
Gaishan menatap putra nya yang sedang mengerjakan PR yang di berikan oleh guru nya. Ia tersenyum saat melihat raut wajah serius putra nya yang sedang fokus mengerjakan PR.
Ada rasa bangga di dalam hati nya melihat putra nya yang masih berumur lima tahun tetapi memiliki kecerdasan di atas teman teman nya yang lain. Cukup satu kali Ia menjelaskan, Harsya langsung paham dan segera mengerjakan sendiri PR nya. Tak hanya itu saja, jika Ia memiliki PR menggambar atau mewarnai, tugas itu pun bisa Ia kerjakan sendiri dan hasil nya benar benar bagus.
Gaishan jadi teringat obrolan nya tadi pagi dengan ibu dan bapak nya mengenai Vira. Meskipun belum ada jawaban pasti, namun sedikit mengurangi rasa khawatir nya.
FLASHBACK.
" Masalah? Masalah apa sih? Kamu katakan yang jelas supaya ibu dan bapak mengerti. Karena sebelum ini juga ibu sudah bertanya kepada Vira dan Ia dengan yakin menjawab kalau tidak akan ada masalah nanti nya, " tanya bu Citra ingin tau.
" Gaishan tidak ingin ada orang lain yang salah paham terutama tunangan Vira. Pak, bu, Vira itu sudah bertunangan, " jawab Gaishan lirih dan juga hati nya sakit mendapati fakta itu.
" Bertunangan?, " beo bu Citra dan pak Ibrahim.
Gaishan mengangguk kan kepala nya " Benar pak, bu, maka dari itu kita harus segera jujur dengan Harsya karena Gaishan tidak ingin tunangan Vira menjadi salah paham, " lanjut Gaishan.
" Tidak mungkin Gaishan. Vira sendiri berkata kepada ibu kalau tidak akan ada yang salah paham atau mungkin terluka karena hal ini. Dia bilang masih sendiri meskipun saat mengatakan itu wajah nya terlihat sangat sendu, seperti ada yang Ia tutupin. Namun ibu sangat yakin kalau Vira masih sendiri. Justru, Ia malah takut kalau dari pihak kamu yang akan salah paham. Dia takut kalau pasangan kamu yang akan marah, " terang bu Citra.
" Tapi bu, Gaishan melihat sendiri kalau pagi ini Vira mengenakan cincin tunangan. Kalau belum tunangan, kenapa dia mengenakan cincin itu? Dan lagi, tadi saat di mobil dia menerima panggilan dari seseorang dan membalas kata rindu untuk seseorang itu dengan mesra bahkan dia memanggil orang itu dengan sebutan beib, " ucap Gaishan masih belum puas dengan keterangan ibu nya.
" Kamu jangan berburuk sangka dulu, bisa saja itu sahabat nya. Sudah biasa untuk kalangan wanita memanggil sahabat nya seperti itu. Di sini, Ia tinggal sendiri dan mungkin saja sahabat nya menghubungi untuk menanyakan kabar nya saja. Ibu percaya kalau Vira jujur saat mengatakan kalau dia masih sendiri. Lagi pula, untuk apa dia berbohong tentang status nya kepada kita?, " pertanyaan ibu nya membuat Gaishan berfikir keras.
Dalam hati Gaishan, benar juga apa yang di katakan ibu nya. Untuk apa Vira berbohong tentang status nya, apa untung nya coba. Mungkin, Ia sendiri yang harus tanya jelas kepada Vira agar nanti nya tidak ada kesalah pahaman yang berarti.
FLASBACK OFF.
Gaishan tersadar dari lamunan nya saat tangan mungil putra nya mendarat di pipi nya. Ia menoleh ke arah putra nya yang menampak kan raut wajah kesal.
" Ada apa, sayang?, " tanya Gaishan dengan lembut sambil mengelus puncak kepala putra nya.
" Abi ihh Harsya panggilin dari tadi gak jawab jawab, " rajuk Harsya.
" Maaf sayang. Sekarang, katakan sama abi, kamu mau apa?," tanya Gaishan lagi.
" Harsya lapar, " rengek Harsya membuat Gaishan tersenyum gemas.
" Ok, kita makan siang tapi PR nya sudah selesai belum Harsya kerjakan?, " tanya Gaishan.
Harsya mengangguk cepat lalu memberikan buku tugas nya kepada Gaishan. Gaishan menerima nya dan memeriksa dengan teliti semua tugas yang di kerjakan putra nya. Ia tersenyum dan mengelus puncak kepala Harsya saat mendapati semua jawaban itu benar. Putra nya benar benar memiliki kecerdasan yang luar biasa.
" Pintar sekali anak abi, semua jawaban nya benar, " puji Gaishan.
__ADS_1
Harsya tersenyum malu malu mendapat pujian dari abi nya.
" Sekarang, Harsya simpan semua buku buku nya lalu kita makan siang. Setelah itu, siap siap untuk sholat dzuhur, " perintah Gaishan.
Harsya mengangguk cepat lalu membereskan semua buku buku pelajaran nya lalu mereka berjalan menuju ke meja makan di mana nenek dan kakek nya sudah duduk menunggu mereka.
****
Sesuai janji nya kepada Vira dan Harsya, kini Gaishan sedang menyetir mobil bersama Harsya di bangku penumpang di samping nya untuk menjemput Vira di rumah sakit.
Harsya terlihat sangat bahagia sejak bangun tidur siang tadi saat teringat kalau sore ini Ia akan menjemput ummi nya pulang kerja. Gaishan tersenyum melihat kebahagiaan terpancar jelas di wajah putra nya. Sekarang Ia sadar, kalau selama ini putra nya benar benar sangat merindukan sosok seorang ibu dan kini rasa rindu itu telah terobati dengan kedatangan Vira.
" Harsya, " panggil Gaishan lembut.
Harsya menoleh ke arah abi nya dan menyaut " Ya abi, " jawab Harsya.
" Harsya sayang banget ya sama ummi?, " tanya Gaishan.
Harsya mengangguk cepat " Tentu saja Harsya sayang banget sama ummi, abi. Harsya rindu banget sama ummi dan sekarang Harsya bahagia sekali karena ummi sudah pulang. Itu berarti Harsya sudah menjadi anak yang baik maka nya ummi pulang, " jawab Harsya.
Kening Gaishan berkerut mendengar jawaban putra nya. Bagaimana bisa putra nya berkata seperti itu.
" Dulu, Harsya sering nangis dan merengek karena Harsya sangat merindukan ummi. Harsya juga sedih dan ingin seperti teman teman Harsya yang lain yang di antar dna di jemput sekolah sama ummi nya. Terus nenek bilang, kalau Harsya jadi anak baik dan penurut, nanti ummi akan pulang. Jadi, Harysa turutin apa kata nenek dan sekarang ummi sudah pulang karena Harsya sudah menjadi anak yang baik dan penurut, " jawab Harsya jujur.
Gaishan tersenyum miris menganggapi jawaban putra nya. Ternyata ini karena ucapan ibu nya sehingga Harsya tidak pernah lagi menangis dan merengek mencari ummi nya. Ada rasa lega di dalam hati nya karena kini putra nya terlihat bahagia karena kedatangan Vira. Namun, Ia juga merasa resah karena bagaimana pun juga Vira bukan lah ibu kandung Harsya dan diri nya tidak memiliki hubungan apa pun dengan Vira.
" Ok, kita sudah sampai, " ucap Gaishan setelah memarkirkan mobil di area parkir dokter.
" Yeeeyyy, " pekik Harsya girang.
" Kita sholat ashar dulu ya, " ajak Gaishan saat mendengar suara adzan berkumandang.
" Ok, abi, " jawab Harsya cepat lalu mereka turun dari mobil.
Gaishan menuntun Harsya untuk berjalan menuju mushola rumah sakit setelah bertanya kepada satpam. Gaishan tersenyum melihat putra nya yang tidak berhenti mengoceh karena tidak sabar untuk bertemu dengan Vira.
Setelah selesai sholat ashar, Gaishan menuntun Harsya untuk keluar dari mushola. Ia membantu Harsya memakai sepatu yang terlihat sedikit kesulitan saat memakai sepatu nya sendiri.
" Ayo abi, kita cepat temui ummi. Harsya sudah rinduuuu sekaaliii sama ummi, " pekik Harsya tidak sabaran.
" Ayo, " ajak Gaishan.
__ADS_1
Namun baru beberapa langkah mereka berjalan, Gaishan menghentikan langkah nya dan tentu nya Harsya juga ikut berhenti lalu menatap bingung ke arah abi nya.
" Ada apa, abi?," tanya Harsya bingung.
Gaishan menatap putra nya dan kembali menatap lurus ke depan. Ia bernafas lega karena sosok yang di lihat nya sudah menghilang.
" Tidak apa apa. Ayo, kita cepat balik ke mobil, takut nya ummi sudah menunggu kita, " jawab Gaishan lalu cepat cepat mengajak Harsya untuk kembali ke mobil.
Selama berjalan menuju mobil, fikiran Gaishan masih berkelana memikirkan siapa yang tadi sedang mengobrol dengan Vira. Mereka terlihat sangat akrab dan juga, Ia sekilas melihat raut wajah kecewa di wajah orang tersebut, namun dengan cepat orang itu mengubah mimik wajah nya.
" Siapa dia?, " tanya Gaishan dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.
Jangan lupa like, comment and vote yang banyak ya akak.
__ADS_1