Jodoh Bu Dokter Cantik

Jodoh Bu Dokter Cantik
Rindu Anak Anak XIIipa1


__ADS_3

Setelah selesai melaksanakan sholat subuh, Vira masih berdiam diri duduk di atas sajadah. Pagi ini, Ia memilih untuk sholat sendiri di dalam kamar nya. Entah kenapa, hari ini Ia merasa sangat merindukan Reno. Rindu akan perhatian, sifat possesive dan kebawelan nya jika diri nya melupakan sesuatu atau kadang ceroboh.


" Sampai detik ini, nama mu masih terlukis indah di hati ku. Aku merindukan mu, Ren, sangat merindukan mu, " gumam Vira lirih dan tanpa bisa Ia bendung lagi, air mata nya mengalir deras membasahi kedua pipi nya.


Vira menghapus air mata nya lalu bangkit dari duduk nya dan berjalan menuju ke arah meja rias. Ia buka laci meja rias dan mengambil satu kotak cincin beludru berwarna merah lalu membuka kotak itu.


Vira memandang sendu cincin pertunangan nya bersama Reno. Air mata nya kembali menetes dan terus memandang lekat kedua cincin yang tersimpan rapi di dalam kotak nya.


" Harus nya, saat ini kita sudah bahagia dengan keluarga kecil kita. Tawa riang anak kita menghiasi rumah kita. Ren, maafin aku karena masih belum bisa mengikhlaskan kepergian mu hingga detik ini, " gumam Vira sesegukan.


Perhatian nya teralihkan saat mendengar suara ketukan pintu kamar nya. Ia letak kan kotak cincin itu di atas meja rias dan menghapus air mata nya dengan tisu. Ia tidak ingin ada yang mengetahui jika Ia baru saja menangis. Setelah itu, Ia berjalan menuju pintu setelah merasa jika tidak ada sisa air mata di kedua pipi nya.


" Apa ada, bu?, " tanya Vira saat melihat bu Endang ketika pintu terbuka.


" Maaf ibu mengganggu. Ibu hanya ingin bertanya, bu dokter ingin sarapan apa?, " tanya bu Endang sopan.


" Emm, kalau tidak merepotkan ibu, saya ingin sarapan nasi goreng dengan telur mata sapi setengah matang, " jawab Vira sungkan.


" Tidak repot, bu dokter. Kan, memang sudah menjadi tugas saya menyiapkan kebutuhan bu dokter, " ucap bu Endang tersenyum lembut.


" Terima kasih ya bu, " balas Vira juga tersenyum.


" Kalau begitu, saya pamit turun ke bawah menyiapkan sarapan, " Vira mengangguk kan kepala nya menjawab bu Endang lalu menutup pintu kamar nya.


Vira menghela nafas nya dengan berat di balik pintu lalu melangkah kan kaki nya menuju ke meja rias. Ia ambil kembali kotak cincin yang tadi Ia letak kan di atas meja rias lalu mengambil cincin milik nya sendiri dan memakai nya. Setelah itu, Ia simpan kembali kotak cincin yang berisi kan cincin milik Reno ke dalam laci.


Sebelum bersiap siap, Ia kembali memandang cincin yang kini melingkar di jari manis tangan kanan nya " Semoga dengan memakai cincin pertunangan kita, rasa rindu ku kepada mu sedikit terobati, " gumam Vira lalu bergegas bersiap siap untuk pergi bekerja.


****


Vira mendengus kesal saat panggilan nya tidak di jawab oleh Vita. Ia tau jika emak satu itu pasti sangat repot di pagi hari. Tapi, ini sudah ketiga kali nya Ia berusaha menghubungi Vita, tetap saja belum mendapat respon dari Vita. Ia memasukkan ponsel nya ke dalam tas dengan perasaan dongkol dan kembali melanjutkan langkah nya menuju ke ruang makan.

__ADS_1


" Emm, kak Vira, " panggil Lala takut takut. Ya, hanya Lala yang memanggil berbeda karena perintah Vira. Ia merasa tidak nyaman jika Lala juga memanggil nya dengan sebutan bu dokter seperti kedua orang tua nya.


" Iya, ada apa, La?, " tanya Vira menatap Lala dan tidak jadi menyuap sendok berisi nasi goreng ke mulut nya.


" Emm itu kak, emm, " Lala ragu untuk menyampaikan keinginan nya karena takut Vira akan marah. Ia memandang wajah kedua orang tua nya secara bergantian yang terlihat mengangguk kan kepala nya, seraya menyuruh nya untuk tetap melanjutkan ucapan nya.


Lala kembali menatap Vira yang saat ini sedang menunggu diri nya melanjutkan ucapan nya.


" Emm anu, itu kak, Lala mau minta izin, " ucap Lala dengan nada sangat pelan.


" Izin untuk apa, La?, " tanya Vira penasaran. Kenapa harus meminta izin dari nya, harus nya kan kepada pak Jaka dan bu Endang selaku orang tua nya, batin Vira.


" Itu kak, Lala minta izin nanti sepulang sekolah, Lala mau mengajak teman teman untuk belajar kelompok bersama di rumah ini. Lala dan teman teman biasa melakukan nya bergiliran ke rumah masing masing, dan kali ini giliran Lala. Emm, apa boleh Lala mengajak mereka belajar di rumah ini? Lala janji, selesai belajar bersama, nanti akan Lala bersihkan kembali ruang tamu nya dan teman teman Lala juga udah janji untuk tidak memegang barang apa pun di rumah ini, " jawab Lala jujur dan pasti nya dengan rasa takut teramat besar. Tentu nya, pak Jaka dan bu Endang juga merasa takut jika Vira marah dan tidak mengijinkan karena di anggap telah lancang mengundang orang lain masuk ke rumah ini.


Vira menghelas nafas nya lalu tersenyum " Kamu kenapa takut begitu untuk bilang hal ini ke kakak. Tentu saja kakak akan izin kan, asal kan kalian benar benar belajar dan bukan nya malah menggosip dan melakukan hal yang tidak tidak. Terus, teman kamu yang ikut belajar kelompok laki laki atau perempuan? Berapa orang? " tanya Vira.


" Emm, delapan orang kak, ada laki laki dan perempuan. Lala janji, akan jaga kepercayaan kakak, " jawab Lala.


" Ini kakak kasih uang untuk membeli cemilan untuk menemani kalian belajar nanti. Hitung hitung, biar lebih semangat kalau ada cemilan nya. Dan satu lagi, nanti belajar nya di ruang keluarga saja, lebih luas dan lebih nyaman, " ucap Vira sambil menyodorkan lima lembar uang seratus ribu kepada Lala.


" Ehh, gak usah kak. Lala sudah di kasih izin bisa bawa teman teman ke sini untuk belajar bersama sudah sangat senang. Lala gak mau ngerepotin kakak dengan memberikan uang untuk membeli cemilan, " tolak Lala halus.


" Iya bu dokter, tidak usah. Kami jadi merasa sungkan, terlebih uang itu sangat banyak hanya untuk membeli cemilan," timpal pak Jaka.


Vira menggelengkan kepala nya " Saya tidak merasa di repotkan. Malah, saya merasa sangat senang karena teman teman Lala mau main ke rumah ini. Dan, terima saja uang ini, kakak ikhlas kok, " paksa Vira.


Lala terpaksa menerima uang pemberian Vira karena paksaan Vira lalu memasukkan uang itu ke dalam tas sekolah nya dan mengucapkan banyak terima kasih, begitu juga dengan pak Jaka dan bu Endang.


" Oh iya bu, nanti siapkan juga makan siang untuk mereka. Jangan sampai teman teman Lala tidak makan siang, " perintah Vira.


" Baik bu dokter dan terima kasih banyak karena bu dokter sudah sangat baik kepada kami, " jawab bu Endang.

__ADS_1


" Jangan bilang begitu bu. Justru, saya yang harus nya berterima kasih karena sudah di temani tinggal di rumah sebesar ini dan di jaga juga, " balas Vira.


Pak Jaka sekeluarga merasa sangat beruntung karena bisa bekerja dengan majikan yang memiliki hati yang sangat baik dan tidak pernah membedakan status.


Mereka kembali melanjutkan sarapan nya dan sesekali mengobrol ringan seputar sekolah Lala. Vira pamit terlebih dahulu setelah menyelesaikan sarapan nya dan bergegas menuju ke mobil nya.


" Delapan orang, Seperti kami dulu. Jadi rindu masa masa sekolah dulu, rindu anak anak XIIipa1, " gumam Vira dengan senyum tersungging di bibir nya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa like, comment and vote yang banyak ya akak.


__ADS_2