
Obat yang akan di minum jatuh begitu saja, sedangkan air yang ada tangannya masih belum di buka penutup nya, tapi Riyan malah terjatuh dan pingsan di dalam mobil itu.
Membuat panik dua orang yang ada di dalam mobil bersama nya, Nayla langsung menggeser tubuh lalu memangku Riyan yang sudah pingsan.
"Dasar bos tidak tahu diri suka nya membuatku susah da khawatir saja, bisa tidak sih, kalau mau makan itu di lihat dulu ini malah sengaja memanasi supaya aku cemburu" jengkel nya pada Riyan.
sedangkan Frans di menatap tidak percaya mendengar ucapan Nayla yang tengah kesal, dia bahkan diam mematung tanpa melakukan apapun, dia mencoba mencerna apa yang barusan di dengarnya, hingga bentakan dari Nayla menyadarkan nya.
"Hei apa yang kau lakukan, kenapa diam saja, cepat angkat Tuan mu itu masuk ke apartemen ku!" perintahnya.
"Aahh, iyaa eeehh, kenapa tidak membawanya ke rumah sakit saja?"
"Diam dan jangan banyak bertanya sekarang cepat lakukan tugas mu!"
"Baik non"
Frans turun dari mobil membuka pintu belakang lalu membopong tubuh Riyan yang di bantu oleh Nayla, butuh perjuangan yang tidak mudah membawa tubuh Riyan ke lantai tempat unitnya berada.
Namun akhirnya perjuangan mereka tidak sia-sia, mereka telah sampai di kamar yang menjadi kamar yang biasa di tempati Riyan saat menginap di Apartemen miliknya.
Nayla membuka sepatu dan juga balutan kemeja dan jas yang melekat di tubuh Riyan, sedangkan Frans dia kembali ke mobil untuk mengambil barang-barang milik kedua atasannya tersebut.
"Menyusahkan saja" Gerutu nya dengan air mata yang tertahan di pelupuk mata, bibirnya memang mengatakan kekesalannya atas ulah Bos nya itu, tapi jauh di lubuk hati yang paling dalam, Nayla menangis melihat wajah tampan pria nya itu kini menjadi pucat.
Dan jalan satu-satunya untuk membuat sembuh dari alerginya salah dengan mengelap seluruh badan nya menggunakan air es, memang terlihat konyol tapi ya memang seperti itu cara yang ampun untuk menghilangkan ruam-ruam di badan.
Tapi tetap saja Bis nya itu harus meminum nya, karena percuma saja,yang di lakukan pad tubuh bagian luar Riyan jika dari dalam nya tidak ada obat yang meredakan mual nya.
Dia menimang apa yang kini harus di lakukan nya, apa dia harus memasukan obat tersebut dengan mulutnya, itu artinya dia akan berciuman dengan bos nya itu, pipinya mendadak bersemu merah saat membayangkan bibirnya bersentuhan dengan bibir seksi Riyan.
Walau Nayla ingin bahkan sangat menginginkan tapi otak waras nya masih berfungsi dengan normal dan tetap menjunjung tinggi harga dirinya, tapi saat ini bukan lagi saatnya dia memikirkan lagi tentang harga dirinya.
Ya dia harus segera menyelamatkan Atasannya itu dengan cara apapun yang dia bisa termasuk berciuman.
Nayla mengatur debaran jantungnya yang seakan melompat dari tempat nya saking kencang nya debaran yang dia rasakan, dia langsung meminum obat dan air yang ada di laci.
Dengan perlahan nayla mendekatkan bibirnya tepat di bibir Riyan yang sepertinya tengah menunggu sentuhan lembut dari bibirnya.
Dengan nafas tertahan, akhirnya dia berhasil melakukan satu misi paling konyol dalam hidupnya, misi yang mungkin akan menjadi sesuatu yang sangat dia rindukan nanti nya.
Nayla menyentuh bibirnya dengan senyum malu-malu, tapi senyum yang terpatri indah itu berubah saat netranya melihat bahwa di ruang itu ternyata tidak hanya ada mereka berdua saja, ada orang lain di sana.
Nayla langsung membeku saat mengingat apa yang telah dia lakukan pada Bos nya tadi, aahhh ituuu, jangan bilang kalau Frans melihat apa yang dia lakukan tadi, pipinya kembali memerah, tapi kali ini bukan tersipu malu tapi benar-benar malu dengan tingkah nya yang sangat agresif itu.
Tidak-tidak, dia tadi hanya membantu Bos nya saja untuk meminum obat nya tidak ada niatan untuk mencuri ciuman dari Tuan muda nya itu, tidak, tidak seperti itu.
Tanpa apa orang lain akan peduli dengan pembelaan yang kamu lakukan mereka pasti akan mempunyai pendapat sendiri bukan jadi terima nasib saja, jika orang lain mengatakan apapun terhadap mu.
"Maaf Nona barang-barang milik anda dan Tuan Riyan saya taruh di meja sana," kata Frans saat sudah bisa menguasai dirinya.
"Apa yang kamu lihat tidak seperti yang kamu pikirkan Frans, jadi jangan berpikiran yang tidak-tidak tentang aku!"
Nayla bukan nya berterimakasih dia malah membuat dirinya bertambah malu saat itu, padahal tadi Frans tidak melihat apa pun di sana, dia datang saat Nayla sudah selesai memberikan obat pada Riyan dengan cara ekstrim nya.
Frans tampak seperti orang bingung dia tidak tahu apa-apa, dan tidak faham dengan apa yang terjadi dia baru saja masuk, tapi langsung mendapatkan ucapan yabg tidak bisa di cerna oleh akalnya.
"Kamu tidak melihat apa yang saya lakukan tadi?" tanya Nayla
"Tidak saya ada di sini saat Nona menatap ke arah saya tadi" ucapnya jujur
'Jadi dia tidak melihat apa yang aku lakukan tadi tapi kenapa malah aku sendiri yang mengatakan nya secara tidak langsung,'
'Kau bodoh Nayla bodoh sekali' batin nya yang merutuk kebodohan nya sendiri.
"Apa yang bisa saya bantu Nona?"
__ADS_1
"Tidak perlu, kamu kembali lah ke kantor, masalah Tuan muda biar aku yang urus" jawab Nayla.
"Baik Nona saya permisi" ucapnya sambil undur diri dari hadapan Nayla.
"Tolong tutup pintunya juga!"
"Baik Nona"
Nayla keluar dari kamar menuju ke dapur dia harus mengambil lagi es yang sudah mencari tadi dengan es yang baru, kemudian dia mengompres nya lagi sampai ruam-ruam itu hilang, maka alergi Tuan muda nya itu pasti tidak kambuh lagi saat ini.
Riyan dia sudah sadar dari pingsan nya, hanya saja obat yang di resep kan pada nya mengandung obat tidur yang membuat masih terlelap hingga kini, ruam-ruam yang muncul pun perlahan hilang berkat Nayla yang begitu telaten mengompres nya.
Terhitung sudah dua jam lama nya Nayla mengompres seluruh tubuh Riyan, dia bahkan sampai tertidur di samping Riyan dengan posisi duduk dengan memegang kain di tangan nya.
Meeting nya tadi dia lakukan secara virtual dari rumah nya, dia tidak bisa begitu saja meninggalkan Riyan dalam keadaan tidak sehat.
Dering ponsel yang ada di ruang tamu membangunkan Nayla dari tidur nya, dia pun beranjak dari sana, di ambil nya ponsel yang tengah berbunyi itu tanpa melihatnya terlebih dahulu.
"Hallo"
"Siapa kamu?"
"Saya sekretaris Tuan muda!"
"Mana calon tunangan ku?" tanyanya tanpa basa-basi
"Maaf anda siapa?, karena di ponsel ini nomer anda tidak tersimpan!"
"Kamu kenapa ponsel tunangan ku ada pada mu?"
"kemana dia sekarang?,"
"tuan Riyan ada sedang tidur di kamar dia sedang tidak baik-baik saja, alerginya kambuh!" jawab nya.
"Kamar apa maksud mu haaa! kamu menjebak calon suami ya, dasar sekretaris murahan kau menggunakan cara kotor seperti ini untuk menjadi nyonya muda keluarga Sadika, sungguh menjijikkan!"
"Maaf Nona Dewantara yang terhormat, atas alasan apa anda menghina saya seperti itu, anda tidak tahu apa yang terjadi pada calon tunangan anda saat ini, jadi jangan menghakimi saya seperti itu" tegur Nayla.
"Wanita murahan seperti mu itu akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan nya"
"kalau sudah tidak apa yang perlu di sampaikan saya tutup panggilan saya masih sibuk" ucap nya tanpa rasa takut sedikitpun.
"Katakan di mana tunangan ku, aku di kantor Sadika group tapi mereka bilang kalian belum kembali sejak lagi" bentak nya.
"Tuan Riyan ada di apartemen saya,!"
"APAAAA, kau benar-benar licik, katakan di mana Apartemen mu aku akan ke sana sekarang juga!"
"Alamat saya sudah saya kirim melalui email perusahaan Anda boleh datang kesini saat ini juga!" ucapnya lalu memutuskan panggilan tersebut.
Nayla tidak pernah takut menghadapi siapa pun, apa lagi itu menyangkut tentang Tuan muda nya dia akan pasang badan paling depan agar tuan nya itu tidak sampai celaka.
Nayla berjalan menuju dapur, dia ingin memasak agar mood nya kembali membaik, tentunya sambil menunggu kedatangan wanita yang masuk dalam black list nya untuk menjadi Nyonya muda Sadika.
Tadi pagi dia sempat mendefroz daging ayam, dia ingin memasak ayam asam pedas, bakwan jagung dan tumis udang brokoli, Nayla pun menyiapkan semua bahan yang dia perlukan di atas meja.
Dengan begitu cekatan Nayla mengolah semua bahan makanan tersebut menjadi masakan yang sangat menggugah selera, makanan pun sudah tersaji di meja makan, tinggal membereskan kekacauan yang di perbuat di dapur kemudian mandi dan bersiap untuk makan malam.
Langkah kali nya bergerak kearah kamarnya, badan nya terasa lengket oleh keringatnya sendiri berbaur menjadi satu dengan bau masakan yang tadi di masak nya.
Namun langkah nya terhenti saat bel di tekan berkali-kali, sungguh tidak sopan sekali tamu nya itu, Nayla menghelakan nafas dia ingat siapa yang tadi akan datang ke Apartemen miliknya itu, ya pasti itu adalah wanita menyebalkan yang sialnya dia adalah wanita yang akan di jodohkan dengan tuannya.
kreeekkk
"Kenapa lama sekali, kau tuli atau bagaimana?" bentak nya tanpa memperdulikan dua orang yang juga ikut bersamanya tadi.
__ADS_1
Sedangkan dua orang paruh baya yang mengikuti nya pun hanya terbengong melihat kelakuan calon menantunya.
"Kita harus membicarakan masalah ini nanti!" ucap Mama Ajeng lalu berjalan masuk setelah di persilahkan oleh sang empunya rumah.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Tuan Agus pada Nayla, sedangkan nyonya Ajeng dia berjalan mengikuti Arum yang sudah masuk ke dalam rumah.
"Seperti biasa Tuan, tadi Tuan muda makan ikan tuna saat makan siang, saya ingin memperingatkan nya tapi makanan tersebut sudah masuk ke dalam mulut nya, lalu Nona Arum juga menyuapi nya ikan tuna lagi!"
"Kamu sudah tahu kalau anak ku alergi ikan tuna tapi kenapa kamu biarkan dia memesan menu itu''
"Maaf Tuan tadi saya meeting terpisah dengan Tuan muda, kami bertemu secara tidak sengaja di restoran yang sama, saya dengan perwakilan dari Permana crop yang di hadir oleh Tuan Satria, sedangkan Tuan muda dia meeting dengan Dewantara Gruop" terang nya.
"kami lalu memutuskan untuk bergabung meja Tuan muda dan pesanan Tuan muda sudah di pesan kan oleh Nona Arum makanan kesukaan nya"
Tuan Agus terdiam saat mendengar penjelasan yang di berikan Nayla padanya, dia tidak bisa menyalahkan Nayla di sini, tapi dia juga bingung harus berbuat apa.
"Pa!" panggil Nyonya Ajeng pada suaminya.
"Kenapa? bagaimana keadaan anak mu?"
"Dia sedang tidur, sepertinya alerginya kambuh tinggal sedikit ruam di tangan nya"
"Aku sudah tahu, jadi dia membohongi kita kurang ajar sekali anak itu"
"Sabar pa, Papa tidak boleh terbawa emosi" ucap Nyonya Ajeng menenangkan suaminya itu.
Sedangkan Nayla dia menyengitkan alis nya, tadi dia mendengar kata 'membohongi' bukan?, apa yang di katakan oleh putri keluarga Dewantara itu pada Tuan nya.
"Maaf Tuan, apa----?"
Pertanyaan Nayla terhenti saat rambut nya di tarik dari belakang oleh Arum dengan begitu kasar.
"Aaaauuu, sakit,,,,!" lenguh nya, kepalanya terdongak kebelakang sakit keras nya tarikan dari tangan Arum.
"Apa yang kamu lakukan lada calon suami ku, sampai dia tidak sadar seperti itu" ucapnya dengan beringas.
"ARUM, hentikan" teriak Tuan Agus.
"Biarkan saja Om, dia hanya orang miskin yang bisa nya hanya menggoda pria kaya dengan selakangan nya agar bisa hidup mewah dan menghabiskan harta keluarga Sadika" teriak nya sambil terus menarik rambut Nayla yang ada di genggaman tangannya.
"Lepaskan dia Arum, Nayla kesakitan!"
"Tidak aku tidak akan melepaskan nya sebelum Om dan Tante memecatnya" ucapnya seakan dia yang berkuasa di sini.
"Sakit Aaauuuu,"
"Sakit kau bilang ini memang pantas untuk ****** seperti mu"
"LEPASKAN DIA" bentak Riyan masih dengan suara nya terdengar lemah.
"Apa-apaan kamu haa?" tanyanya sambil melepas genggaman tangan Arum pada Nayla.
"Kamu sudah sadar Riyan, kamu tidak apa-apa kan, aku khawatir sama kamu,!" ucapnya ingin memeluk Riyan tapi gerakan nya kalah cepat dengan Riyan menarik tubuh Nayla ke dalam pelukannya.
"Apa-apaan ini Riyan, kenapa kamu malah memeluk ****** ini haa?"
"Jaga ucapan mu Arum, kamu tidak bisa seenaknya menuduh orang sembarang" geram Nyonya Ajeng pada calon mantu nya, aahh bukan bukan, bukan calon menantu lagi, tapi mantan calon menantu lebih tepat nya.
Nyonya Ajeng berniat membahas semua ini nanti saat meraka sudah sampai di rumah.
"Kenapa kalian malah membela nya jelas-jelas dia ingin menjebak Riyan tapi kalian malah membentak ku.
"Menjebak? apa maksudnya Nay?" tanya Riyan setelah melerai pelukan nya.
"Biar aku jelaskan, sekertaris mu ini dia membawa mu ke apartemennya, dia ingin meniduri mu, dan pura pura mengandung anak mu supaya dia dengan mudah nya menjadi orang kaya, untung nya aku tadi menelpon mu jadi aku tahu kebusukan Asisten mu ini," ucapnya panjang lebar
__ADS_1
"Pandai sekali anda bermain Drama Nona Dewantara, rupanya anda tidak mengenal saya dengan baik" ucap Nayla yang kini berjalan mendekati Arum.
"Stop----