Jodoh Bu Dokter Cantik

Jodoh Bu Dokter Cantik
Pamit


__ADS_3

Setelah menyelesaikan tugas nya di rumah sakit dan juga mengurus kepindahan nya ke rumah sakit yang ada di Medan, Vira pergi ke restoran di mana diri nya sudah berjanji bertemu dengan semua sahabat nya.


" Maaf ya aku telat, " ucap Vira saat memasuki sebuah ruangan VIP yang ada di restoran tersebut dan duduk di kursi kosong yang memang tersisa satu saja di sana.


" Yaelah Vir, telat banget sih lo. Kita kita semua sudah bela belain luangin waktu untuk bertemu dengan lo, eh malah telat, " Ririn menyikut perut Fabian suami nya yang berbicara tidak di filter dulu.


" Sakit sayang, " rengek Fabian menatap istri nya yang sudah melayangkan tatapan tajam kepada nya.


" Maka nya, kalau bicara di filter dulu jangan asal keluar, " omel Ririn.


" Sudah jangan di dengari ucapan Fabian, dia memang gitu kalau bicara gak pakai filter, " lanjut Ririn sambil mengibas tangan nya.


" Sudah biasa Rin kalau suami lo bicara begitu. Kan memang dari dulu gak pernah di filter ucapan nya. Kalian juga dulu nya sering berantem kan saat di SMA karena mulut nya itu tuh, " balas Vira santai. Ia tidak pernah sakit hati karena memang sejak dulu begini lah mereka kalau sudah bertemu.


" Vir, gimana kabar lo, sehat?, " tanya Vita yang baru saja selesai berbicara di telepon dengan mami nya.


" Alhamdulillah sehat. Oh iya, sudah pesan makanan belum nih?, " tanya Vira.


" Sudah, bentar lagi juga datang kok, " jawab Vita.


" Oh iya, apa yang ingin lo sampaikan kepada kita semua? Seperti nya sangat penting, " lanjut Vita bertanya tentang tujuan utama mereka untuk bertemu.


Vira menarik nafas nya dalam dalam lalu menghembuskan nya perlahan. Ia yakin semua sahabat nya tidak akan setuju dengan apa yang akan Ia sampai kan.


" Gue sudah mutusin untuk menerima tawaran pekerjaan di rumah sakit yang ada di Medan. Setelah semua berkas berkas dan pengalihan tanggung jawab ke dokter pengganti gue selesai, gue akan langsung berangkat ke Medan, " jawab Vira berusaha setenang mungkin.


Hening, tidak ada yang merespon jawaban Vira. Semua shock dengan jawaban yang baru saja di lontarkan Vira.


" Guys, " panggil Vira karena semua sahabat nya masih saja diam.


" Lo sudah yakin dengan keputusan lo itu?, " tanya Vita setelah memilih bungkam beberapa saat dan memikirkan apa yang baru saja di ucapkan sahabat nya itu.


Vira mengangguk kan kepala nya " Keputusan gue sudah bulat, " jawab Vira yakin.


" Gak, gak boleh. Lo gak boleh pergi, " tolak Ririn tidak terima dengan keputusan Vira.


" Rin, please, " Vira memohon agar sahabat nya satu ini mengizinkan nya untuk pergi.


Memang semua yang ada di dalam ruangan itu adalah sahabat nya, tapi Ia paling dekat dengan Ririn. Bagi nya, Ririn adalah tempat berkeluh kesah nya sejak jaman SMA, tempat bergalau ria saat dulu masih di PHP in Reno karena tidak ingin berpacaran, teman shooping gila gilaan. Bukan Ia tidak dekat juga dengan Vita atau pun Ayu, hanya saja kesibukan Vita yang saat itu sudah menjadi istri di usia 18 tahun dan Ayu yang sibuk membantu mengurus bisnis orang tua nya di usia muda, menjadi penghalang mereka bisa girls time.

__ADS_1


" Lo tega tinggalin gue? Nanti kalau mau shooping gila gilaan lagi, gue sama siapa? Lo tau sendiri kan gimana sibuk nya dua emak rempong itu (yang di maksud Ririn adalah Ayu dan Vita), " ujar Ririn berusaha mempengaruhi Vira agar tidak jadi pergi.


" Gue juga gak ingin jauh dari lo dan yang lain nya, tapi gue harus ngelakuin ini. Gue gak tega terus terusan ngelihat orang tua gue yang sedih karena gue belum bisa mengikhlaskan kepergian Reno. Dan, saat gue mutusin untuk belajar ikhlas, gue gak bisa ada di sini karena terlalu banyak kenangan indah bersama nya yang gak akan mungkin bisa gue lupain. Satu satu nya jalan agar gue bisa ikhlas adalah dengan pergi jauh dan berada di mana tidak ada kenangan bersama nya, " terang Vira.


" Eits, lo lupa kita ada kenangan di Medan? Itu tuh pas Vita ngambek sama suami nya dan Fian bawa kita semua liburan ke Medan, " Ririn mengingatkan Vira akan kenangan jaman dulu masih SMA. Kali kali aja dengan begitu, Vira batal pergi.


" Lah, kenapa gue di bawa bawa Rin?, " ujar Vita tak terima.


" Ya karena memang lo ngambek waktu itu maka nya kita semua bisa sampai ke Medan, " Ririn terkekeh.


" Iya juga yah, ternyata gue ada juga kenangan di Medan bersama Reno. Tapi, seenggak nya saat itu kita belum keliling Medan jadi aku gak punya kenangan lebih bersama Reno di sana, " ujar Vira tetap pada keputusan awal nya.


" Sudah lah Rin, biarkan saja Vira pergi. Jika memang ini yang terbaik untuk Vira, kita sebagai sahabat hanya bisa mendukung dan mendoakan agar Vira selalu sehat dan dalam lindungan Allah, " nasehat Vita.


" Tapi momsky, " rengek Ririn.


Mulai lagi deh drama ibu dan anak di antara mereka. Memang julukan momsky di geng kalian gak pernah bisa lepas ya Vit. Kalau sudah mulai keluar nasehat nasehat, behhh mulai deh keluar panggilan momsky nya.


" Rin, gak usah merengek seperti anak kecil deh, sudah punya anak juga, " kali ini Ayu yang berkomentar setelah sekian lama hanya jadi pendengar.


" Rin, kita kan masih bisa bertemu lagi. Kita semua yang ke sana atau Vira yang balik ke Jakarta saat cuti. Kalau lo memang sayang sama Vira, lo izinin tuh Vira pergi. Sekalian lo doain, ada laki laki yang kembali bisa mengisi hati nya dia, " lanjut Ayu.


" Sekali mendayung, kerjaan lancar, urusan hati beres, jodoh juga ketemu, " celetuk Alfian tiba tiba yang sedari tadi sibuk dengan tablet nya memeriksa email dari sekertaris nya.


" Ihhh popsky, gak lucu deh. Gue gak kefikiran cari jodoh di sana. Lah, hati gue aja penuh sama nama Reno. Mana muat lagi nama orang lain di hati gue, " ujar Vira kesal.


Alfian meletakkan tablet nya ke atas meja lalu menatap Vira dengan serius. Vira yang sadar dengan tatapan Alfian, langsung salah tingkah karena jika Alfian sudah menatap mereka semua seperti itu, berarti mereka melakukan kesalahan. Dan inilah yang di rasakan Vira saat ini, pasti ucapan nya tadi salah menurut Alfian.


" Vir, gue tau lo sangat mencintai Reno dan merasa sangat kehilangan. Begitu juga dengan kami semua yang sangat kehilangan Reno. Tapi, lo gak bisa selama nya seperti ini. Di saat lo memutuskan untuk belajar ikhlas, di saat itu lah lo harus bisa membuka hati untuk cinta yang lain. Dan gue yakin, Reno akan bahagia jika lo bisa menemukan laki laki yang mencintai lo melebihi cinta nya dia untuk lo. Jadi, gue harap lo bisa perlahan membuka hati lagi, " Vira terdiam dan menundukkan kepala nya saat mendengar nasehat Alfian.


" Vir, kita semua gak nyuruh lo untuk melupakan Reno karena memang Reno tidak pernah terlupakan dan tergantikan di dalam hati kita semua. Reno tetap selalu ada di hati lo yang paling dalam, dan laki laki itu menempati ruang kosong di sisi lain hati lo. Cobalah untuk membuka hati lo kembali, jangan terus menutup nya rapat rapat, " lanjut Alfian.


Ririn mengelus lembut punggung Vira, menenangkan Vira yang sudah menangis sesegukan.


" Vir, kita semua selalu ada buat lo. Jangan merasa lo sendiri di dunia ini. Gue izinin lo pergi dan gue akan berdoa yang terbaik untuk lo, " ujar Ririn lalu memeluk sahabat nya itu.


" Sudah sudah jangan nangis nangis gini ah, nyesek banget rasa nya. Bukan hanya nyesek hati tapi perut gue juga sudah nyesek banget nih. Ngomong ngomong, pesanan kita kok belum siap juga ya, gue sudah laper bangetttt, " ucapan Fabian sontak mendapat sorakan dari semua orang.


" Lo itu memang selalu perusak moment deh Bian, " pekik Vira yang sudah berhenti menangis.

__ADS_1


" Fabian memang tiada dua nya, " sorak Aldo lalu mereka semua tertawa bersama.


Begini lah jadi nya jika mereka semua sudah berkumpul, tidak perduli dengan usia yang semakin bertambah dan status yang sudah berubah, tetapi tetap saja sifat kekanak kanakan mereka akan selalu muncul jika sudah bersama.


Pintu ruangan terbuka menampakkan waitres yang sedang membawa nampan berisi pesanan mereka. Satu persatu pesanan mereka di tata di atas meja.


Fabian yang sudah kelaparan langsung melahap makanan yang ada di hadapan nya setelah para waitres pamit keluar. Ia tidak memperdulikan ledekan teman teman nya, yang penting bagi nya perut nya merasa kenyang.


****


Pagi pagi sekali Vira pergi dari rumah nya menuju ke suatu tempat. Sebelum keberangkatan nya siang nanti, pagi ini Ia akan mengunjungi tempat di mana kekasih hati nya terbaring dengan damai.


" Assalamualaikum Ren, " sapa Vira saat sudah tiba di depan pusara makam Reno.


Vira berjongkok di depan makam Reno, Ia menyiram makam Reno dengan air dan menabur bunga yang di bawa nya dari rumah tadi.


" Apa kabar, sayang?, " tanya Vira sambil mengelus nisan yang bertuliskan nama Reno.


Vira menyeka air mata nya yang sudah tidak bisa di bendung nya lagi. Tak bisa di pungkiri, hati nya masih belum ikhlas menerima semua ini. Rasa kehilangan itu masih sangat membekas di hati nya.


" Aku berharap kamu baik baik saja di sana. Aku selalu berdoa agar kamu tenang di sana, " Vira tersenyum getir menatap nisan Reno.


" Ren, apa keputusan ku sudah benar untuk belajar ikhlas menerima kepergian mu? Apa ini yang kamu mau, untuk ku ikhlas atas kepergian mu?, " Vira kembali menyeka air mata nya yang semakin deras mengalir.


Tiba tiba saja tubuh nya menegang saat merasakan kepala nya di elus. Please deh, saat ini diri nya sedang sendiri di makam itu dan tidak ada peziarah lain di sekitar nya.


" Apa itu kamu, Ren? Apa itu berarti kamu setuju dengan keputusan ku?, " tanya Vira setelah kembali menguasai diri nya.


Hening, tidak ada lagi elusan yang di rasakan bahkan tidak ada hembusan angin. Vira menghela nafas nya dengan berat. Apa mungkin yang di rasakan nya tadi hanya khayalan nya saja karena terlalu merindukan Reno.


" Ren, tujuan ku ke sini ingin pamit dan meminta maaf karena dalam waktu yang lama, aku tidak bisa mengunjungi mu. Aku menerima tawaran pekerjaan di Medan dan akan tinggal di sana. Tapi, aku janji akan mengunjungi mu saat aku cuti nanti, " ujar Vira menatap dalam nisan Reno.


" Kamu jangan khawatir karena aku akan menjaga diri ku dengan baik dan berusaha untuk tidak akan ceroboh di sana, " Vira terkekeh di akhir kalimat nya.


Vira berdiam cukup lama sambil memandang lekat nisan Reno karena dalam waktu yang cukup lama Ia tidak akan bisa kembali mengunjungi makam Reno. Setelah puas memandangi nisan Reno, Vira berpamitan karena harus segera berangkat ke bandara agar tidak ketinggalan pesawat.


" Sekarang, sudah waktu nya aku harus pergi, Ren. Kamu yang tenang ya di sana. Aku pamit, Assalamualaikum, " pamit Vira.


Sekali lagi Ia mengelus nisan Reno sebelum akhirnya Ia berdiri dan berjalan menjauh menuju mobil nya yang terparkir di area parkiran pemakaman.

__ADS_1


__ADS_2