Jodoh Si Tomboy

Jodoh Si Tomboy
Aksa : Menjadi Pengamat


__ADS_3

Gue menatap Ranma yang berada di hadapan gue untuk membacakan berkas laporan. Entah mengapa, hari ini gue ingin dia membacakan laporan itu. Padahal biasanya gue melemparkan semua tugas itu padanya demi bisa kabur untuk mengapeli Arneta.


Sebenarnya gue modus sih, Sob. Gue hanya ingin melihat dia, karena akan gue teliti semuanya. Ehem... maksud gue, gue penasaran saja dengan kejadian impoten gue yang teramat mendadak selepas iklan lewat. Yang gue maksud iklan, siapa lagi kalau bukan Ranma.


Oke, gue akui wajahnya manis. Apalagi ditambah dandanan minimalisnya. Ia tidak cantik, tapi juga tidak membosankan untuk ditatap. Kalau rambutnya dipanjangkan, dia pasti terlihat seperti cewek tulen.


Yang gue kurang sreg adalah, tubuhnya datar depan belakang. Padahal gue kan pecinta pabrik susu dan bo**ng yang remasable, Sob. Maklum udah bawaan dari orok. Dulu gue juga suka menguyel - uyel pabrik susunya Kanjeng mami. wajar jika ekspektasi gue terbawa hingga kini. Gue kan laki - laki normal.


"Hallo, Pak!"


Telapak tangan Ranma yang bergerak - gerak di depan wajah gue, membuat gue tersadar dari memberi penilaian.


"Bapak terpesona sama saya, ya?"


Pertanyaan Ranma yang terlalu pede itu membuat wajah gue terasa panas. Gue malu banget, Sob. Soalnya ketahuan sedang mengamati si Ranma.


Tapi gue berusaha berdalih. Gengsi lah, gue ketahuan mengagumi body tripleks asisten gue.


"Apa'an? Kamu itu nggak ada menarik - menariknya. Tapi tunggu, mungkin ini bisa dipakai!"


Gue teringat hadiah dari Ranma yang beberapa hari yang lalu ia berikan untuk mengusili gue. Gue segera membuka laci meja dan mengambil benda itu.


"Coba kamu sumpelin ini di dadamu, supaya kamu lebih menarik. Siapa tahu aku jadi suka sama kamu!"


Wajah Ranma langsung merah. Kena lo Ranma! Gue langsung ketawa ngakak. Hah, emang enak dikerjain?


"Saya koreksi sendiri saja, Pak!"


Lalu Ranma segera berbalik menuju mejanya, meninggalkan gue yang masih tertawa geli. Dan entah mengapa gue jadi menyesal sudah mengolok - olok Ranma.


Gue melihat Ranma mengoreksi berkas itu dengan wajah kesal. Duh.... sepertinya gue keterlaluan ya? Tapi sehari tanpa mengusili Ranma itu rasanya hambar dan sepi?


What? Gue merasa kesepian kalau tidak mengusili Ranma? Sejak kapan Ranma menguasai pikiran dan akal sehat gue?


Ponsel gue bergetar, menandakan seseorang menelpon gue. Arneta!


"Haloo... honey!"


"Beib, hari ini kita makan siang bareng kan?" tanya Arneta di sambungan telpon dengan nada riang.

__ADS_1


Ternyata kekasih gue yang sangat seksi itu hanya ingin mengingatkan jadwal kencan kami. Tapi terlalu sering ngedate di jam makan siang itu lama - lama membuat gue merasa bosan juga. Semenjak Dudung mengalami ED. Entah mengapa gue sudah tidak merasa penasaran lagi dengan Arneta.


Gue melirik ke arah Ranma yang hari ini tampil manis. Akhirnya gue akui, gue kalah telak dengan pesona Ranma yang selama hampir 2 bulan ini selalu gue ingkari. Sikapnya yang tidak bisa gue tebak itu menggelitik hati gue. kadang dia memberontak, kadang jahil, dan kadang dia manis. Eheeeem.... Ya intinya bersama Ranma, gue merasakan seperti naik rollercoaster.


"Maaf, Honey! Hari ini gue ada acara meninjau lokasi proyek!"


Tiba - tiba sebuah kebohongan terlontar dengan mulus dari bibir gue. Entah mengapa hari ini gue malas bertemu Arneta. Tidak salah kan, kalau gue ingin makan siang bersama asisten pribadi gue?


"Kalau nanti malam kita ketemuan, bisa?" Arneta merajuk dengan suara manja. Tapi desahan yang biasanya mengundang syahwat itu, sudah tidak berpengaruh untuk gue.


"Nanti malam gue ada acara keluarga. Lain kali aja ya, Honey?"


Gue menolak permintaan Arneta. Tahu sendiri kan, gue tidak bisa bebas pergi di malam hari tanpa mengajak serta asisten pribadi gue? Lagipula mood gue sedang tidak bersama Arneta.


"Ya sudah!"


Lalu telpon dari Arneta langsung diputus begitu saja. Sepertinya Arneta marah. Ternyata dia tidak setangguh Asisten pribadi gue yang selalu tahan banting menghadapi sifat gue. Gue harus berpikir ulang untuk menjadikannya calon permaisuri. Ah elah...


Gue segera berdiri dan berjalan menghampiri meja Ranma.


"Makan siang bareng, yuk!"


കകകകക


Tapi Ranma berbeda, Sob. Selain menguasai bahasa krama dan punya tata krama yang baik. Cara makannya pun sopan. Gue jadi teringat ungkapan, 'jangan menilai sesuatu dari sampulnya.' Ternyata ungkapan itu benar.


Selama ini gue terlalu dibutakan dengan yang namanya gengsi. Gue tidak pernah bisa menerima kalau gue kalah popularitas dibandingkan Ranma. Nyatanya memang gue kalah telak dibandingkan Ranma.


Ketika gue sedang mengagumi Ranma, ponsel miliknya berdering. Ranma melihat ponselnya, lalu menatap gue.


"Bapak nggak keberatan kan, kalau saya menerima telpon?"


"Memangnya dari siapa?"


"Dari mas Lanang."


Nafsu makan gue langsung lenyap. Tapi karena gue harus konsekuen dengan ucapan gue dulu, gue pun mengangguk.


Ada perasaan aneh yang menjalar di hati gue ketika Ranma menjawab telpon Lanang dengan suara yang lembut dan merdu. Sesekali diselingi tawanya yang renyah dan enak di dengar.

__ADS_1


Gue tiba - tiba merasa tidak rela Ranma beramah tamah dengan Lanang. Dan sebuah penyesalan hadir di hati gue. Kenapa dulu gue harus membuat kesepakatan konyol dengan Lanang?


Refleks tangan gue terulur untuk merebut ponsel milik Ranma.


"Hai, Bro! Lo sedang di mana?"


"__________"


Lanang mengomeli gue karena telponnya gue sabotase.


"Fiza sedang makan, kasihan. Keburu gado - gadonya jadi dingin."


Gue beralasan. Hah, padahal gado - gado kan memang dimakan saat kondisi dingin kelez, tidak ada gado - gado panas.


"__________"


"Lanjut entar aja ya, bye!"


Gue segera mematikan ponsel Ranma, dan gue disambut dengan pelototan tajamnya saat meletakkan ponselnya di atas meja.


"Kok Bapak seenaknya memutus telponnya mas Lanang?"


"Soalnya, telpon disela - sela makan itu nggak baik!"


"Kan tadi Bapak sendiri yang mengijinkan saya untuk menerima telponnya mas Lanang!"


Protes dari Ranma membuat gue hanya bisa menggaruk - garuk kepala. Gue kena zonk lagi, Sob.


കകകകക


Gue duduk di kursi sambil melamun. Arah pandangan gue tertuju ke Ranma yang masih sibuk mengoreksi berkas laporan.


Hati gue sedang berkecamuk. Gue dilema. Gue kemakan ucapan gue sendiri. Padahal gue yakin kalau gue tidak akan bisa jatuh cinta kepada si Ranma. Tapi mengapa saat melihat dan mendengar Ranma begitu mesra dengan Lanang meskipun hanya lewat telepon, gue merasa kesal dan tidak rela?


Jadi ini ya yang membuat gue impoten saat akan bernininananina dengan Arneta? Tapi kenapa dengan Ranma. Gue kan pecinta bokong dan pabrik susu remasable? kok gue jatuh cintanya sama cewe berdada dan berbokong datar?


Mungkinkah ini karma gue? Aksa si pecinta wanita seksi, yang suka menebar benih disana sini alias one night stand, akhirnya dibuat takluk dengan seorang cewek tomboy yang jauh dari kata seksi. Argh.... seandainya kanjeng mami tahu, gue yakin beliau langsung menggelar selamatan tujuh hari tujuh malam.


Tapi bagaimana dengan kesepakatan kami? Apa yang harus gue katakan pada Lanang untuk menarik kembali ucapan gue waktu itu?

__ADS_1


Dan gue juga tidak tahu perasaan Ranma ke gue. Mungkin saja Ranma sudah menjatuhkan hatinya pada Lanang. Gue bingung, Sob


Tbc


__ADS_2