
"Masuk" suara dingin Riyan terdengar dingin di telinga Nayla, bahkan mungkin lebih dingin dari udara yang berhembus saat ini.
Nayla membeku di sana, dia memang tidak melihat kemarahan dari wajah Riyan yang berdiri membelakangi dirinya, tapi sebagai utang yang telah lama mengenal Riyan membuatnya paham betul dengan sikap Riyan itu.
"Maafkan aku Bos!" kata nya tetap dengan wajah yang tertunduk, dia sangat takut pada Riyan saat ini.
"Kau tidak mendengar apa yang ku katakan Nayla" ucapnya penuh penekanan.
"Aku dengar tapi kamu juga harus masuk Bos,!"
"Apa pedulimu?" kata nya masih dengan posisi yang sama
"Aku peduli karena----????" Nayla bingung di sana.
"Karena apa,?" tanya Riyan yang telah berbalik badan menghadap ke arah Nayla.
__ADS_1
"Karena ituu, akuu gak mau kamu sakit bos!" jawab Nayla terbata.
"Kau seperti Mama saja, aku bukan anak kecil yang akan sakit hanya karena tidak makan malam"
"Ya karena Nyonya menitipkan anaknya pada ku Bos!"
"Sudah sana makanlah aku pusing mendengar ocehan mu itu" usir nya.
Dengan sisa keberanian yang ada, Nayla berjalan mendekati Riyan yang berdiri menatap nya, menaruh gelas berisi air tadi di samping bir, lalu menyendok nasi di piring yang ada di tangan nya lalu mendekatkan sendok tersebut ke bibir Riyan yang tertutup.
Riyan memundurkan kepalanya lalu menatap Nayla kemudian ke arah sendok yang di sodorkan Asisten nya itu.
"Makanlah, kalau Bos gak mau makan aku juga gak mau makan!" ancam Nayla sebenarnya bukan itu yang Nayla rasakan dia ingin menebus rasa bersalahnya karena telah mengacuhkan keberadaan Bos nya tadi.
"Berani-beraninya kau mengancam ku, ha"
__ADS_1
"Aku bahkan tidak peduli kau mau makan atau tidak!" lanjut nya, kata-kata pedas itu sangat menyakiti hati Nayla tapi selanjutnya senyum indah terkembang di bibirnya saat Riyan melahap makanan yang dia suapkan.
"Jangan besar kepala aku hanya tidak ingin membuang-buang makanan, jadi cepat suapi aku lagi!" perintah nya.
Bibirnya Nayla yang tadi menampakkan senyum nya pun berubah mencurut beberapa senti setelah mendengar ucapan Riyan.
Riyan pura-pura tidak melihat ke arah Nayla yang tengah kesal, dia makan dengan lahap tanpa memperdulikan apapun, sementara Nayla terus saja tanpa memberi jeda pada Riyan untuk mengunyah makanan yang ada di mulut.
Dua orang itu sama-sama kesal dengan sendirinya tanpa mereka sadari bahwa apa yang terjadi pada mereka adalah bentuk dari suatu keadaan yang mereka ingin di mengerti satu sama lain tanpa di ucapkan.
Merasa mulutnya tidak sanggup lagi menerima sodoran nasi dari tangan Nayla, Riyan pun merebut piring dan sendok tersebut dari tangannya lalu bergantian menyuap nasi ke mulut Nayla.
"Kau juga harus makan, ayo makan, aaaaakk" kata Riyan menirukan apa yang tadi Nayla lakukan pada nya, Nayla langsung membuka mulutnya dan menerima suapan pertama dari tangan Bos nya itu dengan senang hati.
Kapan lagi pikirnya dia bisa makan di suapi oleh seorang yang paling berkuasa di Sadika group, maka dia harus berbangga hati bukan, sebab ini merupakan kejadian langkah yang entah berapa ratus tahun lagi dia bisa menemukan nya lagi.
__ADS_1
Nasi yang tinggal sedikit itu pun kini telah berpindah sepenuhnya ke dalam perut Nayla, sebenarnya tadi Riyan ingin sekali membalas Nayla yang menyuapi nya tanpa henti, namun dia mengurungkan niatnya saat melihat Nayla begitu menikmati makan dari tangannya.