
“Saya hanya membalas pukulan si brengs*k ini,” ucap si Virza menjawab pak Safwan sambil menatap sinis si Windra.
Pak Safwa yang mendengar jawaban kurang sedap dari si Virza pun marah dan membentak si Virza dengan sangat keras dihadapan Bielka dan si Windra. Windra sangat puas dan tersenyum saat melihat si Virza sedang dibentak-bentak oleh pak Safwan, sementara si Bielka semakin kesal dan tak habis pikir dengan si Virza.
Akhirnya Virza dan Windra dihukum untuk membersihkan toilet bersama, sementara si Bielka tidak dihukum apapun dan sempat mendapatkan perawatan di ruang uks karena pipi kirinya yang memar akibat menerima pukulan telak dari si Windra.
20 menit kemudian, di toilet Sma Dandelion.
Virza dan Windra tengah membersihkan toilet bersama, dan suasana antara mereka berdua saat ini begitu canggung dan tegang, mengingat keduanya adalah musuh. Saat sedang asyik membersihkan dan mengepel lantai toilet, tiba-tiba si Windra sengaja melempar alat pel ke arah Virza.
Virza hanya diam tak menghiraukan perbuatan si Windra itu padanya, ia hanya fokus untuk mengepel lantai dari sudut ke sudut, melihat Virza yang tak menghiraukannya membuat Windra kesal dengan sikap Virza itu, ia pun mengancam Virza dengan mengatakan bahwa saat ia menghajarnya tadi ternyata sudah direkam oleh teman-temannya, dan jika Virza macam-macam dengan mereka maka, mereka akan menyebarkan video itu dengan tajuk bullying yang dilakukan oleh anak seorang Kapolda.
Mendengar semua rencana yang telah dikatakan oleh si Windra, membuat Virza tiba-tiba berhenti melakukan aktivitas mengepelnya, ia pun melempar begitu saja alat pel yang ia pegang dan beralih menuju ke arah si Windra dengan perlahan dan tatapan tajam bak harimau mau menerkam. Melihat si Virza yang semakin dekat menuju ke arahnya secara perlahan, si Windra pun dengan spontan mengacungkan tongkat pel ke arah Virza karena merasa terancam.
“Stop! Jangan mendekat! Kalau kamu berani mendekat lagi maka video kamu itu akan menyebar di internet, aku bilang Stop!” ucap si Windra yang mulai takut dan khawatir karena hanya ada mereka berdua di dalam toilet.
Virza perlahan-lahan semakin mendekat ke arah Windra, dan si Windra semakin tersudut ke arah pintu toilet, langkah demi langkah Virza mulai mendekat dengan raut wajah mencurigakan dan si Windra semakin takut dan cemas, Tiba-tiba si Windra yang kebetulan tersudut ke arah pintu keluar dari toilet langsung melarikan diri dan keluar dari toilet dengan wajah cemas dan takut.
Setelah kepergian si Windra yang meninggalkan si Virza sendiri didalam toilet, tiba-tiba si Virza malah tersenyum dan mengeluarkan ponselnya yang sedang menyala dan merekam dari tadi.
“Kenapa dia pergi seperti melihat hantu segala sih? Padahal aku hanya ingin meminta nomor ponselnya, yah ... tapi aku berhasil merekam perkataannya, dan mungkin rekaman ini bisa menjadi tamengku seandainya mereka betul-betul mengunggah videoku saat menghajarnya,” gumam si Virza bicara sendiri di dalam toilet itu.
__ADS_1
Hari yang melelahkan itu pun berlalu, dan kini hari sudah mulai gelap, Virza yang tengah berada dirumahnya itu sedang bersiap-siap menyambut kepulangan ayah dan ibunya untuk melakukan suprise yang ia kerjakan bersama Bi Yuni dan beberapa ajudan ayahnya. Semuanya terlihat seperti sebuah restoran mewah dan ruang tamu hingga ruang makan keluarga sudah dihian bak pelaminan pengantin baru, si Virza pun berkata kepada Bibinya.
“Apakah ini tidak terlalu berlebihan Bii?” ucapnya pada Bii Yuni dengan semua hiasan yang terbilang berlebihan ini.
“Tenang aja ... semuanya sudah pas dan tinggal menunggu bapak sama ibu pulang dan kita bisa langsung kasih suprisenya,” jawab Bi Yuni.
Tak lama kemudian, bunyi klakson mobil dari luar halaman rumah pun terdengar pertanda ayah dan ibunya baru saja sampai, semua orang pun langsung bersiap di posisi mereka masing-masing untuk memberikan kejutan. Pintu pagar pun perlahan terbuka dan ketika pintunya sudah terbuka sempurna, lampu yang tadinya mati tiba-tiba dihidupkan dan semua orang pun muncul bersama sambil meneriakkan.
“Suuupriiisee!!”
Virza yang berada di barisan paling depan sambil memegang sebuah kue bertuliskan ‘Suprise Ayah, Ibu’ menyambut kepulangan kedua orang tuanya itu dengan penuh senyuman di wajahnya, dan perlahan pintu mobil ayahnya itu pun dibuka oleh ajudannya dan ayahnya pun turun disusul oleh ibunya, mereka perlahan menghampiri si Virza yang berdiri sambil memegang kue di tangannya itu, dan saat ayah dan ibunya sampai tepat dihadapannya, tiba-tiba ayahnya memukul kue yang dipegang oleh Virza itu hingga terjatuh ke tanah dan hancur tak terbentuk lagi, disusul lagi oleh ibunya yang langsung menampar Virza dengan cukup keras.
Suara tamparan keras yang mendarat tepat di pipi sebelah kiri wajah Virza membuat semua orang terdiam dan juga merubah suasana yang tadinya ramai menjadi senyap sunyi seperti di kuburan.
Bola mata Virza seketika membelalak tak percaya dengan apa yang dia alami, ia tak habis pikir dengan apa yang telah dilakukan oleh kedua orang tuanya itu, karena mereka langsung menamparnya tanpa tahu apa sebabnya, Virza pun membuka mulutnya perlahan bertanya pada kedua orang tuanya itu.
“Ayah, Ibu ... ke-kenapa ini?” ucap Virza sambil menahan linangan air matanya.
Tanpa basa-basi, sang ayah langsung mengeluarkan ponselnya dan memperlihat sebuah video di beranda youtube yang ber-redaksi ‘Anak dari seorang Kapolda melakukan pembullyan di sekolahnya’. Setelah melihat video itu yang diperlihatkan oleh ayahnya padanya, Virza pun menjadi murka dan sangat dendam dengan geng futsalnya si Faris.
“Jelaskan! Tolong kamu jelaskan ini pada ayah sekarang juga!” ucap ayahnya Virza dengan intonasi tinggi padanya.
__ADS_1
“Padahal kamu baru saja pindah, tapi kenapa kamu mulai lagi seperti anak kecil? Apa kamu tidak pernah memikirkan ayah dan ibumu yang siang malam bekerja hanya untukmu,” sambung ibunya ikut menceramahi si Virza.
Virza yang sudah tidak tahan karena selalu disalahkan tanpa tahu kebenarannya sama sekali itu pun tak bisa lagi menahan mulutnya yang sudah dari dulu ingin mengeluarkan isi hatinya terhadap kedua orang tuanya, ia pun tanpa basa-basi membalas perkatan ayah dan ibunya itu dengan penuh emosi dan tetesan air mata yang sudah lama ia tahan.
“Kenapa sih, ayah dan ibu selalu menyalahkan aku tanpa tahu kebenaran yang sesungguhnya, padahal ayah dan ibu kerjaannya hanya kerja-kerja dan kerja, kalian tidak mengerti aku seperti dulu, bahkan kita sudah jarang makan bersama seperti dulu, entah itu makan malam atau sarapan, semuanya mementingkan diri mereka masing-masing!. Dan asal ayah dan ibu tahu ... tentang video yang ayah tunjukkan itu ... akulah yang sebenarnya menjadi korban pembullyan! ... aku benci kalian! Kalian bukan orang tuaku lagi!” ujar si Virza dengan penuh linangan air mata lalu pergi begitu saja meninggalkan rumahnya.
“Virza! Dengerin ibu! Virza!” panggil ibunya yang tak di acuhkan oleh Virza.
“Sudahlah, biarkan saja dia ... sepertinya kita gagal untuk menjadi orang tua baginya,” ucap ayahnya.
Namun tiba-tiba terdengar suara rekaman yang terputar sendiri dari sebuah ponsel yang tergeletak di tanah, dan ternyata itu adalah ponselnya si Virza yang terjatuh tepat didepan ayah dan ibunya, mereka pun mendengarkan dengan seksama isi rekaman tersebut yang tak lain itu adalah rekaman saat si Virza mengepel lantai toliet bersama si Windra yang menjadi biang keladi masalah ini.
“Ini kan ...?” ucap ayahnya curiga.
Disisi lain, si Virza yang sedang berjalan tanpa arah itu kelihatan sangat sedih dan marah, semua tercampur didalam hatinya yang sedang hancur itu, ia marah dengan si Faris dan gengnya itu, ia sedih dengan keadaan keluarganya yang tak seperti dulu lagi, semuanya bercampur aduk didalam segumpal daging yang sedang berdetak didalam dadanya itu, dan saat ia sedang berjalan tak tentu arah di pinggir jalan, tiba-tiba cuacanya berubah dan hujan lebat pun mengguyur tubuhnya yang hanya memakai baju kaos tipis dibadannya. Virza tak mempedulikan hujan lebat yang mengguyur tubuhnya itu, ia malah terlihat semakin pucat dengan tatapan yang kosong berjalan tak tentu arah seperti orang gila.
Didalam mobil Kenzy, Bielka dan Kenzy tengah asyik mengobrol tentang si Virza yang begitu dingin seperti batu es, dan saat mereka tengah asyik mengobrol, Bielka secara kebetulan melihat seorang anak laki-laki yang sedang berjalan sendirian ditengah hujan lebat ini begitu mirip dengan si Virza.
“Eh bentar-bentar, itu ... bukanya si Virza ya?” ucap Bielka pada sahabatnya si Kenzy.
“Iya bener, ngapain dia jalan kaki tengah hujan lebat begitu?” sambung si Kenzy.
__ADS_1