
Vira duduk di kursi kerja nya dengan perasaan tidak menentu. Ini sudah kedua kali nya dokter Adam mengajak nya untuk jalan berdua. Namun, lagi lagi Ia harus menolak ajakan tersebut. Selain karena Ia sudah janji kepada Harsya terlebih dahulu, Ia juga tidak ingin memberikan harapan palsu kepada dokter muda itu.
Ya, Vira tau dokter Adam memiliki perasaan khusus kepada nya. Ia bisa melihat dengan sangat jelas dari sikap dan cara bicara kepada nya. Namun, perasaan seseorang tidak bisa di paksa, bukan? Di hati nya, masih terukir dengan indah nama Reno dan sampai detik ini hanya Reno laki laki yang Ia cintai, cinta pertama nya dan berharap menjadi pelabuhan cinta terakhir nya. Namun sayang, takdir berkata lain dan Ia harus berusaha ikhlas menerima nya.
Sesungguh nya, Vira juga merasa sedikit risih dengan sikap agresif Adam yang terkesan sedikit memaksa. Ada rasa tidak nyaman jika terlalu lama berdekatan dengan laki laki itu. Namun, Ia tidak bisa secara gamblang menolak karena tidak ingin membuat laki laki itu sakit hati dan berakhir dengan hubungan yang tidak baik. Sementara, mereka bertugas di tempat yang sama.
" Ahhh, menyebalkan, " gerutu Vira lalu menyandarkan tubuh nya di sandaran kursi kerja nya dan menutup kedua mata nya.
Drt.. Drt..
Vira membuka kedua mata nya saat ponsel nya berdering. Ia bergegas mengambil ponsel nya yang berada di dalam tas dan melihat siapa yang menghubungi nya.
Kening nya berkerut saat melihat hanya nomor saja yang tertera di layar ponsel nya.
" Siapa ya?, " gumam Vira dalam hati.
Vira pun menerima panggilan tersebut kali saja itu panggilan penting.
" Assalamualaikum, maaf dengan siapa dan mencari siapa ya?, " sapa Vira lalu to the point.
" Waalaikumussalam, ini Gaishan, " balas seseorang yang tak lain adalah Gaishan.
" Ouhh abang Gaishan, ada apa ya?, " tanya Vira yang masih ngeblank kenapa abi nya Harsya memiliki nomor ponsel nya dan menghubungi diri nya.
Diseberang sana, kening Gaishan berkerut mendengar pertanyaan Vira. Lah, ini orang lupa ingatan atau gimana sih, kan sudah janjian kalau akan di jemput, batin Gaishan.
" Saya dan Harsya sudah menunggu kamu dari tadi di parkiran. Apa saat ini kamu masih ada pasien?, " jawab Gaishan dan bertanya balik.
" Astagfirullah, maaf saya lupa. Saya sudah selesai bertugas, sebentar saya keluar, " pekik Vira heboh sambil menepuk kening nya lalu menutup sepihak panggilan mereka dan bergegas mengambil tas dan paper bag milik nya.
Ia keluar dari ruangan kerja nya dan berjalan tergesa gesa menuju parkiran. Berkali kali Ia menggerutu ke diri nya sendiri karena melupakan hal penting. Pasti, Harsya saat ini sedang merajuk karena terlalu lama menunggu diri nya di mobil.
Vira mengatur nafas nya terlebih dahulu yang sedikit tersengal sengal karena berjalan tergesa gesa menuju ke parkiran. Jendela kaca penumpang terbuka dan terpampang wajah Harsya yang sedang merajuk menatap ummi nya.
" Ummi lama, " rajuk Harsya.
" Maafin ummi ya sayang, " ucap Vira lalu membuka pintu penumpang dan naik ke dalam mobil. Ia sedikit kesulitan untuk duduk karena sudah ada Harsya di sana. Vira menaruh tas dan paper bag serta jas dokter nya ke kursi belakang lalu memangku Harsya.
" Ummi kenapa lama sekali sih? Harsya kan bosan dari tadi nungguin ummi di sini sama abi, " Vira tersenyum gemas melihat wajah lucu Harsya yang sedang merajuk dengan pipi yang di gembungin dan bibir yang juga maju beberapa senti.
" Maaf ya sayang, tadi ummi masih ada pekerjaan yang harus ummi selesai kan, " bohong Vira. Gak mungkin kan dia jujur kepada Harsya kalau tadi diri nya sedang melamun sehingga lupa kalau hari ini Harsya dan Gaishan datang menjemput nya.
" Ok deh, karena Harsya anak yang baik budi, kali ini Harsya maafin ummi. Tapi, kalau sekali lagi ummi telat, ummi harus di hukum, " ucap Harysa membuat Vira dan Gaishan tersenyum geli mendengar kata kata nya.
__ADS_1
" Siap bos " balas Vira sambil memberi hormat kepada Harsya lalu mereka bertiga tertawa bersama.
Jika di lihat oleh orang orang, maka mereka terlihat seperti keluarga kecil yang sangat bahagia. Namun, semua ini hanya lah semu karena apa yang mereka lakukan tak lain hanya untuk kebahagiaan Harsya saja.
" Let's go abi, kita pulang, " pekik Harsya riang.
" Ok bos, " balas Gaishan memberi hormat lalu mulai menjalankan mobil nya. Tak lupa Ia menutup jendela mobil yang ada di samping Vira dan Harsya.
Mobil yang di kendarai Gaishan mulai melaju meninggalkan parkiran rumah sakit. Namun, tanpa mereka sadari, sedari tadi ada sepasang mata yang tanpa sengaja melihat kebersamaan mereka dengan ribuan pertanyaan di kepala orang tersebut.
****
Malam ini, sesuai permintaan Harsya, Vira akan ikut ke mesjid menemani Harsya mengaji. Awal nya, Vira menolak karena Ia tidak membawa baju ganti, terlebih Ia juga tidak mengenakan hijab. Namun, bukan Harsya nama nya kalau keinginan nya tidak terpenuhi. Akhir nya, Vira ikut ke mesjid dengan memakai baju almarhumah Annisa sesuai dengan ide bu Citra tadi.
Kini, Vira sedang mandi di dalam kamar mandi Harsya yang ada di dalam kamar milik Harsya. Tak butuh waktu lama, Ia selesai mandi dan memakai pakaian pemberian bu Citra.
Sejujur nya, ada rasa sedikit tidak nyaman ketika memakai pakaian ummi nya Harsya. Bukan karena itu pakaian bekas pakai, tapi ada rasa takut jika nanti mereka memandang diri nya sebagai almarhumah istri Gaishan bukan sebagai diri nya sendiri karena wajah mereka yang mirip.
Bu Citra yang sedari tadi duduk di tepi ranjang Harsya menunggu Vira merasa gelisah karena Vira tidak kunjung keluar dari kamar mandi. Ia berfikir, mungkin pakaian yang di berikan nya tadi tidak muat atau tidak cocok. Ia bangkit dan berjalan menuju pintu kamar mandi.
Tok.. Tok.. Tok..
" Nak Vira, kenapa lama sekali? Apa pakaian nya tidak muat?, " tanya bu Citra.
" Ehhh, muat kok bu. Bentar lagi saya keluar, " jawab Vira.
Vira kembali melihat penampilan nya di cermin yang ada di dalam kamar mandi, semua sudah rapi dan penampilan nya kali ini benar benar berbeda dari Vira yang biasa nya. Ia menarik nafas nya dalam dalam lalu mengeluarkan nya perlahan.
" Uhhh, kalau mama, papa dan Aisyah lihat penampilan gue begini, pasti mama langsung buat syukuran nasi tumpeng. Belum lagi para warga rempong, terutama Ririn pasti bakalan teriak paling heboh, " kekeh Vira.
" Ok, Vira, lo bisa, " ucap Vira memberi semangat untuk diri nya sendiri.
Setelah memastikan sekali lagi penampilan nya yang untuk kesekian kali nya, Vira melangkahkan kaki nya menuju pintu. Ia buka pintu dan mulai melangkahkan kaki nya keluar dari kamar mandi.
Bu Citra yang sedari tadi terus menatap pintu kamar mandi langsung tersenyum sumringah begitu melihat Vira keluar dengan pakaian yang Ia berikan. Pakaian itu sangat pas dan cocok di kenakan oleh Vira.
" Kamu cantik sekali, nak, " puji bu Citra setelah berdiri di depan Vira dan menggenggam tangan kanan Vira.
" Seriusan bu? Apa tidak kelihatan lucu?, " tanya Vira memastikan.
" Lucu apa nya? Kamu itu cantik, sayang, sangat cantik, " Vira tersipu malu karena terus di puji oleh bu Citra.
" Ya sudah, ayo kita turun ke bawah, yang lain nya sudah menunggu. Sebentar lagi juga adzan maghrib, " ajak bu Citra.
__ADS_1
Vira mengangguk kan kepala nya lalu mereka turun ke lantai bawah beriringan. Langkah kaki mereka berdua membuat fokus semua orang yang ada di bawah teralihkan kepada mereka.
Vira sedari tadi menundukkan kepala nya karena malu dan juga takut dengan respon semua orang. Ia baru mengangkat kepala nya saat bu Citra menyuruh nya untuk mengangkat kepala nya.
Semua orang memberikan pujian kepada Vira yang terlihat begitu cantik dengan baju gamis dan jilbab syar'i yang di kenakan nya. Vira tersenyum malu mendapat banyak pujian. Apa lagi, Harsya langsung memberikan hadiah ciuman di kedua pipi nya saat Harsya meminta untuk di gendong.
Namun, saat mata Vira tidak sengaja bertatapan dengan Gaishan, senyum nya memudar karena Gaishan hanya diam dan menatap nya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Ia segera memalingkan wajah nya lalu mengajak yang lain nya untuk segera pergi ke mesjid agar Gaishan berhenti menatap nya. Tanpa menunggu jawaban yang lain, Vira melangkah duluan bersama Harsya di gendongan nya menuju ke pintu keluar.
Gaishan tersenyum tipis sangat tipis setelah Vira melangkah pergi. Sesaat tadi, Ia berfikir jika yang ada di hadapan nya adalah Annisa, istri nya. Dengan Vira yang biasa nya tidak memakai jilbab, wajah mereka begitu mirip. Apa lagi saat ini, Vira memakai pakaian Annisa, jika di sanding kan, mereka berdua terlihat seperti anak kembar.
Namun, sedetik kemudian, Gaishan sadar jika yang ada di hadapan nya sekarang bukan lah Annisa melainkan Vira. Ada sedikit rasa sedih dan kecewa menyadari kenyataan itu, namun kembali lagi, Ia harus ikhlas dengan takdir Allah. Annisa sudah tenang di sana, dan jangan sampai rasa sedih ini membuat Annisa tersiksa di alam kubur nya.
Pak Ibrahim menepuk bahu Gaishan dan mengajak nya untuk segera menyusul keluar. Pak Ibrahim tau apa yang di rasakan putra nya saat ini. Tidak hanya Gaishan, mereka semua juga mengakui dengan memakai pakaian Annisa, Vira jadi terlihat sangat mirip sekali dengan Annisa tanpa celah.
Gaishan menghembuskan nafas nya dengan berat, Ia terus beristigfar dalam hati nya agar mendapat ketenangan hati.
" Sekali lagi, aku di hadapkan dengan bidadari surga nya Allah, " gumam Gaishan lalu melangkah kan kaki nya menyusul keluarga nya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa like, comment and vote yang banyak ya akak.