
Imran dan Bondan meringis menahan sakit akibat pukulan dan injakan preman-preman itu. Wajah keduanya sudah berlumuran darah akibat hantaman tangan dan juga benturan dengan batu yang ada di jalan tersebut. Kedua remaja itu menangis karena teringat dengan orang-orang yang mereka cintai. Mereka merasa bahwa usia mereka sudah tidak lama lagi karena akan dibunuh oleh Tarjo dan anak buahnya.
Beberapa saat kemudian Tarjo naik ke atas punggung Imran dan Bondan dan ia melempar tawa jumawahnya.
“Inilah akibat yang harus kalian tanggung karena berani berhadapan denganku. Kalian ini masih cecunguk sudah berani melawanku!” teriak Tarjo dengan keras.
“P-pak, to-long le-paskan ka-mi!” Bondan berusaha memohon kepada Tarjo.
“APA? Enak saja kamu memohon ampun padaku sekarang? Apa kamu tidak berpikir saat kamu menghajar anak-anak kami? Tidak ada hukuman yang pantas untuk orang yang berani melawanku selain kematian. Jangankan kalian, anak buahku saja bahkan sahabatku akan aku bunuh kalau berani melawan perintahku. Hayo, siapa di sini yang berani melawanku?” Tarjo berkata dengan nada tinggi yang ditujukan untuk anak buahnya.
“Tidak, Kang! Kami akan selalu patuh kepada Kang Tarjo,” jawab salah satu dari anak buah Tarjo.
“Bagus! Kalau kalian memang masih setia kepadaku. Kalian tahu sendiri, kan? Aku tidak akan mengampuni siapapun yang berani macam-macam denganku. Kalian ingat dengan si sopir angkot itu, kan? Meskipun dia itu sahabatku, ternyata dia itu adalah mata-mata polisi. Tapi karena dia mau melaporkan bisnis peredaran Narkoba yang aku rintis bersama si Karyo dan Darno, ya terpaksa kami habisi nyawanya beberapa waktu yang lalu. Apalagi Cuma cecunguk macam dua bocah ini! Ha ha ha ha ha …”
“Tapi, bukankah sahabat Kang Tarjo waktu itu meninggal karena kecelakaan?” tanya salah satu anak buah Tarjo yang cukup senior.
“Bodoh kamu! Sebelum ia kecelakaan, aku sudah menyuruh Karyo untuk memasukkan sesuatu ke kopi pesanannya,” jawab Tarjo dengan serius.
__ADS_1
Imran dan Bondan yang mendengar pengakuan Tarjo sontak menjadi marah setelah mengetahui bahwa Tarjo lah yang membunuh ayah angkatnya Arini. Kemudian Imran seperti menemukan kekuatannya kembali. Ia langsung berdiri dengan mengeluarkan sisa tenaganya. Bondan kaget melihat reaksi Imran yang di luar dugaannya. Karena Imran yang berdiri mendadak otomatis Tarjo kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Imran tidak membuang waktu, remaja itu langsung melayangkan pukulan bertubi-tubi ke arah Tarjo, sehingga wajah Tarjo menjadi babak belur dan mengeluarkan banyak darah.
“Ternyata kamu yang tekah membunuh ayahnya Arini!” teriak Imran dengan cukup keras.
Para anak buah Tarjo tertegun saat melihat Imran yang berlumuran darah tiba-tiba bangkit dan menghajar pimpinan mereka. Setelah Tarjo terjerembap ke tanah barulah mereka buru-buru melumpuhkan Imran kembali. Anak buah Tarjo mengalami kesulitan saat berusaha melumpuhkan Imran karena tenaganya yang sangat kuat. Butuh lebih dari lima orang untuk bisa menghalau pertahanan remaja itu.
“Kang Tarjo, kita apakan kedua cecunguk ini? Apa langsung kita habisi sekarang?” tanya salah satu dari anak buah Tarjo sambil menjambak rambut Imran.
Tarjo yang sudah babak belur sedang dipangku oleh anak buahnya yang lain. Semua bagian wajah preman itu sudah bengkak dan robek.
“Jangan! Aku suka dengan kenekatan anak itu. Aku tidak mau dia mati dengan cara semudah itu. Bakar saja kedua bocah itu sekarang!” jawab Tarjo dengan suara yang tidak begitu jelas karena mulutnya sudah remuk dihantam oleh Imran barusan.
“Bondan, maafkan aku ya? Aku sudah menyeretmu ke masalah ini.” Ucap Imran dengan lirih.
Bondan tidak menyahut. Ia hanya bisa menangis karena sebentar lagi ia akan mati oleh kebiadaban anak buah Tarjo.
Tarjo dibopong oleh beberapa anak buahnya agak menjauh dari posisi Imran dan Bondan. Sementara itu beberapa anak buah Tarjo menyedot bensin yang ada di dalam tangki sepeda motor untuk dituangkan ke helm. Setelah itu isi bensin di dalam helm disiramkan ke tubuh Imran dan Bondan.
__ADS_1
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrgh “ teriak Imran dan Bondan karena merasa perih saat cairan bensin itu mengenai luka-luka di sekujur tubuh mereka.
Anak buah Tarjo masih memegangi Imran dan Bondan ketika teman mereka mengambil lagi bensin dari dalam tangki motor yang lain untuk disiramkan ke sekujur tubuh mereka lagi. Untuk ke sekian kalinya Imran dan Bondan mengerang kesakitan akibat perihnya luka di tubuh mereka yang disiram oleh cairan bensin. Akhirnya kedua tubuh remaja itu sudah basah dengan bensin. Setelah itu orang-orang yang memegangi kedua remaja itu pun menjauh dari kedua remaja itu karena sebentar lagi Darno dan Karyo akan membakar kedua remaja itu. Mereka tidak ingin ikut terbakar juga tentunya.
“Ha ha ha … Suruh siapa kalian ikut campur dengan urusanku?” teriak Tarjo dengan sekuat tenaga padahal kondisinya saat itu sudah sangat lemah.
Darno dan Karyo yang sedang memegang korek mulai berjalan mendekati Imran dan Bondan. Langkah mereka berdua diiringi oleh sorak sorai anak buah Tarjo yang lain. Mereka semua seperti sudah kehilangan hati nuraninya sebagai manusia. Tak ada sedikit pun rasa kasihan kepada dua remaja yang sedang meregang nyawa itu. Yang ada di pikiran mereka saat itu adalah nafsu amarah karena kekuasaan mereka selama ini di terminal sudah dihancurkan oleh kedua remaja yang masih belia itu.
“Jangan, Pak!” teriak Bondan dengan lirih.
“Toloooooooong!!!” teriak Imran dengan sekuat tenaga.
Jalanan yang sepi dan cukup jauh dari pemukiman dan juga temaramnya langit sore menjadi saksi akhir perjuangan dua orang remaja yang ingin mengungkap misteri kematian ayahnya Arini dan juga hantu kakek tua. Imran dan Bondan sudah memegang kunci kedua misteri tersebut. Tapi, percuma saja karena sebentar lagi Tarjo dan anak buahnya akan membungkam mulut mereka berdua, yaitu dengan menghabiskan nyawa mereka berdua.
Imran sudah berhasil mendapatkan banyak informasi tentang ayahnya Arini dan juga Tarjo serta Mang Dirin. Ia juga mencocokkan dengan kertas undangan yang ia temui di jenazah ayahnya Arini. Semua itu mengerucut pada suatu kesimpulan bahwa Tarjo dan teman-temannya lah yang telah menghabisi nyawa ayahnya Arini dengan memberikan zat berbahaya ke minuman ayahnya Arini sebelum ia berangkat untuk menemui seseorang, sehingga ia mengalami kecelakaan dahsyat itu. Hal itu dikuatkan dengan pengakuan Tarjo sendiri beberapa saat yang lalu. Dan, kali ini Darno dan Karyo sudah sangat dekat posisinya dengan kedua remaja itu. Mulut kedua preman itu menyeringai seolah-olah ia sedang merendahkan lemahnya kedua remaja yang telah mengahajar anak-anak mereka.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Jangan lupa membaca karyaku yang lain yang berjudul TIKUNGAN SERAM