
Gue menahan tawa ketika Lanang sahabat gue langsung gercep untuk mendapatkan Ranma. Gue tidak habis pikir, kok bisa - bisanya ya Lanang jatuh cinta dengan cewek ajib semacam Ranma. Padahal dunia keartisan yang digeluti oleh Lanang membuat pria itu dekat dengan artis - artis cantik yang bisa ia pilih salah satu untuk dijadikan kekasih. Baik kekasih satu malam, kekasih tempelan, atau kekasih halal untuk seumur hidup.
Hau... kebalik banget ya, Sob? Gue yang inginnya mendapatkan cewek cantik, tapi malah dijodohkan dengan cewek ajib. Sedangkan Lanang yang selalu dikelilingi cewek cantik justru ingin berpacaran dengan seorang cewek ajib. Emang sinetron jenis kelamin terbalik banget, Sob!
Gue melihat Ranma bingung menjawab permintaan Lanang yang memintanya menjadi kekasih alias pacar. Sumpah! Gue ingin ketawa, Sob! Makanya gue berpura - pura asyik menekuni gadget gue.
Meskipun perhatian gue serius dengan hape, tapi gue mengikuti pembicaraan antara Ranma dengan Lanang. Seperti gue yang selalu mendengarkan Ranma membacakan berkas laporan atau proposal sambil gue tinggal merem.
Gue menunggu apa jawaban Ranma. Lama nian itu cewek abal - abal menjawab permintaan Lanang. Gue kan jadi gemes, Sob! Rasanya gue ingin membantu Ranma menjadi jubir deh. Jangan bilang kalau Ranma sedang galau karena bingung antara memilih gue atau lanang ya!
Aih... Lanang yang nembak tapi kenapa jadi gue yang tidak sabar untuk segera mendengar jawabannya Ranma yak? Akhirnya gue berdiri dan berjalan mendekati mereka berdua.
"Udah terima aja, Za! Lo berhak memilih jodoh Lo sendiri, dan gue juga berhak memilih jodoh gue sendiri."
Gue berharap pernyataan gue barusan membuatnya terbebas dari beban dijodohkan dengan gue. Tapi kalau Ranma ternyata setuju dijodohkan dengan gue, ya gue ketar - ketir lah, Sob! Cita - cita gue kan ingin mempunyai istri yang seperti kanjeng mami. Hehehehe... piss ya Ranma, level Lo mah jauh...!
Ketika kami bertiga sedang berbincang, ponsel Ranma berdering. Ranma segera beranjak menjauh untuk menerima panggilan telpon. Dari cara Ranma menjawab telpon, sudah bisa gue pastikan bahwa itu adalah kanjeng mami.
Sayangnya Lanang itu kelewat agresif. Tahu calon pacarnya bingung, ia justru membuat keadaan semakin membingungkan. Tapi gue tidak bisa menegur Lanang. Gue takut kongsi antara gue dan Lanang terbongkar. Soalnya Ranma itu pintar, Sob.
Untuk saat ini baik Ranma dan kanjeng mami jangan sampai tahu kalau gue dan Lanang memiliki rencana untuk menjemput jodoh idaman masing - masing. Dan jangan sampai Ranma tahu jika acara katakan cinta nya si Lanang hari ini juga bagian dari rencana gue untuk menggagalkan pertunangan antara kami berdua.
കകകകക
Gue sudah bisa menebak. Begitu gue sampai di rumah, kanjeng mami pasti bakalan menginterogasi gue.
"Kae mau Lanang moro nang kantor ono urusan opo, Le?"
(Itu tadi Lanang datang ke kantor ada perlu apa, Nak?)
__ADS_1
Nah tebakan gue benar kan? Kanjeng mami kepo dengan apa yang dilakukan oleh Lanang tadi sore.
"Dia kangen ingin bertemu sama calon menantunya mami," jawab gue tanpa berusaha menutup - nutupi. Sekalian semua urusan beres dan gue mendapatkan kemerdekaan untuk memilih sendiri kandidat calon permaisuri.
"Lanang serius karo Fiza? Kawit kapan Lanang mbi Fiza duwe hubungan spesial?"
(Lanang serius sama Fiza? Sejak kapan Lanang dan Fiza punya hubungan spesial?"
"Nggak tahu, Mi. Yang jelas Lanang lebih dulu naksir Fiza sebelum mami menjodohkan Fiza sama anaknya mami!" lapor gue sekalian untuk menunjukkan jika calon menantu pilihan Kanjeng mami tidak seperti yang ia bayangkan.
Mami nampak menghela napas panjang. Ada kegalauan yang kanjeng mami rasakan. Gue dapat melihat dari sorot mata beliau. Tapi bodo amat, ya. Gue tidak peduli.
"Masalahnya niat menjodohkan kalian itu udah ada sejak kalian belum lahir, loh!"
Kanjeng mami merasa tidak terima rencana beliau disabotase. Mami lupa jika manusia boleh berkehendak, tetapi Tuhan lah yang menentukan.
"Ya ela, Mam. Realistis saja, lah. Kita dijodohkan sejak belum lahir, tapi kita berdua tidak menginginkan perjodohan itu, apa ya tetap harus dipaksakan?"
"Mami pikir, kalian berdua bisa dekat secara perlahan - lahan. Makanya mami sengaja menjadikan Fiza asisten kamu. Biar 'witing tresno jalaran seko kulino."
Gimana bisa tresno coba, kalau setiap hari gue dan Ranma perang strategi untuk saling mengusili?
"Tapi mami percaya, Fiza bakalan jatuh cinta sama anaknya mami yang hansem ini. Kan kalian setiap hari ketemu!"
Mami kembali bersemangat. Ajaib juga positif thinkingnya kanjeng mami. Pantesan kanjeng papi gue bisa menjadi pengusaha sukses. Karena dibelakang kanjeng papi gue ada sosok wanita penuh semangat dan pantang menyerah bernama Roro Fitria. Sudah cantik, seksi, berisi, bisa memberi dukungan suami pula, gimana gue tidak ingin mempunyai istri sesempurna kanjeng mami gue, coba?
"Kalau Fiza mau dikontrak menjadi artis, dia nggak bakal jadi asistennya anak mami yang hansem ini, dong!"
Pemberitahuan gue tentang Ranma yang dilirik untuk diorbitkan menjadi artis membuat semangat kanjeng mami kembali down. Dengan lunglai kanjeng mami duduk di sofa dan menatap langit - langit ruang keluarga.
__ADS_1
"Sepurane yo jeng, Santi. Rencanane dewe besanan rikala jaman semana ora iso tak wujudke!"
(Maaf ya jeng, Santi. Rencana kita besanan diwaktu masih muda tidak bisa aku wujudkan)
Gue tertegun melihat mami gue yang biasanya ceria, enerjik, dan ceriwis tiba - tiba menjadi sedih begitu. Maafkan kami, anak - anakmu yang egois ini. Gue yakin, almarhumah tante Santi di surga pasti mau mengerti.
Gue segera masuk ke kamar. Setelah mandi, gue rebahan di ranjang. Gue tatap langit - langit kamar sambil sibuk berpikir. Berarti mulai hari ini gue juga harus mencari calon istri. Supaya kanjeng mami gue tidak larut dalam kesedihan. Kalau bisa yang sebelas duabelas cantik dan seksinya seperti kanjeng mami. Mantab kan, Sob?
കകകകക
Hari ini ada meeting dengan PT Nininananina yang bergerak di bidang penyedia mebelair. Tujuan mereka tentu saja ingin mendapatkan tender dari perusahaan gue dalam penyediaan fasilitas kamar hotel yang akan kami bangun.
Perusahaan itu diwakili oleh putri pemilik perusahaan yang cantik dan cerdas. Gayanya saat presentasi begitu meyakinkan dan penuh percaya diri.
Dan yang membuat gue tertarik adalah body nya yang seksi banget. Busana kerjanya yang full pres body itu menunjukkan lekuk tubuh dan buah dadanya yang terlihat remasable. Sepertinya telapak tangan gue pas dengan ukurannya. Tanpa sadar gue refleks melakukan gerakan meremas.
Gue turunkan tatapan gue ke bokongnya. Bagian itu juga meliuk dengan indah. Kalau dilihat dari samping seperti guitar spanyol, Sob. Makin ngiler aja gue.
Bibirnya yang berhias lipstik warna merah dan terlihat basah itu benar - benar lumatable. Gue jadi penasaran seperti apa rasanya saat gue mencium bibirnya. Eee.... jadi ingat, Sob! Sudah hampir 2 minggu si dudung tidak gue asah. Dan saat ini junior gue bergerak - gerak gelisah karena melihat putrinya direktur PT Nininananina itu. Berkali - kali gue harus menelan ludah gue dan berusaha menenangkan dudung yang sedang demo.
"Bagaimana, Bapak? Jika Anda memesan produk kami sekarang, perusahan kami akan memberi diskon 15%. Tapi jika lewat dari bulan ini harga sudah kembali normal," ucapnya merdu merayu. Pantas saja ayahnya meminta putri mereka menjadi tenaga pemasaran.
Gue yang sedang mengagumi keindahan yang terpampang di depan gue jadi kaget. Apalagi putri direktur PT Nininananina itu tersenyum ke arah gue.
"Eh... oh... ah ... yeah... bisakah kami pertimbangkan dulu proposal Anda. Jika sudah selesai kami pelajari, kami akan siapkan dokumen kontrak kerjasamanya," jawab gue sambil mencoba mengusir khayalan mesum terhadap si cantik di hadapan gue.
"Tentu, Pak. Nanti Anda bisa menghubungi kantor kami!"
Putri direktur PT Nininananina menyerahkan dua lembar kartu nama. Satu kartu nama perusahaan, dan satu lagi kartu nama pribadinya. Gue pun menyerahkan kartu nama pribadi gue sambil mengerling.
__ADS_1
Sepertinya hari ini gue benar - benar beruntung.
Tbc