
Nayla menaruh sendok dan garpu dengan sangat kasar, belum reda rasa marah nya karena Riyan yang terlihat acuh memakan makanan yang menjadi pantangan nya, malah kini dia harus melihat sesuatu yang menjadi kenyataan.
Baru saja kemarin dia menanyakan hal itu, dan ternyata hari ini pertanyaan nya langsung di bayar kontan di depan mata nya sendiri oleh orang yang di ketahui sebagai calon Nyonya muda Sadika.
Ya, Arum Cantika Dewantara adalah wanita yang akan dipilih oleh Tuan Agus yang tak lain adalah ayah dari Riyan untuk mendampingi putra pertama nya itu.
Memang hari ini mereka ada jadwal meeting dari kedua perusahaan besar milik keluarga besar mereka, tapi dai tidak mendapatkan kabar bahwa Arum yang akan mewakili rapat tersebut, biasanya kalau tuan Dewantara berhalangan hadir dia akan di gantikan oleh wakil atau Asisten pribadi nya.
Tapi ternyata Nayla kecolongan di sini atau memang ini sudah menjadi rencana mereka semua untuk semakin mendekatkan mereka, bukan kah cinta bisa hadir karena sering bersama.
Dan mungkin saja itu yang kini tengah di lakukan oleh ke dua keluarga itu agar hubungan keduanya menjadi semakin dekat.
"Kamu gak papa kan?" tanya satria saat mendengar suara bertubrukan sendok dan piring di samping nya.
"Maaf sepertinya saya harus kembali lagi ke kantor, saya lupa kalau ada meeting yang harus saya hadiri sebentar lagi!"
"Saya permisi kembali ke kantor Tuan, saya hanya ingin mengingatkan anda bahwa anda ikan yang di pesan kan oleh Nona Arum itu adalah ikan nila?"
"Saya tadi mau memberitahu pada anda tapi anda sudah memakan nya, dan sekali lagi saat saya ingin mengatakan lagi nona Arum malah menyuapi anda dan anda menerima dengan sangat bahagia, mohon untuk tidak memakannya lagi tuan!"
Deg!
"Saya permisi kembali ke kantor!" ucap nya lalu beranjak dari sana menuju kantor nya.
'Nayla ku pikir kau akan cemburu melihat ku di suapi oleh wanita lain, tapi ternyata kamu hanya ingin mengatakan bahwa itu adalah makanan yang tidak bisa dia konsumsi' batin Riyan sambil menatap punggung wanita yang kini berjalan keluar dari restoran tersebut.
__ADS_1
"Riyan apa benar kamu memiliki alergi pada ikan tuna?"
Riyan menoleh ke samping nya di mana ada wanita yang menatapnya dengan wajah sendu nya.
"Iya, aku ada alergi pada jenis ikan tersebut, jadi maaf aku tidak bisa melanjutkan makan siang ini, aku harus kembali ke kantor, aku lupa tidak membawa obat nya!" kata Riyan yang hendak berdiri tapi gerakan nya terhenti saat mendengar ucapan Satria.
"Ini bukan obat nya, tadi nona Nayla menaruh nya di sini saat akan pergi!" kata satria memberikan bungkusan obat yang tergeletak di meja.
Riyan menatap nanar bungkusan obat yang di sodorkan Satria pada nya, dia pun menerima obat tersebut tanpa berniat untuk meminum nya, biarkan saja dia sakit, siap juga yang kan peduli dengan nya, tidak ada bukan.
Ini adalah tindakan paling konyol yang pernah dia lakukan hanya demi menarik perhatian dari Asisten pribadi yang tiba-tiba menjaga jarak dengan nya.
"Kenapa tidak meminum nya obat nya Riyan?, sini aku buka kan!"
"Tidak perlu nanti saja" tolak nya.
Tanpa menjawab lagi Riyan memasuki bungkusan obat itu ke dalam saku nya, di depan sana terlihat seorang laki-laki berlari menuju tempat Tuan muda nya yang tengah makan siang bersama dnegan dua orang.
"Tuan Maaf, kita harus segera kembali ke kantor ada berkas yang harus anda tanda tangani untuk meeting siang ini!" ucap nya sambil menunduk kepala nya.
Faktanya tidak seperti itu sebenarnya, Nayla tadi melihat tengah duduk di salah satu bangku yang tersedia di sana, dia sedang menunggu tuan nya yang sedang makan siang bersama klien nya.
Dia dan sekretaris dari wanita yang tengah makan bersama bos nya itu memisahkan diri dari mereka, ya semacam kencan yang terbungkus acara makan siang untuk menghormati kerjasama yang terjalin.
Nayla memintanya untuk membawa pulang bos nya sebelum l benar-benar tumbang di sana, Nayla ingat betul keadaan bos nya itu jika alerginya itu kambuh.
__ADS_1
Tanpa menjawab ucapan dari salah satu manager nya itu Riyan langsung berpamitan pada mereka dan berlalu dari sana.
Sedangkan Arum dia mencoba menahan Riyan yang sudah merasakan perut yang seperti di aduk-aduk itu pun tak menghiraukan panggilannya.
Sampai di mobil Riyan masih bisa menahan dirinya, di sana di dalam mobil ada seseorang yang tengah menunggu dengan perasaan yang tidak karuan, apa lagi saat melihat wajah pucat dari bos nya itu.
Frans melajukan mobilnya keluar dari parkiran tersebut dia bingung harus kemana, Nayla yang sadar dengan kebingungan Frans pun memintanya untuk kembali ke apartemennya saja karena hanya tempat itu yang paling dekat dengan posisi mereka saat sini.
Mendengar arahan dari Nayla Frans pun menuruti dan melajukan mobil tersebut ke alamat yang di berikan Nayla, sedangkan Riyan kini duduk sambil memejamkan mata keringat dingin keluar dari dahi nya dan membasahi wajah tampan nya.
Nayla yang melihat itu pun mengambil tisu lalu mengelap wajah pucat tersebut, Riyan membuka mata saat merasakan sentuhan di dahi nya, dia menatap wajah wanita yang kini ada di depan nya itu.
Mendapati dirinya tengah di perhatikan, Nayla menghentikan kegiatan itu lalu duduk dengan tenang menatap jalan di balim kaca jendela sambil menggigit kuku yang ada di tangan Kanan nya.
Dia sama sekali tidak menoleh ke arah Riyan yang gelisah, rasa mual itu kini semakin menyerangnya.
"Frans kau ada air putih, aku butuh minum obat ku?"
Mendengar itu sontak darah Nayla bertambah mendidih saja, bukan kah dia sudah memberikan obat nya tapi kenapa belum di makan, apa saja yang tadi di lakukan oleh bos nya itu.
Frans pun memberikan air mineral kemasan pada bos nya itu, dia sangat kasih melihat wajah pucat bos nya, tapi yang menjadi tanda tanya nya adalah kenapa Asisten pribadi bos nya itu terlihat begitu cuek, seakan dia tidak peduli sama sekali dengan keadaan tuannya itu.
Mobil melaju mereka tumpangi sudah sampai di Basement apartemen Nayla dan sudah terparkir rapi di sana, baik Riyan ataupun Nayla mereka sama-sama tidak ada yang turun dari sana.
Riyan merogoh saku celana nya mengambil obat yang tadi di berikan Nayla pada satria, dia langsung meminum nya, dia tidak bisa menahan lagi untuk menundanya lagi.
__ADS_1
Bruuuukkk