Jodoh Si Tomboy

Jodoh Si Tomboy
Fiza : Pondok Mertua Indah (PMI)


__ADS_3

Selepas kenduri 7 hari meninggalnya bapak Arbani Malik alias Ramanda tercinta. Gue mengungsi ke PMI alias pondok mertua indah alias menumpang di rumah mertua. Soalnya kanjeng papi Harsono berencana merenovasikan rumah mendiang bokap gue. Katanya sebagai hadiah pernikahan, sih. Gue hanya pasrah saja. Tapi dalam hati jejingkrakan senang. Ini namanya rejeki anak sholehah, gue tidak boleh menolak. Betul?


Gue pindah hanya dengan membawa surat - surat penting dan pakaian. Selebihnya biar diatur oleh perusahaan kontraktor yang di sewa oleh papi mertua. Gue hanya berpesan agar barang - barang peninggalan almarhum bokap jangan sampai rusak apalagi hilang.


Kanjeng mami dan adik ipar menyambut kedatangan gue dengan antusias. Tapi gue yang merasa khawatir, karena artinya harus tidur sekamar dengan suami. Yaelah, gue ini ya, tidur sama suami sendiri malah takut.


Suami gue tampak cerah ceria. Wajahnya selalu dihiasi senyuman yang menawan, dan ia juga selalu bersiul - siul entah menyanyikan lagu apa. Berbeda dengan gue yang justru merasakan kekhawatiran yang teramat sangat. Jujur saja gue masih merasa was - was dengan ancaman Arneta tempo hari. Sebenarnya gue ingin mengadu pada mami mertua, tapi gue takut dikira 'ngelunjak' sudah diberi hati masih minta ampela.


Dan akhirnya malam pun menjelang. Suami gue mulai memancing gue dengan aksi manjanya. Padahal beberapa bulan yang lalu, dia masih membenci gue, tapi sekarang sikapnya benar - benar mirip seekor anak kucing.


"Kita main yukkkkk...!"


Nah kan, mas ojob sudah mulai melancarkan rayuannya.


"Main apa? Tebak - tebakan mau?" gue berlagak pilon dengan kode - kode manja yang dilancarkan oleh suami.


Wajah mas ojob langsung ditekuk. Gue tahu sih apa yang dia maksud, tapi karena gue masih belum ready to war, ya gue berusaha pura - pura tidak tahu dengan apa yang dia maksud.


Wajah mas ojob yang semula kesal akhirnya menyunggingkan senyum.


"Boleh, kita main tebak - tebakan. Tapi...."


Nah lho, mas ojob mengajukan syarat. Gue yakin syarat yang ia ajukan tidak jauh dari hukuman cabul macam filem - filem romantis Hollywood.


"Ngikut deh!" tanpa menunggu mas ojob menyelesaikan ucapannya, gue langsung mengiyakan.


"Yakin nih?" Mas ojob mengerling. Wajahnya langsung terlihat sumringah.


"Yakin!"


"Nggak di dengerin dulu?"


"Alaaaa... paling juga kalau menang minta di kiss atau menyuruh buka baju bagi yang kalah!"


"Hehehehehe..." Mas ojob tertawa kesenangan.


"Kok malah ketawa?"


"Ya seneng lah, ternyata bini aku mau. Kamu sendiri lho yang bilang!"


"Lah, kan emang maunya mamas gitu?"

__ADS_1


"Enggak, aku aja belum selesai ngomong udah di potong." Mas ojob berdalih.


"Memangnya Mas ingin dihukum apa?"


"Aku cuma ingin besok dimasakin rica - rica kok. Tapi kalau bini ku minta untuk streaptease ya hayuk deh!"


Sial, Sob! Gue terjebak. Gue menuai malapetaka akibat mulut sendiri. Benar sekali ya, mulutmu harimaumu! Duh nyesel gue sudah bersikap sok tahu.


Mas ojob bersiul - siul senang karena merasa menang. Ya sudah tidak apa - apa. Lagipula menyenangkan suami itu bagian dari ibadah yang dapat menambah pahala. Tapi ya, gue harus mikir ekstra keras supaya jangan sampai kalah dari dia. Selama urusannya dengan Arneta belum selesai, gue juga tidak akan memberi lampu hijau ke mas ojob untuk menyentuh gue.


Kami pun bersuit untuk menentukan siapa dulu yang menang. Ternyata mos ojob menang, dia pun mulai mencari pertanyaan.


"Eeeett... nggak boleh nyari soal di mbah google!" Gue segera membuat peraturan untuk menghindari mas ojob berbuat curang.


Mas ojob menaikkan satu alisnya. Sepertinya dia merasa keberatan, tapi akhirnya ia pun mengalah.


"Oke, siap ya..! Pertanyaan pertama!" Mas ojob nyengir jahil. "Mengapa perempuan lebih cerewet dari laki - laki?"


Sudah gue duga, pertanyaan mesum ini pasti keluar. Gue segera menjentikkan jari. Tidak rugi gue berteman dengan cowo - cowo dan rajin mengamen. Intinya pembahasan yang menyerempet - nyerempet begini gue jadi tempe, lah.


"Aku tahu. Ada 2 jawaban. Mas ingin jawaban yang mana?"


Mas ojob tersenyum manis. Senyuman maut yang membuat gue meleleh. "Duh Gusti, suami aku ganteng banget, sih. Pantas saja jadi playboy."


"Oke, jawaban pertama karena memang kodratnya wanita lebih cerewet dibanding pria. Jawaban kedua...." Ucapan gue menggantung karena segan menjawab. Alis mas ojob berkedut - kedut memancing jawaban gue.


"Karena perempuan punya 2 bibir. Bibir atas sama bibir bawah!" Gue menjawab dengan lirih. Malu, Sob!


Mas ojob tertawa terbahak - bahak. "Pinter..." pujinya sambil mengacak rambut gue. Hadeh... Mulai berani skinship dia. "Boleh nggak Mas lihat, apakah bener cewek itu punya 2 bibir. Mas cuma lihat satu doang, baru yang ini!"


Jari mas ojob menyentuh bibir gue pelan. Dan sreeet.... Sentuhan mas ojob membuat darah gue seperti berhenti mengalir. Sialan, mas ojob, padahal gue menang karena bisa menjawab, kenapa masih mendapatkan hukuman juga. Curang ih, mas ojob.


Buru - buru gue menepis tangan mas ojob yang masih mengusap lembut bibir gue. Bisa bahaya kalau entar gue minta lebih. Hahahaha....


"Sekarang giliran mas menjawab pertanyaanku!"


Senyum mas ojob langsung kenyap ketika gue menepiskan tangannya. Tapi karena kita sedang bermain game, ia pun kembali serius.


"Mengapa perempuan lebih kuat dari lelaki?"


Mas ojob nampak berpikir. Ia merebahkan badannya di kasur. Lalu memejamkan mata.

__ADS_1


"Buruan Mas, ini dikasih waktu lho!" Gue mengingatkan mas ojob.


"Yang jawaban bener atau ngaco?" tanyanya lesu. Karena kuper alias kurang pergaulan dengan orang - orang pinggiran, dia jadi kurang familiar dengan tebak - tebakan yang gue ajukan.


"Dua - duanya!"


"Mas cuma tahu yang jawaban serius. Perempuan lebih kuat dari lelaki karena perempuan mengandung anaknya 9 bulan, trus waktu melahirkan itu sakit."


"Jawaban ngaconya?"


"Apa? Aku menyerah, deh?"


Gue tersenyum penuh kemenangan. Berarti kalau gue menang, gue boleh kan meminta mas ojob untuk tidur di sofa?


"Ya jelas aja cewek lebih kuat karena cewek sanggup membawa 2 buah gunung, kalau cowok bawa 2 telur aja masih dibantu sama adiknya"


Gue tertawa, mas ojob nyengir garing. Nah lo, menang telak kan gue.


Mas ojob siap melepaskan kausnya.


"Eeeee... apaan!" Gue memprotes aksi buka - bukaan mas ojob.


"Katanya yang kalah disuruh membuka baju!"


"Enggak.... hukumannya aku ganti. Karena Mas Aksa kalah, jadi malam ini Mas tidur di sofa!"


Gue ketawa - ketiwi melihat wajah mas ojob yang bersungut - sungut saat mengetahui hukuman yang gue berikan untuknya.


Tawa gue terhenti ketika gue mendengar suara yuna.


"Kanjeng Mami ngapain nguping di depan pintu kamarnya mas Aksa?"


Gue dan mas ojob hanya saling pandang. Tidak menyangka jika malam pertama gue menginap di PMI, gue dan mas ojob dimata - matai oleh kanjeng mami.


Gue langsung merebahkan badan di ranjang dan menutup tubuh dengan selimut.  Sedangkan di luar kamar, sayup - sayup terdengar suara mami yang mengomeli adek ipar gue. Duh... gue malu banget, Sob. Gue tidak bisa membayangkan seperti apa suasana sarapan besok pagi.


Gue merasakan mas ojob ikut berbaring dibelakang. Kemudian tangannya menyusup ke balik kaos sambil meraba - raba dada gue.


"Katanya cewek itu kuat karena kemana - mana bawa dua gunung. Lha, gunung kamu mana kok nggak ada?" Bisik mas ojob di dekat telinga gue.


"Huwaaaa...!" Gue berteriak dan refleks menyikut mas ojob. Ia pun mengaduh kesakitan akibat sikutan gue telak mengenai tulang selangkanya.

__ADS_1


Ini nih baru beneran perang di ranjang alias sikut - sikutan sama suami.


Tbc


__ADS_2