JERITAN HANTU

JERITAN HANTU
PEDAGANG KANTIN


__ADS_3

Bu Dul sedang mengemasi sisa-sisa dagangannya dan dimasukkan ke dalam kresek besar berwarna merah. Bu To yang di kantin menjual nasi pun ikut mengemasi barang-barangnya. Bedanya, Bu To hanya membawa pulang tempat nasi dan bumbu saja. Untuk perkakas makan yang lain hanya dimasukkan ke dalam laci kusus di bawah meja tempat ia menggelar masakan-masakannya.


“Bu To, mau pulang barengan atau pulang sendiri-sendiri?”


“Sebenarnya pinginnya sih pulang bareng karena sejak terungkapnya kasus itu saya ngeri kalau harus berada sendirian di sini. Tapi, saya sedang menunggu salah satu anak yang katanya mau melunasi hutangnya hari ini.”


“Kamu ini aneh-aneh saja, Bu To! Lah, dulu-dulunya kamu ke mana saja? Dulu pas saya ceritain kalau saya ketemu hantu berpakaian Satpam kamu nggak percaya. Kata kamu saya hanya berhalusinasi saja. Malahan kamu juga pernah melihat sendiri hantu itu, tapi kamu mengira itu anak-anak Ekskul theater yang sedang mengganggumu. Lah, teror hantunya sudah selesai kamu malah merasa ngeri. Piye kamu ini, Bu To? Emange siapa yang punya hutang sama kamu. Saya tebak pasti Si Anto anak kelas IX Ips 3 itu, ya?”


“Kok kamu tahu, Bu Dul? Jangan-Jangan dia juga punya hutang sama kamu juga, ya? Ntar, saya bantu nagihkan dah!”


“Ogah saya kapok sudah ngasih hutang ke anak-anak. Kamu ingat lulusan tahun lalu? Anak-Anak yang lulus tahun kemarin banyak yang punya hutang ke saya, tapi mereka nggak bayar. Mau nagih ke siapa kalau sudah begitu? Apalagi Si Anto itu. Lagaknya saja saya nggak suka. Masa, dia itu kan cowok tapi kok pake bedak segala.”


“Bedak? Mungkin maksudmu krim wajah? Wajarlah anak jaman sekarang pake krim wajah. Ngomong-Ngomong anak-anak yang lulus tahun lalu lunas semua hutangnya ke saya. Mereka bayar semua pas mau acara wisuda.”


“Loh kok bisa? Kamu pakai susuk, ya, supaya mereka bisa melunasi hutangnya ke kamu? Bukan krim. Masa saya nggak tahu krim wajah. Kamu lihat tiap mau pulang sekolah dia kan mampir ke sini terus dia menyendiri kebelakang dapur sana. Kamu tahu apa yang dia lakukan? Dia itu pakai bedak tabur ke wajahnya. Kelihatan banget itu bedak tabur lah wong mukanya yang gak gelap itu jadi cemong-cemong begitu. Ntar wes kamu perhatikan kalau dia ke belakang nanti.”


“Dasar kamu ini, Bu Dul! Kepoan banget jadi orang. Ngomong-Ngomong tentang penagihan hutang. Ngapain saya pakai susuk segala. Saya tinggal catat data hutang anak-anak terus saya datangi guru yang bertugas membagikan ijazah ke anak-anak. Ya sudah, saya minta tolong kepada guru tersebut untuk tidak memberika ijazah anak-anak sebelum melunasi hutangnya ke saya. Alhamdulillah, berkat pertolongan gur tersebut anak-anak tidak ada yang mangkir dari hutangnya.”


“Duh, dapat dari mana kamu ide seperti itu? Tahug itu saya pakai cara gitu juga waktu itu. Tapi, saya kapoh dah mau ngutangin ke anak-anak. Saya sudah nggak punya uang modal tambahan. Biar dah yang nggak punya uang nggak usah beli. Daripada saya bingung sendiri.”


“Itu juga pilihan bagus. Sudah, kalau Bu Dul mau pulang duluan nggak apa-apa. Saya  mau menunggu Anto membayar hutangnya dulu.”

__ADS_1


“Oke, jangan lupa kalau Anto balik dari belakang kamu perhatikan wajah cemongnya, ya!”


“Bu Duuuul …. Bu Duuuuuuul … Dasar tukang gosip!”


Bu Dul pun pulang duluan meninggakan Bu To sendirian di tempat tersebut.


Menit demi menit pun berlalu. Bu To semakin gelisah saja karena Anto tidak kunjung datang ke tempat tersebut. Padahal anak itu sudah berjanji akan membayar hutang sepulang mengikuti kegiatan Ekskul. Bu To sangat membutuhkan uang tersebut untuk dipakai membeli bumbu kacang.


Kegiatan Ekskul di sekolah tersebut memang tidak sepenuhnya dilaksanakan di dalam area sekolah. Terkadang, siswa harus keluar area sekolah untuk melakukan latihan. Awalnya Bu To sabar sekali menunggu Anto, tapi ketika hari semakin beranjak sore dan sebentar lagi mau surup, perempuan paruh baya itu pun tidak bisa menahan kesabarannya lebih lama lagi.


“Sialan kamu, Anto! Kamu mau main-main sama saya. Ntar, aku bakal laporin kamu ke kesiswaan biar kamu dihukum. Aku sampai capek nunggu kamu di sini, tapi kamu nggak datang-datang. Bikin sebal saja kamu nih! Sebaiknya aku pulangsaja sekarang. Sebentar lagi magrib. Urusan sama Anto biar aku selesaikan besok saja,” gerutu Bu To sambil mengangkat kresek merah berisi tempat nasi dan bumbu.


Baru saja perempuan itu akan meninggalkan kantin tersebut, tiba-tiba dengan ekor matanya ia seperti melihat seorang siswa sedang berjalan menuju bagian dapur kantin.


Tidak ada sahutan. Tapi perempuan itu yakin bahwa barusan yang lewat adalah Anto yang memang sudah ia tunggu-tunggu sejak sore tadi. Terlebih, ia mendengar suara seperti orang sedang beraktifitas di bagian belakang dapur. Perempuan itu pu kembali duduk di kursi dengan posisi tepat menghadap ke bagian pintu yang menuju ke arah belakang. Jadi, seandainya Anto selesai beraktifitas di belakang dan kembali ke luar, Bu To dapat melihat langsung bagaimana wajah Anto.


“Aku kok jadi penasaran ya dengan perkataan Bu Dul? Apa benar Anto itu kalau pulang sekolah harus pakai bedak dulu di wajahnya? Terus Bu Dul juga bilang bahwa wajah Anto setelah memakai bedak itu ntar cemong-cemong. Duh, aku kok malah geli duluan, ya?”


Belum tertawa, tiba-tiba Bu To mendengar suara cukup keras dari arah belakang.


Glodak!

__ADS_1


“Ada apa, To?” teriak Bu To dengan agak keras.


Lagi-Lagi Anto tdak menyahut. Sementara langit mulai surup dan Anto masih belum muncul dari arah dapur.


Tap Tep Tap Tep …


Terdengar suara langkah dari arah belakang kantin. Bu To harap-harap cemas menunggu pemilik langkah itu muncul di tengah pintu.


“Kamu, Anto?” Bu To memanggil nama Anto untuk memastikan bahwa  orang tersebut memang benar adalah Anto.


Lima detik kemudian pemilik langkah itu sudah tepat berdiri di  tengah-tengah kusen pintu dengan tatapan lurus ke arah Bu To. Namun, ternyata orang itu bukanlah Anto. Dia adalah seorang kakek yang wajahnya tida asing lagi bagi Bu To. Tapi yang ia lihat sekarang wujudnya terlihat seram dan tidak seperti manusia hidup.


“M-M-Mang D-Di-riiiiin???? Tidaaaaaak!!!!!” Bu To berteriak dan berlari meninggalkan kantin dengan sangat ketakutan.


Sepanjang ia berlari, perempuan itu terus berteriak meminta tolong. Ia tidak berani menoleh ke belakang karena ia merasa bahwa Mang Dirin sedang mengejarnya dari belakang. Jadi perempuan itu terus berlari ke depan hingga ia sampai di jalan raya. Ia baru tenang ketika ada Angkot yang berhenti untuknya.


“Ada apa, Bu?”


“Buruan , Pak Sopir! Barusan sya ketemu hantu!”


Pak Sopir hanya bisa menggelengkan kepala melihat aksi perempuan itu.

__ADS_1


“Makanya, kalau pulang agak siangan saja. jangan pas surup begini, Bu!”


BERSAMBUNG


__ADS_2