
Riyan pulang ke Apartemennya sendiri setelah menitipkan kunci mobil milik Deni me bagian kasir restoran tersebut, dia pulang menggunakan taksi yang di pesan nya secara online, tentu saja tidak ada seorang pun yang mengenalinya.
Tadi sebelum masuk ke restoran dia masuk terlebih dahulu ke toko baju yang ada di sana, dia memilih satu setel baju santai yang bisa di bilang tidak layak pakai untuk orang sekelas dirinya.
Tapi apa pedulinya yang penting dia ingin memakai nya agar tidak ada yang mengetahui siapa dirinya.
Dia masuk ke dalam Apartemen nya, menaruh semua barang-barang di lantai lalu merebahkan tubuhnya di sofa sambil mendongakkan kepalanya ke atas.
Riyan mengingat kembali apa yang terjadi antara dirinya dan Asisten nya itu, pertengkaran mereka yang pertama menurut nya itu sangat indah.
Nayla dengan dirinya yang apa adanya, seakan bebas menjadi dirinya sendiri, yang orang lain belum tentu tahu akan sikap nya yang seperti itu.
Riyan tersenyum saat melihat wajah sedih Nayla yang menanyakan tentang,
'Apa nanti saat kamu sudah menikah kamu juga akan tetap minta makan dari tangan ku saat kau sibuk bos?'
Kata itu lah yang sejak tadi terniang-niang di dalam benak nya, Nayla tidak tahu saja jika wanita yang membuatnya merasa cemburu adalah dirinya sendiri.
Riyan memang masih merahasiakan tentang perasaan yang dia miliki pada Asisten nya itu, belum saat nya dia tahu tentang semua itu. Riyan juga sedang memastikan bahwa Asistennya itu juga memiliki rasa yang sama dengan diri nya.
Sekarang dia bisa menyimpulkan bahwa cintanya pada wanita itu tidak bertepuk sebelah tangan, cintanya bersambut meskipun keduanya masih sama-sama menutup perasaan mereka.
Riyan tidak menyadari bahwa dia terlalu larut dalam angan nya hingga dia terlelap di sofa tanpa membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Entah sudah berapa lama dia terlelap di sana, nyatanya tubuh nya itu terlalu lelah, pekerjaan nya yang seakan tidak ada habis nya memang begitu menyita banyak waktu yang dia miliki.
Rupanya tidur nyenyak nya itu harus terganggu dengan ada nya getaran ponsel yang ada di saku celananya, dengan mata yang masih terpejam dia langsung menjawab panggilan tersebut.
"Kamu di mana Riyan, sudah lupa jalan pulang kah?" omel wanita yang menghubungi nya itu.
Riyan menyengitkan alisnya itu suara Mama nya, dia langsung membuka mata dan menatap sekeliling nya yang sudah gelap, di lihatnya ponsel yabg tadi ada di telinganya, dan ternyata waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam.
__ADS_1
'Aku tertidur hampir lima jam'. batin nya
"Kamu dengar Mama gak Riyan, kamu di mana, kenapa gak pulang?"
"Iya Ma, aku di apartemen tadi pulang dari meeting langsung ke sini jarak nya lebih dekat ke apartemen ku"
"Sudah dua hari kamu gak pulang apa kamu sudah lupa sama Mama?"
"Besok aku pulang, sekarang aku mau mandi dulu!"
"Janji besok pulang, kalau gak Mama datengin kamu ke kantor!"
"Iya Ma iya, besok aku pulang!" putus nya
"Kamu sudah makan?"
"Belum nanti saja!"
"Siap komandan!" seru nya dan panggilan itu pun terputus.
Riyan mengecek aplikasi hijau dan juga email nya dia merindukan pesan yang biasa di tuliskan oleh Asisten pribadi nya itu.
'Tidak kah kamu merindukan aku Nay'
Riyan harus menelan kekecewaan lantaran dirinya tidak menemukan satupun pesan dari Asistennya itu, setidaknya jika bukan mengenai masalah pribadi harus nya ada laporan yang dia kirimkan mengenai hasil rapat tadi.
Tapi harapan tinggal harapan, tidak ada pesan masuk satu pun dari Asistennya itu, dia pun berjalan ke kamar mandi, tubuh nya terasa lengket sekali, dia juga telah memesan makan malam nya terlalu malas jika harus keluar malam-malam.
Bel berbunyi bersamaan dengan nya yang telah menyelesaikan acara mandi nya, dia langsung membuka pintu masih menggunakan handuk yang menutupi tubuh bawahnya.
Di taruh nya makanan itu di atas meja makan, Riyan pun kembali masuk ke dalam kamar untuk memakai bajunya, kaos putih tanpa lengan di padu dengan celana pendek berwarna hijau menjadi pilihan nya.
__ADS_1
Rambutnya di biarkan begitu saja, keluar dari kamarnya dia menuju dapur dan duduk di meja makan, membuka makanan yang tadi pesan nya, harum masakan itu menguar begitu saja di indera penciuman membangkitkan rasa laparnya.
Tanpa menunggu lebih lama lagi Riyan pun melahap makanan tersebut, perutnya benar-benar lapar saat ini, tadi siang dia hanya makan sedikit sebelum perdebatan nya bersama Nayla.
Nayla???
Riyan terdiam saat mengingat nama itu, bahkan setelah dia keluar dari ruangan nya tersebut dia tidak lagi berhubungan dengan wanita itu.
Apa yang kini tengah di lakukan oleh wanita yang selalu mengusik ketenangan batinnya itu wanita yang selalu menjadi tolak ukur kesuksesan nya, wanita yang menemaninya saat dia merintis karirnya mengganti orang tuanya.
Oh Nayla apa yang kau lakukan sekarang,
Sungguh aku gila karena memikirkan mu.
Riyan mengacak-acak rambutnya,dia frustasi dengan keadaan saat ini, sejak tadi dia berusaha mengendalikan diri nya untuk tidak menghubungi wanita pujaannya yang merangkap sebagai Asisten pribadi nya.
Riyan sadar dia telah jatuh terlalu dalam pada pesona Asisten nya itu, delapan tahun bukan waktu yang singkat untuk menumbuhkan rasa cinta di antara mereka, sungguh saat ini Riyan ingin pergi ke apartemennya tanpa peduli dengan apa pun lagi.
Dia tidak sanggup menahan rasa rindu nya yang begitu menggebu, tapi apa alasan dia ke sana bukan dia sedang marah saat ini, lalu dia harus menjawab apa saat Nayla menanyakan tentang kedatangan yang sudah sangat larut.
Urusan pekerjaan ya itu saja alasan yang akan dia gunakan nanti, tapi tunggu dulu ini sudah jam sebelas malam Riyan, hei sadar lah ini bukan jam kerja lagi, akan sangat konyol jika kamu melakukan itu bukan.
Ayo lah, kamu pria yang cerdas bukan, jangan menjatuhkan harga diri mu sebagai CEO perusahaan yang sangat di segan i, tapi ini masalah hati bukan jadi tidak ada salahnya untuk melakukan itu bukan.
Melakukan sesuatu untuk wanita yang di cintai tidak ada salah nya bukan terlepas itu masuk akal ataupun tidak.
Riyan masih termenung di meja makan, makanan yang tadi dia makan pun tergeletak begitu saja, nafsu makan nya hilang saat mengingat Nayla tadi.
'Apa yang harus aku lakukan, aku sangat ingin melihat mu' gumamnya sambil menopang dagu nya dengan tangan kiri dan satu tangannya terlihat mengetuk meja makan menggunakan kedua jarinya.
'sungguh aku gila karena mu Nay'
__ADS_1
Ting,,,,,