
Baru beberapa hari gue merasa kehidupan pernikahan ini berjalan dengan sempurna. Gue mulai menerima dan mencintai wanita pilihan kanjeng mami. Untuk acara malam pertama kami, tidak perlu gue ceritakan ya? Karena akan disensor habis - habisan oleh MangaToon.
Setelah acara belah duren yang tertunda, akhirnya gue bisa mendapatkan hak gue sebagai seorang suami.
Dan gue tidak akan pernah menyesal karena acaranya molor dari jadwal. Gue juga merasa puas meskioun hanya bisa melakukan sebanyak 2 ronde. Awal yang bagus, Sob. Mengingat Fiza masih perawan ting - ting. Hal itu bisa di buktikan dari noda merah tercetak manis di seprai yang tidak bisa terbantahkan.
Gue yang awalnya mati - matian berusaha mengingkari kehadiran Fiza dalam hidup ini, sekarang justru mati - matian mempertahankan Fiza agar tetap di sisi gue.
Selain Lanang yang masih suka menanyakan Fiza, relasi bisnis gue juga kesengsem dengan istri gue yang sekarang tampil anggun dengan busana muslimnya. Terpaksa gue melarang Fiza ikut mendampingi meeting dengan relasi. Jadi sebelum meeting, gue kursus kilat bahasa Jawa Krama alus dulu padanya. Meskipun ujung - ujungnya gue disindir, jadi orang asli Solo kok tidak bisa berbahasa krama.
Biarpun disindir ataupun dikerjai Fiza, gue sudah tidak bisa marah, yang ada justru menjadi semakin sayang pada istri gue yang ajib itu.
Gue baru asyik memandangi Fiza, namun tiba - tiba datang sebuah gangguan. Kanjeng mami datang ke kantor dengan wajah marah dan diikuti oleh Arneta.
Hah, Arneta? Kenapa juga dia datang lagi? Mengajak kanjeng mami pula?
"Nak, tolong jelaskan sama Mami tentang hubunganmu dan wanita ini, yang tiba - tiba datang menemui Mami dan mengaku - ngaku sedang mengandung anakmu!"
Ucapan mami terdengar bagaikan petir di siang bolong. Astaghfirullah hal adzhim... gue langsung menyanyikan lagunya Wali. Gue di fitnah, Sob.
Gue menatap Kanjeng mami yang terlihat menyeramkan karena wajahnya melotot ke arah gue. Sedangkan Arneta tampak menangis tersedu - sedu. Istri gue? Dia kini berdiri mematung dengan mata yang menuntut penjelasan. Peristiwa akward macam apa pula ini?
"Kamu hamil, Net?" Gue bertanya sambil menatap Arnet dengan rasa tidak percaya. Bagaimana bisa gue menghamili Arneta sedangkan si dudung saja belum pernah bersarang? Masa air liur gue bisa menggantikan ****** untuk membuahi sel telur? Gue bakal menjadi manusia ajaib abad ini dong, Sob.
Untuk mengobati rasa penasaran yang berkecamuk di otak gue, kanjeng mami segera mengulurkan sebuah map berlogo salah satu rumah sakit ibu dan anak.
Gue menerimanya dan membuka map itu. Mata gue serius membaca keterangan yang menunjukkan bahwa Arneta benar - benar hamil. Bahkan usia kehamilannya menginjak 4 minggu.
"Mas...!"
Fiza memanggil gue dengan suara mencicit menahan tangis. Teguran itu menyadarkan gue dari pengaruh Dewi Medusa yang membuat gue menjadi patung. Ya Allah.... ujian pertama pernikahan gue.
"Mami jangan marah ya! Aksa akan menjelaskan semua!" Gue berusaha menenangkan kanjeng mami dan terutama ke istri gue.
"Untuk apa dijelaskan, bukti ini sudah menunjukkan kalau aku hamil anak kamu, Sa!" Arneta mencoba memprotes.
Gue menatap Arneta dengan tajam, bisa - bisanya wanita cantik itu menuduh gue adalah bapak dari jabang bayi yang dia kandung. Gue memang menyentuh dia, tapi kan si dudung tiba - tiba letoy. Lha, bagaimana Arneta bisa hamil anak gue coba?
"Mi, Aksa bersedis kok kalau harus tes DNA untuk membuktikan janin yang dikandung Arneta itu cucu Mami atau bukan!" Ucapan gue membuat Arnet menjatuhkan tubuhnya. Ia menangis sambil memeluk kedua kaki gue.
"Please, Aksa, percayalah ini adalah anakmu!"
"Kita tes DNA sekarang, Mami tolong hubungi pengacara keluarga kita. Jika tes DNA itu menunjukkan aku bukan bapak dari janin yang dikandungnya, tolong siapkan tuntutan dengan dakwaan pencemaran nama baik!" Gue mengatakan itu dengan nada tegas.
"Kowe yakin, Le?"
(Kamu sungguh - sungguh nak?)
"Yakin, Mi. Aksa memang pernah bersenang - senang dengan Arneta, tapi Aksa nggak sampai menebar benih di rahimnya!"
Mami mendekati gue dan menepuk bahu gue, sementara itu Arneta masih menangis dan bersimpuh sambil memeluk kaki gue.
__ADS_1
"Kumohon, Sa! Jadikan aku istrimu demi anak yang tidak kuketahui siapa bapaknya ini!"
Arneta merengek ke gue.
Gue tidak menyangka, ternyata diam - diam Arneta masih menjajakan cinta dengan lelaki lain dibelakang gue. Dan parahnya ia meminta gue bertanggung jawab atas kehamilannya yang bukan dari perbuatan gue.
"Maaf, aku sudah mempunyai istri, Net. Tapi jika kamu berjanji untuk tidak mengganggu rumah tanggaku, aku akan membantu mencari siapa ayah dari anakmu itu!"
Mami menenangkan Fiza dengan memeluk menantunya yang nampak schock karena ulah Arneta barusan.
"Sing sabar yo, Nduk!"
(Yang sabar ya, Nak!)
Kemudian mami menghampiri Arneta dan membantunya berdiri. Agar suasana tidak semakin ricuh, Kanjeng mami mengajak wanita itu untuk pergi dari ruang kantor.
Gue menghela napas. Sekarang tinggal urusan gue menjelaskan semua yang terjadi pada Fiza.
"Za!" Gue memanggil Fiza yang masih berdiri mematung. Wajahnya basah oleh air mata. Fiza sedang menangis dalam diam. Gue merengkuh tubuh Fiza untuk gue peluk. Tapi ia menghindari pelukan gue.
"Kumohon! Percayalah padaku, Za! Aku tidak menghamili Arneta!" gue berusaha meyakinkan wanita yang telah berhasil membuat gue takluk.
Dia bernama Fiza, wanita yang setangguh Dewi Athena dan memiliki pesona tak kalah dari Dewi Venus. Saat ini gue bagaikan seorang pujangga jaman Yunani kuno sedang merayu Fiza dengan petikan harpa sambil menyanyi.
"Tapi Mamas kan pernah ***** - grepein dia. Bisa aja Mamas khilaf!" Fiza yang biasanya kalem dan selalu tertawa ceria, akhirnya bisa marah juga. Tapi kalau marahnya karena cemburu, jadi gue tidak akan membalas dengan kemarahan juga.
Gue duduk di sofa. "Duduk sini dulu, Sayang! Mau nggak dengerin ceritanya Mamas?"
Gue mengeluarkan ponsel dan mengirimi Fiza sebuah foto melalui WA. Foto yang dulu sempat dikirim oleh Yuna, yang akhirnya menyelamatkan gue dari perbuatan zina bersama Arneta.
Fiza membaca pesan WA itu, kemudian menatap gue. Wajahnya masih tampak merajuk karena sangsi.
"Makanya sini dulu, Sayang! Duduk dan dengarkan penjelalasan Mamasmu yang tampan ini ya!" gue kembali melunakkan hati nyonya.
Fiza mencibir ke arah gue. Tapi kakinya berjalan menuju sofa dan kemudian duduk di samping gue.
Gue menghirup napas. Tahan... hembuskan... Setelah merasa lega, gue pun memegang kedua tangan Fiza.
"Jujur saja, dulu waktu pertama kali bertemu kamu, Mamas nggak suka. Mamas kesal dijodohkan sama kamu. Mamas berusaha membuat perjodohan kita batal meskipun harus menggunakan cara apapun. Tapi...." Gue sengaja menghentikan ucapan sambil menunggu reaksi dari Fiza.
"Tapi....?" Akhirnya Fiza mau mendengarkan penjelasan gue dengan serius, terbukti dia merespon ucapan gue.
"Tapi semakin Mamas mencoba mengingkari, Mamas justru semakin tertarik ke dalam pesonamu."
"Mamas bohong!" Fiza membantah ucapan gue, tapi wajahnya yang memerah tidak bisa membohongi gue kalau dia sedang tersipu malu.
"Dari yang awalnya Mamas merasa terpaksa menikah denganmu, akhirnya mamas merasa pernikahan kita adalah sebuah anugerah untuk Mamas."
Gue berusaha menatap mata bening Fiza berusaha meyakinkan perasaan gue yang sesungguhnya.
"Lalu kenapa Arneta bisa hamil?" Pertanyaan Fiza kembali membuat gue kelabakan.
__ADS_1
"Aku nggak tahu Za. Di malam konser Annoying itu, aku nggak sempat nininananina dengan Arneta karena sudah di telpon oleh Yuna. Terus...." gue menggaruk kepala karena malu dengan sifat brengsek yang gue miliki.
"Terus....?" Fiza masih meminta penjelasan dari gue.
"Paginya waktu aku ke rumah Arneta, aku memang sempat digoda olehnya, tapi dudung mengalami Ede" ucap gue jujur. Sebenarnya gue malu mengakui jika gue mengalami hal tersebut.
"Ede apaan?"
"Ejakulasi dini, alias magnum Mamas nggak mau ereksi saat digoda oleh Arneta."
"Kenapa bisa?"
"Karena foto yang tadi kukirim padamu, sudah berhasil mengalihkan duniaku!"
Mata Fiza melebar. Gue merengkuh wajahnya yang semakin hari semakin manis, sampai kopi pahit yang gue minum tidak terasa pahit di lidah. Karena gue sudah terkena diabetes meskipun hanya melihat wajah istri gue. The power of love, Sob!
"Terus, selama Mamas keluar kantor untuk bertemu Arneta itu ngapain aja?" selidik Fiza. Rupanya ia belum puas dengan penjelasan gue. Meskipun gue sudah merayu, tapi istri gue masih saja menginterogasi gue.
"Kamu mau tahu?"
Fiza mengangguk. Gue tersenyum senang, karena bisa memanfaatkan momen ini untuk beromantis ria dengannya. Ahay... Modus, Sob!
"Mamas bertemu hanya untuk makan siang dan nganterin dia ke salon, kadang juga nganterin belanja. Udah gitu aja!"
"Aku nggak percaya, Mas! Pasti Mas Aksa juga nyuri - nyuri kesempatan untuk ***** - ***** gunung kembarnya yang remasable dan ******* bibir Arneta yang cipokable, kan? Hayo loh! Ngaku aja!" ucap Fiza dengan nada berapi - api karena cemburu.
Gue tertawa dan merengkuh tubuh Fiza ke pangkuan gue. "Namanya juga cowok normal. Wajar kan?" bisik gue di telinganya.
Gue praktekkan apa yang pernah gue perbuat ke Arneta pada istri gue, yaitu mencium bibir dan meremas bukit kembarnya. Fiza menerima perlakuan gue dengan pasrah.
"Aku jatuh cinta padamu sejak kita nonton konser waktu itu, Za!" ucap gue sungguh - sungguh, sambil menatap mata beningnya.
"Aku treno sliramu, aku cinta padamu, i love you, i shi teru..."
Fiza tertawa saat gue mengucapkan kata - kata cinta dengan berbagai bahasa yang gue tahu. Tawa Fiza membuat perasaan gue menjadi lega.
"Udah nggak marah sama Mamas kan?"
Fiza mengangguk sambil tersenyum manis. Gue menjadi gemas.
"Berarti nanti malam kita bisa itu ya?"
Fiza merespon dengan gelengan sambil tertawa. Tapi gue tahu dia cuma bercanda.
"Mas...!" Fiza menangkup wajah dan menatap manik mata gue.
"Yep? Apa, Sayang?"
"Kula tresno kalian panjenengan!" ucapnya dengan wajah malu - malu. Duh, Sob. Istri gue jadi terlihat menggemaskan, deh.
Gue kembali mencuri sebuah ciuman di bibirnya. Dan tahu tidak, Sob? Gue merasa menjadi laki - laki paling bahagia di dunia.
__ADS_1
Tbc