Jeruk Nipis & Batu Es

Jeruk Nipis & Batu Es
Chapter 21


__ADS_3

“Stop! Stop! Stoopp!!” ucap Bielka memaksa Virza berhenti tiba-tiba.


    “Kenapa sih? Nanti jatoh tahu,” saut Virza sambil berusaha menyeimbangkan sepeda yang sedang mereka naiki.


    “Aku bilang Stop!” tegas Bielka.


    “Iya-iya aku berhenti nih,” sambung Virza lalu mengerem sepeda yang mereka naiki.


    Bielka pun turun dari sepedanya Virza lalu berdiri tepat disamping Virza sambil menatapnya, sedangkan si Virza dengan raut wajah bingungnya hanya bisa menatap balik si Bielka sambil bertannya-tanya ada apa.


    “Ada apa? kenapa kamu liatin aku gitu? Ada sesuatu ya diwajahku?” ucap Virza sambil meraba-raba wajahnya.


    “Eh batu es, gue mau protes ya-“


    “Kok gue?, aku aja ... masa kita udah lumayan deket lo masih gue-gue aja, paling enggak coba bilang aku dong,” ucap Virza memotong perkataan si Bielka.


    “Diih, amit-amit mending gue manggil lo batu es dari pada aku kamu, hueek.” ujar Bielka menjawab si Virza.


    “Ya udah kalo gitu ayo gue anter pulang,” ucap Virza sambil memanyunkan mulutnya menyuruh Bielka naik kembali ke sepedanya.


    “Gue mau protes, entar dulu dong,” ucap Bielka.


    “Protes? Protes apa lagi sih? Emang gue ada salah apa sama lo? Nuntut aja kagak,” ujar Virza menjawab si Bielka.


    “Eh batu es asal lo tahu ya, sebenarnya nih jantung lemah, jadi gue mau lo hati-hati kalau nembak cewek,” ucap Bielka pada Virza sambil memalingkan wajahnya pura-pura marah.


    “Hah? Kok hati-hati kalau nembak ce ... oohh!! Jadi gue? Jadi gue diterima nih?” tanya Virza yang baru ngeh dengan perkataan si Bielka.


    Sambil tersenyum dan menoleh kembali ke arah Virza, Bielka dengan pelan menganggukkan kepalanya, pertanda ia sudah menerima perasaan si Virza. Virza tiba-tiba terduduk diam dan membuat Bielka langsung cemas padanya.


    “Virza?! Lo kenapa? Hei!” ucap Bielka pada Virza dengan raut wajah cemas.


    “Aku ... aku-“


    “Kamu sakit? Hah? Kamu kenapa? Jangan buat gue khawatir gini,” ucap Bielka semakin cemas mendengar nada bicara Virza yang tiba-tiba berat.


    Ternyata sambil mengadah ke atas ke arah Bielka, Virza tersenyum haru dengan kondisi mengeluarkan air matannya yang entah apa maksudnya itu lalu berkata pada Bielka.

__ADS_1


    “Aku sangat ... aku sangat bahagia ketika kamu bilang iya tadi,” ucap Virza dengan penuh gelimang air matanya melihat Bielka.


    “Lo? Lo nangis? Ini beneran lo nangis? Ya ampun Virza? Lo?” ucap Bielka tak percaya dengan apa yang dia lihat sambil menahan tawa.


    Keesokan harinya, di Sma Dandelion terlihat Bielka dan Kenzy sedang asyik mengobrol di kantin, entah apa yang mereka tertawakan namun terlihat jelas dari raut wajah si Kenzy yang sangat terhibur dengan apa yang Bielka katakan.


    “Beneran Zii, terus dia tiba-tiba jatoh gitu dan pas aku tanya kenapa, eh ternyata dia udah nangis hahaha,” ujar Bielka menceritakan kejadian saat dia pulang dengan si Virza.


    “Hahah ... parah-parah sih, gue enggak tahu kalau cowok batu es itu juga bisa nangis-“


    “Ehemm,” cetus Virza yang tiba-tiba nongol dan langsung duduk disebelah Bielka.


    Semua anak yang ada dikantin pun heboh ketika melihat Virza duduk di sebelah Bielka itu, terutama si Inara yang tampak jelas dengan rasa cemburunya melihat Virza duduk di sebelah Bielka.


    “Ngapain lo duduk sama kita? Bukannya lo suka makan sendirian di pojok situ?” ucap Kenzy pada Virza yang hanya membawa semangkok kecil lemang golek.


    “Itu bukan urusan lo,” jawab Virza singkat.


    “Eh jangan gitu, Kenapa sih kalau kalian berdua tuh selalu gini, enggak ada akur-akurnya kalau udah ketemu,” ujar Bielka pada kedua orang yang sedang duduk bersamanya itu.


    “Hai, gue ikut makan bareng sama kalian ya,” ucap Lavinka sambil memakan soto ayamnya.


    Virza terlihat langsung berubah raut wajahnya, ia hendak membentak si Lavinka namun tiba-tiba Bielka menahannya dan malah mengobrol santai dengan Lavinka.


    “Namamu siapa? Kamu kan yang waktu itu sama Virza kan?” tanya Bielka pada Lavinka.


    “Oh sorry, gue lupa ngenalin diri dulu ya maaf-maaf. Nama gue Lavinka Petrisia, kalo panggilan gue terserang kalian aja,” ujar Lavinka lalu melanjutkan makannya.


    “Eh bukannya dia mantannya si batu es ini Kaa?” ucap Kenzy kecoplosan.


    Seketika suasana kantin menjadi sangat heboh dan semua perhatian orang-orang tertuju ke arah meja mereka, terutama si Inara dan si Faris yang sangat tertarik dengan masalah ini.


    “Lo dengar enggak tadi, si Kenzy barusan bilang kalo tuh cewek mantannya Virza,” ucap temannya Inara pada Inara.


    “Tentu aja gue denger, sepertinya ini jadi semakin menarik, dan rivalku jadi bertambah satu orang lagi,” gumam si Inara sambil melihat ke arah rombongan Bielka.


    Sedangkan situasi di meja Bielka kini terlihat semakin memanas dan semakin tegang, Virza dan Kenzy terlihat menahan diri agar tak ikut campur dalam percakapan antara Bielka dan Lavinka.

__ADS_1


    “Oh, jadi kalian udah tahu ya ... yah itu cuma masa lalu gue sama cowok yang sekarang duduk di sebelah lo, tapi ... sekarang kami hanyalah teman biasa,” ujar si Lavinka.


    “Teman?” saut Bielka.


    “Ehemm, kayaknya gue haru pergi ke toilet deh, kalau gitu aku per-“


    “Duduk!!” sergah Bielka dan Lavinka secara bersamaan pada Virza yang hendak melarikan diri.


    Virza pun kembali duduk dengan terpaksa dan terlihat cukup tertekan karena ulah kedua cewek didepan dan disampingnya itu. Sedangkan si Kenzy hanya terlihat mendengarkan percakapan mereka dengan raut wajah yang cemas bercampur tegang.


    “Jangan mau kalah Bielka, gue akan slalu ada di belakang lo,” gumam Kenzy dalam hatinya.


    “Kenapa lo mau duduk sama kita? Disini kan masih banyak tempat duduk sama meja yang kosong, atau jangan-jangan lo masih mau sama Vir-


    “Tentu saja karena Virza,” ucap Lavinka memotong perkataan si Bielka.


    “Maksudnya?” ucap Bielka sambil menaikkan salah satu alisnya bingung.


    “Tentu saja karena Virza, tapi jangan salah faham dulu dan mengambil kesimpulan sendiri, karena ini enggak seperti yang kalian pikirkan. Jujur ... aku baru saja pindah ke sekolah ini dan satu-satunya orang yang kukenal adalah Virza, jadi wajar aku selalu mencarinya agar aku tidak kesepian disini,” ujar Lavinka menjelaskan alasannya pada Bielka.


    “Agar tidak kesepian? Itu lebih terkesan ambigu bagiku,” ucap Bielka menanggapi perkataan si Lavinka.


    “Sebelum aku menjawab itu, boleh ku tahu apa hubunganmu dengan Virza?” tanya si Lavinka pada Bielka.


    Bielka terdiam dan tak tahu harus menjawab apa, terlihat jelas raut wajah Bielka berubah drastis menjadi cemas dan sangat berhati-hati agar tak menimbulkan gosib lain antara dia dan juga Virza. Ia pun menjawab pertanyaan dari si Lavinka tersebut dengan keyakinannya.


    “Kami berdua? Tentu saja kami hanya-“


    “Pacaran!” ucap Virza tiba-tiba memotong perkataan Bielka yang hendak menjawab si Lavinka.


    Semua orang yang ada dikantin dibuat syok dan sangat terkejut setelah mendengar perkataan si Virza yang menyatakan hubungannya dengan Bielka secara terang-terangan. Sedangkan Bielka hanya bisa terdiam dengan bola matanya yang membelalak tak percaya dengan tindakan si Virza  barusan yang dengan santainya mengatakan itu.


    “Apa? pacar?” ucap Lavinka masih tak percaya.


    “Enggak gitu, mungkin maksud Virza-“


    “Cupp!!”

__ADS_1


__ADS_2