Jeruk Nipis & Batu Es

Jeruk Nipis & Batu Es
Chapter 19


__ADS_3

“Permisi!” ucap Kenzy.


    “Kayaknya enggak ada orang deh, kita pergi aja yuk,” ujar si Bielka pada Kenzy.


    “Iih, bentar dulu ... gue coba panggil lagi ya, Permisiii!” ucap si Kenzy namun tetap tak ada jawaban dari dalam.


    “Tuhkan, yuk pergi aja mungkin lain kali aja,” ujar Bielka sambil menarik-narik tangan sahabatnya itu.


    Mereka berdua pun pergi meninggalkan kediaman si Virza, namun disisi lain ternyata si Virza dari tadi mendengar Kenzy dan Bielka dibalik pintu pagarnya tersebut, dengan raut wajah lesu dan sedikit pucat Virza bergumam dalam hatinya.


    “Kenapa mereka datang kerumahku?” gumam Virza bicara sendiri dalam harinya.


    Malam harinya, dikediaman si Virza terlihat ia sedang berbaring di atas kasurnya sambil memainkan ponselnya, Virza masih tak habis pikir dan sangat terpukul dengan perkataan Bielka yang mengutarakan kebenciannya secara terus-terang dihadapannya.


    “Brengs*k! padahal aku sudah susah payah membelanya agar bisa kembali lagi ke timnya, tapi kenapa dia malah menamparku? Bahkan dia bilang benci padaku, apa salahku coba?” gumam Virza biara sendiri dikamarnya.


    Tiba-tiba ponselnya berdering dan tenryata itu adalah notifikasi dari si Dinda yang tak lain adalah ketua kelasnya sendiri, ia pun membuka pesan yang dikirim oleh Dinda padanya melalui Whatsapp.


    “Kau kenapa? Kenapa tidak masuk sekolah? Setidaknya beritahu aku agar aku bisa melaporkannya pada pak Wewen,” ucap si Dinda dalam pesannya pada Virza.


    Virza yang sudah membaca dan melihat pesan dari si Dinda itu hanya melihat pesan itu sesaat lalu mematikan ponselnya tanpa membalas pesan tersebut, bahkan si Virza langsung menarik selimutnya lalu tidur.


    “Bielka, sebenci itukah dirimu padaku hingga kau tak menanyakan kenapa aku tidak masuk kelas hari ini, terimakasih telah menyadarkanku lebih cepat, karena ternyata aku ini bukanlah orang yang penting bagimu, selamat tidur Bielka.” Gumam Virza bicara sendiri sambil menatap loteng kamarnya lalu memejamkan matanya.


    Keesokan harinya di Sma Dandelion, semua orang yang ada dikelas terkejut dengan kedatangan Virza yang belakangan ini bolos sekolah tanpa keterengan setelah Bielka mengatakan bahwa dia membenci Virza. Virza yang baru saja datang ke kelas itu terlihat seperti biasanya dan langsung duduk dibangkunya.


    Tak lama kemudian Bielka dan Kenzy pun datang masuk ke kelas, Bielka tersentak saat melihat sosok pria berbahu kekar itu sedang tidur di depan bangkunya, ia pun berbicara sendiri dalam hatinya.


    “Virza? Kenapa dia tiba-tiba masuk sekolah hari ini? apa dia sudah ... sepertinya aku harus minta maaf padanya hari ini juga,” gumam Bielka dalam hatinya lalu pergi duduk dibangkunya.


    Tak selang lama mereka duduk, pak Wewen pun masuk dan memulai pelajaran beliau, dan sebelum beliau memulai pelajaran tentu saja seperti sekolah pada umumnya, beliau mengabsen siswanya terlebih dahulu.


    “Delta Bagaskara?” ucap pak Wewen.

__ADS_1


    “Hadir Pak,”


    “Faris Teja Nugroho?”


    “Hadir,”


    “Virza Arjeska Putra? ... Virza? Apa Virza enggak masuk lagi hari ini,” tanya pak Wewen karena tak ada jawaban dari Virza.


    Kenzy yang melihat Virza sedang tertidur pulas didepan bangku mereka pun lalu melemparinya dengan kertas, dan pada akhirnya Virza pun bangun.


    “Hah? Udah jam istirahat ya?” ucapnya sambil mengusap matanya.


    “Virza! Jam istirahat apanya? Padahal saya panggil dari tadi ternyata kamu malah tidur padahal ini masih pagi, pergi cuci muka dulu sana,” ujar pak Wewen pada Virza.


    Virza pun berdiri dan pergi ke toilet untuk mencuci mukanya, sedangkan si Bielka malah membuang muka saat Virza sempat menoleh ke arahnya sebelum ia keluar kelas. Sembari menunggu Virza yang sedang mencuci mukanya, pak Wewen pun melanjutkan absensinya.


    “Bielka Nandira Wilonazifa?”


    “Hadir Pak,”


    “Hadir Pak,”


    Begitulah seterusnya hingga Virza kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran tanpa bicara apapun pada siapapun. Sesaat sebelum bel istirahat berbunyi, Bielka dan Kenzy tampak sedang membicarakan sesuatu yang serius jika dilihat dari raut wajah keduanya.


    “Enggak gitu Bielkaaa ... pokoknya lo harus minta maaf hari ini ke dia titik,” ujar Kenzy pada Bielka.


    “Tapi Ziii, gue bener-bener enggak punya keberanian setelah apa yang gue lakuin ke dia tempo hari,” saut Bielka.


    Tak lama kemudian bel istirahat pun berbunyi, pak Wewen pun pergi meninggalkan kelas, setelahnya Bielka dan Kenzy pun hendak ingin bicara dengan si Virza, namun belum sempat mereka membuka mulutnya, Virza sudah berdiri dan pergi begitu saja meninggalkan kelas.


    “Duuhh ... keburu pergi dia kan jadinya,” ucap Kenzy pada Bielka yang masih ragu-ragu.


    “Kayak gue enggak bisa deh minta maaf ke dia Zii,” ucap Bielka terlihat pasrah.

__ADS_1


    “Terus lo mau sampai kapan merasa bersalah kayak gini? Kenapa sih lo susah benget kalau berkaitan tentang dia? atau jangan-jangan-“


    “Jangan-jangan apa? enggak usah aneh-aneh deh Zii,” ucap Bielka meomotong perkataan sahabatnya tiba-tiba, lalu pergi ke luar kelas.


    “Eh Kaa! Tunggu gue mau kemana lo main lari aja, pasti karena itu kan? Iya kan?” ujar Kenzy sambil menyusul Bielka di lorong kelas.


    “Apaan sih Zii,” ucap Bielka mulai risih dengan Kenzy yang terus mengikutinya.


    Kenzy yang sudah mulai habis kesabarannya pun akhirnya mengatakannya, ia mengatakan secara terus terang tentang kecurigaannya selama ini terhadap sahabatnya itu yang berkaitan tentang pria bernama Virza ini.


    “Lo suka sama Virza kan!” teriak Kenzy yang bergema dilorong kelas anak Ipa.


    Seketika langkah kaki Bielka terhenti, ia tak bisa berkata apa-apa selain menelan ludahnya sendiri, perasaannya menjadi kalang kabut setelah mendengar perkataan Kenzy yang telah menyentuh sesuatu yang selama ini ia pendam didalam hatinya. Kenzy pun berjalan menghampiri si Bielka, Bielka pun menoleh ke arah Kenzy dengan raut wajah penuh arti menatap sahabatnya itu.


    “Kenzy ... dari mana lo tahu kalau gue-“


    “Tahulah! Lo pikir udah berapa lama kita temenan hah, gue udah faham betul sama sifat dan karakter lo Kaa,” ucap Kenzy memotong perkataan sahabatnya tersebut.


    “Sejak kapan? Sejak kapan lo tahu?” tanya Bielka.


    “Sejak hari pertama ia pindah ke sekolah ini,” jawab Kenzy dengan pertanyaan Bielka.


    Sedangkan disisi lain, terlihat Lavinka yang tak sengaja mendengar percakapan antara Bielka dan Kenzy yang tepat berada didepan pintu kelasnya XI Ipa 2. Lavinka tersenyum sinis sambil bergumam dalam hatinya.


    “Jadi cewek ini yang ngebuat lo enggak masuk sekolah beberapa hari ini, dasar si Virza kamu emang enggak bisa memilih cewek, kenapa kamu sampai segitunya dengan cewek tomboy dan enggak cantik begitu? Kayaknya bakal seru nih,” gumam Lavinka sambil tersenyum sinis dibalik pintu kelasnya.


    Sedangkan disebuah taman yang dekat dengan perpustakaan, terlihat Virza yang duduk sendiri di sebuah bangku panjang tepat dibawah pohon yang rindang, ia terlihat bengong dan memikirkan suatu hal, namun tiba-tiba dia dihampiri oleh ketua kelasnya si Dinda.


    “Ngapain lo disini?” tanya Dinda pada Virza.


    “Hah? Ketua kelas? ... enggak ngapa-ngapain kok, ada apa?” ujar Virza lalu bertanya balik pada Dinda.


    Dinda pun duduk bersama Virza di kursi panjang itu sebelum ia menjawab pertanyaan Virza barusan, Dinda terlihat kesal dan sedikit marah pada Virza sebelum ia menjawab pertanyaa Virza.

__ADS_1


    “Gue sebenarnya enggak suka ikut campur urusan orang lain, tapi ... entah kenapa gue kesal ngeliat lo yang bodoh dan enggak peka sama sekali, mau sampai kapan lo mau ngebuat Bielka sedih?” ucap Dinda menceramahi si Virza yang terlihat bingung dengan perkataanya.


__ADS_2