
Satu bulan telah berlalu sejak Vira mengatakan segala nya kepada Vita tentang pertemuan nya dengan Harsya dan juga Gasihan beserta keluarga.
Tak banyak yang berubah, diri nya tetap menemui dan menemani Harsya bermain dan mengaji sepulang diri nya bertugas dari rumah sakit. Hanya saja, kini diri nya akan di kawal oleh satu orang bodyguard kemana pun dia pergi.
Awal nya, Vira merasa tidak nyaman karena Joe, bodyguard yang mengawal nya terus mengikuti kemana pun diri nya pergi. Bahkan, Joe berdiri di dekat pintu ruang kerja Vira membuat para pasien yang semua nya anak anak menjadi takut bahkan ada yang menangis histeris.
Pihak rumah sakit yang mendapat laporan tentang keluhan para orang tua pasien, langsung turun tangan menemui Vira dan meminta penjelasan. Namun, sebelum mereka menemui Vira, Joe lebih dulu menahan mereka dan menjelaskan semua nya. Tak sulit untuk Joe membungkam direktur rumah sakit. Cukup dengan mengatakan siapa Vira dan siapa di balik diri nya, direktur rumah sakit menyetujui untuk membiarkan Joe tetap berada di lingkungan rumah sakit untuk mengawal Vira.
Tetapi, direktur rumah sakit meminta untuk Joe tidak berada di depan ruang kerja Vira agar pasien yang semua nya anak anak tidak merasa takut dan terganggu. Setelah menghubungi Vita dan meminta pendapat, Joe menerima syarat dari direktur rumah sakit.
Begitu juga dengan Harsya, awal bertemu Harsya menangis histeris karena ketakutan melihat wajah sangar dan tubuh besar milik Joe. Tetapi, Joe yang mengetahui siapa Harsya buat Vira maka diri nya mencoba untuk melembutkan wajah nya meskipun terlihat sangat konyol.
Seperti hari hari biasa nya, Vira yang sedang bertugas di rumah sakit akan tetap di kawal oleh Joe. Setiap jam istirahat, Joe akan menemui Vira terlebih dahulu lalu bersama sama ke kantin rumah sakit.
" Yah, semua meja penuh, " keluh Vira yang melihat tidak ada meja kosong. Entah kenapa, hari ini kantin rumah sakit terlihat ramai sekali tidak seperti biasa nya.
" Apa nona ingin makan di ruangan saja?, " tanya Joe sekaligus memberi saran.
" Boleh juga sih, " jawab Vira sambil manggut manggut setuju.
" Kalau begitu, silahkan duluan nona. Makanan nona biar saya saja yang bawa, " ucap Joe.
" Ok, terima kasih ya, Joe, " balas Vira tersenyum.
Vira berjalan terlebih dahulu menuju pintu keluar kantin. Namun, masih setengah jalan lagi menuju pintu, dari arah tengah kantin ada suara seseorang yang memanggil diri nya. Refleks, Vira menghentikan langkah nya dan memutar tubuh nya ke arah asal suara.
Terlihat, di sana suster Rere berdiri dan melambaikan tangan nya kepada Vira.
" Dokter Vira, sini gabung sama kita, " pekik suster Rere yang terus melambaikan tangan nya mengajak Vira untuk mau bergabung dengan nya dan juga yang lain.
Vira mengangguk setuju dan memberi kode kepada Joe untuk mengikuti nya ke meja teman teman nya.
" Siang semua, " Sapa Vira ramah.
" Siang dokter Vira, " balas semua orang yang ada di meja.
" Duduk di sini, dok, " ajak suster Rere yang sudah menarik pelan tangan Vira untuk duduk di samping nya.
__ADS_1
Vira mengangguk lalu duduk di samping suster Rere. Ia juga menyuruh Joe untuk duduk di kursi kosong yang ada di depan nya. Setelah meletakkan nampan makanan Vira, Joe duduk di kursi sesuai perintah Vira.
" Kangen banget sama dokter Vira. Sudah lama kita tidak kumpul bareng seperti ini, " ucap Suster Rere yang kini sudah memeluk lengan Vira.
" Benar tuh apa yang di bilang suster Rere. Dokter Vira tidak pernah gabung bareng kita lagi, " timpal suster Ika.
Vira meringis mendengar keluhan kedua suster yang status nya sebagai teman nya itu. Memang benar apa yang di katakan mereka, diri nya sudah jarang duduk gabung dengan mereka. Semenjak Joe selalu ada di dekat nya, Vira membatasi diri dengan teman teman di tempat nya bekerja karena tidak ingin mendapat banyak pertanyaan tentang Joe. Terlebih, bertanya perihal masalah kehidupan pribadi nya.
" Maaf ya, kalau kalian merasa seperti itu, " balas Vira tak enak hati.
" Semenjak di temani terus sama om bule ganteng, dokter Vira sombong nih gak mau gabung bareng kita, " candaan suster Rere membuat Vira tersedak makanan nya dan refleks Joe menyodorkan minuman Vira yang langsung di terima dan di minum sampai setengah gelas.
" Suster Rere, bercanda nya jangan kelewatan. Lihat, dokter Vira sampai tersedak. Kalau ada apa apa dengan dokter Vira, gimana?, " tegur dokter Adam dengan mata menatap tajam ke arah suster Rere.
Vira mengibas ngibaskan tangan kanan nya seraya berkata diri nya baik baik saja sambil terus menetralkan nafas nya. Ia merasa tidak enak hati kepada suster Rere yang tertunduk sedih karena di tegur oleh dokter Adam yang terdengar seperti bentakan.
" Tidak masalah, dokter Adam, saya baik baik saja. Tidak perlu lah sampai seperti itu menegur suster Rere, " ucap Vira sambil mengelus lengan suster Rere.
Dokter Adam hanya berdehem menjawab ucapan Vira lalu kembali memakan makanan nya dengan tenang. Sejujur nya, ada rasa cemburu dan kesal karena semenjak kehadiran Joe di sekitar Vira, membuat diri nya kesulitan untuk mendekati Vira.
" Maaf ya, dok, karena candaan saya, dokter sampai tersedak. Saya tidak akan di hukum kan sama om bule karena sudah membuat dokter Vira tersedak?, " ucap suster Rere merasa bersalah dan berakhir dengan cicitan dan melirik ke arah Joe karena takut kalau Ia akan di hukum oleh bodyguard nya Vira.
Vira terkekeh mendengar cicitan suster Rere " Suster tenang saja, Joe tidak sekejam itu kok. Santai saja, " balas Vira tersenyum geli lalu melirik ke arah Joe yang masih santai memakan makanan nya.
Joe memang bukan asli warga Indonesia. Ia adalah pria berkebangsaan Jerman yang telah bekerja dengan keluarga Blakes (orang tua angkat Vita, sahabat baik Vira) sejak umur nya masih lima belas tahun. Dan sejak umur dua puluh tahun, diri nya sudah di perintahkan untuk tinggal di Indonesia untuk mengawal keluarga Vira. Sudah lima tahun, diri nya tinggal di Indonesia dan sekarang diri nya sudah sangat fasih berbicara bahasa Indonesia.
Meskipun memahami apa yang di bicarakan Vira dan teman teman nya, Joe tak pernah ikut menimpali kecuali Vira mengajak nya untuk bergabung mengobrol.
" Ehem, " dokter Adam berdehem setelah membersihkan mulut nya dengan tisu. Ia telah selesai memakan makanan nya.
Mendengar deheman dokter Adam, semua orang kini menatap diri nya.
" Sore nanti, kami semua mau nonton film di bioskop. Dokter Vira mau ikut dengan kita semua?, " ajak dokter Adam.
Meskipun, ajakan dokter Adam untuk beramai ramai, setidak nya nanti diri nya bisa mendekati Vira ketika sudah berada di mall dan meminta teman teman yang lain memberikan waktu untuk diri nya dan juga dokter Vira untuk jalan berdua saja.
Berharap sedikit, boleh kan? Itu lah yang di fikirkan dokter Adam.
__ADS_1
" Emm, anu, gimana yah, " ucap Vira gagap karena tidak enak hati untuk menolak ajakan dokter Adam terlebih tatapan teman teman yang lain yang terlihat sangat berharap diri nya bisa ikut.
" Ayo dong, Dok. Sudah lama kita tidak jalan bareng bareng, " ajak suster Ika dan di timpali dengan anggukan kepala suster Rere dan yang lain nya.
Vira mempertimbangkan ajakan teman teman nya. Terasa tidak enak hati untuk menolak, namun diri nya juga tidak tega melihat wajah sedih Harsya jikalau diri nya tidak menemani bermain sore nanti.
Setelah mempertimbangkan matang matang, Vira memutuskan untuk menerima ajakan dokter Adam dan yang lain nya. Masalah nanti Harsya merajuk, biarlah belakangan akan dia fikirkan cara untuk membujuk Harsya.
Adam tersenyum lima jari melihat senyum tipis terbit di bibir Vira. Ia yakin Vira tidak akan menolak ajakan nya kali ini.
" Baiklah, nanti saya akan ii..., " ucapan Vira terhenti saat mendengar suara dari arah belakang menyapa diri nya. Ia pun menoleh ke belakang dan terkejut melihat siapa yang menyapa diri nya.
" Abang?, " cicit Vira.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1