
"Apa nanti saat kamu sudah menikah kamu juga akan tetap minta makan dari tangan ku saat kau sibuk bos?"
Deg!
Sebisa mungkin Riyan menguasai dirinya dari debaran jantung yang tiba-tiba terasa begitu menyakitkan.
Entah,
Dia merasa tidak suka dengan pertanyaan yang keluar dari mulut asisten nya itu, seakan mereka nantinya akan jadi orang lain dan Riyan tidak ingin itu terjadi.
"Apa yang kau katakan, kenapa bicara mu ngawur sekali?" kata nya tanpa mau menatap Nayla yang juga tengah menunduk pandangan.
"Ah maaf bos aku seperti nya terbawa suasana!" ucapnya lalu menyuapi Riyan lagi.
"kamu juga makanlah, dari tadi kamu hanya menyuapi ku saja!"
"Aku tiba-tiba kehilangan nafsu makan ku bos!"
"Nay, kamu tahu kan bahwa aku paling tidak suka di bantah!"
"Nanti aku makan setelah selesai menyuapi mu saja!"
__ADS_1
"Jadi sekarang kamu tidak mau lagi makan satu piring dan sendok yang sama dengan ku?"
"Bukan seperti itu Bos, aku han---"
"Aku sudah selesai" kata nya lalu berdiri, menyambar jas dan tas kerja nya lalu keluar dari ruangan nya.
Riyan sangat marah dan kesal dengan Nayla saat ini, dia memilih pergi dari pada nanti nya akan keluar kata-kata yang akan menyakiti hati Nayla.
Dia berjalan keluar dari perusahaan keluarga nya itu, dia akan pergi menemui koleganya di sebuah restoran seperti yang Nayla katakan tadi.
Di lobby dia melihat salah satu petinggi perusahaan yang sepertinya baru saja kembali ke kantor, mengingat bahwa jam makan siang sudah habis.
Belum sempat dia membuka mulutnya Riyan lebih dulu meminta kunci mobil nya,
"Berikan kunci mobilmu!"
Tanpa menjawab dan banyak pertanyaan dia langsung memberikan nya.
"Nanti ambil mobil di restoran T jam pulang kerja!"
Ucap nya lalu pergi meninggalkan pemilik mobil begitu saja.
__ADS_1
Membuat pemilik mobil yang bernama Deni itu pun terbengong di tempatnya, sampai suara satpam yang sadari tadi juga melihat tingkah aneh dari cucu pemilik perusahaan pun menyadarkan nya dari lamunan.
"Pak!"
"Iya, kenapa?"
"Tuan Riyan sudah pergi, apa anda masih akan tetap di sini?" tanya pak satpam.
"Kenapa gak bilang dari tadi, saya harus meeting ini!" ucap nya langsung masuk ke dalam.
"Kok jadi saya yang salah!" pak satpam yang bingung kembali ke pos jaga sambil menggaruk kepalanya.
...****************...
Di sisi lain
Setelah Riyan keluar dari ruangan kerja nya tanpa berkata apapun, Nayla menjatuhkan tubuhnya di lantai, kaki nya seakan tidak sanggup menopang berat tubuh nya yang seakan di hantam rasa sesak yang membuat dadanya begitu nyeri yang tak tertahankan.
Nayla menangis di sana, apa yang dia rasakan tidak ada satu orang pun yang tahu, hanya dengan membayangkan saja, hati nya begitu sakit saat bayangan Riyan akan menikah dengan seorang wanita yang di kenalkan ayah Tuan nya itu sebagai calon menantu keluarga SADIKA,
Nayla akui jika perempuan itu sangat cantik, prestasi nya juga tidak main-main dan juga berasal dari keluarga kaya raya, dia juga melihat bahwa Riyan sepertinya juga mencintai wanita yang di pilihan keluarga.
__ADS_1