Jodoh Bu Dokter Cantik

Jodoh Bu Dokter Cantik
Sudah Bertunangan


__ADS_3

Mobil yang di kendarai Gaishan tiba di parkiran rumah sakit khusus dokter. Vira melepas seatbelt nya dan duduk miring menghadap Gaishan yang terus menatap jendela depan mobil tanpa ada niat untuk menatap Vira.


" Ehm terima kasih karena abang sudah mengantar saya ke rumah sakit. Kalau begitu saya pamit masuk ke dalam karena sudah hampir terlambat, " ucap Vira dan berpamitan kepada Gaishan yang masih terus menatap lurus ke depan dengan raut wajah datar.


" Sama sama. Dan nanti, jam berapa jadwal tugas kamu selesai?, " tanya Gaishan yang kini mengalihkan pandangan nya menatap Vira namun dengan nada yang sangat datar.


" Saya selesai tugas jam tiga lewat tiga puluh, tetapi biasa nya saya akan pulang setelah selesai sholat ashar di mushola, " jawab Vira lembut.


" Ouh ok, " ucap Gaishan.


" Kalau begitu, saya masuk dulu. Emm, abang hati hati di jalan, " Vira langsung keluar dari mobil tanpa menunggu balasan dari Gaishan. Selain karena merasa malu dan tidak terbiasa satu mobil dengan pria yang bukan sahabat atau keluarga nya, Ia juga sudah merasa sangat terlambat.


Gaishan masih terus memandang punggung Vira yang kian menjauh. Ia menghembuskan nafas nya secara kasar setelah punggung Vira tidak terlihat lagi. Fikiran dan hati nya kacau setelah mendengar ucapan Vira yang membalas kata rindu untuk seseorang. Entah lah, diri nya sendiri tidak tau kenapa Ia bisa merasa sekacau ini.


Setelah merasa lebih tenang, Ia kembali melajukan mobil nya pulang ke rumah. Seperti nya, Ia harus membicarakan hal ini kepada kedua orang tua nya. Ia tidak ingin suatu saat akan ada masalah karena putra nya menganggap Vira sebagai ummi nya.


Vira meletakkan tas dan paperbag milik nya ke atas meja kecil yang khusus Ia siapkan untuk meletakkan barang barang pribadi nya. Ia tidak ingin meja kerja nya menumpuk begitu banyak barang selain urusan pekerjaan. Setelah itu, Ia mengambil ponsel nya yang tadi Ia letakkan di dalam saku celana nya untuk kembali menghubungi seseorang sebelum ada pasien yang datang.


" Assalamualaikum, beib, " sapa seseorang di seberang telepon.


" waalaikumussalam, beib, " balas Vira dengan senyum bahagia tersungging di bibir mungil nya.


" Sudah sampai rumah sakit? Tadi kenapa, kok tiba tiba putus?, " tanya seseorang itu.


" Ahh, maaf tadi ada kucing. Ini baru saja sampai di ruangan gue, " jawab Vira gugup karena berbohong.


" Yakin itu kucing?, " tanya seseorang itu lagi karena tidak yakin dengan jawaban Vira.


" Emm iya loh momsky, itu tadi kucing, " jawab Vira meyakinkan Vita. Ya, yang menelpon saat di mobil tadi adalah Vita.


" Ok, gue percaya. Gimana kabar lo di Medan? Sehat, Kan? Tidak ada masalah selama lo di sana, Kan?, " tanya Vita beruntun.


" Alhamdulillah, gue sehat. Lo dan semua yang di sana, sehat kan?, " jawab Vira lalu bertanya balik keadaan semua sahabat dan keluarga mereka di Jakarta.


" Alhamdulillah, kami semua sehat. Terus, ada apa tadi pagi menghubungi gue bolak balik? Gue fikir lo lagi ada masalah gawat darurat, " tanya Vita ke tujuan awal.


" Yeee gak lah, gue baik baik saja. Cuma ini tentang permintaan mama gue, " jawab Vira.


" Permintaan mama? Apa tuh?, " tanya Vita penasaran.


" Mama gue minta tambahan security di rumah karena takut kalau cuma pak Jaka aja laki laki di rumah. Mama tuh takut anak nya yang cantik dan baik hati ini di culik. Jadi, gue mau minta izin dulu nih sama lo sebagai pemilik rumah untuk menambah personil di rumah, " jawab Vira.


" Nyulik lo? Rugi kali penculik nya. Sudah lo cerewet, banyak makan lagi. Tumpur bandar kalau kata orang Medan, hahaha, " ledek Vita yang akhir nya tertawa terbahak bahak membuat Vira kesal.

__ADS_1


" Tega banget lo sama gue, " rajuk Vira.


Vita berhenti tertawa lalu berdeham untuk menormalkan suara nya " Sorry deh beib, gue bercanda. Kalau mama minta begitu gak masalah sih. Nanti, gue suruh kak Felix untuk kirim Lima anggota nya ke sana, " bujuk Vita.


" Lima? Banyak banget. Dua saja sudah cukup kok, " tolak Vira.


" Kan untuk keselamatan lo, beib. Dua jaga rumah dan tiga lagi ikutin kemana lo pergi kecuali ke toilet sih, hehehe, " ucap Vita terkekeh.


" Gue gak mau di ikuti kemana mana sama bodyguard yah. Nanti yang ada anak anak yang jadi pasien gue pada takut semua liat itu bodyguard. Lagi pula, gue gak mau terlihat mencolok di rumah sakit karena membawa bodyguard, " tolak Vira.


" Ok deh terserah lo saja. Nanti malam, dua bodyguard sudah sampai di rumah lo, " putus Vita.


" Thanks momsky, lo memang yang terbaik, " ucap Vira.


" Sama sama beib. Oh iya, sudah ada gebetan belum di sana?, " tanya Vita ingin tau.


" Gue tutup ya, ada pasien nih, assalamualaikum beib, " Vira langsung mengakhiri panggilan nya bersama Vita karena tidak ingin menjawab pertanyaan Vita, Ia tidak peduli jika Vita akan mengamuk karena Ia memutus panggilan secara sepihak. Vira hanya takut kalau sampai kelepasan berbicara dan berakhir dengan Vita tau mengenai Harsya dan Gaishan. Kalau sampai itu terjadi, bukan hanya dua bodyguard yang datang ke Medan tetapi keluarga nya dan juga para warga rempong.


Setelah panggilan berakhir, Vira memastikan kembali diri nya siap untuk menerima pasien. Lalu, menyuruh suster pendamping untuk memanggil pasien sesuai urutan.


****


Gaishan memarkirkan mobil di halaman rumah nya, namun Ia tidak langsung turun. Fikiran nya masih mengingat kejadian tadi dan hati nya juga masih merasa sangat kesal. Entah lah, Ia sendiri sangat bingung kenapa Ia bisa sekesal itu.


" Ada apa, bu?, " tanya Gaishan setelah menurunkan kaca mobil nya.


" Ibu yang harus nya tanya sama kamu, kenapa kok belum turun juga?, " tanya bu Citra balik.


" Ahh iya ini mau turun kok, bu, " jawab Gaishan lalu menutup kaca jendela dan turun dari mobil.


Bu Citra melihat raut wajah Gaishan yang terlihat kesal dan juga bingung. Ada apa dengan putra nya, bukan nya senang setelah bisa jalan bersama dokter cantik, ini malah terlihat kesal.


" Kamu baik baik saja?, " tanya bu Citra.


" Kok ibu tanya begitu?, " tanya Gaishan balik dengan kening berkerut.


" Ya wajah mu itu yang buat ibu bertanya seperti itu. Kamu ada masalah? Kamu tidak habis bertengkar kan dengan nak Vira?, " jawab bu Citra lalu bertanya dengan tatapan selidik.


Gaishan menghembuskan nafas nya dengan berat lalu menatap ibu nya " Kita ke dalam yuk, bu. Ada yang mau Gaishan bicarakan sama ibu, penting, " bukan nya menjawab pertanyaan ibu nya, Gaishan malah mengajak ibu nya untuk masuk ke dalam rumah dan berjalan mendahului ibu nya yang sedang menatap nya dengan tatapan penuh tanya.


Bu Citra menurut dan mengikuti langkah Gaishan dan mereka duduk di ruang keluarga. Pak Ibrahim yang baru selesai sholat Dhuha, ikut bergabung saat melihat istri dan putra nya duduk berhadapan dengan mimik wajah serius.


" Ada apa ini? Kok serius banget?, " tanya pak Ibrahim setelah duduk di sofa single.

__ADS_1


" Gak tau mas, tanya saja sama anak mu ini, " jawab bu Citra.


" Ada apa, Gaishan? Apa ada masalah?, " tanya pak Ibrahim.


" Begini pak, bu, menurut Gaishan sebaik nya mulai sekarang kita harus membuat Harsya tidak tergantung kepada Vira lagi. Gaishan ingin menjauh kan Harsya dari Vira. Dengan kata lain, kita harus jujur kepada Harsya kalau Vira bukan ummi nya, " jawab Gaishan tegas.


" Apa, " pekik bu Citra dan pak Ibrahim berbarengan.


" Kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan barusan? Atas dasar apa kamu bisa mengatakan hal itu?, " tanya bu Citra sedikit emosi.


" Ini demi kebaikan kita semua bu. Gaishan tidak ingin nanti nya ada masalah karena Harsya menganggap Vira sebagai ummi nya, " jawab Gaishan dengan nada rendah karena tidak ingin bersikap kurang ajar kepada orang tua nya dengan meninggikan suara nya.


" Masalah? Masalah apa sih? Kamu katakan yang jelas supaya ibu dan bapak mengerti. Karena sebelum ini juga ibu sudah bertanya kepada Vira dan Ia dengan yakin menjawab kalau tidak akan ada masalah nanti nya, " tanya bu Citra ingin tau.


" Gaishan tidak ingin ada orang lain yang salah paham terutama tunangan Vira. Pak, bu, Vira itu sudah bertunangan, " jawab Gaishan lirih dan juga hati nya sakit mendapati fakta itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2