Jodoh Bu Dokter Cantik

Jodoh Bu Dokter Cantik
Gak Rela


__ADS_3

Vira mampir sebentar ke warung sate yang selalu Ia lewati saat pulang dari rumah Harsya menuju ke rumah nya. Ia penasaran dengan rasa nya, melihat begitu banyak nya pengunjung, mungkin saja rasa nya benar benar enak.


Setelah memesan empat bungkus sate untuk diri nya, pak Jaka, bu Endang dan Lala, Vira duduk di kursi kosong yang di sediakan penjual sate untuk pengunjung yang ingin makan di tempat.


Kedua mata Vira menerawang jauh mengingat pembicaraan nya dengan Gaishan, abi nya Harsya. Ia tau niat pria itu baik, tidak ingin sampai Ia di gunjingkan oleh para tetangga. Namun, Ia juga merasa tidak rela jika harus menjauhi Harsya seperti ucapan Gaishan tadi. Hati nya sudah terpaut dengan bocah kecil itu.


" Haaah, " Vira menghela nafas nya dengan berat. Kepala nya terasa sakit memikirkan semua kejadian yang akhir akhir ini terjadi di dalam hidup nya.


Vira mengalihkan pandangan nya ke arah pengunjung saat mendengar rengekan anak kecil kepada ibu nya yang meminta untuk mencoba memakan sendiri makanan nya. Hati nya menghangat melihat kebersamaan dan kehangatan keluarga itu. Namun, sesaat kemudian, kesedihan menghinggapi hati nya kala mengingat Ia tidak bisa merasakan kehangatan dan kebersamaan itu bersama Reno dan keluarga kecil yang sangat mereka impikan.


" Ren, aku sangat merindukan mu, " gumam Vira lirih di dalam hati nya. Ia menghapus setitik bening di sudut mata nya, tak ingin ada orang lain yang melihat air mata nya. Meskipun, tak ada yang mengenal nya di sini, tetapi Ia tidak ingin di kasihani oleh orang lain.


Setelah menunggu cukup lama, akhir nya pesanan Vira telah selesai dan penjual memberikan nya kepada Vira. Vira mengucapkan terima kasih setelah memberikan uang dan mengambil bungkusan sate pesanan nya dan bergegas menuju mobil nya.


Vira mengendarai mobil nya dengan kecepatan sedang. Saat mobil nya sudah dekat dengan gerbang kompleks perumahan nya, ponsel nya berdering. Ia dengan hati hati mengambil ponsel nya yang ada di dalam tas dan tetap berusaha fokus dengan jalanan.


" Mama, " gumam Vira saat melihat nama yang tertera di layar ponsel nya.


" Assalamualaikum, ma, " sapa Vira saat panggilan mereka terhubung.


" Waalaikumussalam. Kamu apa kabar nya, sayang? Sehat kan? Sudah makan? Sekarang lagi apa?, " rentetan pertanyaan di lontarkan Zahra setelah menjawab salam putri sulung nya.


Vira terkekeh mendengar begitu banyak pertanyaan yang di lontarkan mama nya. Ahhh, jadi merindukan pelukan hangat mama nya.


" Satu satu dong ma tanya nya, Vira bingung mau jawab yang mana dulu, " ucap Vira sambil memutar stiur mobil masuk ke area komplek perumahan nya.


" Iya iya, maaf sayang. Mama tuh cuma khawatir sama anak perempuan mama yang saat ini jauh dari mama, " Kedua mata Vira berkaca kaca mendengar ucapan mama nya. Dan, Ia juga tau pasti mama nya di sana sudah menangis.


" Alhamdulillah, Vira sehat ma. Vira tadi sudah makan dan sekarang masih di jalan menuju rumah. Tapi, tadi mampir sebentar beli sate untuk Vira dan pak Jaka sekeluarga, jadi nya agak lama sampai di rumah, " jawab Vira.


Kening Zahra berkerut mendengar jawaban putri nya. Ini sudah hampir jam sepuluh malam dan putri nya masih di jalan. Setau diri nya, jadwal putri nya setiap hari di rumah sakit hanya sampai sore hari, tetapi kenapa jam segini masih di luar.

__ADS_1


" Kamu habis dari mana, sayang? Kenapa jam segini masih di jalan? Memang nya, jadwal kamu di rumah sakit berubah?, " tanya Zahra.


" Jadwal Vira tetap sama kok, ma. Tadi, Vira ke rumah Har.. emm teman ma. Karena keasyikan mengobrol, sampai lupa waktu, " Vira terus mengucap maaf di dalam hati nya karena berbohong kepada mama nya. Ia masih belum bisa jujur karena tidak ingin mama nya berfikir yang tidak tidak.


" Kamu bawa mobil sendiri atau di antar jemput pak Jaka?, " tanya Zahra.


" Vira bawa mobil sendiri, ma. Vira gak mau ngerepotin pak Jaka. Lagi pula, kalau pak Jaka antar jemput Vira, rumah gak ada yang jaga, ma. Kan, gak mungkin rumah hanya di jaga sama bu Endang dan Lala, " jawab Vira.


Vira menghentikan mobil nya tepat di depan gerbang rumah nya lalu mengklakson, memberi tau orang rumah untuk membukakan gerbang. Biasa nya, Ia akan menghubungi pak Jaka jika hampir sampai gerbang rumah, namun karena Ia masih menerima telepon dari mama nya, maka nya Ia membunyikan klakson mobil nya.


" Kalau begitu, kamu cari saja security untuk membantu menjaga rumah. Mami jadi was was kalau laki laki di rumah mu hanya satu orang. Bagaimana kalau ada orang jahat yang berniat buruk kepada kalian. Mama tidak bisa membayangkan kalau mereka menyakiti kamu, sayang, " usul Zahra.


" Nanti, Vira bicarakan dulu sama Vita ya, ma. Ini kan rumah nya Vita, Vira gak berani mengambil keputusan sepihak, " jawab Vira sambil kembali melajukan mobil nya masuk ke halaman rumah nya setelah pak Jaka membuka kan gerbang.


Vira mematikan mesin mobil nya, lalu membawa tas serta jas dokter nya (maaf kalau salah penulisan nya) keluar dari mobil. Ia memanggil pak Jaka untuk membantu nya membawa bungkusan sate yang tadi Ia beli.


" Tapi, kamu harus secepat nya bilang sama Vita. Mama gak akan bisa tenang kalau belum ada tambahan security yang akan menjaga rumah kamu di sana, " ucap Zahra.


" Iya mama ku sayang. Mama tenang saja ya, besok akan Vira bicarakan dengan Vita. Oh iya, mama, papa dan Aisyah sehat kan? Vira kangeeennn banget sama kalian, " Vira mengalihkan pembicaraan agar mama nya tidak terus terusan khawatir.


" Siap, ibunda ratu. Perintah ibunda ratu akan saya laksanakan, " balas Vira patuh.


" Ya sudah, mama tutup panggilan nya. Kirim salam sama pak Jaka dan keluarga. Assalamualaikum, " ucap Zahra.


" Iya ma, Vira titip salam juga untuk papa dan Aisyah. Waalaikumussalam, " balas Vira lalu mengakhiri panggilan nya bersama dengan mama nya.


Vira memandangi layar ponsel nya yang kini telah padam. Kesedihan dan kegundahan nya tadi menguar setelah mendengar suara wanita yang paling berarti untuk hidup nya.


" Bu dokter, " panggil pak Jaka hati hati takut mengganggu Vira yang mungkin masih menerima panggilan.


" Eh iya, pak Jaka, " jawab Vira mengalihkan pandangan nya kepada pak Jaka.

__ADS_1


" Maaf pak Jaka ganggu. Pak Jaka mau tanya, ini sate nya mau di hidangkan sekarang? Terus bu dokter, mau makan di mana?, " tanya pak Jaka sambil menunjukkan bungkusan sate yang di bawa nya.


Vira menepuk pelan kening nya, sesaat Ia lupa dengan sate yang di beli nya. Padahal, baru saja mama nya menyuruh nya untuk segera memakan sate nya lalu istirahat. Dasar Vira pelupa.


" Maaf pak, kelupaan. Vira minta tolong untuk di tata di piring ya pak. Itu ada empat bungkus, untuk pak Jaka, bu Endang dan juga Lala. Nanti bawa ke ruang keluarga saja pak, kita makan bareng bareng di sana. Oh iya, saya minta tolong sekalian buatkan teh hijau ya pak. Saya mau ke kamar dulu, bersih bersih, " jawab Vira.


" Siap, bu dokter. Pesanan bu dokter akan siap sebentar lagi, " ucap pak Jaka tersenyum sumringah lalu pamit ke dapur sekalian memanggil istri dan anak nya.


Vira tersenyum melihat punggung pak Jaka yang kian menjauh dari pandangan. Meskipun, Ia jauh dari keluarga nya, tetapi Ia tidak merasa terlalu kesepian karena ada pak Jaka dan keluarga yang selalu ada untuk nya.


" Thanks, Vit. Lo benar benar tau apa yang sahabat lo butuh kan. Lo memang momsky terhebat untuk kami semua, " gumam Vira.


" Kalau begini, gue betah tinggal di Medan. Apa lagi sekarang, ada Harsya yang secara tak langsung membantu gue melupakan kesedihan gue selama ini. Semoga saja, kedekatan gue dan Harsya tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. Jujur, gue gak rela kalau di minta untuk menjauhi Harsya, " gumam nya lagi lalu menghela nafas nya dengan berat.


Vira melangkah kan kaki nya menuju ke dalam kamar untuk bersih bersih lalu kembali ke ruang keluarga untuk menikmati sate bersama pak Jaka dan keluarga.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa like, comment and vote yang banyak ya akak.


__ADS_2