
Setelah seminggu lebih tidak menginjakkan kaki di kantor, akhirnya gue berangkat kerja juga. Gue ke kantor dengan penampilan baru lho, Sob. Yep! sekarang gue memakai hijab. Alasan pertama, ini bentuk penghormatan gue pada bokap, supaya meringankan tanggungjawab beliau di akhirat geto... Bisa dikata untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang muslimah.
Kedua, ini untuk menandakan hak kepemilikan. Gue sudah ada yang punya, dan tidak ada yang boleh melirik - lirik gue selain Aksa alias mas Ojob. Meskipun kenyataannya gue seperti barang yang masih segelan, karena belum mengijinkan suami gue untuk test drive.
Yang ketiga, supaya kalau diminta mendampingi suami di sebuah acara resmi, dan ia harus memperkenalkan gue sebagai 'nyonya', kami berdua tidak disangka sebagai pasangan LGBT.
Alasan ke empat, gue ingin kembali normal. Boleh dong gue tampil cantik? Kan demi mengambil kembali hati suami yang diambil oleh pelakor. Duh.... sebenarnya yang pelakor itu gue atau Arneta ya? Bingung saiya...
Yang kelima, tuh kan lagi - lagi ada 5 perkara eh alasan. Yang terakhir adalah untuk membiasakan pemikiran suami gue, kalau gue itu asli 100 persen perempuan. Intinya gue ingin mendepak jauh - jauh isi otaknya yang paranoid menganggap bercinta dengan gue berasa seperti main pedang - pedangan. Auch... bahas itu lagi. Sebel gue, Sob. Yah intinya dengan penampilan baru ini, gue dan suami bisa berlaku normal saat belah duren nanti. Ahay..... omes kan gue? Yang ada dalam pikiran cuma belah duren mulu?
Saat berjalan di belakang bos, eh suami gue. Semua mata karyawan menatap gue dengan bingung. Karyawan perempuan sibuk meneliti dari ujung kaki hingga ujung kepala, sedangkan karyawan lelaki memandang penuh kekaguman seolah mendapat gebetan baru. Padahal awal - awal gue datang ke tempat kerja dulu, rekan gue yang cowok menganggap gue saingan mereka.
"Asisten baru ya, Pak?" sapa sekretaris my ojob sambil menatap gue dari atas sampai bawah, sebelum akhirnya ia berteriak.
"MasyaAllah... ternyata Mbak Fiza, toh."
Dan sepanjang jam istirahat siang di kantin hari ini, gue sibuk menerima ucapan bela sungkawa, selamat menempuh hidup baru, dan selamat berhijrah secara rapelan. Biar genap 5, ditambahkan saja dengan selamat ulang tahun dan selamat menjadi ibu bos. Hehehehe....
Untuk selamat yang terakhir gue anulir deh, karena bakalan banyak orang yang sirik terhadap gue. Soalnya gue tidak siap menjadi bahan nyinyiran orang dengan kesuksesan menggaet pak bos menjadi suami. Gue takut menderita star syndrom, Sob. Meskipun popularitas gue hanya terbatas untuk kalangan pegawai dan staf kantor mas ojob doang.
Oh ya, Biarpun status gue sudah naik level, tapi pekerjaan masih tetap sama. Malah semakin repot, karena gue menjadi asisten 24 jam. Yang tidak gue layani hanyalah.... you know lah ya, tidak usah dibahas! Karena untuk pelayanan yang satu itu masih dalam tahap negosiasi walaupun itu sudah menjadi hak suami dan menjadi kewajiban gue.
Gue hanya ingin mengantisipasi, Sob. Gue tidak mau kalau suami gue tokcer terus gue langsung tekdung, tapi masih ada duri dalam daging yang akan menyulut prahara dalam rumah tangga gue. Menjaga lebih baik daripada mengobati. Sedia payung sebelum hujan. Supaya tidak menyesal kemudian. Karena ada author novel ******* yang pernah gue baca menulis bahwa penyesalan itu selalu datang di akhir, kalau di awal itu namanya pendaftaran.
"Sayang.... ngecek berkasnya di sini aja dooong!"
__ADS_1
Mas ojob merengek dengan manja, meminta gue untuk duduk di depannya. Hati gue langsung koprol, Sob. Sudah 3 hari dia bicara dengan nada merdu merayu begitu, membuat jantung gue tiap hari berdetak tidak karuan. Nggak kuat gue.... semoga saja gue tidak mati muda.
Meskipun begitu, gue turuti permintaannya. Sekarang gue sudah duduk manis sambil memeriksa berkas laporan, dengan mas ojob yang menatap gue sambil senyam - senyum. Tingkahnya berhasil membuat gue menjadi tidak konsen kan, Sob!
Tiba - tiba terdengar bunyi pintu ruangan terbuka, dan Arneta masuk dengan suara histeria.
"Beib.... aku kangen."
Lalu ia segera memeluk suami gue yang tiba - tiba raut wajahnya menegang.
Nah lo mas ojob! Kamu sekarang ketahuan kan jika belum menyelesaikan urusan dengan Arneta.
Gue memelototi mas ojob, mengisyaratkan bahasa spionase menggunakan kontak mata. Mas ojob membalas isyarat supaya gue tenang dan mengerti sikon.
Oh.... jadi mas ojob kemarin belum bisa menyelesaikan urusannya dengan Arnet, karena dia sedang shoping ke Singapur toh. Ya sudah gue beri dispensasi. Tatapan tajam gue ke mas ojob mulai kendur. Whoaaa... hebat ya gue? baru menikah sebentar tapi emosi gue terkontrol dengan baik. coba jika itu wanita lain.
Gue pun memaklumi. Tapi lho... lho... lho... Arneta mulai menciumi wajah mas ojob. Haduh.... hati gue terluka, tapi tidak berdarah, Sob.
Mas ojob dengan halus menghindari ciuman Arneta dengan mendorong pelan lengan perempuan itu. Gerakan itu membuat gue tahan iman untuk tidak melakukan perbuatan bar - bar atas hak kepemilikan Aksa. Pernikahan mendadak yang harus gue jalani membuat gue kembali di ingatkan untuk 'sadar diri'.
"Kenapa, Beib?" Arneta merasa keheranan dengan reaksi yang ia terima.
"Yuk, duduk dulu di sofa! Aku akan menjelaskan semuanya." Mas ojob menggiring Arneta untuk duduk di sofa. Begitu mereka duduk, Arneta langsung memeluk manja mas ojob.
"Ehem....ehem." Gue sengaja batuk untuk mengirim kode morse ke mas ojob supaya mengkondisikan sikapnya. Gila apa, gue yang istri sah disuguhi pemandangan melihat perempuan lain sedang menggelendot manja begitu. Kalau Aksa bukan suami gue, mungkin gue masih bisa lempeng galeng seperti kemarin - kemarin ketika menemani mereka berdua berkencan. Tapi lucu juga ya, Sob. 'Istriku Pengawal Kencanku'. Yang dikencani siapa yang dinikahi siapa.
__ADS_1
Mas ojob kembali merengkuh lengan Arnet dan mendorong pelan tubuh wanita itu agar menjauh darinya. "Maaf, Net! Karena suatu hal, sepertinya kita harus putus."
Arneta tertawa kecil sambil menatap mas ojob. "Beib, kamu bercanda kan?"
"Nggak, Net! Aku serius. Sebaiknya kita putus."
Mata Arnet yang tadinya berbinar cerah berubah menjadi pelototan tajam dan wajahnya menunjukkan raut tidak senang. "Kenapa? Apa karena aku kurang cantik? kurang seksi? Kurang bahenol gitu. Bilang, dong! Apa yang kurang dari aku biar aku bisa bawa ke dokter bedah untuk kuperbaiki. Agar semua sesuai keinginanmu."
Arneta mulai dilanda emosi. Saking emosinya dia sampai membuka rahasianya sendiri kalau kecantikkannya selama ini adalah palsu. Duh kasihan juga mas ojob. Benar - benar dapat barang KW dia.
Mas Ojob tampak terkejut sampai hampir melongo sambil memindai tubuh Arnet dengan mata playboy cap kadal buntungnya itu.
"Bukan itu, Net. Maafkan aku. Karena aku sudah dijodohkan oleh kedua orang tuaku sebelum kita pacaran." Mas ojob berusaha menenangkan Arneta dan mengatasi keterkejutannya sendiri ketika menyadari dirinya sudah tertipu barang palsu. Gue jadi merasa kasihan melihat dia kepayahan gitu. Wajah paniknya sudah mirip para suami yang menunggui istrinya sedang bersalin saja. Padahal gue dihamilin aja belom. Jiahahahahaha.. gue ingin ketawa, Sob.
Gue memperhatikan mereka dengan muka datar, seperti sedang menonton sinetron ala - ala saja. Untung ruangan mas ojob kedap suara. Kalau tidak, gue jamin semua staf sudah bergerombol di depan pintu untuk melihat tontonan gratisan juga.
Kalau dulu awal - awal bertemu mas ojob, gue pasti bakalan berhore - hore melihat penderitaannya. Tapi sekarang gue merasa kasihan banget. Sumpah!
Gue menghampiri Arneta dan menyentuh lengannya. Maksud hati ingin menyadarkan wanita itu dari kehaluan.
"Mbak tidak boleh memaksa mas Aksa, mau memaksa juga percuma karena mas Aksa toh sudah menikah." Gue menyela.
Mas ojob dan Arneta memelototi gue. Ups... gue salah ngomong ya?
Tbc
__ADS_1