
Semua terdiam saat suara menggelegar terdengar di penjuru ruang tamu sebuah Apartemen, Tuan Agus saat geram dengan tingkah calon menantu nya itu.
Tuan Agus tidak tahu saja bahwa Arum telah di coret nama nya oleh istrinya itu dari salah satu calon istri putra nya itu, jadi dia masih mengganggap nya seperti itu.
"Duduk, aku ingin kalian semua menjelaskan apa yang terjadi di sini,?"
Nyonya Ajeng pun duduk di sebelah suaminya sedangkan Arum dia duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan mereka.
Riyan mengambil duduk nya di sebelah kanan orang tuanya bersebelahan dengan Nayla, melihat hal tersebut membuat Arum bertambah geram, ingin sekali dia mencakar wajah Nayla itu.
"Jelas kan Arum apa maksud perkataan mu tadi?"
"Tante kalian harus segera memecatnya dia tidak pantas menjadi sekretaris perusahaan, dia itu pelakor yang menyamar menjadi sekretaris agar bisa tidur dengan Atasan nya"
"Apa buktinya kalau nayla melakukan hal itu?"
"Tante lihat sendiri kan ini buktinya Riyan ada di sini hanya memakai boxer nya, baju milik Riyan juga berserakan dimana-mana, lalu apa yang mereka lakukan jika bukan hal terlarang itu?"
"Anda rupanya sangat pandai memainkan drama Nona Dewantara!"
"Diam kau, ****** seperti mu tidak pantas berbicara di sini!" bentak nya.
"Tunggu ini sebenarnya ada apa? Papa sama Mama juga kenapa ada di sini?"
"Sekretaris mu ini mencoba menjebak mu Riyan, dia ingin menjadi istrimu, dia pura-pura tidur dan pasti akan meminta pertanggung jawaban dari mu!" ucap Arum berapi-api.
"Dia menjebak ku?"
"Untuk apa?-----"
"Sudah jelas dia ingin menjadi istrimu dengan ancaman anak yang ada di kandungan" tak hanya mencaci Arum bahkan menunjukkan tepat di muka Nayla.
"Kamu hamil Nay?, anak siapa?"
"Omong kosong apa lagi ini, aku tidak hamil, menikah saja belum bagaimana bisa hamil?"
"Ma, Pa, jelaskan apa yang sebenarnya terjadi kenapa kalian diam saja?"
"Kau yang tahu apa yang sebenarnya terjadi, kenapa menanyakan pada kami!"
"Aku tadi meeting sama dia dan bertemu dengan Nayla secara tidak sengaja di restoran,-------.
Riyan pun menceritakan kejadian yang tadi dia alami pada mereka yang duduk di sana.
"Jadi kamu punya alergi sama ikan tuna?" tanya Arum.
__ADS_1
"iya, lalu apa maksud semua ini?" tanya nya pada Arum.
"Kenapa dia tidak membawamu ke rumah sakit atau ke rumah besar saja kenapa harus ke apartemennya kalau dia tidak punya niat buruk pada mu !"
"Kalau aku berniat buruk mana mungkin aku memberikan alamat Apartemen ku pada mu? Haa"
"Dan lagi Apartemen ini lebih dekat dari restoran tadi jadi saya berinisiatif untuk membawanya kemari agar bisa lebih cepat di tangani"
"Maling mana ada yang mau mengaku?"
"Terserah anda mau menilai saya seperti apa, saya tidak peduli, siapa anda dalam hidup saya?"
"Kauuu---"
"Sudah hentikan, tidak ada apapun yang terjadi di sini lebih baik kamu pulang saja, aku akan menyusul mu nanti, ada yang harus aku bicarakan dengan ayah mu?"
"Membicarakan apa maksud Om?"
"Bukan kah semua sudah diatur tentang acara pertunangan in?"
Tunangan? Siapa?.
"sekarang pulang lah, nanti aku akan menyusul mu!" ucap tuan Agus yang tak bisa di bantah lagi.
Dengan rasa kesal yang menggerogoti hatinya Arum keluar dari apa tak lupa dia juga membanting pintu apartemen tersebut.
Riyan menatap tajam pada orang tuanya itu dia seakan menuntut penjelasan, apa yang di maksud oleh Arum di sini, Tunangan siapa yang bertunangan, tidak mungkin kalau vindry yang bertunangan dan dia tidak tahu sama sekali.
"Katakan apa yang kalian rencanakan dan sembunyi kan dari ku?"
Mendengar itu Nayla berangsut dari duduk dia pun berpamitan pada mereka semua bisa-bisa dia kena marah bos nya itu jika dia tahu bahwa dirinya masuk dalam skandal perjodohan yang di rancang Ayah dari tuan nya itu.
"Saya permisi ke dalam dulu Tuan, Nyonya,Bos!"
"Tetap di tempat Nayla!"
Aduuh
Nayla terdiam di sana, tatapan tajam seorang Riyan membeku setiap tulang dan sendi nya.
"Apa yang tidak ku ketahui, kenapa dia bisa mengatakan tentang pertunangan, siapa yang bertunangan dan kenapa aku tidak tahu sama sekali?"
Sunyi, tak ada jawaban yang keluar dari mulut ketiga orang yang ada di sana, semua memilih diam dari pada berbicara, yang ada akan semakin memperburuk keadaan.
"Jelaskan pa?"
__ADS_1
Papa Agus menghelakan nafas nya sebelum menjawab pertanyaan putra nya itu.
"Maafkan papa yang menyembunyikan semua ini, Papa dan Tuan Dewantara berencana menjodohkan kalian-----!"
Braaaaakk
Pyaaaarrr
Aaahhhh.
Jeritan dan pecahan kaca meja mendengung di telinga semua orang yang ada di sana, dan siapa lagi pelaku nya kalau bukan Riyan, dia memukul dengan sekuat tenaga meja yang ada di depan nya dengan satu tangan kanan nya.
Ada darah yang keluar dari kaki Riyan yang terkena pecahan kaca, sedangkan dia menggunakan sandal selop dan kedua orang tua Riyan mereka masih menggunakan sepatu nya, Nayla berniat membersihkan kaki Riyan yang terkena pecahan agar tidak menimbulkan infeksi nanti nya.
Tapi gerakan tangan Riyan membuat nya berhenti dan kembali diam di tempatnya.
Ini lah yang sebenarnya di takutkan oleh Nayla emosi Tuan muda nya itu akan sulit di kendalikan jika tersulut sedikit saja, dia paling tidak suka jika mereka merencanakan sesuatu yang tidak dia sukai.
Untung saja, dia di beritahukan saat ini, Nayla tidak bisa membayangkan apa yang akan di lakukan oleh tuan nya itu jika saat dia tahu pertunangan yang di hadiri nya adalah pertunangan sendiri.
Bisa-bisa tuan nya itu akan mengamuk di sana dan itu akan mempengaruhi nama baik perusahaan dan juga personal nya.
Nayla memejamkan mata saat suara tuan nya itu memanggil nama lengkapnya dengan nada penuh penekanan.
"Nayla Maheswari Gunawan"
"Cerita kan semua pada ku, jangan bilang kalau kamu tidak tahu tentang semua rencana Tuan mu ini!" ucapnya sambil menunjuk ke arah papa nya.
Nayla bertanya lewat tatapan mata pada Tuan nya itu, tapi dai tidak mendapatkan jawaban apa pun membuat mendesah pasrah.
Melihat Nayla yang ragu, Riyan mendekat kearahnya dan menarik tangan, dia kembali bertanya penuh penekanan pada Asistennya itu.
"Katakan saja, kau bekerja dengan ku bukan dengan orang itu jadi tugas mu adalah menurut pada semua perintah ku" tegas nya.
"Riyan kamu menyakiti nya, lepaskan tanganmu!" bentak Mama Ajeng pada pura sulung nya.
Riyan pun tersadar saat mendengar ucapan Mama nya itu, dia langsung melepaskan tangan yang tadi mencengkeram kuat Nayla.
"Apa ini sakit?, Maafkan aku!" Riyan pun lalu mengelus tangan Nayla dengan begitu lembut, dan semua itu di saksikan oleh kedua orang tuanya.
Mereka di buat terperangah dan tidak percaya dengan apa yang terjadi di depan mereka saat ini, putra mereka ternyata bisa dengan begitu lembut memperlakukan Asistennya itu.
"Apa aku tidak salah lihat?" tanya Tuan Agus membuyarkan adegan sedikit romantis di depannya itu.
Riyan langsung menjauh dari sana dan duduk di tempat nya tadi, dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya.
__ADS_1
"Siapa pun itu jelaskan semua yang tidak aku ketahui,jangan sampai aku mencari tahu nya sendiri dan kalian pasti tahu apa yang bisa aku lakukan!"