
Vira selesai memasak makan malam dan menata semua makanan nya ke atas meja makan di bantu oleh bik Minah. Vira melarang bu Citra membantu nya dan meminta bu Citra untuk duduk saja di kursi meja makan.
Bu Citra tersenyum melihat Vira dengan sangat telaten dan cekatan dengan urusan dapur. Ia melihat masakan Vira yang tersaji di atas meja, menu makanan yang sederhana namun terlihat sangat nikmat.
" Kamu kelihatan sudah terbiasa dengan peralatan dapur dan kamu juga masak dengan cekatan. Apa kamu sering memasak di rumah?, " tanya bu Citra.
Vita tersenyum dan mengangguk " Sering bu, kadang saya yang memasak di rumah jika tidak ada jadwal di rumah sakit, " jawab Vira lembut.
" Wah, hebat kamu nak. Jarang sekali di jaman sekarang wanita karir yang pintar memasak dan mengurus rumah. Kebanyakan pasti mereka menyerah kan semua nya kepada asisten rumah tangga, " puji bu Citra.
" Ibu terlalu memuji saya. Lagi pula, banyak kok bu wanita karir yang juga pandai mengurus rumah. Contoh nya, semua sahabat sahabat saya dan pasti nya banyak juga wanita karir di luar sana yang hebat mengurus rumah tangga nya, " ucap Vira merendah.
" Kamu ini terlalu merendah, nak. Oh iya, ibu ingin tanya, kamu di sini tinggal sama keluarga kamu atau gimana?, " tanya bu Citra.
" Saya tinggal di sini di temani oleh pak Jaka beserta istri dan anak nya. Pak Jaka di tugaskan untuk menemani dan menjaga saya selama saya di Medan karena keluarga saya semua nya di Jakarta, " jawab Vira.
" Kenapa kamu memilih tinggal sendiri di sini, nak?, " tanya bu Citra penasaran.
Vira tersenyum " Saya hanya ingin mencari suasana baru bu dan ingin menjadi lebih mandiri lagi, " jawab Vira tak sepenuh nya berbohong. Tak mungkin kan Ia mengatakan alasan yang paling utama.
" Yakin hanya itu? Atau mungkin kamu patah hati lalu melarikan diri ke sini?, " tanya bu Citra dengan nada menggoda.
" Ya Enggak lah bu, ibu ada ada saja, " elak Vira.
" Kamu sudah punya pasangan? Maaf ibu bertanya seperti ini, ibu hanya memastikan jika nanti nya tidak ada seseorang yang akan salah paham karena Harsya memanggil kamu dengan panggilan Ummi, " tanya bu Citra hati hati takut melanggar privasi Vita.
Vira kembali tersenyum lalu menggelengkan kepala nya " Saya sendiri bu, " jawab Vira dengan rasa pedih di dalam hati nya kala mengingat Reno.
" Alhamdulillah, " ucap bu citra pelan namun tetap terdengar samar samar oleh Vira.
" Ibu tadi bilang apa? Saya tidak terlalu jelas mendengar nya, " tanya Vira memastikan.
" Ehh tidak nak, hanya saja ibu merasa tenang karena tidak akan ada yang salah paham kepada mu nanti nya, " jawab bu Citra.
__ADS_1
" Kalau saya tidak mungkin ada yang salah paham bu. Tapi, mungkin saja akan ada yang salah paham nanti nya dengan abi nya Harsya, " ucap Vira.
Bu Citra menggelengkan kepala nya lalu menghela nafas nya dengan berat " Sampai sekarang, Gaishan masih belum mau mencarikan ummi untuk Harsya. Dia masih betah dengan kesendirian nya meskipun sudah sering ibu kenalkan dengan anak teman teman ibu, tetap saja Gaishan selalu menolak. Bahkan, sepupu dari istri nya juga sering memberi perhatian tetapi tidak di gubris oleh nya, " balas bu Citra dengan nada terdengar putus asa.
Vira mengelus lembut punggung bu Citra seraya memberikan kekuatan " Tidak semudah itu untuk kita bisa melupakan seseorang yang sangat kita cintai dan mengganti nya dengan yang baru. Tetapi, ibu juga jangan putus asa untuk terus menasehati abi nya Harsya karena sebenar nya Harsya sangat membutuhkan kasih sayang dan perhatian seorang ibu. Namun, ibu juga jangan terlalu memaksa nya karena pasti itu akan membebani fikiran nya, " ucap Vira.
" Kamu benar, nak. Terima kasih karena sudah mau mendengarkan dan memberikan masukan kepada ibu, " balas bu Citra.
Azan maghrib berkumandang menyudahi obrolan kedua wanita itu. Bu Citra mengajak Vira untuk ke ruang keluarga menemui Ibrahim, Gaishan dan Harsya.
" Gaishan, kamu nanti mengajar di mesjid?, " tanya bu Citra saat melihat Gaishan berdiri dan bersiap siap akan pergi ke mesjid bersama Harsya. Sementara pak Ibrahim, baru saja kembali dari kamar setelah mengganti baju nya dengan baju koko dan sarung.
" Tidak bu, malam ini Gaishan libur dulu mengajar nya dan ingin istirahat. Besok, Gaishan baru kembali mengajar, " jawab Gaishan.
" Bagus lah kalau begitu. Lagi pula ada tamu di rumah dan tidak baik di tinggal lama lama. Nanti setelah selesai sholat, langsung pulang ya, makanan sudah siap nanti takut dingin, " ucap bu Citra.
" Baik bu, " balas Gaishan lalu mencium punggung tangan bu Citra di ikuti oleh Harsya.
" Ummi, Harsya pergi sholat di mesjid dulu ya, " pamit Harsya lalu mencium punggung tangan Vira.
" Iya sayang, Harsya hati hati ya. Pegang tangan abi, jangan di lepas saat jalan menuju ke mesjid. Dan ingat, sholat nya jangan main main ya, harus khusyuk, " balas Vira lalu memberikan ciuman di kedua pipi Harsya.
" Siap, ummi, " jawab Harsya sambil memberikan gerakan hormat membuat Vira terkekeh gemas melihat tingkah Harsya.
Semua interaksi antara Vira dan Harsya tidak lepas dari pandangan Gaishan. Ia tersenyum tipis sangat tipis, saat melihat kedekatan putra nya dengan wanita yang selalu di panggil ummi. Ada rasa hangat menjalar di hati nya saat melihat interaksi putra nya dengan Vira.
" Assalamualaikum, " pamit pak Ibrahim, Gaishan dan Harsya berbarengan.
" Waalaikumussalam, " balas bu Citra dan Vira.
Bu Citra, Vira dan bik Minah sholat berjamaah di musholla kecil yang ada di rumah. Seperti biasa, jika Gaishan tidak pergi keluar kota, maka bu Citra akan sholat di rumah karena sudah ada yang akan mengawasi Harsya selama di mesjid.
Malam ini, Vira menjadi imam sholat sesuai permintaan bu Citra. Suara merdu Vira saat melantunkan ayat suci Al-qur'an, membuat hati bu Citra dan bik Minah bergetar. Baru kali ini mereka mendengar suara wanita semerdu ini. Bahkan, Nissa istri Gaishan saja tidak semerdu ini.
__ADS_1
Selesai melaksanakan sholat maghrib, Vira meminta izin untuk mengaji sebentar sambil menunggu kepulangan pak Ibrahim, Gaishan dan juga Harsya. Dengan senang hati bu Citra mengizinkan, bahkan mereka mengaji bertiga.
Pak Ibrahim, Gaishan dan Harsya tertegun saat baru saja memasuki rumah. Suara merdu Vira saat melantunkan ayar suci Al-qur'an menggema di seluruh rumah. Gaishan sampai menutup mata menikmati suara merdu Vira.
" Gaishan, " panggilan pak Ibrahim menyadarkan Gaishan dari kegiatan nya yang sedang menikmati suara merdu Vira.
" Ehh emm ya, yah, " saut Gaishan gugup.
" Hayoo, lagi menikmati suara merdu nak Vira ya?, " goda pak Ibrahim.
" Astagfirullah, Ya Allah, malu banget sampai kepergok sama ayah. Tapi, memang suara nya merdu banget membuat siapa saja yang mendengar merasa tentram, " gumam Gaishan dalam hati dengan wajah memerah malu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like, comment and vote yang banyak ya akak.