
Seorang gadis bergerak gelisah di dalam tidur nya. Seluruh tubuh nya telah basah oleh keringat dan membuat baju tidur nya juga ikut basah.
Setelah cukup lama bergelung dengan mimpi nya, gadis itu terbangun dan berteriak dengan keras memanggil nama seseorang. Nafas nya terengah engah dan air mata membasahi wajah cantik nya sesaat terbangun dari mimpi buruk nya.
" Sayang, kamu tidak apa apa?, " tanya seorang wanita paruh baya yang baru saja masuk ke dalam kamar beserta seorang pria paruh baya. Terlihat sekali raut khawatir di wajah mereka. Wanita paruh baya itu mendekati dan memeluk putri nya yang hampir setiap malam bermimpi buruk dan terbangun sambil berteriak memanggil nama seseorang.
Gadis itu menggelengkan kepala nya dan menangis di dalam pelukan ibu nya. Ia menumpahkan semua rasa sesak di dalam dada nya dengan menangis di pelukan ibu nya.
" Sampai kapan kamu akan terus seperti ini nak? Ikhlas kan dia dan papa yakin mimpi ini tidak akan mengganggu mu lagi. Dia juga pasti sedih jika kamu seperti ini terus, " ucap pria paruh baya yang tak lain adalah ayah si gadis sambil mengelus sayang puncak kepala putri nya.
Gadis itu melepas pelukan nya bersama mama nya dan menghapus air mata nya meskipun telah di hapus tetap saja air mata itu terus mengalir. Ia menatap papa nya dengan tatapan sendu " Vira tidak bisa pa, Vira tidak bisa mengikhlaskan kepergian Reno. Vira sangat mencintai nya, sangat, " ucap nya sesegukan.
Anwar duduk di samping putri nya dan menggenggam kedua tangan putri nya " papa tau, putri papa ini sangat mencintai nya. Tetapi yang harus putri papa ketahui, Reno akan merasa tersiksa jika kamu tidak bisa mengikhlaskan nya. Papa yakin, Reno akan bahagia di sana jika kamu bisa ikhlas menerima semua ini. Cobalah untuk belajar ikhlas mulai dari sekarang dan papa serta mama juga sangat merindukan putri kami yang manja dan ceria seperti dulu lagi, " ucap nya dengan menatap sedih ke arah putri nya.
Vira sadar sejak kepergian Reno tunangan nya, Ia lebih banyak diam dan bersedih. Ia juga lebih banyak menghabiskan waktu nya di rumah sakit dan jarang berkumpul dengan keluarga dan para sahabat nya.
Meskipun keluarga serta para sahabat nya terus menyemangati nya dan menasehati diri nya agar bisa ikhlas dan kembali ceria seperti dulu lagi, tetap saja Ia tidak bisa. Ia merasa tidak memiliki tujuan hidup lagi setelah kepergian tunangan nya.
" Vira usahakan pa meskipun sulit, " putus Vira akhir nya karena tidak ingin terus melihat wajah sedih kedua orang tua nya.
Ia menyadari jika orang tua nya selama ini selalu bersedih melihat putri mereka yang telah berubah. Maka dari itu, Ia tidak ingin lagi melihat raut sedih di wajah orang tua nya. Ia memutuskan untuk mencoba ikhlas walaupun Ia sendiri tak yakin apa Ia akan bisa.
Anwar tersenyum begitu juga dengan Zahra saat mendengar putri mereka akhirnya akan berusaha belajar untuk ikhlas melepas kepergian calon menantu mereka.
" Ya sudah, sebaik nya kamu sekarang ambil wudhu dan kita sholat tahajjud berjamaah. Mama akan membangun kan Aisyah untuk ikut sholat juga bersama kita, " ucap Zahra dan di jawab anggukan kepala oleh Vira.
Vira bergegas mengambil wudhu setelah kepergian orang tua nya. Ia mengelus sayang mukenah pemberian Reno saat mereka hantaran waktu itu.
" Aku sangat merindukan mu, Ren, " gumam nya sedih dan menepis setitik bening di kedua ujung mata nya.
Bergegas, Ia memakai mukenah itu saat adik nya Aisyah memanggil nya. Aisyah pergi ke kamar Vira, di perintah oleh Zahra karena Vira tak kunjung datang ke musholla kecil yang ada di dalam rumah mereka.
" Yuk, " ajak Vira kepada adik nya sesaat sudah ada di depan kamar nya.
Setelah selesai melaksanakan sholat tahajjud, Vira berdoa kepada pencipta seluruh alam semesta.
__ADS_1
" Ya Allah, jika memang ini adalah takdir yang terbaik untuk hidup hamba, maka berikan lah hamba kesabaran dan keikhlasan menerima semua ini. Ampuni lah segala dosa Reno dan terima lah seluruh amal ibadah nya. Pertemukan lah kami nanti di surga mu, Ya Allah. Aaamiinn, " Vira berdoa dengan air mata yang terus mengalir.
Vira menghela nafas nya dengan berat. Kali ini Ia telah yakin akan mencoba belajar untuk ikhlas. Meskipun sulit, Ia akan tetap berusaha untuk keluarga dan para sahabat nya, terutama kedua orang tua dan adik nya yang selalu ada di kala Ia terpuruk sangat dalam.
" Aisyah yakin kakak bisa karena kakak adalah kakak terhebat nya Aisyah, " ujar Aisyah menyemangati.
" Terima kasih ya Aisyah karena selalu memberikan dukungan untuk kakak selama ini, " Vira memeluk adik nya itu dengan sayang.
" Alhamdulillah, putri mama sudah kembali. Mama berdoa, semoga kedua putri mama selalu bahagia dan berada di dalam lindungan Allah, ". Anwar merangkul bahu istri nya yang menangis melihat kedua putri nya yang saling memeluk dan menguatkan.
" Aaamiinn, " ucap mereka berbarengan lalu saling berpelukan.
****
Pagi ini, Vira telah bersiap siap akan pergi ke rumah sakit. Hari ini, Ia ada jadwal praktek pagi di ruangan nya baru siang nanti Ia akan melakukan kunjungan pasien di setiap ruangan.
Vira keluar dari dalam kamar nya dengan membawa jas dokter yang tersampir di lengan kiri nya serta tas yang berisi ponsel, dompet, bedak, lipstik dan juga beberapa perlengkapan dokter di tangan kanan nya.
" Pagi semua, " sapa Vira dengan senyum manis tersungging di bibir nya.
Anwar dan Aisyah tersenyum bahagia melihat putri dan kakak mereka sudah kembali ceria lagi seperti dulu.
Vira menarik kursi kosong lalu meletakkan jas dokter dan tas nya. Setelah itu, Ia kembali menarik kursi yang ada di samping Aisyah dan duduk di sana.
" Terima kasih, ma, " ucap Vira saat mama nya meletak kan segelas susu hangat di hadapan nya.
" Sama sama sayang, " balas Zahra lalu meletakkan segelas susu lagi di depan Aisyah. Setelah itu, Ia duduk di samping suami nya dan mulai mengambil sarapan untuk diri nya.
Vira mengambil selembar roti tawar lalu mengoles kan selai coklat ke atas nya dan mulai memakan nya. Setelah menghabiskan dua lembar roti tawar, Vira meminum susu nya sampai habis lalu mengelap mulut nya dengan tisue.
" Ma, Pa, " Anwar dan Zahra menolehkan pandangan mereka ke arah putri mereka saat Vira memanggil nya.
" Vira ingin mengatakan sesuatu yang penting, " ucap Vira dengan raut wajah serius.
Anwar meletakkan sendok dan garpu nya lalu mengelap mulut nya, begitu juga dengan Zahra dan Aisyah. Setelah itu, mereka semua menatap Vira menunggu Vira kembali melanjutkan ucapan nya.
__ADS_1
" Katakan nak, " ucap Anwar yang tetap terus memandang lekat wajah putri nya.
Vira menarik nafas nya dalam dalam lalu membuang nya perlahan.
" Ma, Pa, Aisyah, Vira sudah memutuskan untuk menerima tawaran pekerjaaan sebagai dokter anak di rumah sakit yang ada di kota Medan, " putus Vira dengan penuh keyakinan.
Semua orang terkejut mendengar keputusan yang telah di ambil Vira. Mereka tidak menyangka, tawaran yang datang bulan lalu itu pada akhir nya di terima oleh Vira.
Anwar menunduk kan kepala nya dan menghela nafas nya dengan berat lalu kembali menatap putri nya dengan tatapan yang sulit di artikan.
" Kamu yakin nak dengan keputusan mu itu? Di Medan, kita tidak memiliki saudara dan kamu akan sendiri di sana. Papa dan mama khawatir dengan kamu yang sendiri jauh dari kami, " tanya Anwar.
" Dan jika keputusan mu ini karena berusaha untuk belajar mengikhlas kan Reno, papa rasa tidak harus sampai ke sana kan, nak, " lanjut Anwar lagi.
Vira tersenyum getir mendengar ucapan terakhir papa nya itu. Memang benar, keputusan nya menerima tawaran itu dan pergi jauh dari sini karena ingin berusaha mengikhlaskan semua nya. Ia merasa harus berada jauh dari sini jika memang dia ingin mengikhlaskan semua. Karena, jika Ia terus berada di sini akan sulit bagi nya untuk ikhlas. Terlalu banyak kenangan indah bersama Reno dan pasti akan sulit untuk nya.
" Pa, Vira mohon. Terlalu banyak kenangan indah bersama Reno di sini dan Vira gak yakin bisa ikhlas jika terus berada di sini. Vira mohon, papa, mama serta Aisyah merestui keputusan Vira ini, " mohon Vira.
Hening beberapa saat karena semua orang sibuk dengan fikiran mereka masing masing. Anwar menatap istri dan kedua putri nya secara bergantian lalu kembali lagi menatap Vira.
" Papa merestui keputusan kamu nak, " putus Anwar akhir nya.
" Pa, " protes Zahra dan Aisyah karena tidak terima dengan keputusan Anwar yang mengizinkan Vira menerima tawaran pekerjaan itu.
" Sudah lah ma, ini juga demi kebaikan putri kita. Papa juga yakin dan percaya Vira bisa menjaga diri nya di sana, " ucap Anwar menenangkan istri nya dan mencoba menerima keputusan putri nya dengan rasa berat hati karena selama ini mereka tidak pernah tinggal berjauhan begitu lama.
" Ma, please restui keputusan Vira ya. Vira janji akan jaga diri Vira baik baik di sana dan gak akan mengecewakan semua nya, " mohon Vira dengan sangat.
" Baik lah, mama restui. Tapi ingat, kamu harus sering memberi kabar kepada mama, papa dan juga Aisyah. Dan jika ada kesempatan, kamu harus pulang ke sini, " putus Zahra akhir nya setelah mempertimbangkan baik dan buruk nya.
" Terima kasih ma, " ucap Vira bahagia karena semua setuju dengan keputusan nya.
Setelah itu, Vira pamit untuk pergi ke rumah sakit kepada kedua orang tua nya, di ikuti Aisyah yang akan pergi ke kampus.
Sebelum menjalankan mobil nya, Vira mengirim pesan di grup meminta untuk bertemu dengan semua sahabat sahabat nya malam ini. Ia akan memberi tau kepada sahabat sahabat nya tentang keputusan nya ini.
__ADS_1
Setelah pesan nya terkirim, Ia meletak kan ponsel nya kembali ke dalam tas dan mulai menjalankan mobil nya menuju ke rumah sakit.