Jodoh Si Tomboy

Jodoh Si Tomboy
Yuna : Stalking


__ADS_3

Gue baru akan mulai mengerjakan PR. Namun pintu kamar gue terbuka dan kanjeng mami masuk ke kamar menghentikan aktivitas yang akan gue lakukan.


"Buruan! temeni Mami," pinta Kanjeng Mami dengan suara cetarnya.


"Yaelah, Mi. Mau kemana? Yuna ada banyak PR." Gue berusaha mengelak ajakan mami. Tanggung banget nih, gue kan ada tugas sekolah yang harus dikumpulkan besok. Tahu sendiri kan materi sekolah sekarang susahnya minta ampun. Apalagi bagi siswa yang tidak suka pelajaran berhitung macam gue ini.


"Soalnya mata Mami kalau malam agak rabun, Nduk! Mami suka oleng kalau berpapasan dengan sorot lampu!"


Mami beralasan.


"Kan Mami bisa naik mobil kalau nggak berani naik motor!" Gue masih saja berkilah.


Namun ahirnya gue mengabulkan permintaan beliau karena tidak tega. Ya kalau nanti ada apa - apa sama mami, gue juga yang ujung - ujungnya nyesel.


Ternyata gue diajak mami untuk stalking mengikuti abang gue.


"Mi, bukannya udah ada mbak Fiza ya? Mami kan tinggal menginterogasi mbak Fiza aja!" usul gue.


"Udah nggak usah bawel! Kalau nggak mau nganter, Mami nggak ngasih jatah uang saku untuk bulan depan!"


MasyaAllah... Kanjeng mami Roro Fitria Harsono mengancem, Sob! Pakai embel - embel tidak akan memberi jatah uang saku bulanan pula. Ini sih namanya kakak polah adik kepradah. Kakak yang buat ulah, adiknya yang susah. Huhuhu... merana banget gue.


Gue mengikuti mobil yang dikendarai abang gue dalam batas aman. Mobil itu berhenti di sebuah rumah mewah.


"Ini rumah siapa, Mi?" Gue bertanya ke kanjeng mami. Kanjeng mami sendiri tampak heran.


"Kok, kangmasmu datang ke rumah direktur PT Nininananina itu mau apa ya?"


Kanjeng mami bukannya menjawab pertanyaan gue, malah gantian nanyain gue. Lha ya meneketempe mami....


Untuk beberapa saat lamanya kami berdua mengawasi mobil abang gue dari kejauhuan. Tak berapa lama kemudian mobil abang gue pun keluar dari halaman. Mami segera mengingatkan gue untuk segera capcus. Akhirnya gue paham mengapa Kanjeng mami menyuruh gue memboncengkan motor. Soalnya kalau membuntutinya naik mobil, ditanggung susah untuk putar balik.


"Ayo buruan dikejar, sebelum kita kehilangan jejak!" Mami memberi komando. Gue segera tancap gas sebelum kehilangan jejak abang gue.


Mobil abang gue berhenti di sebuah restoran mewah. Gue melihat bang Aksa membukakan pintu dan menggandeng seorang wanita yang jika dilihat dari siluetnya sih seksi, Bok! Terus mbak Fiza mengikuti turun dari kursi penumpang.

__ADS_1


"Berarti mbak Fiza menjadi obat nyamuk dong, Mi?" ucap gue.


Mami menonyor kepala gue. "Buruan parkir motor kamu, terus ikut mami masuk ke dalam!"


Kali ini gue menurut, Sob! Mau ditraktir mami makan di restoran mewah siapa yang nolak? Tapi di depan pintu, gue tidak diijinkan masuk ke dalam oleh mas doorman. Soalnya gue hanya memakai piyama. Apes nian gue. Gara - gara tadi terburu - buru, gue lupa belum mengganti piyama gue. Terpaksa deh, menunggu mami diluar bersama - sama tukang parkir.


Rasanya lama sekali gue harus menunggu kanjeng mami. Gue jadi menyesal. Tahu begini, gue pilih menyelesaikan PR, lha!


Akhirnya mami keluar juga dari dalam restoran sambil ngomel - ngomel. Tapi matanya tampak berkaca - kaca.


"Kamu itu! Mami tungguin kok nggak masuk - masuk!"


"Yuna tadi mau masuk, Mi. Tapi ditahan sama doorman. Katanya Yuna nggak boleh masuk karena Yuna hanya memakai piyama!"


"Lha, kenapa tadi kamu nggak ganti baju dulu!" Mami memprotes gue.


Mami gue pikun apa ya? Beliau sendiri yang menyuruh gue cepet - cepet supaya tidak kehilangan jejak? mana sempat lah gue berganti baju dulu?


"Hiks... hiks..." Suara tangis tertahan keluar dari bibir mami. What? Seorang kanjeng mami Roro Fitria Harsono yang terkenal tangguh, galak, dan cerewet itu menangis? Seharusnya kan yang menangis itu gue? Sudah membuang waktu tidak mengerjakan PR, tidak bisa masuk restoran, dan gue nungguin mami bareng tukang parkir pula. Bayangkan saja gadis secantik gue duduk berduaan di pos tukang parkir? Tukang parkirnya yang seneng, gue yang malu.


"Ayo mulih!"


Gue segera mengambil motor gue dan menghampiri kanjeng mami yang berdiri di dekat pos jaga parkiran.


"Sering - sering dateng ya, Neng buat nemenin abang jaga parkir!" ucap si tukang parkir kepedean.


Gue meleletkan lidah, dan mami gue memelototi abang tukang parkir. Senyum jahilnya langsung hilang seketika.


Sepanjang perjalanan pulang, mami gue lebih banyak diam. Entah apa yang terjadi di dalam tadi. Sampai dirumah pun, kanjeng mami langsung masuk ke kamar. Gue juga langsung masuk kamar. Cuci muka, gosok gigi ganti baju, terus melanjutkan mengerjakan PR gue yang tertunda.


Tiba - tiba kanjeng papi masuk ke dalam kamar gue.


"Mamimu kenapa? Pulang - pulang kok menangis?"


"Nggak tahu, Pi. Yuna tadi nggak boleh masuk ke dalam restoran. Jadi Yuna nggak tahu. Coba Yuna tanyain mbak Fiza ya, Pi?"

__ADS_1


Gue mencoba menghubungi mbak Fiza melalui video call. Gue juga penasaran dengan apa yang dilihat oleh kanjeng mami.


"Ya? Ada apa, dek? Maafin Mbak belum bisa stalking Sean."


"Enggak, Mbak. Yuna cuma ingin tahu aja, Mbak lagi apa?" tanya gue pura - pura tidak tahu.


"Biasalah, Mbak kan menjadi pengawal abang kamu."


"Mbak, coba arahin kamera ponselnya ke mas Aksa?"


"Jangan, Dek! Mbak nggak berani mengganggu privasi."


"Privasi apaan, Mbak?" tanya gue yang akhirnya paham mengapa Kanjeng mami menangis.


"Tapi jangan bilang sama budhe Harsono ya? Ini mas Aksa sedang kencan, Dek!"


Yaelah, gue tidak memberitahu ke kanjeng mami, tetep saja kanjeng mami sudah tahu. Jadi itu yang menyebabkan kanjeng mami gue sedih? Beliau baru saja melihat anaknya yang tampan itu menduakan calon tunangannya. Seharusnya yang menangis kan mbak Fiza? Kenapa malah kanjeng mami gue?


Tidak bisa dipungkiri oleh keluarga gue. Meskipun penampilan mbak Fiza itu ajib, tapi gue, kanjeng mami dan kanjeng papi sangat menyayanginya. Bukan karena kami merasa kasihan dengan keadaan keluarganya, bukan karena kanjeng papi dan kanjeng mami berhutang menepati sebuah janji di masa lalu. Tapi karena sikap dan pembawaan mbak Fiza berhasil membuat kami merasa hangat dan nyaman. Yah kalau abang gue sih, karena mata hatinya belum terbuka saja. Jiwa mudanya juga belum bisa dikendalikan. Jadi maklum, deh! kalau abang gue ingin mendapat yang seger - seger seperti cewek yang hari ini diajak kencan olehnya.


"Mbak nggak apa - apa kan?"


"Enggak lah, biasa aja kali, Dek. Kan ini sudah tugasnya Mbak Fiza."


"Ya udah, Mbak, nanti pulangnya hati - hati ya! Assalamualaikum!"


"Okay.....! Waalaikumsalam."


Gue melirik kanjeng papi yang masih menunggu.


"Mami sedih karena melihat mas Aksa kencan dengan perempuan lain, Pi." lapor gue ke kanjeng papi.


Kanjeng papi berjalan keluar. Duh semoga saja setelah pulang nanti, mas Aksa tidak diomeli sama kanjeng mami ya?


Ngomong - ngomong, gue mengendus sebuah kasus nih. Mbak Fiza ditaksir mas Lanang, terus abang gue kencan dengan cewek lain. Apakah perjodohan ini tidak bisa terlaksana? Sebenarnya gue juga tidak setuju dengan yang namanya perjodohan. Tapi gue sudah terlanjur suka dan ingin menjadi adik iparnya mbak Fiza.

__ADS_1


Ya Allah, semoga Engkau berikan yang terbaik untuk mas Aksa dan mbak Fiza. Amin.


Tbc


__ADS_2