Jeruk Nipis & Batu Es

Jeruk Nipis & Batu Es
Chapter 18


__ADS_3

Kenzy yang baru saja melihat papan pengumuman itu kemudian bergegas pergi ke ruang kelasnya mencari sahabatnya itu yaitu si Bielka. Setibanya Kenzy di kelasnya ia langsung menghampiri Bielka yang tengah bengong di bangkunya.


    “Bi-bielka? Kamu udah tahu kalau-“ ucap Kenzy perlahan pada Bielka.


    “Udah kok,” jawab Bielka memotong perkataan Kenzy.


    “Kaa ... kamu enggak apa-apa kan?” tanya Kenzy mengkhawatirkan sahabatnya itu.


    Bielka pun tersenyum pada sahabatnya itu, dia berdiri dari duduknya lalu memegang kedua bahu Kenzy dan berkata padanya.


    “Aku enggak apa-apa kok, lagian mataku kan belum sembuh total, udahlah ... enggak usah dipikirin,” ucap Bielka pada Kenzy.


    “Tapikan kamu kaptennya, hanya kamu yang bisa jadi kapten kami,” ucap si Kenzy pada Bielka.


    Saat Bielka hendak mau menjawab perkataan sahabatnya itu, tiba-tiba banyak dari para siswa maupun siswi yang berlarian di lorong kelas sambil menyebut nama Virza, dan tak sengaja terdengar oleh telinga si Bielka.


    “Ada apa itu rame-rame?” ucap Bielka melihat banyak siswa dan siswi berlarian menuju ke arah ruang guru.


    “Enggak tahu, kita lihat yuk,” ajak Kenzy.


    Bielka dan Kenzy pun mengikuti rombongan siswa dan siswi lainnya yang menuju ke ruang guru itu, dan setibanya mereka disana, alangkah terkejutnya mereka karena melihat Virza dan pak Firdaus selaku kepala sekolah Sma Dandelion sedang adu mulut didepan khalayak.


    “Virza!! Kalau kamu begini kamu bisa saya keluarkan dari sekolah ini,” tegas pak Firdaus memarahi si Virza.


    “Saya bersedia keluar kalau bapak kembali memasukkan nama Bielka dalam tim putri,” ucap si Virza menjawab pak Firdaus.


    “Kan udah saya bilang! dia itu belum sembuh total-“


    “Tapi bapak kan tahu kalau dia itu kapte-“


    “Cukuuup!!” teriak pak Wewen membuat Virza dan pak Firdaus terdiam.

__ADS_1


    Sedangkan Bielka tak bisa berkata apa-apa setelah melihat apa yang dilakukan oleh Virza didepan orang banyak itu, ia langsung pergi begitu saja dan dikejar oleh sahabatnya si Kenzy.


    “Bielka?! Kamu mau kemana? Tunggu!” ucap Kenzy memanggil Bielka sambil berlari mengikutinya.


    Sedangkan didepan kerumunan siswa dan siswi, terlihat pak Wewen yang tak lain adalah wali kelasnya si Virza sendiri sedang menghampiri dia dan pak kepsek. Virza masih teguh dengan niatan dan protesnya terhadap masalah Bielka yang tak dipilih untuk kejuaraan naisonal itu.


    “Pak Wewen? Bapak kenapa kesini? Kalau bapak juga mau mendukung keputusan kepala sekolah saya tidak segan-segan melaporkan sekolah ini-“


    “Melaporkan apa?! kamu tahu sikap kamu ini sudah kelewataan dan tak menghormati seorang gurumu sendiri, bagaimana pun saya sebagai wali kelasmu merasa malu dengan apa yang telah kamu perbuat ini,” ujar pak Wewen memarahi Virza.


    Virza pun tertunduk diam, ia merasa tidak bisa lagi untuk bersikeras karena pak Wewen juga berpihak pada keputusan kepala sekolah, namun itu hanyalah anggapannya sebelum pak Wewen wali kelasnya melanjutkan perkataannya.


    “Tapi ... Bapak juga kecewa dengan keputusan sekolah yang tidak mempertibangkannya karena telah mencoret anak didik kesayangan saya si Bielka,” sambung pak Wewen melanjutkan perkataannya.


    Virza yang mendengarkan hal itu seketika tegap kembali dan tak percaya dengan perkataan wali kelasnya itu, namun berbeda dengan pak Firdaus selaku kepala sekolah itu.


    “Apa? apa maksudnya itu pak Wewen? Kenapa Bapak malah memihak dia?” ucap pak Firdaus pada pak Wewen.


    Mendengar perkataan pak Wewen, semua siswa dan siswi yang melihat itu pun langsung heboh dan merekam kejadian itu, pak Firdaus yang melihat banyaknya mata dan telinga yang mendengar, akhirnya beliau mencoba berdamai dan menghindari namanya agar tak tercemar, beliau pun berkata pada pak Wewen dan Virza.


    “Tolong tenang semua! Baiklah ... saya akan mengevaluasi lagi mengenai masalah ini, dan tentang rumor saya yang dikatakan oleh pak Wewen barusan, saya tidak pernah berbuat demikian, bahkan untuk berpikiran seperti itu sedikit pun, jadi mari kita berpikir positif dan tak menelan bulat-bulat rumor tersebut,” ujar pak Firdaus berusaha menenangkan massa.


    “Saya pegang omongan bapak,” ucap Virza.


    “Baiklah ... kalau begitu mari kita bubar dan kembali ke kelas masing-masing karena sudah mau masuk jam pelajaran, saya akan menyampaikan hasil evaluasi bersama pak Kepsek secepatnya, jadi mari bubar dengan tenang.” ucap pak Wewen.


    Semua orang pun perlahan bubar dan begitu pun dengan si Virza, ia langsung pergi kembali ke kelasnya dengan raut wajah sumringah karena ia berhasil.


    Setibanya ia di kelas, Virza sudah ditunggu oleh Bielka yang tepat berdiri didepan kelas dengan raut wajah kesal dan marah, Bielka perlahan berjalan menghampiri si Virza hingga mereka berdua berhadapan dengan dekat, lalu.


    “Plaaakh!!”

__ADS_1


    Suara tamparan yang cukup keras mendarat di pipi kiri Virza hingga suaranya bergema dalam ruangan kelas, Kenzy langsung menutupi mulutnya dengan tangannya tak percaya, begitupan semua anak-anak yang ada di kelas ikut terdiam kaku setelah melihat dan mendengar tamparan keras dari Bielka itu. Sedangkan Virza memasang raut wajah beingung dan tak percaya dengan apa yang telah dilakukan oleh Bielka padanya tersebut.


    “Apa maksudnya ini?” ucap Virza pada Bielka.


    “Aku sekarang ... sangat benci padamu!” ucap Bielka.


    Seketika Virza merasa jantungnya berhenti berdetak setelah mendengar ucapan Bielka padanya itu, ia tak bisa berkata-apa seletah mendengar Bielka berkata bahwa ia sangat membenci dirinya, Virza terdiam bisu dengan raut wajahnya yang sangat syok setelah mendengar ucapan Bielka barusan.


    Sedangkan Bielka malah pergi begitu saja setelah mengatakan hal yang mengerikan itu, Kenzy kembali mencoba mengejarnya dan meninggalkan kelas. Sedangkan Virza masih berdiri diam didepan kelas tak bergeming sedikit pun.


    Keesokan harinya, seperti biasa suasana di Sma Dandelion yang akan segera memulai jam pelajaran setelah bel dibunyikan, namun hari ini ada yang berbeda dengan kelas XI Ipa 1, karena bangku yang biasanya diduduki bahu kekar yang tepat berada didepannya kini kosong tak berpenghuni, dan itu adalah bangkunya si Virza.


    Bielka terlihat masih marah dengan apa yang telah dilakukan Virza untuk dirinya, namun ia juga merasa tidak enak karena sudah terlalu kasar berkata pada Virza kemarin. Melihat sahabatnya yang terlihat gelisah dan cemberut, Kenzy pun menanyakan hal itu pada Bielka.


    “Bielka? Masih kepikiran yang kemaren?” tanya Kenzy pada sahabatnya itu.


    “En-enggak kok, emang kelihatan ya?” ucap Bielka pada Kenzy.


    “Lo merasa bersalah kan?” ucap Kenzy pada Bielka.


    Tak lama kemudian jam istirahat pun tiba, sekarang Kenzy dan Bielka sedang makan dikantin sambil membicarakan masalah kamarin tentang Virza. Terutama si Bielka yang sudah menampar dan mengatakan bahwa dia sangat membenci Virza, bahkan Virza sampai tak masuk sekolah dan Bielka merasa itu karena dia.


    “Aku juga tak menyangka kalau lo akan nampar tuh batu es, abis lo tampar lo katain kalau lo benci dia,” ujar Kenzy pada sahabatnya itu si Bielka sambil mengunyah bakso tahunya.


    “Duuh ... waktu itu aku lagi enggak bisa ngontrol emosi, terus gimana dong nih? Hadduuuh ....” desah Bielka menggerutu.


    “Gimana kalau kita samperin tuh batu es lalu lo minta maaf ke dia,” ucap si Kenzy.


    “Gila lo ya! Mana berani aku,” ucap Bielka.


    “Habis itu ... kamu mau merasa bersalah selama dia enggak masuk sekolah,” ucap si Kenzy.

__ADS_1


    Keesokan harinya sepulang sekolah, mereka berdua pun pergi menghampiri kediaman si Virza.


__ADS_2