
Nayla terdiam di sana, tatapan tajam seorang Riyan membeku setiap tulang dan sendi nya.
"Apa yang tidak ku ketahui, kenapa dia bisa mengatakan tentang pertunangan, siapa yang bertunangan dan kenapa aku tidak tahu sama sekali?"
Sunyi, tak ada jawaban yang keluar dari mulut ketiga orang yang ada di sana, semua memilih diam dari pada berbicara, yang ada akan semakin memperburuk keadaan.
"Jelaskan pa?"
Papa Agus menghelakan nafas nya sebelum menjawab pertanyaan putra nya itu.
"Maafkan papa yang menyembunyikan semua ini, Papa dan Tuan Dewantara berencana menjodohkan kalian-----!"
Braaaaakk
Pyaaaarrr
Aaahhhh.
__ADS_1
Jeritan dan pecahan kaca meja mendengung di telinga semua orang yang ada di sana, dan siapa lagi pelaku nya kalau bukan Riyan, dia memukul dengan sekuat tenaga meja yang ada di depan nya dengan satu tangan kanan nya.
Ada darah yang keluar dari kaki Riyan yang terkena pecahan kaca, sedangkan dia menggunakan sandal selop dan kedua orang tua Riyan mereka masih menggunakan sepatu nya, Nayla berniat membersihkan kaki Riyan yang terkena pecahan agar tidak menimbulkan infeksi nanti nya.
Tapi gerakan tangan Riyan membuat nya berhenti dan kembali diam di tempatnya.
Ini lah yang sebenarnya di takutkan oleh Nayla emosi Tuan muda nya itu akan sulit di kendalikan jika tersulut sedikit saja, dia paling tidak suka jika mereka merencanakan sesuatu yang tidak dia sukai.
Untung saja, dia di beritahukan saat ini, Nayla tidak bisa membayangkan apa yang akan di lakukan oleh tuan nya itu jika saat dia tahu pertunangan yang di hadiri nya adalah pertunangan sendiri.
Nayla memejamkan mata saat suara tuan nya itu memanggil nama lengkapnya dengan nada penuh penekanan.
"Nayla Maheswari Gunawan"
"Cerita kan semua pada ku, jangan bilang kalau kamu tidak tahu tentang semua rencana Tuan mu ini!" ucapnya sambil menunjuk ke arah papa nya.
Nayla bertanya lewat tatapan mata pada Tuan nya itu, tapi dai tidak mendapatkan jawaban apa pun membuat mendesah pasrah.
__ADS_1
Melihat Nayla yang ragu, Riyan mendekat kearahnya dan menarik tangan, dia kembali bertanya penuh penekanan pada Asistennya itu.
"Katakan saja, kau bekerja dengan ku bukan dengan orang itu jadi tugas mu adalah menurut pada semua perintah ku" tegas nya.
"Riyan kamu menyakiti nya, lepaskan tanganmu!" bentak Mama Ajeng pada pura sulung nya.
Riyan pun tersadar saat mendengar ucapan Mama nya itu, dia langsung melepaskan tangan yang tadi mencengkeram kuat Nayla.
"Apa ini sakit?, Maafkan aku!" Riyan pun lalu mengelus tangan Nayla dengan begitu lembut, dan semua itu di saksikan oleh kedua orang tuanya.
Mereka di buat terperangah dan tidak percaya dengan apa yang terjadi di depan mereka saat ini, putra mereka ternyata bisa dengan begitu lembut memperlakukan Asistennya itu.
"Apa aku tidak salah lihat?" tanya Tuan Agus membuyarkan adegan sedikit romantis di depannya itu.
Riyan langsung menjauh dari sana dan duduk di tempat nya tadi, dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya.
"Siapa pun itu jelaskan semua yang tidak aku ketahui,jangan sampai aku mencari tahu nya sendiri dan kalian pasti tahu apa yang bisa aku lakukan!"
__ADS_1