Jeruk Nipis & Batu Es

Jeruk Nipis & Batu Es
Chapter 3


__ADS_3

Pukulan yang tadinya hampir mendarat diwajah Virza tertunda karena teriakan si Bielka dari ujung jalan samping gedung olahraga. Dan ternyata itu adalah rombongan tim basket putri dan mereka pun menghampiri Faris dan Virza.


    “Faris! Apa maksud lo mau nonjok-nonjok anak orang, emang lo pikir masih zaman ya main bully-bully begini, negara kita sensitif tahu gak sih lo, nenek maling rambutan milik anak kandungnya aja bisa masuk penjara, apalagi lo mukul orang tanpa sebab kayak gini,” ujar Bielka menceramahi si Faris.


    Semua anggota basket putri pun mengiyakan perkataan dari kapten mereka dan membela kapten mereka. Sedangkan si Faris dan geng futsalnya malah terdiam bisu dengan apa yang dikatakan oleh Bielka pada Faris, namun Faris tak mau kalah.


    “Ini bukan urusan kalian kali, kamu tuh-“


    “Aku tuh apa?! hah? Emang kamu enggak takut sama polisi? Jangan sok jagoan deh Riss,” sergah Bielka memotong perkataan Faris.


    “Cuih! Polisi? Panggil sono, papi gue juga polisi kali,” ujar Faris membalas perkataan si Bielka.


    “Mentang-mentang papi lo polisi-“


    “Beep! Beep!!” suara klakson dari mobil yang tepat berhenti didepan gerbang sekolah Dandelion.


    Suara klakson mobil itu memotong perkataan Bielka yang sedang berdebat dengan si Faris. Dan keluar salah satu pria dengan atribut lengkap kepolisian dari pintu depan ke arah pintu belakang mobil lalu membuka pintu tersebut dan mempersilahkan seorang pria juga yang dengan atribut lengkap kepolisian juga turun dari dalam mobil itu.


    Anehnya, saat melihat kedua polisi itu turun dari mobil tersebut dan beberapa ajudannya yang mengikuti mereka dari belakang, raut wajah Faris dan Virza berubah drastis seperti tak menyangka sama sekali, kedua pria dengan atribut polisi lengkap itupun menghampiri mereka.


    Sementara anak-anak futsal dan basket putri tampak cemas karena menganggap mereka telah melakukan sebuah keributan atau pembullyan. Namun kecemasan itu pudar setelah Faris dan Virza secara bersamaan berkata.


    “Ayah?!” ucap Virza tak menyangka.


    “Papi?!” ucap Faris juga tak menyangka.


    Mendengar keduanya memanggil kedua pria polisi itu dengan sebutan ayah, membuat semua anak futsal dan anak basket putri sangat terkejut, mereka tak menyangka bahwa ayahnya si Virza ternyata juga seorang polisi.


    “Faris, jangan panggil Papi saat Papi sedang bertugas,” ujar ayahnya Faris pada anaknya.


    “Ooh ... jadi ini anakmu, kelihatannya mereka sudah berteman,” sambung ayahnya Virza.

__ADS_1


    Virza yang dari tadi hanya santai dan tenang saat menghadapi Faris and the gangnya sekarang malah berubah menjadi sangat emosi dan menatap tajam ke arah ayahnya.


    “Ada apa Ayah kesini?” tanya Virza pada ayahnya dengan raut wajahnya yang tidak nyaman.


    “Salahkah seorang ayah menemui anaknya? Dan ayah juga kebetulan lewat didepan sekolahmu, jadi ... sekalian saja ay-“


    “Aku duluan,” ucap Virza lalu pergi begitu saja.


    Semua orang hanya bisa menatap Virza yang pergi dengan sepedanya, teman sekolahnya tak menyangka bahwa hubungan Virza dan ayahnya ternyata tak begitu baik, sementara si Faris yang masih kesal dengan si Virza itu pun tanpa sadar mengeluarkan kata-kata jelek tentang si Virza.


    “Apa-apaan anak itu? Apa dia salah makan atau apa?” ucap si Faris.


    “Faris! Jaga mulutmu itu! Dia itu anak dari bapak Kapolda, kamu harus dihukum!” ucap ayahnya Faris sambil menaikkan tangannya yang hendak memukul anaknya si Faris.


    “Pak Septa!” sergah ayahnya Virza menghentikan ayahnya Faris yang hendak memuluk si Faris.


    “Siap!” jawab Pak Septa spontan menjawab ayahnya Virza yang ternyata adalah seorang Kapolda.


    “Ah ... tidak apa-apa Pak, Virza juga anak yang baik kok, iya kan hehe,” ucap si Kenzy.


    “Ah ... iya Pak, dia juga ganteng kayak ayahnya,” ucap Bielka kecoplosan.


    “Ah begitu, hahah ... kalau begitu saya permisi dulu ya, tolong jaga anak saya ya,” ucap ayahnya Virza pada Bielka dan Kenzy.


    “I-iya Pak, tentu saja.” ucap Kenzy sambil menundukkan kepalanya.


    “Faris! Nanti dirumah ada yang mau Papi omongin,” ucap ayahnya si Faris dengan raut wajah kesal.


    Rombongan ayahnya Virza itupun pergi dari sekolah dan diiringi dengan beberapa mobil dibelakangnya. Sedangkan Faris dan geng futsalnya masih berhadapan dengan Bielka dan Kenzy beserta geng basket putri.


    “Elo tuh emang suka ikut campur urusan orang lain ya,” ucap Faris pada Bielka dengan kesal.

__ADS_1


    “Terserah guelah, badan juga badan gue, mulut juga mulut gue, emang kenapa elo yang sewot,” ucap Bielka menjawab si Faris.


    “Udah yuk Riss ... kita pulang aja, lo gak liat dia itu anaknya bapak Kapolda,” saut si Delta temannya si Faris.


    “Mau Kapolda kek mau kesbangpol kek, gue enggak takut sama sekali,” ucap Faris.


    “Tapi Papi lo aja tadi nurut gitu sama ayahnya,” sambung Delta.


    “Aaaakhkkhk!! Pusing gue,” teriak Faris penuh kekesalan dan pergi begitu saja diikuti dengan geng futsalnya.


    Setelah ditinggal pergi oleh anak-anak futsal itu, Bielka pun mengumumkan kepada semua anggota tim basket putri  agar terus mengawasi pergerakan si Faris cs dan geng futsalnya.


    “Jika kalian melihat si beruang api itu masih ngebully si Virza langsung laporkan ke gue, faham?” perintah Bielka pada teman-teman tim basketnya.


    Mereka pun bubar dan kembali ke rumah masing-masing, sementara disisi lain tepatnya dirumah Virza, ia tampak baru saja selesai mandi dan pergi menuju kamarnya. Bentuk tubuhnya yang bisa dibilang tidak sesuai dengan usianya yang masih duduk dibangku Sma membuat ia menjadi tambah seksi dan lebih jantan dengan dada telanj*ng sambil mengeringkan rambutnya.


    20 menit kemudian.


    Virza pun keluar dari dalam kamarnya dan menuju ke ruang makan keluarga untuk makan malam, setibanya ia disana ia disambut oleh pembantunya yaitu Bibi Yuni. Melihat hanya dia sendiri yang ada di ruangan makan itu, Virza pun bertanya pada Bibinya.


    “Bii ... ayah sama ibu mana?” tanya Virza pada Bii Yuni.


    “Ibu mah masih di puskesmas, katanya lagi ada pasien yang mau melahirkan, kalau Bapak kayaknya masih sedang menghadiri acara dimana tadi ya ... Bibi lupa dimana pokoknya mas Joko yang jadi ajudan bapak itu yang bilang sama Bibi tadi,” ujar Bi Yuni pada Virza.


    Virza pun duduk dikursinya dengan raut wajah penuh kekecewaan, terlihat jelas diwajahnya bahwa ia jarang bersama dengan kedua orang tuanya, perlahan sambil memakan makananya Virza pun mulai curhat dengan Bibinya itu.


    “Bii ... Bibi pernah gak lihat ayah sama ibu makan bareng? Atau kapan terakhir kali Bibi lihat hal itu?” tanya Virza pada Bii Yuni sambil menyuapi makanannya.


    Bi Yuni yang sedang mencuci piring didekat Virza itu pun mulai bercerita, dan Virza sangat yakin dan mendengarkan Bii Yuni bercerita dengan sangat yakin.


    “Dulu ... sebelum Bapak jadi Kapolda mah, sering banget ibu sama bapak makan bareng, pokoknya apa-apa bareng gitu, tapi ... semenjak ibu udah kerja dan jadi kepala di pukesmas dan bapak udah jadi Kapolda, sejak itu ... mereka udah jarang keliatan bareng, kayaknya gara-gara pekerjaan yang menumpuk dan terus berdatangan juga,” ujar Bii Yuni pada Virza yang masih lahap mengunyah makanannya.

__ADS_1


    “Hmm ... gitu ya Bii, gimana kalau kita buat suprise untuk ayah sama ibu, biar mereka bisa makan bareng lagi,” ucap Virza pada Bi Yuni.


__ADS_2