Jodoh Si Tomboy

Jodoh Si Tomboy
Fiza : Moment Romantis di Pantry


__ADS_3

Kantor mas ojob letaknya memang sangat strategis. Selain mudah di jangkau dengan angkutan umum, lokasinya juga dekat dengan sarana umum. Terutama pasar moderen.


Hanya 10 menit berjalan kaki, gue sudah memasuki salah satu tempat belanja yang dulu biasa gue sambangi dengan teman - teman kuliah.


Ketika masih menjadi anak kuliah, gue sempat hangout dengan teman se gank yang masih sekampus. Lalu gue jadi teringat Mirna, teman kuliah yang asli Purwokerto. Dulu gue sering diminta untuk menemaninya berbelanja. Dan gue selalu takjub melihat caranya belanja. Dengan pede Mirna akan memenuhi trolinya dengan aneka barang, yang kemudian akan mengosongkan kembali trolinya dengan mengembalikan barang - barang tersebut, tapi di rak produk yang lain.


By the way, ini bukan waktunya untuk bernostalgila. Gue harus berbelanja bahan makanan untuk makan siang mas ojob.


Gue melihat rak sayur mayur dan mulai berpikir. Enaknya memasak apa ya? Tadi gue lupa bertanya pada mas ojob ingin makan apa. Mana gue hanya membawa dompet doang. Sedangkan ponsel tertinggal di dalam tas selempang.


Gue melihat bagian bumbu. Ada bumbu pecel siap saji, Sob. Itu kan makanan favorit gue, tapi mas ojob suka atau tidak ya? Ah masa bodo, deh. Kalau dia nanti tidak mau makan tinggal gue suapin saja!


Oke semua piranti pecel sudah siap, supaya tidak ribet, gue memilih kacang panjang, bayam, dan kecambah. Untuk lauknya, gue memilih telur asin bakar dan tahu goreng. Tidak lupa, gue juga membeli satu pak besar jus jambu dingin. Semoga mas ojob suka.


Gue sampai di kantor dan segera menuju ke pantry. Beberapa anak buah mas ojob tampak sedang ngopi - ngopi di sana.


"Eh Ibu," salah seorang rekan kerja menyapa gue dengan sopan. Ah elah, mereka yang sopan gue justru menjadi segan. Karena dulu kita bebas bercanda tawa, tapi sekarang semua jadi terasa canggung gara - gara status 'istri bos' yang gue sandang.


"Mau memasak untuk pak Aksa." gue berusaha menjawab dengan santai sambil menunjukkan tas belanjaan di tangan gue.


Dan entah mengapa dengan kompak mereka pun pergi meninggalkan ruang pantry supaya  gue bebas melakukan aktivitas. Gue segera mengeksekusi sayuran yang sudah dibeli. Cuci, potong, kemudian memasukannya ke dalam air mendidih. Setelah matang segera gue tiriskan.


Saat memasak, sesekali gue tertawa geli ketika teringat igauan mas ojob semalam. Tingkah kami berdua jadi terasa sangat menggelikan.


"Hehehehe...." Gue tertawa sambil mematikan kompor karena semua bahan sudah matang. Giliran mengencerkan bumbu.


Gue berbalik badan untuk mengambil bumbu kacang yang masih berada di meja, dan langsung beristighfar karena kaget. Mas ojob sudah berdiri bersandar di dekat pintu sambil bersedekap. Sejak kapan mas ojob ada di situ?


"Kok Bapak ada di sini? Kenapa nggak menunggu di kantor aja, Pak!" Gue merasa salah tingkah. Mas ojob pasti sudah melihat gue masak sambil ketawa- ketiwi sendirian.


"Aku ingin menemani kamu memasak!" Mas ojob melangkah menuju meja, menarik kursi, lalu duduk.


"Sejak kapan Bapak kesini?" tanya gue dengan nada menyelidik.


"Sejak sepuluh menit yang lalu," jawab mas ojob santai. Sepuluh menit yang lalu?  Aduh malunya. Pasti mas ojob sempat melihat gue ketawa ketiwi sendirian. Semoga ia tidak menawari gue untuk periksa ke dokter ahli kejiwaan.


"Mas ingin makan di kantor atau di sini?" gue kembali bersikap santai. Saat ini kan posisi kita adalah suami istri, jadi boleh dong ganti sapaan.

__ADS_1


"Disini aja deh!"


"Makan pecel mau ya, Mas?"


Wajah mas ojob nampak berkerut takut. "Nggak mau?" jawabnya spontan.


Penolakannya mas ojob seperti anak kecil yang menolak makan sayur. Tuh kan jadi mirip big baby boy beneran.


"Mas Aksa harus mau dong. Kan ini buatan istrinya. Masaknya pakai cinta dan sayang lho, Mas." gue mencoba merayu mas ojob. Iya lah daripada masakan gue mubadzir.


Mas ojob nyengir. "Kalau cinta? nggak mungkin dong, setiap malam membuatku menderita."


Gue tersudut dengan ucapan gue sendiri. Duh, gue jadi menyesal membawa - bawa nama cinta. Si Rangga pasti tidak rela, nih. Makanya gue dibuat mati kutu begini sama mas ojob.


"Mas Aksa nggak suka ya makan pecel?"


Mas ojob menjawab dengan mengangguk - anggukkan kepalanya. Jadi persis sekali seperti anak kecil.


"Kenapa nggak suka makan sayur?" Gue seperti ibu guru paud menginterogasi muridnya yang tidak suka makan sayuran.


"Jijik ada ulatnya!" jawab mas ojob sambil bergidik.


"Padahal ulatnya bisa nambah gizi lho, Mas!" Mas ojob mengerucutkan bibir untuk membantah ucapan gue barusan.


"Mau ya, Mas. Aku suapin deh. Entar aku ceki - ceki kan dulu ulatnya!" Gue merayu mas ojob. Ia tampak berpikir keras. Beberapa saat kemudian ia pun mengangguk.


Gue bergegas ke kantin untuk membeli sepiring nasi putih. Ibu kantin sempat keheranan dengan apa yang gue lakukan.


"Tumben nggak makan di kantin?"


"Iya bu, bapak ingin makan masakan istri."


Bu kantin sempat menggoda gue. Tapi sudah ya ucapan bu kantin gue skip saja, keburu mas ojob kelamaan menunggu.


കകകകക


Akhirnya gue harus menyuapi mas ojob. Sebelum itu pecel masuk ke mulutnya, gue teliti bae - bae si sayur, apakah ada ulatnya atau tidak. Hitung - hitung gue belajar menyuapi anak, tapi anak yang satu ini berumur 27 tahun.

__ADS_1


"Telur asinnya dong!" Mas ojob menunjuk telur asin untuk disuapkan ke mulutnya. Tentu saja setiap mas ojob memberi intruksi, gue selalu menuruti.


Akhirnya selesai juga acara menyuapi mas ojob makan pecel. Mas ojob masih menunggu gue mencuci perkakas dapur yang tadi gue gunakan untuk memasak. Dan kami pun masuk ke ruangan mas ojob bersamaan.


Sekretaris mas ojob melihat kami sambil tersenyum - senyum. Menurut mereka, gue dan mas ojob pasangan serasi bukan ya?


Mas ojob menutup pintu dan menggandeng gue untuk duduk di sofa.


"Nah sekarang, kamu harus menjelaskan tentang igauanku semalam!"


Mas ojob menagih penjelasan gue. Waduh, jadi  ingin ketawa lagi, kan?


"Ayo jelasin!" Mas Ojob memaksa. Gue bersikeras menggeleng. Karena gemas, mas ojob langsung merengkuh tubuh dan menjatuhkan gue ke dalam pangkuannya.


Gue kaget, Sob! Apalagi gue menyentuh sesuatu yang terasa mengganjal di pantat gue. Oh nooo... pantat gue mengenai magnumnya mas ojob.


"Ayo cerita!" Mas ojob mendekatkan wajahnya ke wajah gue. Bahkan tinggal beberapa centi lagi bibir gue menyentuh bibir mas ojob. Gue jadi tidak bisa konsen akibat serangan atas bawah.


"Cerita atau tidak?" Bisik mas ojob dengan suara nyaris berbisik. Uh... merinding gue. Gue tersentak ketika tiba - tiba mas ojob meremas lembut dada gue.


"Iya.... saya ceritakan, Pak!" Gue akhirnya menyerah kalah. Hiks....


"Turunkan saya dulu! Soalnya nggak enak, Pak. Saya merasa seperti dilecehkan oleh bos saya sendiri!"


Mas ojob tersenyum sumir ketika mendengar alasan gue. Lah, pelecehan dari mana? Lha wong yang memangku gue itu suami sendiri. Gue lebay yak?


Gue beringsut dari pangkuan mas ojob, akhirnya gue terbebas dari siksaan yang menyenangkan ini. Yaelah.... ternyata gue ngarep juga ya?


Gue menghela napas dan menghembuskan dengan keras, berusaha untuk menahan tawa.


"Bapak beneran nggak ingat mimpinya semalam?" Gue menatap mata mas ojob lekat - lekat. Ternyata mata mas ojob indah, lho. Irisnya berwarna cokelat terang, alisnya tebal, dan bulu matanya juga panjang. Pokoknya tidak akan membosan untuk gue tatap berlama - lama.


"Aku kan sudah bilang, aku nggak ingat!" jawabnya sambil semakin merapatkan tubuhnya. Skinship yang ia lakukan membuat gue berdebar - debar. Gwela.... Beneran nih gue bakalan jatuh cinta dengan cowok paling menyebalkan yang pernah gue kenal.


"Bapak tadi malam ngigau sambil mengocok si magnum!" jawab gue sambil menunjuk sesuatu di antara ************ mas ojob. Refleks ia pun menutup selangkangannya dengan telapak tangan. Wajahnya memerah karena malu. Ah ternyata gue cabul juga ya?


"Memangnya semalam Bapak bermimpi sedang indehoy dengan siapa, hayooo?"

__ADS_1


Tbc


__ADS_2