mengamati kepergian kedua orang yang berperilaku kurang sopan di wilayahnya itu.


“Im, kamu pulang naik apa?”


“Biasa Pak. Naik angkot.”


“Bagaimana kalau saya mengantarmu pulang hari ini? Sekaligus saya ingin bertemu dengan Kyai Nur?”


“Nanti malah merepotkan Pak Prapto.”


“Enggak kok. Ayo dah!”


Pak Prapto pun mengantar Imran pulang ke rumahnya di daerah Jatisari dengan menggunakan mobil pribadinya. Tentu saja Imran merasa senang karena kedatangan Pak Prapto di dusunnya sudah past ditunggu-tunggu oleh seluruh warga desa tersebut.


Dan benar saja. Sesampai Pak Prapto di dusun Jatisari, semua warga pun ramai-ramai mendatangi rumah Pak Hasan untuk bersalaman dengan Pak Prapto. Tak ketinggalan Kyai Nur dan Mbah Putri juga mendatangi rumah Pak Hasan untuk bertemu Pak Prapto. Mereka semua sangat senang bisa tmu kangen dengan polisi senior tersebut.


Pukul lima sore, Pak Prapto pun pamit pulang dan disambut dengan perasaan sedih oleh seluruh warga dusun Jatisari.


“Hati-Hati di jalan, Nak Prapto!”


“Inggih, Kyai …”

__ADS_1


“Salam untuk istrimu, ya?”


“Inggih, Nyi …”


Pak Prapto pun pergi mengendarai mobilnya menyusuri jalanan dusun Jatisari. Dan ia pun sampai di jalan raya saat saat langit sudah mulai surup. Pandangan mata Pak Prapto tertuju pada perempuan berpayung yang sedang berdiri di tengah jalan.


“Ngapain perempuan itu berdiri di tengah jalan di jam-jam segini? Apa ia ma menyeberang? Tapi, kendaraan sepi dia kok tetap berdiri di sana?”


Awalnya polisi tersebut mau cuek saja dengan perempuan itu, tapi sebagai polisi ia tidak mungkin membiarkan sesuatu terjadi pada perempuan itu. Ia pun turun dari mobil dan menghampiri perempuan itu.


“Mbak mau ke mana? Apa mau menyeberang? Mari saya bantu!”


Perempuan itu tidak menyahut. Malah ia membelakangi Pak Prapto. Pada saat yang sama Pak Prapto melihat truk dari arah barat dengan laju yang sangat kencang. Sopir truk itu seperti tidak melihat Pak Prapto dan perempuan berpayung itu. Pak Prapto melambaikan tangannya ke atas untuk memberi kode kepada sopir truk untuk memperlambat laju kendaraannya, tapi peringatannya tidak digubris oleh sopir truk.


Tidak ada pilihan lain yang bisa dilakukan Pak Prapto saat itu. Kala dibiarkan ia dan perempuan berpayung itu bisa menjadi korban ditabrak oleh sopir truk itu. Maka, dengan cepat Pak Prapto pun menarik lengan perempuan berpayung itu untuk ditarik ke pinggir menghindari tabrakan truk itu. Namun, sesuatu yang janggal tiba-tiba dirasakan oleh Pak Prapto saat ia memegangi tangan perempuan itu, pria itu merasa tangan itu dingin sekali dan ketika ia menarik tangan itu kekuatannya sangat luar biasa untuk bertahan. Meskipun Pak Prapto sudah mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menarik tangan perempuan itu, tapi tubuh perempuan itu seperti membatu dan tidak bergerak sedikitpun.


Pak Prapto semakin panik karena jarak mereka dengan truk sudah semakin dekat. Ia masih berusaha menarik lengan perempuan itu, tapi lagi-lagi tenaganya tidak mampu melakukannya. Dalam keadaan panik seperti itu tiba-tiba Pak Prapto seperti mendengar suara seseorang sedang berbisik di telinganya, “Tinggalkan perempuan itu! Dia itu bukan manusia biasa sepertimu!”


Begitu  mendengar suara itu, Pak Prapto langsung melepas tangannya pada perempuan itu dan ia pun berlari ke pinggir jalan sehingga ia pun bisa selamat dari truk yang sedang menuju ke tengah jalan.


“Ya Tuhan!” pekik Pak Prapto begitu melihat truk itu menabrak perempuan berpayung itu.


Namun, pria itu kembali terkejut karena sosok perempuan berpayung itu tiba-tiba saja menghilang dari pandangannya. Pada saat itu Pak Prapto baru menyadari bahwa perempuan berpayung itu adalah jin yang sedang berusaha mencelakainya. Menyadari keberadaannya yang sendirian di tempat itu, Pak Prapto pun berlari menuju mobilnya sambil membacakan ayat-ayat yang ia hapal. Setelah itu dengan gugup pria itu pun langsung menyalakan mobilnya untuk pergi jauh-jauh dari tempat itu. Seperti biasa pria itu sesekali menoleh ke kaca dashboard untuk mengecek apakah perempuan itu masih mengikutinya. Sepanjang jalan Pak Papto tak henti-hentinya membaca doa agar bisa selamat dari gangguan makhluk halus. Tepat saat azan Magrib, ia pun akhirnya sampai di depan rumahnya.


“Ada apa, Mas? Kok sampai keringetan begini?” sambut istrinya.


“Nggak apa-apa, Dik,” jawab Pak Prapto berbohong.

__ADS_1


Kali ini istri Pak Prapto mulai curiga dengn sikap suaminya yang aneh akhir-akhir ini.


BERSAMBUNG


__ADS_2