
Semua orang terdiam dan membeku setelah mendengar perkataan siswa baru itu yang berani menjawab si Faris si kapten ternama tim futsal Sma Dandelion. Melihat Faris yang terdiam karena jawaban tak terduga dari siswa baru itu membuat Renzy dan Bielka terkekeh menertawai si Faris. Faris yang tak terima dengan hal itu pun hendak menjawab siswa baru itu, namun sudah lebih dulu dimarahi oleh Pak guru.
“Faris! Apa-apaan kamu, kalau kamu tidak bisa menjaga sikapmu maka bapak akan laporkan kamu ke guru bp, faham kamu!” ucap Pak guru menegur si Faris.
Semua siswa yang ada didalam kelas itu pun kembali tenang dan memperhatikan Pak guru yang ada didepan kelas, dan tanpa disuruh oleh Pak guru si siswa baru itu pun melanjutkan sesi perkenalannya.
“Sebelum aku memulai perkenalan yang tidak berguna ini, izinkan aku untuk berterimakasih pada dia tadi yang sudah mengataiku, karena dia rasa grogi dan canggungku yang tadinya ada sekarang sudah hilang. Perkenalkan ... bagi yang mau kenal dan bagi yang tidak juga tidak masalah, namaku Virza Arjeska Putra, jenis kelamin laki-laki, dan aku tidak suka dengan apa yang tidak aku suka, aku juga suka dengan apa yang aku suka, untuk info lebih lanjut silahkan hubungi yang bersangkutan, salam kenal semuanya.” Ujar Virza dengan penuh percaya diri dan membuat semua orang tercengang membeku dengan perkataannya itu, bahkan Pak guru saja sampai tak bisa berkata-kata. Dan dalam susana yang diam itu tiba-tiba si Renzy malah bertepuk tangan sendiri menyambut siswa baru itu.
“Sungguh perkenalan yang luar biasa, sekarang kamu bisa duduk,” ucap Pak guru pada si Virza.
Virza pun langsung berjalan menuju bangku kosong yang tepat berada didepan meja Bielka dan Renzy lalu duduk disana. Sedangkan Bielka pandangannya masih saja tertuju pada si Virza walaupun yang dia lihat itu hanyalah punggung dan bahu Virza yang lebar dan seksi itu.
“Baiklah siswa sekalian, mari kita mulai pelajaran kita hari ini, silahkan kalian buka buku kalian di halaman 34,” ucap Pak guru pada semua siswa.
Sementara si Faris masih saja melototi si Virza dengan amarah dan emosinya, Delta tahu akan hal itu lalu menyapa si Faris dan bertanya padanya dengan ragu-ragu, dan belum sempat bertanya malah si Faris yang lebih dulu berbicara padanya tanpa menoleh ke arahnya dan berkata.
“Taa, nanti pas pulang sekolah lo kumpulin semua anak futsal di belakang gedung olahraga ya,” ucap si Faris pada temannya si Delta.
“Hah? Bukannya hari ini enggak jadwal latihan, lagian kan tadi udah diumumkan kalau tim futsal sekolah lagi proses seleksi ulang,” ujar si Delta menjawab Faris.
“Ikutin aja apa yang gue katakan, pokoknya aku gak mau tahu saat jam pulang nanti semuanya udah stand by di belakang gedung olahraga, faham!” tegas si Faris pada si Delta dengan nada mengancam.
Si Delta mengangguk faham dengan apa yang dikatakan oleh si Faris, ia faham betul apa yang sedang direncanakan oleh si Faris itu, pasti dia akan membalas perlakuan siswa baru bernama Virza itu karena sudah mempermalukannya dan berani melawannya secara terang-terangan.
“Dasar Faris sial*n! Lo pikir gue gak tahu kalau lo mau ngasih pelajaran sama tuh anak baru, emang sampah lo Ris didepan orang-orang lo bersikap jadi anak baik sebagai kapten tim futsal sekolah kita, tapi dibalik itu semua lo tuh sampah yang gak bisa didaur ulang lagi,” gumam Delta dalam hatinya mengumpati temannya sendiri yaitu si Faris.
__ADS_1
Disisi lain, Kenzy yang tengah fokus menulis dibuku catatannya sambil mendengarkan penjelasan Pak guru didepan melihat sahabatnya yang tidak melakukan apapun dan malah memainkan penanya sambil menatap penuh makna ke arah Virza yang duduk didepan bangku mereka.
“Eh, lo tuh lagi ngapain? Dari tadi bengong kayak monyet lagi nyari anaknya aja,” bisik Kenzy pada sahabatnya itu si Bielka.
“Aku tuh lagi menikmati dan melihat masa depan gue,” jawab Bielka tanpa ada rasa berdosa sedikit pun.
“Apa? gila lo ya?” ucap Kenzy yang semakin keras intonasinya tanpa sengaja.
Mendengar suara Kenzy yang tiba-tiba itu, Pak guru pun menoleh ke belakang dan menegur Kenzy dengan ceramah dua puluh empat harinya.
“Kenzy? Apa kamu bilang barusan? Gila? kamu tuh niat belajar enggak sih, kalau kamu enggak bisa tenang dalam kelas mending kamu keluar saja, lain kerjaan orang lain kerjaan kamu,” tegur Pak guru pada menceramahi si Kenzy.
“Maaf Pak ....” saut Kenzy menahan malu dengan tingkah lakunya sendiri.
Kelas pun berlanjut seperti biasa dan mengalir begitu saja, hingga bel sekolah berbunyi menandakan jam pulang, dan kelas hari ini pun telah usai. Dan Faris langsung bergegas menuju arah gedung olahraga diikuti oleh Delta dibelakangnya. Sementara si Virza yang sedang memasukkan buku-bukunya kedalam tas malah dihampiri oleh Bielka dan Kenzy.
“Kalau aku Kenzy sahabatnya Bielka,” sambung Kenzy dan ikut menyodorkan tangannya.
“Sorry, gak minat.” jawab Virza singkat.
Virza pun pergi acuh tak acuh dengan Bielka dan Kenzy, sedangkan dari pancaran mata si Bielka malah terlihat mata yang sedang berbinar-binar mengagumi seseorang. Kenzy pun merasa sifat si Virza itu lebih menyebalkan dari pada sifat si Faris namun sahabatnya itu tak menghiraukan perkataannya.
“Zii, kayaknya gue ... astaga! Gue lupa ngambil kunci gedung olahraga sama pak Wewen,” ucap Bielka.
“Hah? Apa sih? Ya udah kalo gitu ayo gue temenin lo ngambil kuncinya, mumpung kita masih disekolah,” ujar si Kenzy pada Bielka.
__ADS_1
Dalam perjalanan mereka menuju ruang guru, Kenzy begitu penasaran dengan apa yang akan Bielka katakan tadi, sepertinya sahabatnya itu sengaja mengubah topik pembicaraan begitu, dan hal itu membuat Kenzy mulai curiga dengan sahabatnya itu.
Disisi lain, tampak si Virza yang sedang melewati halaman gedung olahraga dengan sepedanya yang terkesan antik dilihat dari modelnya, namun ia tak tahu bahwa si Faris dan teman-temannya sedang menunggunya di samping gedung olahraga. Delta yang tangah asyik mengobrol dengan teman-teman dari tim futsal itu langsung tersentak ketika melihat si Virza yang sedang lewat didepan mereka, Delta pun memanggil si Faris dan mereka berdua pun bertemu kembali di jalan depan halam gedung olahraga.
“Hei! lo Virza kan?” tanya salah satu anak futsal sambil menghadang jalan Virza.
Virza yang sedang mendorong sepedanya itu terlihat santai dan tenang saja, ia pun menurunkan stak kaki sepedanya dan menjawab anak futsal yang sedang melabraknya.
“Ada perlu apa?” ucap Virza bodo amat.
“Coba lihat anak baru ini, padahal dia cupu begini tapi lagaknya bu-“
“Aku tanya ada perlu apa?” ucap Virza memotong perkataan salah satu anak futsal yang sok jago didepannya itu dengan nada mencemooh.
Melihat tingkah laku si Virza yang tak kenal takut itu, si Faris pun menghampirinya dan langsung berhadapan dengannya sambil menatap tajam si Virza, semua anak futsal terlihat tegang dengan suasananya yang panas itu.
“Kamu tahu siapa aku kan?” tanya Faris sambil menaikkan sebelah alisnya dengan intonasi menantang.
Bola mata Virza menatap balik Faris dengan tajam dan penuh makna seperti gunung berapi yang akan segera meletus, dengan santai si Virza menjawab si Faris.
“Tahu kok, kamu anak kelas gue yang mencoba mempermalukan aku namun malah kamu sendiri yang malu tadi kan?” ucap Virza sambil tersenyum sinis menatap si Faris tajam tanpa buyar sedikit pun.
Mendengar perkataan si Virza yang meremehkannya, amarah dan emosi si Faris sudah mencapai batas, si Faris pun dengan spontan mengangkat tanganya dan mengambil kuda-kuda seperti akan meninju si Virza, dan saat si Faris melayangkan tinjunya ke arah wajah Virza, tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang perempuan yang tidak asing bagi mereka berdua.
“Faariiiss!!” suara wanita meneriaki Faris yang hendak melayangkan pukulan pada si Virza.
__ADS_1
“Bi-Bielka?” ucap Faris melihat sambil melihat wanita yang telah meneriakinya dengan lantang.