Jodoh Si Tomboy

Jodoh Si Tomboy
Aksa : Ruwet


__ADS_3

Gue belum sempat menyelesaikan masalah dengan Arneta seperti yang diminta oleh Fiza. Katanya ia sedang berada di Singapura untuk berlibur. Dan hari ini tiba - tiba Arneta datang ke kantor gue. Ah elah... Kenapa datangnya dadakan begini, yak? Jadi runyam, deh. Apalagi sikap manja Arneta membuat Fiza menatap gue dengan pandangan tidak suka. Kalau ini adegan film kartun. Pasti sudah keluar sinar lazer dari kedua mata wanita yang sudah sah menyandang predikat sebagai nyonya Laksana Bima Harsono itu.


Oke...oke...! gue mengaku salah karena tidak tegas. Intinya semua keruwetan yang terjadi pada kami akibat ulah gue sendiri.


Gue berusaha menenangkan Arneta dan mencoba menjelaskan pelan - pelan. Tapi sepertinya Arneta tidak terima gue putus sepihak. Dia malah menantang menginginkan tubuh bagian mana yang harus ia permak supaya gue semakin cinta padanya.


Gue kaget dong, Sob. Arneta yang cantik dan seksi akhirnya mengakui kalau penampilan cetarnya adalah hasil oplas. Jadi penampilannya yang selama ini selalu gue kagumi itu palsu? Haiyah....betapa bodohnya gue.


Harga diri gue seperti dijatuhkan dari Monas. Gue yang pecinta wanita, ternyata masih bisa tertipu dengan kecantikan abal - abal. Gue jadi ingin berkaraoke menyanyikan lagunya Nugie deh, Sob. Aku uuu... tertipu..uuuu...


Dan sekarang gue sedang bermain drama ala - ala di hadapan istri gue. Gue seperti tercyduk ketahuan bini sedang bersama pelakor. Untung ruangan gue kedap suara, kalau tidak maluku sudah pindah ke muka gue deh kayaknya.


Situasi sedang ruwet - ruwetnya, eeee....istri gue malah ikutan nimbrung. Membuat suasini jadi makin keruh aja.


Gue akui, dia itu pandai bernegosiasi. Tapi dia tidak pandai menenangkan kemarahan Arneta. Ucapannya justru membuat wanita itu semakin marah. Inikah yang disebut the power of emak - emak. Belum menjadi emak untuk anak - anak gue aja, udah kek gitu.


"Eh hehehe... saya salah ngomong ya?" Fiza meringis tanpa merasa berdosa.


Gue mengusap wajah gue, inikah karma gue si Arjuna penjaja cinta. Suka menebar pesona dan akhirnya menuai aib. Gue benar - benar kapok, Sob.


Gue mulai memakai bahasa spionase pada Fiza. Meminta dia untuk duduk kembali di depan meja kerja gue. Untunglah istri gue menurut, tapi tidak tahu nanti dirumah dia bakalan memberi tausiah macam apa.


Kemudian gue mengajak Arneta untuk kembali duduk. Gue pun menarik nafas, tahan.... hembuskan....


"Yang dikatakan asistenku itu benar, Net. Aku sudah menikah."


Gue melihat Arneta terbelalak tak percaya. "Aku nggak rela kamu ninggalin aku..." jerit Arneta husteris.


Kemudian ia mendekat dan memukul - mukul dada bidang gue. Karena dia perempuan, jadi tenaganya tidak seberapa, tapi seandainya ini terjadi di tempat umum, malunya sungguh luar binasa.


"Maaf, Net! Tapi ini sudah ditentukan oleh kedua orang tuaku." Gue mencoba menjelaskan alasannya dan berharap semoga wanita ini mau mengerti.


Arneta menghentikan pukulannya, kemudian menatap gue dengan tatapan tajam.


"Aku nggak terima, dan aku akan membuat perhitungan sama kamu." Setelah mengancam, Arneta berdiri kemudian melangkah meninggalkan ruangan kantor gue dengan rasa marah. Ewh.. tidak nyangka ya, cantik - cantik tapi kalau sudah marah menyeramkan.

__ADS_1


Gue melirik istri gue yang sekarang sedang berpura - pura sibuk membaca dokumen. Gue yakin, Fiza pasti sedang menertawakan gue.


"Akting kalian berdua tadi bagus sekali, Pak." Fiza bertepuk tangan untuk memberi gue aplaus. Kesel gue, tapi mendingan lah daripada gue di cor semen sama istri gue, atau istri gue nyawer Arneta memakai duit gue.


"Bapak mau saya buatkan kopi."


"Boleh, campur sianida aja sekalian!" jawab gue dengan kesal. Seharusnya dia puk - puk gue yang sedang marah supaya tenang, dong.


"Duh... jangan dong! Pak. Saya kan belum sempat mencicip magnumnya Bapak. Tapi bener nih, Bapak yakin ingin mati tanpa belah duren milik saya dulu."


Fiza sempat- sempatnya menggoda. "Ternyata otak kamu mesum juga ya." Gue menonyor jidatnya dengan gemas karena sudah menyindir gue.


"Bercanda kali, Pak. Supaya Bapak nggak tegang." Lalu Fiza menertawakan gue. Terserah lo deh, Za. Silakan menertawakan gue sampai puas!


Sepanjang hari itu, Fiza sibuk membaca dokumen dan sebentar - sebentar terkikik geli. Rupanya kejadian menikah sekaligus kehilangan ayah tercinta membuat kejiwaannya agak bermasalah.


"Kamu mau aku antarkan ke dokter ahli saraf?" Tawaran gue membuat Fiza merasa keheranan.


"Hah? Untuk apa." tanyanya dengan ekspresi kebingungan.


"Untuk mengobati penyakit kamu, lah. Dari tadi ketawa - ketiwi sendirian," sindir gue.


Gue mendekati Fiza lalu gue rengkuh wajahnya. Fiza terkejut dan langsung terdiam.


"Bapak mau apa?" cicit Fiza ketika gue semakin mendekatkan wajah gue ke wajahnya yang mulai terlihat panik.


Dengan gerakan cepat gue ******* bibir Fiza, membuat gadis itu terbelalak kaget. Lalu dengan gerakan mendadak, gue menghentikan ciuman.


"Itu hukumanmu yang sudah mengejekku."


Kemudian gue berjalan menjauhi Fiza yang masih terbengong - bengong.


Gue duduk di kursi gue sambil menikmati pemandangan melihat reaksi Fiza. Wajahnya langsung blushing, dan refleks ia meraih ujung kerudungnya untuk dijadikan cadar. Oh baru tahu gue fungsi lainnya kerudung. Gantian gue yang tertawa penuh kemenangan. Oke gue sudah tahu cara membalas keusilan istri gue. Seperti asyik juga kalau hukuman untuknya sering gue terapkan.


കകകകക

__ADS_1


"Mas ingin makan malam apa?" Fiza mencoba membuka percakapan saat kami berdua berada di dalam mobil untuk pulang ke rumahnya. Iya untuk sementara ini gue tinggal di rumah orang tua Fiza. Karena sepertinya ia belum rela meninggalkan rumah yang menyimpan banyak kenangan bersama mendiang ayahnya.


"Mas ingin makan kamu aja." Gue lemparkan senyuman mesum ke arah Fiza.


Gue terkekeh melihat Fiza tidak berkutik membalas keusilan gue. Ya Allah.... gue nyesel banget, Sob. Ternyata gampang sekali mengusili Fiza. Kenapa tidak sejak awal masuk kerja gue ngerjain dia dengan cara seperti ini saja?


"Kan aku sudah bilang, Mas. Masa idahnya belum selesai," jawabnya dengan wajah merona merah.


"Kalau aku nggak salah dengar, tadi siang ada yang ingin mencicipi magnum milikku deh." Gue kembali menggoda Fiza. Biar saja gue dikata mempunyai mulut sekotor air comberan, gue mah rela menurunkan gengsi untuk menggoda istri. Sudah halal boleh lah ya?


"Mas..."


"Heeem..."


"Jujur aja aku malu." Fiza menunduk sambil memainkan jari jemarinya yang panjang dan ramping.


"Malu kenapa?" tanya gue heran. Padahal dia menyanyi di panggung dan disaksikan oleh banyak orang saja tidak merasa malu, kok.


"Malu, karena orang yang jadi patnerku sudah punya jam terbang yang tinggi, aku kan belum berpengalaman, Mas," jawabnya dengan jujur. Owalah jadi itu toh. Lha gue malah senang, dong. Itu artinya gue mendapatkan istri yang masih perawan ting - ting. Belah duren gue bakalan makin syahdu ini, Sob.


Tapi ada rasa kesal juga, loh. Gue diledek sudah mempunyai jam terbang tinggi. Kalau bukan istri gue, sudah gue hadiahi dia dengan kata - kata mutiara, Sob. Tapi memang iya sih, gue kan Arjuna penjaja cinta semalam.


"Nggak usah malu, entar aku ajarin, deh! Aku kan sudah punya jam terbang tinggi, jadi sudah punya lisensi," jawab gue sambil menahan kekesalan.


Fiza meraih ujung kerudungnya untuk menutupi wajah. Reaksinya seperti para gadis Arabian saja sekarang. Entah kemana gaya tomboynya yang gue lihat sebelum dia resmi menjadi istri gue. Tapi entah mengapa gue suka. Rasanya ada sensasi tersendiri melihat Fiza tampil feminin dan malu - malu seperti itu.


"Mas...."


"Heeemmm..."


"Ini masih di jalan lho."


"Memangnya kenapa kalau masih di jalan?"


"Itu magnumnya mas Aksa udah berdiri!" Ucap Fiza sambil menunjuk pangkal paha gue.

__ADS_1


Hah, sejak kapan dudung bereaksi?


Tbc


__ADS_2