
"Enak saja, siapa yang mau jadi istrimu", bantah Nayla yang menutupi debaran jantung nya saat mendengar ucapan Riyan tadi.
"Semua wanita tidak ada yang menolak jika aku ajak menikah---"
"Tapi itu tidak dengan ku!" ucap nya yang memotong kata-kata Riyan, dia sangat ingin sekali menikah dengan atasan nya itu tapi dia cukup tahu diri perbedaan yang ada di antara mereka, lagi pula tanpa sepengetahuan Riyan bahwa Tuan Agus yang merupakan Ayah dari Riyan telah mengatakan pada nya jika Riyan akan menikah dengan wanita yang telah di siapkan untuk menjadi menantu di keluarga Sadika.
"kenapa? kamu tidak suka sama aku?" tanya Riyan penasaran.
"Sudah lah bos jangan membahas hal yang tidak penting, sekarang ayo makan dan kita harus meeting lagi!" terang nya.
"Dan aku juga sudah bilang bahwa suapi aku makan, pekerjaan ku masih sangat banyak dan aku tidak ada waktu untuk makan sendiri jadi jika kamu keberatan maka biar kan saja aku kelaparan" jawab nya dengan sengit dia merasa bahwa Nayla saat ini tidak ingin melakukan perintah nya itu.
Dengan segenap jiwanya Nayla mengambil makanan itu, membawa ke meja kerja Riyan lalu menyuap nasi ke mulut bos nya itu, Riyan menerima suapan itu dengan senyum kemenangan, dia sangat ingin terus seperti ini dengan asisten nya itu.
Bahkan dia berencana untuk melamar Asisten itu nanti saat ulang tahun nya yang masih beberapa bulan lagi.
Perhatian yang Riyan berikan bukan seperti Bos pada asisten, memang lebih menjurus seperti pasangan kekasih yang tidak bisa go publik karena kamera yang selalu menyorot kehidupan keluarga Sadika.
Nayla menyuapi Riyan dengan penuh perhatian, dia sedikit merasa bahagia bisa melakukan hal yang mungkin jika Riyan sudah menikah dia tidak akan lagi bisa sedekat ini.
Membayangkannya saja hati Nayla sudah seperti tertusuk ribuan duri yang sulit untuk di hilangkan, dia terdiam sambil menatap dalam Riyan yang sedang menunggu suapan selanjutnya.
Lama Riyan menunggu tapi Nayla tak kunjung menyuapi nya lagi membuat Riyan menoleh ke arah Nayla yang berdiri tepat di samping nya, melihat Nayla yang sedang melamun pun membuat Riyan bingung tidak bisanya asistennya itu melamun.
Riyan pun memegang tangan Nayla yang sedang menggantung di udara, sentuhan itu sukses menyadarkan Nayla dari lamunan nya
"Ah maaf bos saya melamun tadi!"
"Ada apa Nay, tidak biasa nya kamu melamun seperti itu"
"Tidak ada, aku hanya memikirkan tentang rapat nanti, aku takut tidak bisa menjalankan nya dengan baik" alibinya.
Riyan dia mengangkat kedua alisnya, ada apa dengan Asisten nya itu, itulah yang kini bersarang di kepala Riyan, Nayla tidak pernah sedikitpun terbawa suasana saat berada di kantor dia akan menjadi seorang yang begitu perfeksionis jika itu menyangkut masalah pekerjaan.
__ADS_1
Dia akan berubah menjadi gadis yang manja jika berada di luar lingkup jam kerja walau tidak sepenuhnya dia tau seperti apa kehidupan Nayla saat bersama dengan orang yang di sayangi nya.
Dan ini pertama kali nya Riyan mendapati Nayla yang seperti itu, apa yang sedang dia sembunyikan. Dia cukup tahu dengan karakter Nayla seperti apa.
"Kamu tidak pandai berbohong Nayla jadi katakan apa yang membuat mu seperti ini" desak nya.
"Apa nanti saat kamu sudah menikah kamu juga akan tetap minta makan dari tangan ku saat kau sibuk bos?"
Deg!
Sebisa mungkin Riyan menguasai dirinya dari debaran jantung yang tiba-tiba terasa begitu menyakitkan.
Entah,
Dia merasa tidak suka dengan pertanyaan yang keluar dari mulut asisten nya itu, seakan mereka nantinya akan jadi orang lain dan Riyan tidak ingin itu terjadi.
"Apa yang kau katakan, kenapa bicara mu ngawur sekali?" kata nya tanpa mau menatap Nayla yang juga tengah menunduk pandangan.
"Ah maaf bos aku seperti nya terbawa suasana!" ucapnya lalu menyuapi Riyan lagi.
"Aku tiba-tiba kehilangan nafsu makan ku bos!"
"Nay, kamu tahu kan bahwa aku paling tidak suka di bantah!"
"Nanti aku makan setelah selesai menyuapi mu saja!"
"Jadi sekarang kamu tidak mau lagi makan satu piring dan sendok yang sama dengan ku?"
"Bukan seperti itu Bos, aku han---"
"Aku sudah selesai" kata nya lalu berdiri, menyambar jas dan tas kerja nya lalu keluar dari ruangan nya.
Riyan sangat marah dan kesal dengan Nayla saat ini, dia memilih pergi dari pada nanti nya akan keluar kata-kata yang akan menyakiti hati Nayla.
__ADS_1
Dia berjalan keluar dari perusahaan keluarga nya itu, dia akan pergi menemui koleganya di sebuah restoran seperti yang Nayla katakan tadi.
Di lobby dia melihat salah satu petinggi perusahaan yang sepertinya baru saja kembali ke kantor, mengingat bahwa jam makan siang sudah habis.
Rasa sungkan tiba-tiba menjalar di hati nya saat melihat Tuan nya itu tengah berdiri di sana sambil terus memperhatikan nya dengan sedikit keberanian dia pun menghampiri Riyan.
Belum sempat dia membuka mulutnya Riyan lebih dulu meminta kunci mobil nya,
"Berikan kunci mobilmu!"
Tanpa menjawab dan banyak pertanyaan dia langsung memberikan nya.
"Nanti ambil mobil di restoran T jam pulang kerja!"
Ucap nya lalu pergi meninggalkan pemilik mobil begitu saja.
Membuat pemilik mobil yang bernama Deni itu pun terbengong di tempatnya, sampai suara satpam yang sadari tadi juga melihat tingkah aneh dari cucu pemilik perusahaan pun menyadarkan nya dari lamunan.
"Pak!"
"Iya, kenapa?"
"Tuan Riyan sudah pergi, apa anda masih akan tetap di sini?" tanya pak satpam.
"Kenapa gak bilang dari tadi, saya harus meeting ini!" ucap nya langsung masuk ke dalam.
"Kok jadi saya yang salah!" pak satpam yang bingung kembali ke pos jaga sambil menggaruk kepalanya.
****************
Di sisi lain
Setelah Riyan keluar dari ruangan kerja nya tanpa berkata apapun, Nayla menjatuhkan tubuhnya di lantai, kaki nya seakan tidak sanggup menopang berat tubuh nya yang seakan di hantam rasa sesak yang membuat dadanya begitu nyeri yang tak tertahankan.
__ADS_1
Nayla menangis di sana, apa yang dia rasakan tidak ada satu orang pun yang tahu, hanya dengan membayangkan saja, hati nya begitu sakit saat bayangan Riyan akan menikah dengan seorang wanita yang di kenalkan ayah Tuan nya itu sebagai calon menantu keluarga SADIKA,
Nayla akui jika perempuan itu sangat cantik, prestasi nya juga tidak main-main dan juga berasal dari keluarga kaya raya, dia juga melihat bahwa Riyan sepertinya juga mencintai wanita yang di pilihan keluarga.