Jeruk Nipis & Batu Es

Jeruk Nipis & Batu Es
Chapter 13


__ADS_3

Keesokan harinya, tampak Inara yang sedang makan dikantin bersama annggota osis yang lain, ia terlihat sedang asyik mengobrol dengan beberapa anggotanya sambil menikmati makanannya yaitu bakso kosong.


    “Eh Inara, kamu udah tahu gosip terbaru belum? Katanya di Sma kita ini ada seorang cowok yang sangat ganteng loh,” ucap salah satu anggota osis temannya Inara.


    “Hah? Cowok ganteng? Emang dia kelas berapa? Ipa apa Ips?” tanya Inara sambil memasukkan bakso ke mulutnya. 


    “Kalau dari gosip yang gue denger, dia anak kelas dua sama kayak kita,” jawab temannya.


    Sedang asyik mengobrol, tiba-tiba seisi kantin heboh dan riuh dan membuat si Inara dan teman-temannya itu menjadi penasaran dengan apa yang sedang terjadi di belakang mereka yang mulai ribut dan ramai.


    “I-itu kan! Raa! Itu dia! orang yang aku bilang barusan, ternyata gosipnya emang bener ya, tinggi dan tampan kayak gitu siapa yang enggak terpana coba,” ucap temannya Inara.


    “Dia kan?-“


    “Hah? Kamu kenal sama tuh cowok?” tanya temannya memotong perkataannya.


    “Belum sih, tapi aku pernah berpapasan sama dia baru-baru ini,” ucap Inara menjawab temannya.


    Dan orang yang mereka bicarakan itu tentu saja adalah si Virza yang selalu menjadi topik hangat setelah ia kembali pada dirinya yang dulu, terlihat semua siswa dan siswa memperhatikan si Virza dengan heboh, ada siswi yang diam-diam mengambil fotonya, ada juga siswi yang berusaha mencari perhatiannya, namun itu semua sia-sia karena Virza tak menghiraukan mereka sama sekali, bahkan ibu kantin pun ikut terpesona dengan sosok Virza yang sekarang.


    “Bu? Halo? ... Bu!” panggil Virza pada ibu kantin yang terpana dengan si Virza.


    “Eh iya, mau pesan apa ya?” ucap ibu kantin yang tersadar dari lamunannya karena terpana dengan kadar ketampanannya si Virza.


    “Ada lemang golek enggak bu?” tanya Virza.


    “Lemang golek? Itu ... apa ya?” jawab ibu kantin yang bingung dengan pesanan si Virza.


    “Lemang, masa ibu enggak tahu lemang, yang pake ketan terus ada isi kelapa sama gula aren didalamnya, luarnya dibungkus pake daut pisang,” ujar Virza berusaha menjelaskan pesanannya pada ibu kantin itu.


    “Haduh, maaf ya ... kayaknya enggak ada deh, kamu bisa liat menu dipapan menu di atas ini, sedia bakso, mie ayam, soto, sama bubur ayam.” ucap ibu kantin itu pada si Virza.

__ADS_1


    Virza tampak pasrah karena tak menemukan cemilan favoritnya itu, ia pun menoleh ke arah papan menu yang terpampang jelas di atas kepalanya itu, ia berusaha memilih menu yang akan dia santap dengan sangat serius, dan tiba-tiba saja Inara sudah berada disampingnya.


    “Pesan yang ini aja, rasanya enak kok aku jamin kamu pasti nagih,” ucap Inara pada si Virza.


    “Sejak kapan kau berada disampingku?” ucap Virza pada si Inara.


    “Baru saja,” saut Inara singkat.


    Virza yang malas berpikir dan memilih menu untuk makan siangnya itu pun mengikuti apa yang di rekomendasikan oleh si Inara, ia memesan bakso plus mie ayam dalam satu porsi yang direkomendasikan oleh Inara.


    “Ya udah deh Bu, saya pesen apa yang dia bilang barusan,” ucap si Virza pada ibu kantin.


    “Siap, tunggu sebentar ya,” ucap ibu kantin lalu pergi menyiapkan pesanan si Virza.


    Virza pun pergi begitu saja tanpa menoleh bahkan melirik ke arah Inara untuk mencari tempat duduknya, melihat Inara yang notabennya adalah wanita terpopuler di sekolah di acuhkan oleh si Virza membuat semua orang yang ada dikantin heboh dan juga tak percaya dengan apa yang telah dilakukan oleh Inara.


    Inara yang terkenal dingin dan bodoh amat dengan yang namanya laki-laki, sekarang ia malah yang duluan menemui hingga mengajak bicara anak laki-laki, semua anak-anak di Sma Dandelion pun heboh dengan peristiwa itu, tak membutuhkan waktu lama gosip baru pun kembali menjadi topik hangat di Sma Dandelion yang kabar dan judulnya mengatakan bahwa ‘Wanita terpopuler di acuhkan oleh Laki-laki yang sedang naik daun’.


    “Gimana? enakkan?” tanya si Inara sambil menaruh kedua tangannya didagunya seperti sedang menggoda si Virza.


    “Ngapain lo duduk,” ucap Virza singkat tanpa menoleh ke arah Inara.


    “Hah?” saut Inara bingung.


    “Elo! Ngapain duduk disini? Gue lagi makan nih jadi pergi sono,” ucap Virza sambil menatap ke arah Inara.


    Inara kembali terdiam untuk yang ke dua kalinya, ia tak habis pikir dengan tingkah laku dan sifat si Virza yang sangat dingin dan keras seperti batu es.


    “Kamu tuh aslinya emang gini ya?” ucap Inara pada Virza.


    Virza pun tiba-tiba mengehentikan makannya dan menatap ke arah Inara dengan tatapan malas sambil berkata pasa si Inara.

__ADS_1


    “Kamu nanyeaaa?” olok si Virza pada Inara lalu berdiri pergi begitu saja meninggalkan Inara sendiri di meja itu.


    “Hei? mau kemana? Ini makanan kamu belum kamu abis? in?” ucap Inara memanggil Virza dan terkejut dengan isi mangkok si Virza yang sudah ludes dilahapnya entah bagaimana.


    “Kayaknya Inara ditolak mentah-mentah tuh,” ucap temannya osisnya dari tempat mereka duduk tadi.


    Sedangkan si Inara masih terheran-heran dengan cara makan si Virza yang mampu menghabiskan bakso plus mie ayam yang terkenal dengan porsinya yang banyak dikantin mereka, Inara tak habis pikir dengan dirinya yang sudah ditolak dua kali secara mentah-mentah oleh si Virza.


    “Astaga! Kapan dia mengahabiskannya ya? Perasaan satu porsi bakso plus mie ayam sama aja kayak tiga porsi bakso biasa, tapi ini adalah kali kedua dia membuat harga diriku jatuh, tunggu saja ... aku pasti bisa membuatnya berpaling padaku,” gumam si Inara dalam hatinya.


    Disisi lain, tepatnya didepan gedung olahraga Sma Dandelion, terlihat pak Wewen yang sedang menempelkan sebuah kertas dipapan pengumungan sekolah bersama dengan pak Safwan, lalu tiba-tiba si Virza yang tengah berjalan terhenti dan menghampiri kedua guru itu.


    “Pengumuman apa ini Pak?” tanya si Virza tiba-tiba.


    “Haaaaduh! Biyung! Kamu ini ngagetin saya, assalamu’alaikum kek, halo kek, main langsung aja kayak gitu, gimana jadinya jika bapak sampai jantungan,” ucap pak Wewen wali kelasnya.


    “Sebentar lagi kan sekolah kita mau ngadain lomba antar kelas sekalian seleksi buat tim Sma kita di tingkat naisonal,” saut pak Safwan menjawab si Virza.


    “Seleksi? Bukannya udah ada orangnya ya pak?” ucap si Virza menjawab pak Wewen guru bp-nya.


    “Sudah ada gimana? orang masih belum di seleksi,” sambung pak Wewen.


    “Itu si Faris sama si Bielka? Kok mereka dipanggil kapten tim basket sama futsal? Tapi kata Bapak masih belum diseleksi,” ucap si Virza.


    “Oh ... kalau itu wajar saja, mereka itu memang kapten dari bidang olahraga yang mereka tekuni, tapi itu di tahun sebelumnya, dan asal kamu tahu sistem seleksi disekolah kita itu berkelanjutan dengan beberapa metode seperti evaluasi dan reproduksi, jadi setiap tahun sekolah akan menyeleksi ulang untuk semua tim agar bibit unggul bisa terjaring semua,” ujar pak Safwan menjelaskan panjang lebar pada si Virza.


    “Kalau begitu, berarti orang yang sudah terpilih tahun lalu ada kemungkinan tidak terpilih di tahun ini, begitukan?” ucap si Virza.


    “Bisa dibilang begitu, karena dengan begitu persaingan pun menjadi semakin ketat dan bisa melahirkan atlit-atlit baru juga,” jawab pak Wewen.


    “Kapan perlombaannya akan dimulai?” tanya si Virza pada kedua gurunya tersebut.

__ADS_1


    “Sekitar satu minggu lagi, mengingat osis masih mencari orang untuk menjadi panitianya,” ucap pak Safwan.


__ADS_2