
Setelah drama yang tercipta, kini mereka ber empat tengah menikmati makan malam yang tadi di masak oleh Nayla, untung saja tadi dia menambahkan menu yang sebenarnya ingin dia bekal besok siang ke kantor.
Tapi berhubung Tuan dan Nyonya Sadika juga berkenan untuk makan malam di sana, dia langsung menggoreng ayam tersebut.
"Masakan mu enak sekali Nay!" puji Nyonya Sadika pada Asisten anak nya itu.
"Terimakasih Nyonya, tapi maaf hanya ini yang bisa saya sediakan!"
"Ini lebih dari cukup, kamu lihat saja siapa di sini yang menghabiskan banyak lauk!" jawab Tuan Agus sambil melirik ke arah putra nya yang tak menghiraukan ucapan nya.
Riyan terus saja makan seakan tidak peduli dengan apapun lagi, hingga perkataan Tuan Agus membuatnya tersedak.
"Kalau ada orang yang setiap hari nya minta makan pada mu, harus nya kamu mengajukan gaji tambahan pada perusahaan, bisa-bisa bangkrut kamu kalau orang itu selalu menghabiskan makanan mu!"
Uhuk-uhuk
Riyan menatap tajam pada Papa nya sengaja menyindir dirinya itu, sambil menerima air yang di berikan Nayla pada nya, tidak tahu kah Papa nya itu bahwa Asistennya itu tidak perlu di ajari untuk itu, bahkan kemarin Asistennya itu baru saja menguras isi kartu pribadi nya.
"Kamu tidak perlu takut ajukan saja berapa yang kamu mau nanti aku yang akan menandatangani nya!" lanjutnya.
"Ma, bawa suami Mama ini pulang, di sini kehadiran tidak di ingin kan!"
Riyan sudah terlalu sebal dengan papa nya yang sejak tadi menyudutkannya.
"Kamu tidak berhak mengusir ku dari sini, ini bukan apartemen milik mu!"
"Dan aku yang berkuasa di sini"
"Sudah hentikan, kalian ini kalau bertemu selalu saja begitu, tapi saling rindu jika tidak bertemu!"
"Kapan aku rindu sama anak bandel ini!"
"Siapa juga yang mau, Mama itu harusnya dulu tidak menikah dengan pria ini"
"Hey, apa maksudmu mengatakan itu!" teriak Tuan Agus pada putranya itu.
Sedangkan Riyan kembali acuh setelah mengatakan hal tersebut, dia makan dengan lahap nya bahkan sampai Nayla harus menambahkan nasi ke dalam piring Bos nya itu.
Sementara mereka bertiga hanya menyaksikan Riyan yang sepertinya sedang berpesta pora.
"Nay, apa setiap hari dia makan di sini?" tanya Nyonya Ajeng setengah berbisik pada Nayla.
"Tidak selalu Nyonya tapi sering!"
"Dan makan nya sebanyak itu, aku bahkan sudah kenyang hanya dengan melihat nya makan!"
__ADS_1
"Iya begitulah Nyonya, tadi saya sengaja memasak makanan kesukaan nya setelah tadi alerginya kambuh!"
"Lalu apa dia memberikan kamu uang untuk makan maksud ku, kamu tidak harus setiap hari memberi nya makan"
"Nyonya tenang saja semua bahan makanan di sini itu masuk dalam pengeluaran pribadi Bos"
"Syukurlah kalau begitu"
Setengah jam sudah berlalu, mereka semua sudah menyelesaikan makan malam nya, tepat nya menyaksikan Riyan makan, itu saja.
Tapi tolong jangan di perdebatan kan bisa-bisa dia marah dan membakar seisi gedung Apartemen yang kini mereka singgahi.
Nayla berdiri sambil membawa sebagian piring yang kotor ke wastafel yang ada di dapur, Riyan yang melihat pun langsung menghabiskan pudding yang tadi di makan nya.
Dia lalu membantu Nayla membawa sebagian piring yang masih tersisa di meja makan, tanpa di perintah Riyan langsung mengambil spon cuci piring lalu mencuci piring yang ada di wastafel.
Tuan dan Nyonya Sadika yang menyaksikan itu pun menjatuhkan rahang nya, mereka berdua tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Seorang RIYAN PUTRA SADIKA yang terkenal sebagai orang yang angkuh dan dingin di luar sana itu mau mencuci piring bekas mereka makan, mereka berdua saling berpandangan sekam tidak percaya dengan apa yabg terjadi di depan mata mereka sendiri.
Mungkin jika mereka menceritakan ini pada orang lain tentu saja mereka tidak akan percaya dan beranggapan bahwa mereka tengah membual.
"Apa dunia akan kiamat Ma? Aku belum siap mati saat ini aku masih ingin terus bersama mu!"
"Aku juga tidak percaya dengan semua ini Pa, ini nyata arah hanya halusinasi ku saja?"
"Mama sama Papa kalau sudah bawa kesini biar sekalian aku cuci!"
"Bos biarkan aku saja yang mencucinya kamu cepat mandi sana dan pulang lah,"
"Tidak aku mau tidur di sini saja!"
"Aduuuuhhh maaaa, sakit!" Riyan tiba-tiba berteriak kesakitan, dia merasa telinga nya di tarik ke belakang dengan begitu kerasnya
"Pulang, jangan suka tidur di tempat perempuan yang bukan muhrim kamu, kalau mau tidur berdua nikah duluuuuuu" omel wanita yang masih terlihat muda di usianya yang sudah kepala lima itu.
"Aku tidak tidur bersama satu kamar hanya satu Apartemen saja, adduuuh Ma " sanggah Riyan
" kamu itu menuruni siapa? papa sama kedua kakek mu tidak ada yang seperti kamu Riyaaannn"
"Bikin malu saja!"
"Pulang atau ku sunat kau!"
"Punya ku panjang jadi tidak masalah!"
__ADS_1
"Aduuuuh maaaaaa,!"
"Kamu itu kalau ngomong gak pakek di saring dulu, kamu g lihat ada gadis perawan di sini!"
Ucap Nyonya Ajeng sambil menoleh ke arah Nayla yang tersipu malu mendengar ucapan absurd dari Bos nya itu.
"Ma lepas telinga ku Ma nanti aku gak ganteng lagi, kalau aku cuman punya satu telinga!"
"Nanti siapa yang malu kalau aku cuman punya satu telinga, aku juga tidak ingin terlihat cacat di depan calon menantu Mama!"
Nyonya Ajeng bertambah geram saat mendengar ancaman yang Riyan berikan pada nya pun semakin kuat menekan telinga Riyan kemudian dia melepaskan nya dengan kesal.
"Cepat bawa dia ke rumah kalau tidak aku akan menjodohkan kamu dengan anak teman Mama!"
Riyan menggosok telinganya dengan tangan yang penuh sabun, membuat telinga nya penuh dengan sabun.
"Nay, tolong bersihkan telinga ku!"
"Nay"
"Nay, hei tolong bersihkan telinga ku apa kau tidak dengar?"
"Iyaaaa"
Nayla bukan nya membersihkan telinga Riyan yang terkena sabun dia malah mengambil kain untuk membersihkan tangan Riyan.
"Nayla, apa yang kamu lakukan" ucap Riyan setengah membentak.
"Katanya suruh bersihkan sabun?"
"Iya tapi bukan di tangan, tapi di telinga kalau di sini aku bisa membersihkan nya sendiri!"
"Oh maaf Bos!"
Nayla lalu membersihkan telinga Riyan dengan handuk yang Nayla ambil dari drawer, membasahi nya lalu mengelapnya.
"Apa kamu memikirkan apa yang juga aku pikirkan?"
"Iya,"
"Mereka berdua tidak menyadari perasaan mereka masing-masing"
"Apa kamu tadi melihat nya Pa, saat aku menanyakan tentang wanita yang di maksud Riyan!"
"Iya aku menyadari perubahan raut wajah Nayla,"
__ADS_1
"Seperti aku harus membicarakan ini dengan mertua mu yang dingin itu!"
"Dan dia adalah generasi sebelum mu pa!"