Jodoh Rahasia Dari Tuan Besar

Jodoh Rahasia Dari Tuan Besar
Pemandangan pagi


__ADS_3

Riyan masuk ke dalam menuju meja makan, dia mengisi kembali piring kosong yang ada di tangan nya dengan nasi dan semua lauk yang ada di sana.


Maka tidak heran jika piring itu terlihat seperti gunungan tumpeng, dengan wajah yang masih menunjukkan kemarahan nya, Riyan menghampiri Nayla yang berdiri di tempat nya tadi sambil meminum air putih yang di bawa nya tadi.


"Duduk lah, aku akan menyuapi mu lagi, rupanya kau sangat senang ya makan dari tangan ku!" sindir Riyan sambil menyendok nasi di piring lalu menyodorkan pada Nayla.


"Memangnya kapan lagi kamu dengan senang hati mau menyuapi ku Bos, maka dari itu aku akan memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin!"


Ha-ha-ha


Kedua nya pun tertawa tanpa melupakan ketegangan dan kecanggungan yang tadi sempat terjadi, mereka menikmati semua yang bisa mereka lakukan karena bisa saja mereka nantinya tidak akan bisa bersikap seperti ini saat sudah punya pasangan masing-masing.


Riyan dengan telaten menyuapi Nayla, mereka sudah seperti suami istri yang makan dari piring dan sendok yang sama, di temani gugusan bintang yang bersinar indah di antara pekatnya malam.


...****************...


Pagi hari telah menyapa setiap insan yang masih enggan untuk turun dari peraduannya, Nayla terbangun lebih awal karena tadi malam Riyan menyuruh nya untuk cepat tidur tanpa di izinkan untuk membersihkan dapur.


Tapi pagi ini saat dia masuk ke dapur, di sana tidak ada barang yang kotor sedikit pun, bahkan sampah sisa mereka makan pun lenyap, dapurnya itu bersih mengkilap seperti baru di renovasi.


Nayla yakin tidak mungkin Bos nya itu yang membersihkan nya, tapi dia sekarang ingin masak sarapan dulu untuk nya, nanti saja pikirnya dia akan bertanya siapa yang membersihkan ruang Apartemen nya dan Bos nya itu yang semalam enggan pulang dan memilih tidur di Apartemen miliknya.


Apartemen Nayla sudah seperti rumah singgah bagi Riyan, bagaimana tidak di sana terdapat banyak baju sepatu dan jas di kamar yang kini di tempat oleh Riyan, begitupun nayla dia juga punya ruang pribadi di Apartemen mewah milik Riyan.


Setengah jam berkutat dengan alat dapur, akhirnya nasi goreng seafood pesanan Riyan semalam pun telah tersaji di atas meja berserta lauk pauk yang mudah di olahnya.

__ADS_1


Nayla pun bergegas membersihkan diri dan berniat untuk membangun kan Riyan yang masih terlelap, di liriknya jam yang ada di dinding kamar waktu masih menunjukkan jam enam pagi, masih sangat pagi sebenarnya tapi dia harus membangunkan Bos nya itu, karena mereka ada meeting yang mengharuskan mereka hadir.


Nayla keluar dari kamar nya masih dengan handuk yang menggulung rambut panjangnya, menuju ke pintu sebelah kamar, dia pun mengetuk pintu tapi tak ada sahutan dari dalam.


Tok


Tok


Tok.


"Bos bangun sudah pagi kita ada meeting pagi ini dengan investor asing, Bos bangun" teriak Nayla dari luar pintu.


"Bos"panggil nya lagi.


Nayla yang merasa waktu mereka sudah tidak banyak lagi pun langsung membuka pintu kamar dan masuk kedalam sana, bukan sekali dua kali bukan dia masuk ke dalam kamar bos nya itu, dan melihat pemandangan indah yang tidak pernah mau dia lewatkan.


"Sudah puas liat nya, ha?"


Nayla tertegun di sana, dia tidak menyadari bahwa Bos nya itu telah bangun dan menangkap basah diri nya yang sedang mengagumi keatletisan butuh atasan nya tersebut.


"Kau ku izinkan untuk menyentuhnya jika kau mau!" kata Riyan yang masih setia memejamkan mata nya, Nayla sebenarnya sangat mau dan ingin menerima tawaran yang sangat menggiurkan itu tapi pikirkan warasnya masih mendominasi kinerja otak nya pagi ini.


"Tidak perlu Bos, kamu sudah bangun jadi cepat lah mandi, baju nya akan saya siapkan"


"Kenapa pagi-pagi sekali, aku masih ingin tidur!" sahut nya Riyan malah menarik selimut nya hingga sebatas leher yabg terlihat saat ini hanya kepalanya saja.

__ADS_1


"Kita ada meeting dengan investor asing Tuan jadi saya harap anda cepat bangun dan bersiap-siap" kata Nayla


"Sungguh sangat cerewet kau pagi ini Nay!" kata nya sambil berjalan ke kamar mandi, dia memang menggerutu Tapi dia juga tetap melakukan apa yang di perintahkan oleh Asisten nya itu.


Riyan paham jika Nayla sudah memanggil nya dengan sebutan Tuan itu artinya keadaan sudah mendesak dan tidak bisa di tunda lagi, memang Nayla memanggil nya dengan sebutan Tuan saat bersama dengan kolega bisnis tapi saat mereka hanya berdua saja ataupun berada di lingkungan kantor dia terbiasa memanggil nya Bos.


Setelah menyiapkan setelan baju untuk Bos nya itu Nayla pun keluar dari kamar Riyan lalu masuk ke dalam kamar nya sendiri dia juga harus cepat merias wajah nya dengan make-up tipis tak lupa dia menyelipkan penjepit pita di rambut nya yang tengah dia gerai.


Setelah di rasa cukup rapi, Nayla berjalan dengan tas yang sudah di tenteng di lengan kiri nya dan beberapa map yang dia bawah di tangan kanan nya.


Mereka keluar dari kamar masing-masing dengan waktu yang hampir bersamaan menuju meja makan, Riyan melirik jam tangan nya lalu menginterupsi Nayla yang sedang mengambil piring.


"Kita tidak cukup banyak waktu untuk sarapan di sini nay, kau masukkan saja makanan ini ke dalam wadah, nanti kita makan di mobil" ucap nya


Tanpa menoleh atau menjawab Nayla melakukan apa yang di perintahkan oleh Riyan, dia mengambil Tupperware, sendok dan botol minum lalu memasukan semua makanan dan minuman yang tersedia kedalam wadah yang sudah dia siapkan tadi.


Sedangkan Riyan dia duduk di kursi meja makan sambil mengecek laporan yang akan menjadi bahan presentasi nya nanti, setelah semuanya tertata rapi Nayla pun memberi tahu Riyan dan mereka berdua berangkat ke kantor bersama-sama.


Tebakan Riyan benar ada nya, mobilnya melaju belum jauh dari Apartemen tapi sudah di suguhkan dengan kemacetan yang cukup panjang, Riyan memanfaatkan kesempatan itu untuk mengecek kembali laporan yang tadi sempat tertunda.


Nayla pun dia juga begitu dia membuka Tupperware yang berisi nasi dan teman nya lalu menyendok nasi goreng tersebut dan memberikan nya pada Riyan.


Riyan pun menerima dengan senang hati karena perut nya cukup lapar, ia terbiasa sarapan pagi sebelum memulai aktivitas, mereka mengulangi kejadian di balkon tadi malam, tapi kini Nayla yang mengambil alih peran Riyan semalam.


Mereka sarapan di dalam mobil di selingi dengan pembicaraan mengenai tander proyek yang tengah mereka kerja kan.

__ADS_1


Cukup lama terjebak kemacetan akhirnya Riyan bisa menjalankan mobilnya kembali menuju kantor milik nya yang akan di gunakan untuk meeting kali ini.


__ADS_2