Jodoh Bu Dokter Cantik

Jodoh Bu Dokter Cantik
Paling Mengerti


__ADS_3

" Tidak ada penolakan, dek Vira. Saya hanya ingin memastikan kalau orang orang yang datang itu benar benar orang baik. Gimana kalau mereka itu berniat buruk terhadap kamu?, " ucap Gaishan tegas.


Saat Vira ingin menolak, bu Citra sudah lebih dulu berbicara dan mendukung keputusan Gaishan membuat Vira semakin takut jika nanti bodyguard Vita melihat Gaishan dan keluarga lalu melaporkan semua nya. Bukan diri nya ingin menyembunyikan semua ini dari sahabat nya, hanya saja Ia tidak ingin mereka tau sekarang. Mungkin saja nanti setelah Ia siap bercerita.


Saat Vira masih bimbang, ucapan Gaishan selanjut nya membuat Vira di hantam ribuan pertanyaan.


" Tolong jangan menolak lagi, ini semua saya lakukan karena saya sangat khawatir dengan kamu, " ucap Gaishan.


" Khawatir? Maksud nya apa? Jangan membuat aku bingung dengan sikap baik mu, " batin Vira.


¤¤¤¤¤


Setelah bergulat dengan fikiran nya, Vira tetap bersikukuh menolak tawaran Gaishan untuk mengantar diri nya pulang ke rumah.


" Maaf bu, abang, bukan maksud saya menolak niat baik kalian. Tapi, tak ada yang perlu di khawatir kan karena orang orang itu adalah para bodyguard sahabat saya. Mama meminta untuk menambah security di rumah karena hanya pak Jaka laki laki di rumah. Mama takut jika terjadi apa apa tetapi lelaki di rumah hanya pak Jaka. Jadi, karena rumah yang saya tinggali saat ini adalah milik sahabat saya, saya meminta izin kepada nya untuk menambah securty dan tanpa saya duga, dia mengirim lima bodyguard sekaligus untuk saya, " terang Vira sejujur sujur nya agar Gaishan dan bu Citra tidak kembali memaksa untuk mengantar diri nya.


" Kamu yakin, nak?, " tanya bu Citra kembali memastikan.


Vira mengangguk kan kepala nya " Yakin, bu. Tapi, apa ibu bisa temani saya pulang terlebih dahulu ke rumah ibu untuk mengambil mobil?, " tanya Vira balik.


" Tentu, nak, " jawab bu Citra.


Vira mengalihkan pandangan nya ke arah anak anak, mencari keberadaan Harsya. Namun, tidak Ia temukan karena banyak nya anak anak yang sedang mengaji.


" Tidak apa apa, kamu pulang lah. Nanti, saya yang akan menyampaikan kepada Harsya dan Bapak kalau kamu sudah pulang duluan, " ucap Gaishan yang mengetahui kekhawatiran Vira kepada putera nya dan juga rasa segan kepada orang tua nya karena tidak sempat pamit.


Vira menghela nafas nya lalu mengangguk kan kepala nya. Segera, Ia mengajak bu Citra untuk kembali ke rumah mengambil mobil nya.


Setelah berpamitan kepada bu Citra dan menitip salam untuk Harsya dan yang lain nya, Vira memasuki mobil dan mulai melajukan mobil nya meninggalkan halaman rumah bu Citra.


Tiga puluh menit berkendara, mobil yang di kendarai Vira memasuki halaman rumah setelah pak Jaka membukakan pintu gerbang.


" Alhamdulillah, bu dokter sudah sampai, " ucap pak Jaka saat Vita telah turun dari mobil.


" Ada apa, pak?, " tanya Vira melihat raut khawatir dan takut di wajah pak Jaka.


Pak Jaka menghela nafas nya dengan berat " Tidak apa apa, bu dokter. Bapak hanya sedikit takut dengan wajah sangar dan tubuh besar para pengawal nya bu dokter, " jawab pak Jaka jujur.


" Jangan takut pak, mereka baik kok. Meskipun, wajah sangar dan body nya besar tapi hati seperti Hello Kitty, " ucap Vira membuat pak Jaka terkekeh karena candaan Vira.


" Bu dokter bisa saja. Ya sudah, ayo kita masuk bu dokter supaya bu dokter bisa segera istirahat. Tapi, bu dokter sudah makan malam, belum?, " tanya pak Jaka.


" Belum, pak. Vira minta tolong sampai kan kepada bu Endang untuk siapin makan malam untuk Vira ya, pak. Oh iya, sekalian siapin makan malam untuk pak Jaka sekeluarga dan juga mereka berlima ya pak " jawab Vira lalu meminta untuk menyiapkan makan malam untuk semua orang.

__ADS_1


" Siap, bu dokter, " ucap pak Jaka.


Setelah percakapan berakhir, Vira dan pak Jaka berjalan masuk ke dalam rumah. Pak Jaka berjalan menuju dapur, Sementara Vira berjalan menuju ke kamar nya yang ada di lantai dua.


¤¤¤¤¤


Vira selesai membersihkan diri lalu duduk di kursi meja rias untuk melakukan ritual rutin selepas mandi. Selesai dengan kegiatan nya, Vira mengambil ponsel nya yang ada di atas meja nakas dan melihat ada dua panggilan tak terjawab dari sahabat baik nya, Vita.


Tak menunggu lama, Vira menghubungi kembali sahabat nya dan pada dering kedua, sambungan telepon nya terhubung.


" Assalamualaikum, " sapa Vita di seberang telepon.


" Waalaikumussalam. Sorry ya beb, tadi gue lagi mandi jadi gak tau kalau lo hubungi gue, " balas Vira lalu meminta maaf.


" It's okay, beb. Oh iya, dari mana saja lo? Kenapa baru pulang jam segini?, " tanya Vita mengintrogasi.


" Ehh itu, gue tadi lagi jalan sama teman teman kerja gue yang ada di rumah sakit, " jawab Vira gugup.


" Yakin lo, jalan sama teman teman kerja?, " tanya Vita menekan di kata teman teman.


" Iya bener, masa gue bohong sama lo sih, " jawab Vira lalu tertawa garing menutupi kegugupan nya.


" Ya terserah lo deh kalau memang belum mau jujur ke gue. Tapi, asal lo tau saja, sebelum lo cerita juga gue sudah tau semua nya, " ucap Vita santai.


Vira menelan saliva nya susah payah mendengar ucapan santai sahabat nya. Kenapa bisa diri nya lupa siapa sahabat nya itu, yang tanpa diri nya beritahu juga pasti akan tau segala hal tentang orang terdekat nya.


" Maaf, Vit, gue bukan gak mau cerita ke lo tapi gue merasa belum siap saja. Lagi pula, gue fikir gak perlu cerita karena gue gak ada hubungan spesial dengan mereka. Dekat juga karena wajah gue mirip dengan almarhumah ummi nya Harsa, " terang Vira yang tak ingin menutupi apapun lagi dari sahabat nya.


" Gue tau dan beruntung nya gue yang menyuruh anak buah gue untuk mantau keadaan lo selama di Medan. Coba saja lo bayangin kalau yang mantau keadaan lo itu Ayu atau Fian, gak perlu gue bilang pasti lo tau kan apa yang akan mereka lakuin ke keluarga itu. Ayu atau pun Fian pasti berfikir kalau keluarga itu cuma manfaatin lo doang dan pasti nya akan berakhir buruk untuk keluarga itu, " balas Vita yang secara tidak langsung mengingatkan Vira untuk segera mengambil sikap.


" Thanks, Vit. Gue tau lo pasti bersikeras supaya lo saja yang mantau gue karena tau gimana sifat Ayu dan Fian. Tapi, gue juga gak bisa menjauh dari mereka terutama Harsya yang selalu mencari gue. Gue juga merasa nyaman saat berada di tengah tengah keluarga itu, " jujur Vira.


Terdengar helaan nafas dari Vita " Ok, gue paham dan satu lagi yang ingin gue tanyakan. Selama di Medan, apa lo masih mengalami mimpi buruk?, " tanya vita ingin tau.


Vira berfikir sejenak setelah mendengar pertanyaan Vita. Benar juga, selama di Medan diri nya hanya dua kali mengalami mimpi buruk, selebih nya Ia bisa tidur dengan nyenyak tanpa ada gangguan apa pun. Terlebih, setelah bertemu dengan Harsya, Ia lebih sering bermimpi indah.


" Gue masih mengalami mimpi buruk saat baru beberapa hari di Medan dan itu pun hanya dua kali saja. Selebih nya, gue selalu tidur dengan nyenyak. Ditambah, gue selalu mimpi indah setelah bertemu dan bermain dengan Harsya, " jawab Vira jujur.


" Bagus lah kalau memang lo sudah tidak pernah mengalami mimpi buruk lagi. Gue senang mendengar nya dan anak anak yang lain juga pasti senang mendengar hal ini. Ya sudah, lo turun ke bawah dan makan malam pasti lo belum makan kan. Dan, untuk kelima bodyguard yang ada di sana bersama lo, gue sudah memberikan perintah kepada mereka. Dan, satu bodyguard akan ikut kemana lo pergi sebagai supir dan tak ada bantahan untuk ini, " ucap Vira sebelum mengakhiri percakapan mereka.


" No, Vit, gue gak mau, " tolak Vira.


" Gue kan sudah bilang, tak ada bantahan. Lo cuma punya dua pilihan, turuti kata kata gue atau gue kasih tau Ayu dan Fian soal keluarga itu, dan pasti nya setelah itu lo gak akan bisa bertemu lagi sama anak lo itu, siapa tadi nama nya, Harsya?, " ancam Vita.

__ADS_1


" Ok ok gue turuti kata kata lo. Tapi, gue minta jangan lakuin apa pun terhadap mereka, " pinta Vira.


" Tenang saja, gue tidak mungkin bertindak jauh. Ya sudah, gue tutup dulu, kapan kapan gue hubungi lo lagi, Assalamualaikum, " ucap Vita lalu pamit.


" Ok, beb, Waalaikumussalam, " balas Vira lalu memutuskan sambungan telepon nya bersama Vita.


Setelah sambungan telepon nya berakhir bersama Vita, Vira beranjak dari duduk nya dan berjalan keluar kamar. Ia turun ke lantai bawah untuk makan malam bersama pak Jaka sekeluarga dan juga lima bodyguard yang mulai sekarang akan menjadi bagian dari rumah ini.


¤¤¤¤¤


Vita yang telah selesai berbincang dangan Vira di telepon meletakkan kembali ponsel nya di nakas yang ada di samping ranjang nya. Lalu, tidur bersandar di dada bidang suami nya, Randy.


" Apa kita akan kembali liburan ke Medan?, " tanya Randy sambil memainkan rambut hitam Vita.


" Tentu, sayang, " jawab Vita.


" Aku yakin kali ini tidak hanya liburan saja, " ucap Randy sarkastik.


" Hahahaha, dirimu yang paling mengerti aku, " balas Vita tertawa.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2