Jeruk Nipis & Batu Es

Jeruk Nipis & Batu Es
Chapter 4


__ADS_3

“Ide bagus tuh ... ntar biar Bibi bilang sama mas Joko buat bantu siapkan,” saut Bi Yuni.


    “Tapi ... apa ini akan berhasil ya Bi?” ucap Virza mengkerutkan keningnya.


    “Kita belum tahu kalau kita belum mencobanya,” ujar Bi Yuni sambil menaikkan bahunya.


    Disisi lain, tepatnya disebuah cafe kecil dekat dengan taman bermain anak-anak, tampak Faris dan geng futsalnya yang sedang asyik nongkrong disana, ia terlihat sedang mengobrol dengan si Delta.


    “Eh Taa ... gue enggak habis pikir ternyata ayahnya si culun itu seorang Kapolda,” ucap Faris.


    “Atasan papi lo kan?” saut Delta.


    “Gue robek tuh mulut ya,” sentak Faris mendengar perkataan si Delta.


    “Yee maaf ... tapi kan emang bener kalau papi lo ba-“


    “Apa?” ucap Faris memotong perkataan Delta.


    Mereka berdua dihampiri oleh anggota futsal yang lain bernama Windra, yang mana si Windra ini adalah salah satu pemain terbaik di tim futsal Sma Dandelion.


    “Hei bro, lagi ngebahas apa sih sampe yakin amat gitu?” tanya si Windra sambil duduk di sebelah Faris.


    “Tahu nih, si Faris masih aja ngomongin anak yang ayahnya adalah atasan pap-“ 


    Delta terdiam dan menghentikan perkataannya dengan tiba-tiba karena sudah melihat sorot mata si Faris yang sudah seperti siap menerkamnya. Sedangkan si Windra semakin penasaran dengan apa yang sedang dibahas oleh kaptennya tersebut bersama si Delta.


    “Ini masalah si anak baru culun itu ya?” tanya si Windra pada si Faris.


    “Ya ... siapa lagi kalau bukan dia,” jawab si Faris memalingkan bola matanya malas.


    Tiba-tiba terpikirkan sesuatu didalam benak si Windra, ia pun mengatakan rencana itu kepada Faris yang masih kesal dengan si Virza.

__ADS_1


    “Riss ... gimana kalau kita kasih pelajaran sama tuh anak  baru,” ucap Windra pada si Faris.


    “Pelajaran apa lagi sih Win? Lo kan liat sendiri kemaren kalau ayahnya itu Kapolda,” sergah si Delta.


    “Justru karena itu, kita bisa manfaatkan status orang tuanya untuk ngasih dia pelajaran karena udah mempermalukan kapten tim futsam Sma Dandelion,” ujar si Windra dengan penuh percaya diri.


    Mendengar perkataan si Windra yang seperti sangat meyakinkan itu, si Faris pun tertarik dengan rencananya Windra dan memintanya untuk menjelaskan secara detail padanya.


    “Jelaskan,” ucap si Faris pada Windra.


    “Jadi gini ... seperti yang dikatakan oleh si Delta tadi, ayahnya kan Kapolda, seorang yang punya jabatan cukup tinggi dikepolisian, nah ... kita akan manfaatkan nama besar ayahnya itu dan membuat fitnah tentang si anak baru itu, contohnya saja kayak gini, kalian bayangin aja ada berita entah itu di internet atau di koran segala macam tentang anak Kapolda melakukan pembullyan disekolahnya,” ujar si Windra pada rekan-rekan futsalnya terutama si Faris.


    Faris pun tersenyum sinis dan tanpak puas dengan rencana yang dibuat oleh si Windra itu, ia tanpa pikir panjang menyetujui rencana jahat itu dan mengintruksikan kepada semua anggota geng futsalnya itu untuk ikut ambil andil dalam rencananya itu.


    “Bukannya itu terlalu beresiko Riss? Kita melibatkan seorang Kapolda loh?” sergah si Delta ditengah semangatnya anggota yang lain untuk membalas si Virza.


    Mendengar celaan dari si Delta, Faris langsung menghampirinya dan menarik kerah bajunya, semua anggota tim futsalnya hanya memperhatikan si Faris yang menarik kerah baju si Delta.


    Si Delta hanya bisa diam dan tak berani menatap ke arah Faris, sedangkan si Windra malah semakin memprovokasi si Faris dengan rencana jahatnya terhadap si Virza.


    “Jadi kapan kita jalankan rencana ini?” tanya si Windra sambil tersenyum sinis.


    “Tentu saja ... secepatnya!” ucap si Faris sambil menoleh ke arah Windra dan tersneyum sinis.


    Keesokan harinya di sekolah.


    Bel berbunyi seperti biasa dan itu menandakan akan dimulainya jam pelajaran pertama. Di kelas dua Ipa 1 yaitu kelas yang dihuni oleh para elite ada disana, tampak semuanya tengah menunggu kedatangan guru dijam pertama, namun si Faris yang sudah mempunyai rencana untuk memfitnah si Virza merasa terganggu dengan keberadaan si Bielka yang selalu saja berada didekat Virza, si Faris pun mendapatkan ide untuk memancing si Virza dengan memanfaatkan si Bielka. Ia pun pergi menghampiri si Bielka yang duduk tepat dibelakang bangkunya si Virza.


    “Eh gue denger-denger ada kabar angin yang bilang kalo lo naksir si culun ini, bener ya?” ucap Faris pada Bielka.


    Bielka tersentak dan langsung kesal dengan sikap Faris itu, ia pun hendak menjawab perkataan si Faris itu namun sudah didahului oleh sahabatnya si Kenzy yang sudah membuka mulutnya duluan dari pada Bielka.

__ADS_1


    “Eh Faris! Dari mana lo dapet kabar angin kayak begitu? Sorry ya ... masa si Bielka yang notabennya adalah seorang kapten tim basket putri Sma Dandelion yang udah diincar banyak cowok dari sekolah-sekolah lain mau sama cowok culun yang lo bilang barusan,” ucap si Kenzy melawan perkataan si Faris.


    “Wahh ... padahal orangnya kan ada didepan kita, masa lo ngatainya terus terang amat kayak gitu,” saut si Faris yang sangaja memprovokasi si Virza.


    Virza yang sudah jelas mendengarkan percakapan antara si Faris dan Kenzy itu malah terlihat biasa-biasa saja dan bodo amat, ia tak menghiraukan mereka dan malah berpura-pura tidur di mejanya.


    Kenzy yang baru sadar bahwa ia telah mengatai si Virza itu pun merasa bersalah dan hendak mau memperbaiki kata-katanya barusan, namun sekarang giliran si Bielka yang duluan telah membuka mulutnya dari pada si Kenzy.


    “Kalau emang bener aku naksir sama dia kenapa? Apakah ada masalah buat lo?” ucap Bielka pada si Faris dan membuat se-isi ruang kelas mereka heboh tak percaya.


    Si Virza yang tadinya berpura-pura tidur seketika membuka matanya dan tak percaya dengan apa yang telah dikatakan oleh si Bielka barusan, namun ia masih dalam posisi pura-pura tidurnya dan masih menyimak dengan seksama.


    “Apa?! lo seeriuuuss ... Ka?” ucap si Kenzy tak percaya dengan apa yang telah ia dengar dari sahabatnya itu.


    Begitupun si Faris yang juga ikut terkejut dengan perkataan si Bielka, Faris kehilangan kata-katanya dan membisu tak percaya dengan apa yang barusan Bielka katakan padanya barusan.


    Virza yang sudah tidak tahan lagi dengan suasana itu langsung menoleh ke belakang ke arah si Bielka, dan mereka pun saling bertatapan antara satu sama lain dengan penuh makna, dan Virza pun mulai membuka suaranya.


    “Kamu ...-“


    “Selamat pagi siswa dan siswi sekalian ... ada apa? kenapa semuanya melihat ke belakang? Apa ada yang berkelahi?” ucap seorang guru yang tiba-tiba masuk ke kelas.


    Melihat guru sudah memasuki kelas, si Faris pun kembali ke bangkunya tanpa berkata apapun lagi pada si Bielka. Sedangkan si Virza yang tadinya menoleh kebelakang ke arah Bielka, ia segera memalingkan wajahnya kembali menghadap ke depan semula  karena tahu akan kehadiran guru didepan. Sementara si Bielka masih dalam kondisi tatapan kosong tak percaya dengan apa yang baru saja ia katakan, bahkan ia berpikir bahwa dirinya sudah benar-benar gila.


    “Zii gue ngomong apa barusan?” tanyanya dengan raut wajah tak percaya pada sahabatnya itu.


    “Lo bilang kalau lo naksir tuh,” jawab si Kenzy sambil memanyunkan bibirnya menunjuk si Virza yang duduk didepan bangku mereka.


    “Hah? Aaaakkahkh!!” teriak si Bielka tak percaya.


    “Ada apa itu? Bielka? Ada apa nak? Kenapa kamu berteriak?” tanya ibu guru yang sedang mengajarnya dengan cemas.

__ADS_1


__ADS_2