Jodoh Bu Dokter Cantik

Jodoh Bu Dokter Cantik
Khawatir


__ADS_3

Selesai melaksanakan sholat maghrib, bu Citra mengajak Vira untuk duduk di teras masjid sambil mengawasi Harsya yang ikut mengaji bersama murid murid maghrib mengaji lain nya.


Vira tersenyum melihat Harsya begitu bersemangat mengikuti kegiatan belajar mengaji yang di laksanakan rutin setiap malam nya di mesjid Al-Ikhlas jalan madiosantoso. Ini kali kedua Vira datang ke mesjid ini dan seperti nya malam ini murid murid yang datang lebih banyak dari saat pertama kali Ia datang.


" Kamu senang berada di sini, nak?, " pertanyaan bu Citra mengalihkan perhatian Vira dari murid murid mengaji.


" Sangat senang bu. Saya tidak menyangka antusias anak anak begitu luar biasa untuk mengaji, " jawab Vira tersenyum sumringah.


" Yah, mereka memang terlihat sangat bersemangat sekali. Itu juga tidak luput dari semangat yang di tunjuk kan oleh ketua BKM mesjid ini yang selalu mengajak anak anak untuk tetap terus bersemangat untuk datang sholat dan mengajak anak anak untuk melakukan yel yel sebelum mengaji sehingga anak anak menjadi lebih bersamangat lagi, " ucap bu Citra yang juga sedang memperhatikan Harsya.


" ibu tau, saat pertama kali saya datang ke mesjid ini, saya cukup terkejut dengan anak anak di sini yang sangat antusias untuk datang ke mesjid dan mengaji. Saya tidak tau bagaimana di mesjid lain, tapi setau saya di mesjid tempat saya tinggal, hanya sedikit yang ingin datang dan mengaji. Saya merasa tenang dan nyaman berada di sini, setelah beberapa tahun rasa tenang dan nyaman itu pergi dari hidup saya, " Vira tersenyum getir di akhir ucapan nya.


Bu citra menatap Vira begitu dalam, ada kesedihan dan kehilangan terpancar jelas di kedua mata Vira. Bu citra menggenggam kedua tangan Vira dan tersenyum lembut.


" Kita memang baru beberapa hari bertemu, tapi ibu merasa sudah sangat menyayangi kamu dan menganggap kamu sebagai putri ibu sendiri. Jika kamu ingin, kamu boleh membagi keluh kesah kamu kepada ibu. Semoga saja itu bisa sedikit mengurangi kesedihan yang saat ini kamu rasakan, " ucap bu Citra.


Vira tersenyum lirih dan mengangguk kan kepala nya. Tak bisa Ia pungkiri, Ia juga merasakan ketenangan ketika berada di tengah tengah keluarga bu Citra. Terlebih, Ia sudah jatuh hati dengan bocah kecil yang telah merubah hari hari nya.


" Terima kasih, bu, " balas Vira tulus.


" Oh iya, ada sesuatu yang ingin ibu tanyakan. Tetapi, kalau kamu tidak ingin menjawab nya, ibu tidak akan memaksa, " ucap bu Citra hati hati.


" Ingin tanya apa bu? Kalau saya bisa jawab, pasti saya jawab, " tanya Vira balik.


Bu Citra menatap Vira dan bertanya sedikit ragu " Apakah kamu sudah bertunangan? Maaf jika ibu bertanya hal pribadi, namun ibu hanya ingin memastikan jika nanti nya tidak ada yang marah karena Harsya memanggil mu ummi. Meskipun, waktu itu kamu blg kamu sendiri, tapi Gaishan meragukan hal itu karena dia melihat kamu memakai cincin pertunangan".


Vira menunduk dan menatap cincin pertunangan nya yang saat ini melingkar di jari manis nya. Ia mengangkat kepala nya dan tersenyum kepada bu Citra lalu menunjukkan jari nya yang tersemat cincin.


" Benar bu, saya sudah bertunangan, " jawab Vira tersenyum, namun senyuman itu langsung memudar berganti dengan tatapan sedih.


" Namun, pernikahan yang saya impikan bersama nya tak akan pernah terwujud karena dia telah pergi meninggalkan saya untuk selama nya. Saya memakai cincin ini lagi karena merasa sangat merindukan nya. Sulit rasa nya untuk mengikhlaskan kepergian nya, saya benar benar tidak bisa bu, " air mata yang sedari tadi di tahan nya perlahan luruh membasahi kedua pipi Vira. Bu Citra menghapus air mata yang menetes di kedua pipi Vira. Saat ini, Ia seperti melihat Gaishan dulu yang terpuruk saat kehilangan Annisa.


" Ibu tau bagaimana perasaan mu, nak. Tapi, gimana pun juga kamu tetap harus ikhlas atas kepergian nya. Ibu yakin, dia akan sangat sedih jika melihat kamu seperti ini terus. Percaya lah, Allah tidak akan pernah memberikan cobaan di luar batas kemampuan umat-Nya, " ucap bu Citra menenangkan.


Vira mengangguk anggukkan kepala nya dan menghapus kasar air mata nya saat melihat Gaishan berjalan mendekat ke arah mereka bersama seorang pria paruh baya. Mereka berdua berdiri saat Gaishan memanggil bu Citra dan diri nya.


" Ada apa, bu?, " tanya Gaishan curiga saat melihat kedua mata Vira yang memerah dan ada jejak air mata di kedua pipi Vira.


" Tidak ada apa apa, nak. Oh iya, ada apa menghampiri ibu dan Vira?, " tanya bu Citra mengalihkan pembicaraan.


" Tidak ada apa apa buk, hanya saja pak Enjang ingin bertemu langsung dengan dek Vira. Tadi saat memberi yel yel di depan anak anak, tidak sengaja bapak melihat dek Vira yang wajah nya mirip sekali dengan Almh Nissa. Jadi, bapak yang penasaran langsung bertanya sama Gaishan dan Gaishan jelaskan kalau ini dek Vira kenalan keluarga kita yang kebetulan saja wajah nya mirip dengan Almh Nissa, ".


" Pak Enjang gak percaya kalau ada orang yang wajah nya mirip sekali namun tidak memiliki hubungan darah sama sekali. Jadi, Gaishan ajak saja bapak untuk ketemu langsung dengan dek Vira biar langsung kenalan dengan dek Vira, " jawab Gaishan menerangkan.


" Oh gitu toh, ibu fikir ada apa sampai kamu dan pak Enjang menghampiri ibu dan Vira, " balas bu Citra lega.


" Ah iya dek Vira, kenalkan ini pak Enjang ketua BKM mesjid ini dan pak Enjang, ini dek Vira. Dek Vira ini kenalan nya ibu dan tidak ada hubungan keluarga dengan almh istri saya apalagi kembaran nya pak, " Gaishan sedikit bergurau di akhir ucapan nya saat memperkenalkan dua orang di dekat nya membuat suasana lebih akrab.

__ADS_1


Vira menangkup kedua tangan nya di depan dada sambil memperkenalkan diri nya, begitu juga dengan pria paruh baya yang bernama pak Enjang.


" Saya masih tidak percaya kalau kamu dan almh Nissa tidak ada hubungan keluarga, wajah kalian benar benar sangat mirip sekali, " ucap pak Enjang.


" Saya juga sangat terkejut saat pertama kali melihat foto mbak Nissa yang wajah nya sangat mirip dengan saya. Memang, yang saya pernah dengar kalau di dunia ini ada yang punya wajah mirip meskipun tidak memiliki hubungan darah. Tapi, saya tidak menyangka kalau itu terjadi pada saya sendiri, " balas Vira.


" Nak Vira sendiri di Medan kerja atau liburan?, " tanya pak Enjang.


" Saya kerja pak dan kebetulan baru saja pindah tugas ke salah satu rumah sakit di sini. Sebelum nya, saya tugas di rumah sakit yang ada di Jakarta, " jawab Vira menerangkan.


" Jadi, kamu seorang dokter?, " tanya pak Enjang lagi.


" Benar pak, lebih tepat nya dokter spesialis anak, " jawab Vira dan di balas anggukan kepala oleh pak Enjang.


" Wahh, bisa dong nanti kapan kapan nak Vira memberikan pengarahan kepada anak anak tentang kesehatan, " ucap pak Enjang.


" InsyaAllah pak, saya siap kapan saja jika tidak ada kegiatan lain, " balas Vira semangat.


" Baik lah, nanti akan kami rapatkan kepada pengurus mesjid lain nya tentang rencana kita ini. Kalau begitu, saya permisi dulu. Nak Vira silahkan lanjutkan lagi bincang bincang nya dengan bu Citra, " ucap pak Enjang lalu berpamitan kepada semua orang.


Setelah Pak Enjang undur diri, Gaishan juga berniat untuk pamit mengajar kepada bu Citra dan Vira. Namun, sebelum sempat berpamitan, ponsel Vira berdering membuat Gaishan mengurungkan niat nya.


Vira bergegas mengambil ponsel nya yang berada di dalam tas nya dan melihat nama pak Jaka tertera di layar ponsel nya. Segera Ia mengangkat panggilan dari pak Jaka setelah meminta izin dari Gaishan dan bu Citra.


" Assalamualaikum, pak Jaka. Ada apa, pak?, " tanya Vira setelah mengucap salam.


" Waalaikumussalam, bu dokter. Maaf bu dokter, bapak ganggu. Ini bapak bingung dan takut buk dokter, di rumah ada lima orang laki laki badan nya besar sekali cari bu dokter, " jawab pak Jaka dengan nada takut setelah membalas salam Vira.


" Iya buk dokter, gimana ini buk dokter? Bapak sama ibu takut sekali, " jawab pak Jaka panik.


Gaishan dan buk Citra penasaran setelah mendengar ucapan Vira tentang laki laki berbadan besar yang mencari diri nya. Mereka juga takut jika orang orang yang datang ke rumah Vira ingin berbuat tidak baik.


" Bapak tenang dulu, jangan panik dan takut. Coba bapak tanya ke mereka, ada apa cari saya, " ucap Vira menenangkan.


" Iya buk dokter, sebentar saya tanya dulu, " balas pak Jaka lalu terdengar suara pak Jaka yang sedang berbicara dengan salah satu dari mereka.


Setelah beberapa saat, Pak Jaka kembali berbicara kepada Vira.


"Hallo, buk dokter," panggil pak Jaka.


" Iya pak, hallo, " balas Vira.


" Mereka bilang utusan nyonya muda Djaya. Ini salah satu dari mereka ingin berbicara sama buk dokter, " ucap pak Jaka.


Jederrr.


Vira baru ingat jika Vita akan mengirim beberapa bodyguard untuk diri nya hari ini. Dan parah nya, dia lagi tidak di rumah. Sudah pasti, para bodyguard akan melaporkan kepada Vita kalau dia belum pulang juga ke rumah.

__ADS_1


" Ahh tidak usah pak. Bilang kepada mereka untuk menunggu saya sebentar. Saya akan segera sampai di rumah. Tolong persilahkan mereka untuk masuk dan menunggu di ruang tamu, dan buatkan mereka minuman serta makanan ya pak. Satu lagi pak, tolomg minta ibu untuk siapin kamar untuk mereka karena mulai malam ini, mereka akan tinggal dengan kita untuk membantu menjaga rumah, " balas Vira.


" Ohh baik buk dokter, akan saya sampaikan. Buk dokter hati hati di jalan, jangan ngebut ngebut. Assalamualaikum, " ucap pak Jaka mengingatkan.


" Baik pak, terima kasih, Waalaikumussalam, " balas Vira lalu memutuskan sambungan telepon mereka dan memasukkan ponsel nya ke dalam tas.


Bu Citra yang tidak sabar langsung bertanya kepada Vira yang terlihat panik dan pucat.


" Ada apa, nak? Ada masalah?, " tanya buk Citra khawatir.


" Ahh tidak buk, tidak ada masalah apa apa. Saya saja yang lupa kalau hari ini saya harus pulang cepat, " jawab Vira mencoba tenang, padahal dirinya sudah takut setengah mati kalau kalau Vita menghubungi nya sekarang.


" Lalu, yang kami tidak sengaja dengar tentang lima laki laki berbadan besar datang ke rumah kamu itu siapa? Mereka tidak berniat buruk terhadap mu kan?, " kali ini yang bertanya adalah Gaishan. Tak tau kenapa, diri nya menjadi khawatir.


" Tidak tidak tidak, mereka orang orang baik. Buk, saya mau pamit pulang duluan, sudah di tunggu di rumah, " pamit Vira buru buru.


" Iya nak, ayo ibu antar ke rumah ambil mobil kamu, " ajak bu Citra dan di balas anggukan kepala oleh Vira.


" Saya antar kamu pulang, " ucap Gaishan tiba tiba.


Vira mengurungkan niat nya saat ingin melangkah setelah mendengar ucapan Gaishan.


" Eh, tidak usah abang, " tolak Vira.


" Tidak ada penolakan, dek Vira. Saya hanya ingin memastikan kalau orang orang yang datang itu benar benar orang baik. Gimana kalau mereka itu berniat buruk terhadap kamu?, " ucap Gaishan tegas.


Saat Vira ingin menolak, bu Citra sudah lebih dulu berbicara dan mendukung keputusan Gaishan membuat Vira semakin takut jika nanti bodyguard Vita melihat Gaishan dan keluarga lalu melaporkan semua nya. Bukan diri nya ingin menyembunyikan semua ini dari sahabat nya, hanya saya Ia tidak ingin mereka tau sekarang. Mungkin saja nanti setelah Ia siap bercerita.


Saat Vira masih bimbang, ucapan Gaishan selanjut nya membuat Vira di hantam ribuan pertanyaan.


" Tolong jangan menolak lagi, ini semua saya lakukan karena saya sangat khawatir dengan kamu, " ucap Gaishan.


" Khawatir? Maksud nya apa? Jangan membuat aku bingung dengan sikap baik mu, " batin Vira.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2