
Semua teman-temannya Inara terkejut saat Yuda menghampiri mereka, mereka sangat mengidolakan Yuda karena ia adalah kapten tim basket putra Sma Dandelion yang sangat terkenal.
“Ada apa kak Yuda?” tanya Inara pada Yuda.
“Aku mau minta tolong padamu,” ucap Yuda pada Inara dan membisikkannya ke telinga Inara.
Setelah membisikan sesuatu pada Inara, Yuda pun pergi kembali ke kelasnya untuk bersiap-siap, sedangkan si Inara tiba-tiba tersenyum sinis lalu pergi menghampiri ketua panitia perlmobaan yang berada di tepi lapangan.
Setibanya ia disana, Inara pun menghampiri ketua pelaksana dari perlombaan, ia langsung mengatakan tujuannya pada ketua pelaksana perlombaan itu.
“Maaf mengganggu, tapi aku ingin minta tolong pada kalian,” ucap Inara pada ketua pelaksana dan beberapa panitia yang ada disana.
“Ketua osis? Apa itu? Kami pasti akan menolongmu,” ucap ketua pelaksana perlombaan yang juga dari keanggotaan osis sebenarnya.
“Tolong rubah lawan untuk tim basket putra kelas XI Ipa 1,” ucap Inara pada ketua pelaksana.
“Tapi, bukankah itu melanggar atu-“
“Apa kau masih ingin menjadi kabinet osisku?” ucap Inara menekan dan memotong perkataan dari ketua pelaksana.
“Ba-baiklah kalau begitu,” saut ketua pelaksana dan takut pada perkataan si Inara.
Disisi lain, tampak ditengah lapangan Bielka dan kelasnya sudah siap untuk bertanding, wasit pun sudah siap untuk melempar bolanya ke atas, namun tiba-tiba pertandingan terjeda sesaat karena ada pengumuman dari panitia tentang adanya perubahan pada bagian untuk cowok.
“Maaf, disini kami ingin menginformasikan kepada semuanya bahwa ada perubahan sedikit untuk jadwal pertandingan laki-laki, yaitu untuk kelas XI Ipa 1 tidak jadi melawan kelas XI Ips 2, dan akan dialihkan menjadi lawan untuk kelas XII Ips 3, sekian informasinya atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih,” umum panitia pelaksana.
Suasana di dalam gedung olahraga pun menjadi heboh dan riuh sorak dari semua penonton, bahkan semuanya menjadi sangat bersemangat ketika mendengar pengumuman dari panitia barusan.
“Waahh ... ini pasti bakal seru, karena aku dengar kabarnya si kapten dari tim basket kita dulu sudah sembuh dari cedera yang ia alami,” ucap salah satu penonton.
“Benarkah? Ini akan semakin meriah nampaknya, tapi sayangnya lawannya adalah kelas yang lemah, padahal aku ingin melihat kapten tim basket putra itu bermain dengan perlawanan,” saut teman penonton tersebut.
Namun semua itu tiba-tiba teralihkan ketika wasit membunyikan peluit yang ada dimulutnya dan melempar bola basket ke atas pertanda dimulainya pertandingan, kini Bielka dan Kenzy sedang berjuang melawan kelas lain dan bermian dengan maksimal seperti sedang bermain di final.
“Kenzy! Oper kesini!” ucap Bielka pada Kenzy.
__ADS_1
“Ini! terima Bielka!” ucap Kenzy memberi bola long.
Bielka menerima umpan dari Kenzy dengan sangat baik dan membawanya kedalam area pertahanan lawan lalu mengecoh 1 sampai 2 pemain dan melempar bola dengan tajam ke arah ring basket dan.
“Masuukk!!” teriak komentator heboh dengan tembakan si Bielka yang berhasil mendapatkan poin.
“Fokus semua! Ayo fokus-fokus!!” ucap Bielka menyemangati rekan timnya yang sudah mulai kelelahan.
“Bisa yok bisaa!!” sambung Kenzy ikut membantu menyemangati rekan timnya.
Pertandingan pun dimulai kembali, sekarang giliran tim lawan yang meyerang ke area pertahanannya tim Bielka, salah satu pemain lawan mencoba menggocek Bielka dan tanpa sadar sikut dari pemain lawan itu mengenai tepat dibagian mata Bielka, Bielka seketika terjatuh dan merintis kesakitan.
“Prriiiits!!” bunyi peluit wasib.
“Bielka? Kamu enggak apa-apa?” tanya Kenzy cemas pada Bielka yang masih terbaring dan kesakitan.
“Bielka?!” ucap si Virza dari tribun.
Bielka pun dikeluarkan dari permainan dan digantikan oleh rekan timnya, ia dibawa ke ruangan uks untuk diobati. Sedangkan Virza yang melihat itu pun berlari mengikuti Bielka ke ruang uks. Setibanya ia di ruang uks, Virza sangat cemas dengan keadaan si Bielka dan ia pun masuk ke ruang itu begitu saja sambil memanggil nama Bielka.
“Bielka?!” ucap Virza.
Virza pun terdiam sambil melihat perawat yang sedang memperban mata Bielka yang sebelah kanannya, Virza menunggu dengan sabar dan duduk tepat dikursi didepan Bielka, ia tak berkata apapun sampai perawat itu selesai mengobati Bielka.
“Sip! Ini hanya memar usahan kamu kompres dengan batu es 2 kali sehari ya,” ujar si perawat itu setelah memperban mata si Bielka.
“Baik bu,” ucap Bielka pada si perawat.
“Kalau begitu istirahat aja disini dulu, dan kamu! Tolong jaga temanmu ini ya,” ujar si perawat pada Bielka dan menunjuk Virza lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Sekarang hanya tinggal mereka berdua didalam ruang uks, suasana hening dan canggung pun tak terelakkan namun Virza membuka percakapan duluan.
“Ka-kamu enggak apa-apa?” tanya Virza pada Bielka yang terbaring di atas tempat tidur.
Bielka tak bergeming sedikit pun, ia tak menanggapi perkataan si Virza walaupun ia sekarang sadar dan lebih memilih untuk diam tanpa berkata apa-apa. Virza pun kembali berkata padanya.
__ADS_1
“Bielka? Apa gara-gara hari itu? Dia bukan siapa-siapa dia hanya teman lamaku yang ternyata dia juga dipindahkan ke sekolah ini ... kenapa kau diam sa-“
“Aku lagi enggak mood!” ucap Bielka tiba-tiba memotong perkataan Virza.
Virza terdiam sesaat sebelum ia menjawab si Bielka, Virza pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan melewati si Bielka lalu berkata padanya.
“Maaf telah mengganggumu ... cepat sembuh, aku pergi dulu,” ucap Virza pada Bielka tanpa menoleh ke arahnya dan pergi dari ruang uks meninggalkan Bielka.
Setelah kepergian si Virza, tiba-tiba Bielka bangun dari perbaringannya dan menyandarkan tubuhnya, ia terlihat kesal dan bete.
“Temenin kek, enggak peka banget jadi cowok ... gue malah ditinggal sendiri disini! Tapi ... siapa ya cewek yang waktu itu? Mereka terlihat sangat dekat,” gumam Bielka dalam hatinya dengan raut wajah cemberutnya.
Tiba-tiba pintu ruang uks terbuka dan langsung diserbu oleh semua anggota tim basket putri Sma Dandelion, tanpa terkecuali si Kenzy sahabat sekaligus wakil kapten dari tim basket putri itu sendiri.
“Bielka! Kamu enggak apa-apa? kita sangat khawatir sama lo,” ucap Kenzy pada sahabatnya itu.
“Kenzy? Kalian semua?” saut Bielka tak percaya dengan kedatangan teman-temannya itu.
“Maaf kapten, aku betul-betul tidak bermaksud untuk membuat kapten jadi se-“
“Sssssttt!! Yang sudah terjadi biarlah terjadi, aku tahu kamu tidak bermaksud untuk melukaiku,” ucap Bielka memotong perkataan temannya yang telah menyikutnya.
“Gimana mata lo?” tanya Kenzy pada Bielka.
“Cuma memar aja kok, katanya cuma dikompres pake batu es udah bisa sembuh kok,” ujar Bielka pada Kenzy.
“Batu es? Maksudnya si Vir-“
“Yaaa enggak lah! Gila lo ya!” sergah Bielka memotong perkataan si Kenzy tiba-tiba dengan intonasi agak ngegasnya.
“Ya enggak perlu ngegas juga kali, tapi ... pas kami mau kesini aku lihat dia baru saja keluar dari ruangan ini, terus dengan raut wajahnya yang sangat marah dan murka gitu, apa kamu mengatainya? Atau kalian bertengkar?” ujar Kenzy menceritakan pada Bielka.
“Maksudmu?” ucap Bielka singkat.
“Iya si Batu Es, siapa lagi kalau bukan si Virza,” ucap Kenzy pada Bielka.
__ADS_1
“Mungkin aku udah kelewatan kayaknya, soalnya aku enggak mempedulikan dia sama sekali tadi, malah aku jutekin dia tadi,” ujar si Bielka pada Kenzy.
“Bielka! Jangan-jangan dia suka sama lo,” ucap Kenzy.