
Bielka terdiam saat mendengarkan perkataan si Virza itu, hatinya menjadi seperti berhenti berdetak untuk sesaat, Bielka pun salah tingkah dan berkata pada si Virza.
“Te-terserah padamu, yang pasti aku tidak akan kalah dari batu es sepertimu,” ucap Bielka kikuk pada Virza.
“Baiklah, ayo mulai.” saut Virza singkat
Mereka pun memulai pertandingan itu, Virza tampak membiarkan bola basket tersebut dipegang lebih dulu oleh si Bielka, namun Virza salah karena telah meremehkan seorang kapten tim basket putri Sma Dandelion. Bielka kini sedang berusaha mengelabui si Virza agar ia bisa memasukkan bolanya kedalam ring basket milik Virza, namun hal itu dipatahkan oleh Virza yang berhasil merebut bola dari Bielka, dan sekarang giliran si Virza yang memegang kendali permainan, ia terlihat santai namun serius, sementara Bielka sudah mulai berkeringat dan berusaha merebut bola dari Virza, dan tiba-tiba Virza meng-shoot dari tengah lapangan menuju ring basket.
“Masuk!!” ucap Virza dan tersenyum kecil pada Bielka.
Bielka sangat terkejut dengan tembakan yang dilakukan oleh Virza dari jarak di tengah lapangan basket itu, ia terdiam sesaat setelah melihat tembakan memukau dari Virza sebelum ia berkata pada Virza.
“Ka-kamu pernah bermain basket ya?” tanya Bielka pada Virza dengan raut wajah masih tak percaya.
“Kenapa kamu seterkejut itu? Apa ini pertama kalinya kamu melihat tembakan dari jarak jauh?” ucap Virza pada Bielka.
“Aku serius, bahkan atlit naisonal saja belum tentu bisa melakukan tembakan dari jarak seperti itu,” ucap Bielka pada si Virza.
“Coba tebak,” goda Virza pada Bielka.
“Iih ... aku serius Virza, jangan-jangan kamu selama ini menyembunyikan identitas kamu ya? Atau jangan-jangan kamu sebenarnya adalah intel? Bisa jadikan? Mengingat ayahmu adalah polisi dengan pangkat yang tinggi, atau jangan-jangan-“
“Cuupp!!”
Tiba-tiba bibir si Virza main nyosor aja dan mendarat tepat di bibir lembut milik si Bielka yang sedang bicara tanpa rem itu, seketika Bielka tersentak dan pupil matanya membesar terkejut tak menyangka dengan apa yang sedang dilakukan si Virza itu padanya. Bielka yang ikut terhanyut sesaat itu menolak untuk hanyut lebih jauh, ia pun tiba-tiba mendorong si Virza dan berkata.
“Brengs*k lo!” ucap Bielka dengan raut wajah kesal pada si Virza sambil menggosok-godok bibirnya dengan bajunya yang sempat disinggahi oleh bibir si Virza.
“Makasih,” ucap Virza pada Bielka lalu tersenyum padanya.
Bielka terdiam dan merasa ada yang aneh dengan senyuman si Virza, lebih tepatnya itu adalah senyuman dari orang yang baru saja bebas dari belenggu yang telah lama terikat pada dirinya.
Virza pun pergi begitu saja setelah tersenyum pada Bielka, sementara Bielka masih terdiam dan menatap Virza yang semakin jauh dari pandangannya.
__ADS_1
Bel pun berbunyi pertanda jam istirahat telah usai, dan akan memasuki jam pelajaran kedua, didalam kelasnya Virza tampak semua siswa maupun siswi sudah duduk dibangkunya masing-masing dan menunggu guru untuk masuk, begitupun si Virza yang langsung tidur di atas mejanya.
“Bielka? Kamu dari mana saja?” ucap si Kenzi yang melihat sahabatnya itu datang dan duduk disebelahnya.
“Jadi, kapan acaranya nih?” saut si Faris menggoda si Bielka dan mengingatkan perkataan si Bielka tadi.
“Apaan sih lo Faris, resek banget sih jadi orang,” jawab si Kenzy kesal dengan si Faris.
“Udah biarin aja, aku enggak apa-apa kok,” ucap Bielka pada Kenzy.
Pak Wewen pun masuk ke kelas dan pelajaran pun langsung dimulai, si Virza lalu bangun dari tidurnya dan mengikuti pelajaran sampai selesai. Tak terasa bel pulang pun berbunyi dan pak Wewen juga sudah meninggalkan kelas, sekarang tiba-tiba seorang siswi menghampiri si Virza.
“Maaf, ... hari ini adalah giliran kamu yang piket sama si Kenzy, jadi tolong kerja samanya ya,” ucap siswi itu pada Virza yang sudah menyandang tas dipunggungnya dan hendak pulang.
“Kamu siapa nyuruh-nyuruh?” ucap Virza menjawab siswi itu dingin.
“A-aku Dinda, ketua kelas kita,” ujar si Dinda yang ternyata adalah si Ketua kelasnya si Virza.
“Enggak usah pake kita, ketua kelas aja udah cukup,” jawab Virza pada Dinda lalu meletakkan tasnya kembali di atas mejanya.
“Ndaa ... kok aku sama dia sih? Enggak! Aku enggak sudi,” ucap si Kenzy pada Dinda.
“Kalau begitu Bielka aja yang gantiin kamu,” jawab si Dinda sambil menoleh ke arah Bielka.
Bielka tiba-tiba membesarkan matanya pada si Dinda seakan itu adalah kode ia menolak atas perkataan Dinda, namun belum sempat membuka mulutnya si Virza sudah memotong perkataannya duluan.
“A-aku enggak bis-“
“Enggak usah! Kalian pulang aja sono, aku bisa sendiri,” sergah Virza memotong perkataan si Bielka.
“Tapi-“
“Ya udah kalau gitu, yuk kita pulang Bielka,” ucap si Kenzy memotong perkataan si Dinda lalu menarik tangan Bielka keluar kelas.
__ADS_1
Setelah Bielka dan Kenzy pergi, sekarang hanya tinggal si Dinda dan Virza didalam kelas, Virza pun mulai mengangkat beberapa bangku ke atas meja tanpa mempedulikan si Dinda yang masih berdiri di dekatnya itu.
“Ternyata aslimu begini ya?” ucap si Dinda.
Virza tak menghiraukan perkataan si Dinda dan terus melanjutkan pekerjaannya itu mengangkat bangku, setelah semuanya selesai ia angkat, Virza pun mengambil sapu untuk menyapu lantai lagi.
“Kenapa sebelumnya kamu berpura-pura menjadi culun?” tanya si Dinda pada Virza.
Virza tiba-tiba berhenti menyapu dan menjatuhkan sapunya ke lantai, ia pun berjalan perlahan menghampiri si Dinda, dengan raut wajah bosan Virza pun berkata pada Dinda.
“Itu bukan urusanmu,” ucapnya singkat sambil menatap si Dinda.
Virza pun membalikkan badannya dan hendak kembali untuk melanjukan kegiatan menyapunya, namun tiba-tiba si Dinda mengatkan hal yang membuat Virza cukup terkejut dan kembali menoleh ke arahnya.
“Kamu suka Bielka kan?” ucap si Dinda pada Virza tiba-tiba.
Virza terdiam sesaat setelah mendengar kata yang mengejutkan keluar dari mulut si Dinda, ia pun kembali berjalan mendekati si Dinda hingga mereka berdua berhadapan satu sama lain.
“Kenapa kau cerewet sekali? Dan kenapa kau tanya itu padaku?” ucap si Virza pada Dinda.
“Apa kau juga sedang berpura-pura bodoh?” ucap si Dinda pada Virza.
“Hah?” saut Virza bingung tak faham apa maksud dari perkataan si Dinda terhadapnya.
“Walaupun aku ini pendiam didalam kelas tapi aku sangat peka dengan apa yang ada disekitarku, jangan bilang kau tidak tahu kalau si Bielka itu suka padamu,” ujar si Dinda pada Virza.
“Lalu?” ucap Virza singkat dan bodo amat.
“Aku hanya ingin memastikan, jika kamu juga mempunyai perasaan yang sama dengan perasaannya Bielka maka aku tidak akan mengatakan ini padamu, tapi jika sebaliknya maka, ... kamu harus berhati-hati dengan dia,” ujar si Dinda dengan raut wajah serius pada Virza.
“Dia?” saut Virza bingung.
“Malaikat ber-otak emas! Ketua osis Sma Dandelion yang terkenal dengan parasnya yang cantik dan hobi anehnya yang suka merebut pacar orang,” ujar si Dinda pada Virza.
__ADS_1
“Memangnya siapa dia?” tanya si Virza pada Dinda.