Jodoh Si Tomboy

Jodoh Si Tomboy
Aksa : Rival Gue Ramma 1/2


__ADS_3

Pagi ini gue berangkat ke kantor diantar oleh pak Warno dan dikawal si Ranma 1/2. Sengaja gue menyebut dia begitu karena jenis kelaminnya tidak jelas.


Sesuai instruksi kanjeng mami Roro Fitria Harsono, mulai hari ini gue tidak diperbolehkan membawa mobil sendiri. Karena kanjeng mami khawatir gue langsung main kabur - kaburan pergi hangout sepulang ngantor. Jadi mami juga menyertakan satpol PP pribadi untuk mengawasi gue dan memastikan gue tidak mendatangi tempat - tempat yang di warning oleh beliau.


Yah demi kartu ATM gue. Entar deh, gue nego sama si Ranma 1/2. Siapa tahu dia bisa gue ajak kong kalikong. Soalnya dia juga punya tugas menjadi vokalis yang ngeband di Black Cat kan?


Setelah 20 menit perjalanan, akhirnya gue tiba di kantor.


"Ranma 1/2, tolong bawakan tas kantor gue!"


Gue melihat si Ranma 1/2 begeming. Pe'a juga ini asisten gue. Masa dia sebagai asisten pribadi tidak mengetahui apa pekerjaannya.


"Woi... Ranma 1/2. Lo kan asisten gue, sekarang tugas pertama Lo bawain tas gue, ngerti!"


"Bapak memanggil siapa ya?" tanyanya dengan wajah lugu.


Kamvret bener ini orang! Gue jadi ingin menyiramnya dengan sebotol air mineral kemasan supaya dia berubah jadi cewek sekalian.


"Gue memanggil Lo! Siapa lagi asisten gue kalau bukan Lo!"


"Maaf, Pak. Tadi setahu saya, Anda memanggil Ranma 1/2, makanya saya diem aja. Soalnya nama saya Fiza."


Mata gue melotot ke arah Fiza. "Lo berani kurang ajar sama bos lo ya?" Gue mulai mengintimidasi Fiza.


"Biar saya yang bawakan tasnya, Den Aksa!"


Pak Warno menawarkan diri.


"Nggak, Pak! Itu kan pekerjaannya dia!"


Gue menunjuk asisten gue yang pe'a.


"Saya tahu itu tugas saya, tapi mbok ya jangan memanggil saya dengan nama Ranma 1/2. Bapak ibu saya memberi saya nama Fiza lho, Pak. Pakai selamatan pula. Nama adalah doa, Bapak jangan seenaknya mengganti nama saya lah!" Si Ranma 1/2 memprotes gue.


Njirr... ini anak buah. Seharusnya kan bos yang memprotes kinerja anak buah, gue justru kebalikan. Gue diprotes sama karyawan baru pula.


"Lo gue beri sp 1!" Gue mengancam sambil turun dari mobil.


Peduli amat kalau dia adalah karyawan spesial edition alias pilihan langsung si kanjeng mami. Buat gue tidak ada pilih kasih. Semua sama.

__ADS_1


Gue berjalan dengan langkah penuh percaya diri. Biasanya karyawan wanita yang berpapasan dengan gue akan menyapa dengan wajah malu - malu atau berusaha mencari perhatian gue, tapi kali ini perhatian mereka teralih pada seseorang yang berjalan di belakang gue. Si Ranma 1/2 menyapa para karyawan wanita di kantor gue dengan ramah. Bahkan beberapa karyawan gue sampai blushing. Asisten pribadi sialan...!


Gue menghempaskan tubuh gue di kursi dengan kesal. Hari ini gue dapat zonk dua kali. Pertama melihat reaksi histeria adik gue yang melihat si Ranma 1/2 datang kerumah. Dan sekarang melihat reaksi karyawan wanita yang biasanya memuja gue, berpindah ke lain hati. Sial... sial... sial... sial!


"Ranma 1/2, tolong buatkan aku kopi!"


Kembali gue melihat Fiza tak bergeming.


"Nama saya Fiza, Pak. Fiza Arbani Malik. Nggak ada Ranma nya. Jadi maaf saya tidak akan membuat kopi untuk bapak. Bapak kan menyuruh si Ranma 1/2, bukan menyuruh saya."


"Oke.. oke! Mulai hari ini namamu Ranma 1/2. Tenang.... untuk selamatannya nanti aku traktir seluruh karyawan kantor ini makan gratis di kantin."


"Terima kasih, Pak. Tapi saya terlanjur menyukai nama pemberian orang tua saya. Lagipula bapak tidak kreatif. Memberi nama kok nyontek dari film kartun Jepang!"


Si Ranma 1/2 balik badan dan keluar dari kantor gue. Gue tersenyum puas. Marah saja sekalian, terus pergi dari kantor gue. Gue ikhlas!


Ternyata tebakan gue salah besar, Sob! sepuluh menit kemudian si Ranma 1/2 masuk dengan membawa nampan. Rupanya ia membuatkan gue kopi. Gue mulai meneliti, berusaha mencari - cari kesalahannya.


Cangkirnya? Itu betul cangkir kesayangan gue. Ternyata ini anak tanggap juga dengan mencaritahu segala hal yang bersifat remeh - temeh dengan kebiasaan gue di kantor, terutama soal cangkir.


Lalu gue mulai merasakan kopi buatannya. Semoga saja dia melakukan kesalahan yang membuat gue bisa memberinya sp 2.


Mata gue terbelalak. Kopinya pahittttt.......


"Kamu, aku beri sp 2. Kopi buatanmu nggak enak! Buatkan lagi!"


"Pak, lelaki sejati hanya minum kopi pahit lho. Kalau saya sih wajar minumnya kopi manis, soalnya saya kan Ranma 1/2."


Fiza nyengir ke arah gue. Jadi dia mau balas dendam ke gue.


"Maksud kamu, kalau aku minumnya kopi manis, aku bukan lelaki sejati. Begitu?"


"Bukan saya yang ngomong lho, Pak. Tapi Bapak sendiri yang mengakui!"


Dalam hati gue merangkai sumpah serapah dan kata - kata mutiara yang tidak bagus untuk didengar. Tunggu pembalasan gue selanjutnya.


"Baiklah, sekarang kamu temui sekretarisku. Tanyakan padanya tentang jadwalku hari ini. Lalu kamu pelajari jadwalku. Tugasmu adalah mengingatkan aku sekaligus mempersiapkan semua keperluanku!"


"Siap, Pak!"

__ADS_1


Tanpa banyak membantah, si Ranma 1/2 segera keluar dari ruangan gue. Sepeninggal tu cewek, gue teguk kembali kopi buatannya.


"Pahit!"


Gue mencoba menikmati kopi buatannya.  Rasa yang tidak biasa, tapi entah mengapa gue justru menyesap kopi itu berkali - kali hingga habis dan hanya tersisa ampasnya.


Oke, untuk kali ini, gue cabut sp 2 lo, Ranma!


കകകകക


"Bacakan jadwal gue!"


Perintah gue saat si Ranma masuk dengan membawa lampiran.


Dengan lancar Ranma membacakan agenda gue hari ini. Ternyata pukul 10 pagi ini gue ada meeting dengan Direktur Utama PT Blah... blah...blah yang terkenal susah untuk diajak bekerja sama. Seharusnya ini tugas kanjeng papi gue, tapi kanjeng papi sudah menyerahkan semua tugas ke pundak gue. Ah gue jadi ada akal.


"Untuk rapat pukul 10 nanti tolong gantikan aku!"


Gue melihat wajah si Ranma 1/2 nampak pucat. Rasain lo!


"Tapi saya kan tidak paham, Pak!"


"Kamu mau saya beri sp 2?"


"Bukannya kalau saya menolak menggantikan rapat, saya dapat sp 3 ya? Berarti saya diberhentikan dengan tidak hormat. Sudah saya pilih dapat sp 3 saja daripada menggantikan Bapak untuk meeting!"


Wajah takutnya si Ranma membuat gue ingin tertawa, tapi capek gue ketawa mulu. Tadi pagi dagelan duet maut si Ranma dan adik gue sberhasil membuat perut gue mules.


"Dengarkan aku ya Ranma 1/2. Kamu itu asisten pribadiku. Urusanmu tidak hanya menjadi pengawal, membawakan tas, membuat kopi, atau mengingatkan jadwal aku. Tapi kamu harus siap untuk menggantikan aku saat rapat, ngerti!"


"Kalau begitu beritahu saya apa saja yang harus saya presentasikan nanti, Pak?"


"Pelajari sendiri. Tuh cari berkasnya di atas mejaku. Cari map yang bertuliskan PT Bla...bla...bla!"


Tanpa banyak protes, Ranma 1/2 segera melaksakan perintah gue. Dengan cermat dia mencari file PT Bla..bla..bla kemudian mempelajarinya. Sesekali ia bertanya saat ada poin yang kurang dia pahami. Sebagai vokalis band, ternyata dia cocok juga bekerja di kantor. Sesekali kami berdiskusi kecil tentang apa saja yang harus ia tanyakan dan jawaban apa yang harus ia jawab seandainya PT Bla...bla..bla bertanya tentang kerjasama kali ini. Intinya dia itu teliti.


Pukul sepuluh kurang, Ranma pamit dari ruangan gue.


"Welcome to the hell!" Gue tertawa puas.

__ADS_1


"Lihat saja, kalau sampai perjanjian ini batal dan perusahan gue mengalami kerugian, lo yang harus bertanggung jawab. Biar kanjeng mami membenci lo dan membatalkan perjodohan gue sama lo."


Tbc


__ADS_2