
Kenzy juga tak tahu harus apa karena si Bielka tak melawan mereka sama sekali, ia semakin yakin kalau sahabatnya itu memang benar menyukai si Virza. Tiba-tiba sekelompok orang dewasa yang berpakaian bak inten masuk kedalam gedung olahraga bersama kepala sekolah dan beberapa guru lain, mereka pun langsung menghampiri geng Faris dan geng si Bielka.
“Selamat siang adek-adek, kami dari kepolisian yang ditugaskan untuk menyelidiki tentang masalah video yang sedang viral sekarang, dan kami mendapat laporan dari pihak sekolah bahwa adek yang bernama Faris Teja Nugroho, Windra Septian, dan Bielka Nandira Putri. Tolong ikut dengan kami sebentar ke ruang kepala sekolah dan mohon kerja samanya,” ujar salah satu petugas kepolisian pada mereka.
Semua anggota geng futsalnya si Faris tampak cemas dan takut dengan apa yang telah mereka lakukan, mereka pun mendorong si Faris dan si Windra agar pergi dan mengikuti arahan dari petugas kepolisian tersebut.
“Gimana nih Riss?” bisik Windra pada Faris.
“Gimana lagi, ya kita harus tanggung resikonya Ndraa,” jawab si Faris berusaha tenang.
Mereka bertiga pun ikut dengan petugas kepolisian itu bersama dengan kepala sekolah ke ruang kepala sekolah untuk menindak lanjuti masalah tentang video tindak asusila yang direkam oleh si Faris tempo hari lalu.
Faris dan si Windra terlihat sangat khawatir dan cemas dengan pemeriksaan yang sedang dilakukan oleh beberapa anggota kepolisian yang sedang memeriksa mereka, Windra yang mulai khawatir pun berkata pada si Faris.
“Eh Riis, lo yakin kan kalau papi lo bisa bantu kita keluar dari masalah ini? papi lo kan juga polisi,” ujar si Windra berbisik ke Faris yang ada disampingnya.
“Diam lo! Lo gak liat gue lagi mikir nih,” ucap Faris menjawab si Windra temannya.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di ruang kepala sekolah, dan alangkah terkejutnya Faris, Windra, dan terutama si Bielka, karena ternyata didalam ruang kepala kepala sekolah itu mereka telah ditunggu oleh ayahnya Virza yaitu bapak Jefri Setiawan yang sekarang menjabat sebagai Kapolda serta ayahnya si Faris bapak Septa Harvian Nugroho yang sekarang menjabat sebagai Kapolsek.
“Pa-papi?”
“Plaaakh!!”
Tamparan keras mendarat tepat diwajah si Faris dan membuatnya terpelanting ke lantai, bukan hanya si Faris yang mendapatkan tamparan keras itu, si Windra juga mandapat bagiannya dan mencicipi pedas dan sakitnya tamparan dari tangan kekarnya ayah temannya sendiri.
“Plaaakh!!”
__ADS_1
“Pak Septa! Tolong tenang dulu, bagaimana kita bisa mengetahui kejadian yang sebenarnya jika bapak memukul mereka terus seperti itu,” tegas ayahnya Virza menegur ayahnya si Faris yang langsung naik pitan ketika melihat anaknya.
“Siap! Maafkan saya Pak! Saya tidak bisa menahan rasa malu saya terhadap anda dan langsung emosi ketika melihat anak saya ini,” jawab ayahnya si Faris.
“Sudahlah ... sebaiknya kita bicarakan masalah ini dengan kepala dingin, saya juga faham mereka sekarang sedang masa-masa pubernya, apa lagi mereka puber saat zaman yang serba ada melalui internet, jadi ... mari kita mendinginkan kepala kita semua, dan jangan sampai masalah ini menjadi masalah yang lebih besar lagi,” ujar pak Jefri ayahnya Virza.
“Bapak-bapak sekalian, mari duduk dulu dan mulai berbincang untuk jalan keluar masalah ini, dan ini juga berpengaruh untuk masa depan mereka, betul yang dikatakan oleh bapak Kapolda tadi, kita harus mendinginkan kepala kita dan tetap tenang apapun keadaannya,” sambung pak Firdaus kepala sekolah Sma Dandelion.
Akhirnya, mereka pun tenang dan kembali ke topik utama dengan profesionalitas mereka masing-masing. Pemeriksaan hingga introgasi dari semua pihak yang terkait pun sudah dilakukan dan sampailah semuanya di titik kesimpulan bahwa, dari kedua belah pihak sepakat untuk berdamai dan secara bersama-sama meminta maaf kepada publik dan menjelaskan secara kekeluargaan agar dapat diterima oleh masyarakat.
“Terimakasih atas kerja samanya Pak,” ucap kepala sekolah Sma Dandelion pak Firdaus kepada tim petugas kepolisian.
“Dengan ini pak kepsek sudah menjadi saksi bahwa surat pernyataan damai antara kedua belah pihak sudah di tanda tangani, dan kami seperti harus mampir ke rumahnya bapak Kapolda untuk meminta tanda tangan putra bapak,” ujar salah satu petugas kepolisian.
Namun tiba-tiba pintu ruangan kepala sekolah terbuka dan muncul sosok yang tidak diduga-duga, semua orang terkejut dengan kedatangan ke sekolah karena ia ke sekolah hanya mengenakan sandal dan baju piamanya.
“Virza?!” ucap Bielka dan beberapa orang yang terkejut melihat kedatangannya dengan wajah yang masih pucat.
“Pena?!” ucapnya singkat.
“Kenapa? Ini pena-nya ....” ucap Bielka memberi pena pada Virza.
Virza pun menandatangani surat pernyataan perdamaian itu, dan meletakkan kembali surat itu di atas meja semula, melihat wajahnya yang masih pucat, ayahnya pun menyuruhnya pulang.
“Apa yang kamu lakukan? ayo pulang sekarang kamu kan masih sakit begitu,” ucap ayahnya cukup khawatir dengan keadaan si Virza.
“Iya Zaa ... mending kamu istirahat dulu dirumah,” sambung si Bielka bicara pada Virza.
__ADS_1
Virza malah menatap tajam ke arah ayahnya seperti menyimpan amarah yang begitu besar pada ayahnya, ayahnya tak mau kalah dan juga menatap si Virza dengan tajam seakan mengancam jika Virza berbuat macam-macam lagi mungkin ayahnya tidak akan tinggal diam, situasinya menjadi tegang kembali saat ayah dan anak itu saling menatap satu sama lain dengan penuh amarah dan aura mengancam satu sama lain, melihat hal itu, si Bielka langsung menarik tangan si Virza dan membawanya keluar ruangan kepala sekolah sambil berkata.
“Ayo aku akan mengantarmu pulang, kalau begitu kami permisi dulu bapak-bapak sekalian,” ucap si Bielka sambil menarik paksa tangan si Virza.
Virza yang bingung dan tak tahu harus berbuat apa itu malah tak melawan tangan Bielka yang menariknya keluar ruang kepala sekolah itu, ia hanya diam tak bicara apapun dan membiarkan tangan lembut si Bielka itu menggenggam tangannya yang dingin dan pucat.
Tak lama kemudian, mereka berdua sampai disebuah taman kecil dekat samping gedung olahraga, si Virza tiba-tiba berhenti dan mau tak mau si Bielka pun juga ikut terhenti. Mereka saling bertatapan untuk sesaat sampai akhirnya si Virza tiba-tiba berkata pada Bielka.
“Sampai kapan?” ucap si Virza singkat.
“Hah? Apa yang sampai-“
“Sampai kapan kamu mau meremas tangannku? Aku kan tidak lari kemana-mana tapi kenapa genggaman tanganmu begitu kuat,” ujar si Virza sambil menoleh sesekali ke arah genggaman tangan mereka.
“Aaakhk!! I-itu ... aku tidak sengaja,” ucap si Bielka yang salah tingkah ketika ia sadar dan langsung melepaskan genggaman tangannya dengan tangan si Virza.
Virza hanya diam manatap fokus ke arah Bielka penuh arti, melihat si Bielka yang sedang salah tingkah didepannya itu membuat si Virza tiba-tiba tersenyum kecil walau tak sempat si Bielka lihat.
“Makasih,” ucap si Virza pada si Bielka tiba-tiba.
“Hah? Ada apa? makasih? Kok makasih?” ucap si Bielka yang bingung dan tak tahu apa maksud di Virza.
“Aku pergi dulu,” ucap Virza pada Bielka dan berjalan pergi meninggalkannya.
“Eh? Lo mau kemana?” tanya Bielka pada Virza.
Langkah kaki cowok itu pun terhenti dan menoleh kebelakang melihat ke arah Bielka, si Virza pun menjawab perkataan si Bielka dan berkata.
__ADS_1
“Bukannya kamu menyuruhku untuk pulang dan beristirahat tadi?” ucap Virza menjawab perkataan si Bielka.
“Ah? ... iya,” ucap Bielka salah tingkah lagi.